Sastra Klasik Islam Memotret Hari Raya dan Keterlibatan Penguasa
Sastra klasik Islam rupanya juga mengabarkan suasana hari raya di setiap masa dan menempatkannya sebagai momen istimewa dalam budaya Islam. Hari raya bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga pengalaman emosional kolektif yang memancarkan kebahagiaan, kebersamaan, dan keharmonisan antarmanusia.
Dalam lintasan sejarah, ada banyak sastrawan Arab klasik yang menjadikan hari raya sebagai tema kaya imajinasi. Mereka menyusun karya puitis untuk memadukan kegembiraan dengan kerinduan, serta harapan dengan kesedihan.
“Puisi agung adalah puisi tentang momen-momen penting.” Demikian para sastrawan merangkai kalimat puitis dan menjadikan fungsi sastra sebagai pencatat sejarah batin manusia. Dalam hal ini, puisi Arab tampil sebagai cermin kehidupan kolektif umat, menggambarkan suka dan duka masyarakat serta mengabadikan momen keagamaan dan sosial, terutama hari raya sebagai denyut kehidupan umat Islam.
Ketika hari raya tiba, suasana kehidupan berubah secara nyata. Hati dipenuhi kegembiraan, dan para penyair menemukan momen ini sebagai ruang kreatif yang subur. Mereka tidak hanya melukiskan kebahagiaan lahiriah, tetapi juga menggali makna terdalam dari perasaan manusia, cara menyambut hari raya, serta tradisi yang mencerminkan persatuan rasa.
Salah satu gambaran indah tentang datangnya hari raya tergambar dalam bait berikut:
“والعيد أقبل مزهوًا بطلعته
كأنه فارس في حلّة رفلا
والمسلمون أشاعوا فيه فرحتهم
كما أشاعوا التحايا فيه والقبلا”
“Dan hari raya pun datang dengan penuh kebanggaan,
laksana seorang ksatria dalam pakaian yang indah.
Kaum Muslim menyebarkan kegembiraan di dalamnya,
sebagaimana mereka menebarkan salam dan cium kasih.”
Secara tradisi keindahan hari raya tampak pada fungsinya sebagai sarana mempererat hubungan antarmanusia. Ia menjadi momen untuk menyambung kembali silaturahmi yang terputus. Dalam suasana ini, manusia kembali pada fitrahnya: mencintai kebersamaan, berbagi kasih sayang, dan saling mengunjungi.
Nilai kemanusiaan pun menguat. Hari raya mengajarkan kepedulian terhadap sesama—anak-anak, yatim, dan mereka yang kehilangan orang tua. Ia menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan dalam Islam.
Menariknya, kebahagiaan hari raya tetap hadir bahkan di tengah kesulitan. Dalam kondisi berat sekalipun, umat Muslim tetap saling mengucapkan selamat dan menyebarkan kegembiraan. Ini menunjukkan bahwa harapan tidak pernah padam.
Dalam karya Sastra Islam klasik hari raya tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada kalanya bagi sebagian orang, hari raya justru menjadi momen penuh kehilangan dan kerinduan. Perasaan ini tergambar dalam syair yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi:
“ما مرّ ذكرك إلا وابتسمت له
كأنك العيد والباقون أيامُ”
“Setiap kali namamu terlintas, aku pun tersenyum,
seakan engkau adalah hari raya, dan yang lain hanyalah hari-hari biasa.”
Dalam tradisi puisi Arab klasik, hari raya juga menjadi sarana untuk menyampaikan pujian kepada penguasa. Karya Sastra Islam klasik menunjukkan mengapa Hari raya perlu melibatkan penguasa. Dalam konteks ini para penyair memadukan ucapan selamat dengan sanjungan yang indah kepada penguasa.
Pada masa Abbasiyah, hal ini berkembang pesat dan melahirkan karya-karya yang mengagumkan. Salah satu contohnya adalah Ibn al-Rumi (Diwan Ibn al-Rumi I: 402), yang menulis:
للناس عيدٌ ولي عيدان في العيد
إذا رأيتك يا ابن السادة الصيد
إذا هم عيدوا عيدين في سنة
كانت بوجهك لي أيام تعييد
قالوا استهل هلال الفطر قلت لهم
وجه الأمير هلال غير مفقود
“Bagi manusia ada satu hari raya, tetapi bagiku ada dua dalam satu hari raya,
yakni ketika aku melihatmu, wahai putra para bangsawan mulia.
Jika mereka merayakan dua hari raya dalam setahun,
maka wajahmu bagiku adalah hari-hari raya yang berulang.
Mereka berkata, ‘Hilal Idulfitri telah tampak,’ maka aku menjawab,
‘Wajah sang amir adalah hilal yang tak pernah hilang.’”
Penyair lain, Ashja’ al-Sulami (Bughyat al-Thalb IV: 1872), memuji Khalifah Harun al-Rashid dengan berkata,
لا زلت تنشر أعياداً وتطويها
تمضي بها لك أيام وتثنيها
مستقبلاً بهجة الدنيا ولذتها
أيامها لك نظم في لياليها
العيد والعيد والأيام بينهما
موصولة بك لا تفنى وتفنيها
“Semoga engkau senantiasa menggelar hari-hari raya dan melipatnya kembali,
hari-harimu berlalu dalam kemuliaan dan terus berulang.
Engkau menyambut keceriaan dan kenikmatan dunia,
hari-harimu tersusun indah laksana untaian malam.
Hari raya demi hari raya, dan hari-hari di antaranya,
terhubung denganmu—tak pernah sirna, bahkan engkau menghidupkannya.”
Dari sekian karya sastra klasik yang menyanjung penguasa Islam, tidak ada yang menandingi kejeniusan Al-Mutanabbi dalam memainkan makna. Dalam pujiannya kepada Sayf al-Dawla seperti disebutkan di dalam kitab Al-Nazdm fi Syarh Syi’i al-Mutanabbi, ia menulis,
هنيئاً لك العيد الذي أنت عيده
وعيد لمن سمّى وضحّى وعيّدا
ولا زالت الأعياد لبسك بعده
تسلّم مخروقاً وتعطي مجددا
فذا اليوم في الأيام مثلك في الورى
كما كنت فيهم واحداً كان أوحدا
“Selamat atas hari raya yang engkaulah hakikatnya,
dan hari raya pula bagi siapa yang bertakbir, berkurban, dan merayakannya.
Semoga hari-hari raya setelahnya terus menyertaimu,
memperbarui yang usang dan menyempurnakan yang kurang.
Hari ini di antara hari-hari bagaikan dirimu di antara manusia,
engkau satu, yang tak tertandingi satu persatu.”
Makna yang terkandung dalam bait puisi itu adalah bahwa penguasa memiliki andil besar pada perayaan lebaran. Mereka disanjung lewat bahasa dan dikenang dalam imajinasi. Sebab keterlibatan penguasa dalam momentum hari raya menjadi simbol kerukunan yang mengharmonisasikan antara cinta, harapan dan kebahagiaan.
Penulis: M. Ishom el-Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments