Follow us:

Resolusi PBB Sudah Keluar, Bantuan Masih Sulit Masuk ke Gaza

Keluarnya Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang pengiriman bantuan ke Jalur Gaza tak memberi dampak di lapangan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan masih kesulitan untuk mengirim bantuan obat-obatan dan bahan bakar ke Gaza. 

Padahal, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan, kondisi sistem kesehatan di Gaza kian merosot. Dia mengatakan, keluarnya Resolusi DK PBB diharapkan mampu mendorong masuknya paket bantuan ke kantong yang terkepung itu. 

“Namun, berdasarkan laporan saksi mata WHO di lapangan, tragisnya resolusi tersebut belum memberikan dampak,” ujarnya, Kamis (28/12/2023), dikutip laman Middle East Monitor.

Dia menambahkan, tugas yang diemban tim WHO di Gaza pun kian sukar. “Kemampuan WHO untuk memasok obat-obatan, pasokan medis, dan bahan bakar ke rumah sakit-rumah sakit semakin terhambat oleh kelaparan serta keputusasaan orang-orang dalam perjalanan menuju, dan di dalam, rumah sakit yang kita capai,” kata Ghebreyesus.

Menurut WHO,  sistem layanan kesehatan di Gaza sudah sangat kritis. Terdapat 21 rumah sakit di sana yang sudah tak beroperasi. Sebanyak 13 rumah sakit berfungsi sebagian. Sementara itu, dua rumah sakit lainnya hanya berfungsi minim. “Apa yang sangat kita perlukan saat ini adalah gencatan senjata untuk menyelamatkan warga sipil dari kekerasan lebih lanjut dan memulai jalan panjang menuju rekonstruksi dan perdamaian,” ungkap Ghebreyesus.

Pada 22 Desember 2023 lalu, DK PBB mengadopsi resolusi tentang percepatan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza. Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan, sebanyak 13 negara mendukung rancangan resolusi tersebut. Dua negara lainnya, yakni Amerika Serikat (AS) dan Rusia memilih abstain.

Resolusi tersebut tak mengandung seruan tentang gencatan senjata atau penghentian pertempuran antara Hamas dan Israel. Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan, resolusi tentang pengiriman bantuan kemanusiaan yang diadopsi Dewan Keamanan PBB terlambat. Selain itu, dia menilai resolusi tersebut pun masih jauh dari apa yang diharapkan, yakni gencatan senjata total.

“Resolusi 2272 yang diadopsi kemarin, Jumat (22 Desember 2023), merupakan upaya untuk mencegah kelaparan di Jalur Gaza dan menyelamatkan masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak, dari situasi bencana. Namun resolusi itu tidak cukup untuk menghentikan mesin perang Israel, apalagi resolusi tidak mencakup gencatan senjata,” kata Aboul Gheit dalam sebuah pernyataan, dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, Sabtu (23/12/2023).

Dia mengungkapkan, Resolusi 2272 diadopsi setelah adanya beberapa kali penundaan atas permintaan Israel. Aboul Gheit menekankan, yang dibutuhkan penduduk Gaza bukan hanya bantuan kemanusiaan, tapi juga perlindungan dari gempuran dan pengeboman terus menerus oleh Israel.

“Setiap langkah untuk meringankan penderitaan warga sipil di Gaza berada pada arah yang benar, namun mengatasi bencana kemanusiaan tidak dapat dicapai melalui tindakan parsial atau paliatif untuk meredam kemarahan opini publik dunia atas apa yang terjadi di Gaza,” ucap Aboul Gheit.

Aboul Gheit menegaskan, menolak gencatan senjata segera sama saja dengan mengizinkan pembunuhan terus berlangsung di Gaza. Hingga berita ini ditulis, jumlah warga Gaza yang terbunuh akibat agresi Israel telah mencapai sedikitnya 21.300 jiwa. Sementara korban luka melampaui 52 ribu orang. Jumlah itu dihitung sejak Israel memulai agresinya ke Gaza pada 7 Oktober 2023.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan ribuan keluarga Palestina meninggalkan kamp-kamp pengungsi yang diserang Israel yang ingin memperluas serangan di Gaza. Serangan berat militer Israel di seluruh selatan dan tengah Gaza menewaskan puluhan orang.

Dengan jalan kaki atau gerobak yang ditarik keledai warga membanjir jalanan ke Deir al-Balah yang sebelum perang berpopulasi sekitar 75 ribu orang. Kini kota itu menampung ratusan ribu orang yang terusir dari selatan Gaza yang sudah menjadi reruntuhan.

Karena tempat penampungan PBB sudah melebih kapasitas, warga yang baru datang mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan di malam musim dingin. Sebagian memadati jalanan di sekitar Rumah Sakit Syahid Al-Aqsa, berharap tempat itu lebih aman dari serangan Israel.

Namun tidak ada tempat yang aman di Gaza. Israel menyerang sebagian besar pemukiman padat penduduk di Deir al-Balah dan Rafah di ujung selatan Gaza serta daerah pedesaan di pantai selatan daerah itu. Daerah-daerah tersebut rutin dihujani serangan Israel yang kerap menghancurkan rumah yang penuh dengan penghuninya.

Israel mengatakan operasi militernya di Gaza tampaknya akan berlangsung berbulan-bulan. Israel berjanji menumpas Hamas dan mencegah serangan mendadak pada 7 Oktober lalu terulang kembali. Salah satu dari kabinet perang Israel, Benny Gantz mengatakan perang “akan diperluas, sesuai yang dibutuhkan, untuk menambah pusat dan front.” (UYR/Republika)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved