Follow us:

Rasulullah SAW Samakan Muslim dengan Pohon Kurma, Terungkap Ini 15 Rahasia Kemiripan

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa pohon yang baik adalah pohon kurma, sebab itu Rasulullah SAW memberikan perumpamaan seorang Muslim dengan kurma.

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قال رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ؟» فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي [أي: ذَهَبَتْ أفكارُهم في أَشْجَارِ الباديةِ، فجَعَلَ كُلٌّ منهم يُفَسِّرُها بِنَوعٍ مِنَ الأنواعِ، وذَهَلوا عن النَّخْلَة] قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَاسْتَحْيَيْتُ. ثُمَّ قَالُوا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «هِيَ النَّخْلَةُ» قَالَ: فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعُمَرَ. قَالَ: لأَنْ تَكُونَ قُلْتَ: “هِيَ النَّخْلَةُ” أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya di antara pepohonan ada sebuah pohon yang daunnya tidak pernah gugur. Pohon itu merupakan perumpamaan bagi seorang Muslim. Coba kalian beritahukan kepadaku, pohon apakah itu?”

Orang-orang pun mulai memikirkan berbagai jenis pohon yang tumbuh di daerah pedalaman. Masing-masing menyebutkan jenis pohon yang mereka kira sesuai dengan perumpamaan tersebut. Mereka tidak terpikir bahwa yang dimaksud adalah pohon kurma.

Abdullah bin Umar berkata, “Dalam hati saya terlintas bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Namun, saya merasa malu untuk mengatakannya.”

Kemudian orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami pohon apakah itu?” Beliau SAW menjawab, “Pohon kurma.”

Abdullah bin Umar kemudian menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, Umar bin Khattab. Umar berkata, “Seandainya kamu tadi mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma, hal itu lebih aku sukai daripada begini dan begitu.” (HR Muslim)

Ada banyak sisi kesamaan antara seorang Muslim dan pohon kurma. Berikut ini lima belas kemiripannya:

1. Pohon kurma memiliki akar, batang, cabang, daun, dan buah.

Demikian pula seorang Muslim memiliki akar, cabang, dan buah. Akar seorang Muslim adalah enam pokok keimanan, yaitu iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari akhir, serta qada dan qadar.

Cabangnya adalah berbagai amal saleh dan ketaatan yang dilakukan seorang Muslim. Adapun buahnya adalah segala kebaikan yang diperoleh seorang Muslim serta kebahagiaan yang ia rasakan, baik di dunia maupun di akhirat.

2. Pohon kurma tidak dapat hidup dan tumbuh tanpa air.

Ketika air tidak lagi mengalir kepadanya, pohon kurma akan layu. Jika air benar-benar terputus, pohon itu pun akan mati.

Demikian pula seorang Muslim. Ia tidak akan memperoleh kehidupan yang hakiki kecuali dengan menyirami hatinya dengan wahyu, yakni dengan berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Sebagaimana air menjadi sumber kehidupan bagi pohon, demikian pula Alquran dan sunnah merupakan sumber kehidupan bagi hati seorang mukmin.

3. Pohon kurma memiliki akar yang sangat kuat dan kokoh.

Allah Ta’ala berfirman:

أَصْلُهَا ثَابِتٌ

“Akarnya teguh.” (QS Ibrahim: 24)

Demikian pula seorang Muslim. Ketika iman telah tertanam kuat dan mengakar di dalam hatinya, ia akan memiliki keteguhan yang kokoh, bagaikan gunung-gunung yang berdiri tegak.

4. Pohon kurma hanya dapat tumbuh dengan baik di tanah yang subur.

Di tempat tertentu, pohon kurma sama sekali tidak dapat tumbuh dengan kokoh. Di tempat lain, ia mungkin dapat tumbuh, tetapi tidak menghasilkan buah. Ada pula yang menghasilkan buah, tetapi kualitasnya lemah.

Artinya, tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma.

Demikian pula iman. Iman tidak akan kokoh di setiap hati. Ia hanya akan tertanam kuat di dalam hati orang yang Allah kehendaki mendapatkan petunjuk dan yang Dia lapangkan dadanya untuk menerima iman.

5. Pohon kurma terkadang ditumbuhi rerumputan liar dan tanaman lain yang bukan bagian darinya.

Tanaman-tanaman tersebut dapat mengganggu dan melemahkan pertumbuhan pohon kurma. Ia juga dapat berebut air dan nutrisi yang dibutuhkan pohon tersebut.

Karena itu, pohon kurma membutuhkan perawatan dan perhatian secara terus-menerus dari pemiliknya.

Demikian pula seorang Muslim. Dalam perjalanan hidupnya, ia akan menghadapi berbagai hal yang dapat melemahkan iman dan mengurangi keyakinannya. Berbagai hal tersebut bahkan dapat mengganggu akar iman yang telah tertanam di dalam hatinya.

Karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa melakukan introspeksi, mengendalikan dan melawan hawa nafsunya, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak imannya.

Di antaranya adalah bisikan setan, dorongan jiwa yang mengajak kepada keburukan, serta berbagai fitnah dan godaan dunia.

6. Pohon kurma senantiasa memberikan buah.

Allah Ta’ala berfirman:

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu.” (QS Ibrahim: 25)

Kata ukul dalam ayat tersebut berarti buah. Pohon kurma dapat memberikan buahnya sepanjang waktu—siang dan malam, musim panas maupun musim dingin—dalam berbagai bentuk, mulai dari kurma muda, kurma setengah matang, hingga kurma matang.

Demikian pula seorang Muslim. Ucapan yang baik dan amal salehnya senantiasa naik kepada Allah setiap waktu, pada setiap jam, baik siang maupun malam, dalam berbagai keadaan dan musim kehidupan.

7. Pohon kurma merupakan pohon yang penuh keberkahan.

Hampir tidak ada bagian dari pohon kurma yang tidak dapat dimanfaatkan. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ

“Sesungguhnya di antara pepohonan ada pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang Muslim.” (HR Bukhari)

Pohon kurma memberikan manfaat dalam seluruh tahapan kehidupannya. Sejak mulai tumbuh hingga akhirnya mengering, berbagai bagian pohon tersebut tetap dapat dimanfaatkan.

Buahnya dimakan dalam berbagai bentuk. Setelah itu, bagian-bagian lainnya pun masih berguna. Biji kurma, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan seratnya dapat digunakan untuk membuat tali.

Demikian pula seorang Muslim. Keberkahannya bersifat luas dan manfaatnya terus mengalir, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Bahkan setelah meninggal dunia, kebaikan dan manfaat yang ditinggalkannya dapat terus dirasakan oleh orang lain.

8. Pohon kurma disebut sebagai pohon yang baik.

Allah Ta’ala menggambarkannya dalam firman-Nya:

كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ

“Seperti pohon yang baik.” (QS Ibrahim: 24)

Predikat “baik” dalam ayat tersebut memiliki makna yang luas. Bukan hanya baik dari segi bentuk dan penampilannya, tetapi juga baik dari segi aroma, buah, serta manfaat yang diberikannya.

Demikian pula seorang Muslim. Salah satu sifat teragung yang semestinya melekat pada dirinya adalah kebaikan dalam ucapan, perbuatan, seluruh urusan, dan berbagai keadaan hidupnya.

Kebaikan itu tampak dalam lahir maupun batin, dalam keadaan tersembunyi maupun ketika berada di hadapan manusia.

9. Seorang mukmin senantiasa memberikan manfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma. Apa pun yang kamu ambil darinya, pasti bermanfaat bagimu.” (HR ath-Thabrani).

Pohon kurma seluruh bagiannya memiliki manfaat. Tidak ada bagian dari pohon itu yang sia-sia.

Buahnya bermanfaat untuk dikonsumsi. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan bangunan dan atap rumah.

Daun dan pelepahnya dapat digunakan sebagai bahan penutup rumah, sekaligus untuk menutup celah dan bagian yang terbuka.

Adapun daun kurma yang masih muda atau seratnya dapat digunakan untuk membuat berbagai wadah, keranjang, tikar, dan beragam peralatan lainnya. Serat serta bagian pangkal pelepahnya pun memiliki berbagai manfaat yang telah dikenal manusia sejak dahulu.

Demikian pula seorang Muslim dalam berinteraksi dengan saudara-saudaranya, orang-orang yang duduk bersamanya, maupun para sahabatnya.

Dari dirinya semestinya selalu tampak akhlak yang mulia, adab yang luhur, perlakuan yang baik, serta sikap saling menasihati kepada orang-orang di sekitarnya.

10. Tingkat kebaikan yang berbeda-beda

Pohon kurma memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam bentuk, jenis, dan buahnya. Tidak semua pohon kurma memiliki tingkat keindahan dan kualitas yang sama.

Di antara satu pohon dan lainnya terdapat banyak perbedaan dan keunggulan. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِى ٱلْأَرْضِ قِطَعٌۭ مُّتَجَـٰوِرَٰتٌۭ وَجَنَّـٰتٌۭ مِّنْ أَعْنَـٰبٍۢ وَزَرْعٌۭ وَنَخِيلٌۭ صِنْوَانٌۭ وَغَيْرُ صِنْوَانٍۢ يُسْقَىٰ بِمَآءٍۢ وَٰحِدٍۢ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍۢ فِى ٱلْأُكُلِ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ ٤

“Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang, dan yang tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan tanaman yang satu dari yang lainnya dalam hal rasanya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ar-Ra’d: 4)

Sebagian pohon kurma memiliki rasa, jenis, dan penampilan yang lebih baik daripada yang lainnya.

Demikian pula kaum Muslimin memiliki tingkatan iman yang berbeda-beda. Mereka tidak berada pada derajat yang sama. Di antara mereka terdapat perbedaan yang sangat besar dalam kualitas iman dan amal.

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ ٣٢

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang berlomba dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS Fathir: 32)

Orang yang menzalimi dirinya sendiri adalah orang yang masih melakukan sebagian perbuatan maksiat.

Adapun orang yang pertengahan adalah mereka yang menunaikan kewajiban dan menjauhi segala yang diharamkan.

Sementara itu, orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan adalah mereka yang bersegera dan bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal saleh, baik yang wajib maupun yang sunnah.

11. Keteguhan dan kesabaran

Pohon kurma termasuk pohon yang paling mampu bertahan menghadapi terpaan angin dan berbagai kondisi berat. Sementara itu, banyak pohon besar lainnya terkadang dapat dibengkokkan oleh angin, bahkan ada yang sampai tercabut dari akarnya.

Pohon-pohon lain juga tidak semuanya mampu bertahan menghadapi kekeringan sebagaimana pohon kurma.

Demikian pula seorang Muslim hendaknya memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Ia tidak mudah goyah ketika diterpa berbagai kesulitan, sebagaimana pohon kurma yang tetap kokoh menghadapi terpaan angin.

Dalam diri seorang Muslim terkumpul tiga macam kesabaran:

1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah

2. Sabar dalam meninggalkan dan menjauhi maksiat

3. Sabar menghadapi ketetapan Allah yang terasa menyakitkan

Ketiga bentuk kesabaran tersebut menjadi kekuatan bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan.

12. Semakin panjang usia, semakin banyak kebaikan

Pohon kurma, semakin bertambah usianya, semakin besar pula manfaat dan kebaikan yang dihasilkannya. Buahnya pun semakin baik.

Demikian pula seorang Muslim. Jika Allah memberinya umur yang panjang, hendaknya semakin bertambah pula kebaikan yang ia lakukan dan semakin baik amalnya.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim).

Karena itu, panjang umur bukan sekadar bertambahnya usia, tetapi seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperluas manfaat, dan semakin dekat kepada Allah.

13. Hati yang baik

Bagian tengah pohon kurma, yang disebut jummar, memiliki rasa yang manis dan lezat. Ia termasuk bagian pohon yang paling baik dan menyenangkan untuk dinikmati.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Suatu ketika kami berada di sisi Nabi SAW. Kemudian beliau diberi jummar. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di antara pepohonan ada sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang Muslim.’

Aku ingin mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Namun saat itu aku adalah orang yang paling muda di antara mereka, sehingga aku memilih diam. Nabi SAW kemudian bersabda, ‘Pohon itu adalah pohon kurma.’” (HR Bukhari)

Demikian pula hati seorang Muslim. Hati seorang Muslim semestinya termasuk hati yang paling baik dan paling bersih. Ia tidak menyimpan sesuatu kecuali kebaikan dan tidak menyembunyikan niat selain istiqamah, kebaikan, dan keselamatan.

Hati yang baik akan melahirkan ucapan yang baik, perbuatan yang baik, serta hubungan yang baik dengan sesama.

14. Selalu Memberikan Manfaat

Pohon kurma tidak pernah kehilangan manfaatnya. Jika satu bagian atau satu bentuk manfaatnya tidak lagi dapat digunakan, masih terdapat manfaat lain pada bagian-bagian lainnya, seperti pelepah, daun, serat, maupun bagian pangkal pelepahnya.

Demikian pula seorang Muslim tidak pernah sepi dari berbagai sifat kebaikan. Jika suatu sisi kebaikan dalam dirinya berkurang, masih ada sisi kebaikan lainnya yang dapat ia tumbuhkan dan kembangkan.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjadi pribadi yang kebaikannya selalu diharapkan dan keburukannya selalu dapat dihindari.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ، وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لاَ يُرْجَى خَيْرُهُ، وَلاَ يُؤْمَنُ شَرُّهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang kebaikannya diharapkan dan keburukannya dapat dijamin tidak akan menimpa orang lain. Sedangkan seburuk-buruk kalian adalah orang yang kebaikannya tidak diharapkan dan keburukannya tidak dapat dijamin.” (HR Imam At-Tirmidzi).

15. Kebaikannya mudah dijangkau

Buah pohon kurma mudah dijangkau dan diambil. Jika pohonnya pendek, seseorang tidak perlu bersusah payah untuk memanjatnya. Jika pohonnya tinggi, memanjat pohon kurma relatif lebih mudah dibandingkan memanjat pohon-pohon tinggi lainnya.

Pohon kurma seolah-olah telah menyediakan tangga dan pijakan yang memudahkan seseorang untuk mencapai bagian atasnya.

Demikian pula seorang Muslim. Kebaikannya semestinya mudah didekati dan mudah dirasakan oleh orang yang menginginkannya. Ia tidak mempersulit orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya.

Seorang Muslim bukanlah orang yang keras dan sulit didekati, apalagi orang yang kikir dan buruk perangainya. Sebaliknya, kebaikan seorang Muslim hendaknya dekat, mudah dijangkau, dan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. (UYR/Republika)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved