Ramadhan Sudah Dekat, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyambutnya
Pentingnya persiapan menyambut bulan Ramadhan sama pentingnya seperti ketika kita hendak kedatangan tamu terhormat, raja, presiden, atau tamu-tamu mulia lainnya. Sehingga tentu kita akan mempersiapkan kedatangan tamu penting tersebut dengan baik dan menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan.
Begitu juga dengan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah saw dan para sahabatnya telah memberikan kita banyak contoh, nasihat, dan tuntunan dalam persiapan menyambut Ramadhan, serta amalan-amalan yang bisa kita lakukan dałam memantaskan diri sebelum datangnya Ramadhan.
Dikutip dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan: Panduan Lengkap Menyambut Bulan Ramadhan dari Sebelum Ramadhan Sampai Setelahnya oleh Abu Maryam Kautsar Amru, berikut ini lima persiapan yang bisa kita lakukan sebagai umat muslim dałam menyambut datangnya bulan mulia itu.
1. Membayar utang puasa
Jika kita masih punya utang puasa tahun lalu, terutama para wanita yang biasanya berhalangan puasa karena haid. Maka, membayar utang puasa yang telah lalu adalah persiapan yang paling wajib dan paling penting dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Jangka waktu penggantian puasa ramadhan yang dulu itu adalah sepanjang tahun hingga bulan Sya’ban. Oleh karena itu, hendaklah segera melunasi dan jangan sampai terlambat.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنْ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Abu Salamah berkata, Aku mendengar Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Aku berutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban”.
Yahya berkata: “Karena dia sibuk dengan (mengurusi) Nabi atau sibuk karena senantiasa bersama (mengiringi kesibukan) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Bukhori)
2. Memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban
Pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum Ramadhan. Rasulullah saw banyak sekali melakukan puasa sunnah pada bulan ini. Bahkan dalam salah satu hadits shahih, sampai dikatakan Rasulullah hampir puasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban ini.
Rasulullah banyak melakukan puasa sunnah pada bulan Sya’ban dimaksudkan sebagai latihan puasa untuk persiapan memasuki puasa Ramadhan.
Dari ‘Aisyah ra beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu falaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Ada catatan penting bagi puasa di bulan Sya’ban ketika sudah mendekati masuk bulan Ramadhan. Sehari atau dua hari sebelum masuk bulan Ramadhan, kita dilarang untuk berpuasa pada akhir bulan Sya’ban ini.
Hal ini dilarang dengan alasan agar tidak tercampur antara puasa sunnah pada bulan Sya’ban dengan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Yakni agar jangan sampai kita melakukan puasa Sunnah bulan Sya’ban, padahal sebenarnya secara hitungan bulan sudah masuk bulan Ramadhan.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.” (HR. Muslim dan Bukhari)
3. Mulai memperbanyak dan belajar membaca Alquran
Hal ini dimaksudkan sebagai latihan keseriusan membaca Alquran sebelum datangnya bulan Ramadhan, yang harus senantiasa kita isi dengan amalan membaca Alquran. Tujuan ini sama dengan tujuan memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, yakni agar kita terlatih dan sudah terbiasa.
4. Membekali diri dengan Ilmu-ilmu berkaitan dengan puasa Ramadhan
Ilmu paling penting berkaitan dengan puasa Ramadhan adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah sebagai berikut.
a. Hukum, tata cara, dan berbagai macam aturan syari’ at berkaitan dengan puasa Ramadhan.
b. Keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan, dan cara untuk mendapatkannya sesuai tuntunan sunnah.
Dua ilmu itulah yang sangat penting bagi kita untuk kita pelajari dan persiapkan, guna menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
5. Berdoa agar dapat berjumpa dengan Ramadhan
Berkata Mu’alla bin Al Fadhl “Dulu (para Salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan sebelum datangnya Ramadhan, agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”
Berkata Yahya bin Abi Katsir bahwasanya beliau senantiasa berdoa: “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan selamat hingga sampai kepada bulan Ramadhan, dan antarkanlah bulan Ramadhan itu kepadaku. Dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma’arif li Ibni Rajab, hal 148)
Kenapa para Salaf berdoa sampai sebegitu? Ini karena tingginya ketaqwaan dan keilmuan mereka hingga mereka merasa amat sangat butuh ampunan dan pahala dari Allah sebagai bekal mereka di akhirat.
Oleh karena itu, bulan Ramadhan sebagai bulan ampunan dan pelipatgandaan pahala adalah suatu kesempatan emas yang amat sangat mereka nanti-nanti. Mereka berharap agar bisa bertemu dengan bulan Ramadhan agar bisa banyak beramal di sana, dan berharap dengan benar-benar agar apa yang mereka kerjakan diterima amalannya oleh Allah.
Amalan puasa adalah suatu amalan yang memiliki keutamaan tersendiri di dalam syari’at Islam. Jika setiap amalan shaleh dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, maka amalan puasa ini lebih dari itu pelipatgandaannya.
Dan hanya Allah sendiri yang tahu betapa besar pelipatgandaan pahala yang akan diberikan. Maka dari itulah para ulama Salaf juga senantiasa berdoa agar seluruh amal shaleh mereka di bulan Ramadhan diterima Allah swt. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments