Follow us:

Satu Abad Pondok Modern Gontor: Warisan Nilai dan Keteladanan

Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, tahun ini genap berusia 100 tahun, terhitung sejak didirikan pada 20 September 1926, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1345 Hijriah. Sejarah Gontor mengabadikan tiga tokoh inspirator sekaligus pendirinya, yaitu K.H. Ahmad Sahal (1901–1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908–1967), dan K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985). Ketiganya yang kemudian populer disebut Trimurti, merupakan satu kesatuan dalam ide, cita-cita, dan langkah perjuangan tanpa pamrih untuk mendidik umat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam biografi para pendiri Gontor, dikisahkan perjuangan dan doa sang ibu, Nyai Santoso Anom Besari, agar anak-anaknya yang telah yatim sejak kecil kelak menjadi orang alim dan shaleh. Harapan dan doa tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup yang kemudian mengantarkan mereka pada pengabdian di bidang pendidikan dan dakwah.

Jauh sebelum Gontor berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang dikenal luas seperti sekarang, kawasan ini memiliki sejarah yang panjang. Sebelum abad ke-18, di daerah Ponorogo pernah berdiri sebuah pesantren tua yang kemudian meredup dan tidak lagi dikenal. Pada masa berikutnya, Gontor merupakan kawasan hutan yang dikenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, pemabuk, penyamun, dan berbagai kelompok yang hidup di luar tatanan masyarakat.

Para pendiri Pondok Modern Gontor tidak mewarisi kejayaan sebuah lembaga pendidikan yang masih berdiri kokoh. Mereka justru membangun dari keadaan yang nyaris terlupakan, di antara puing-puing keruntuhan masa lalu. Dari tempat yang dahulu dikenal sebagai kawasan yang tidak teratur itu, mereka merintis sebuah lembaga pendidikan yang kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Asia Tenggara.

Suatu hari Ahmad Sahal, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi mendatangi tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara untuk mendiskusikan konsep pendidikan pesantren yang ideal. Ki Hajar Dewantara menjawab, “Anda bertiga lebih paham tentang pesantren yang ideal.”

Semasa muda K.H. Imam Zarkasyi pernah bekerja di Kementerian Agama sebagai Kepala Bagian yang memperjuangkan pengajaran agama di sekolah negeri. Setelah usia lanjut, ia masih dipercaya menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A), dari unsur masyarakat, pada Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.

Transformasi Pondok Modern Gontor

K.H. Imam Zarkasyi melakukan perombakan kurikulum dan metode pengajaran berdasarkan pengalaman belajar yang didapatkan di Sumatera Barat dan mengembangkannnya lebih lanjut di Gontor. Di ranah Minang, Imam Zarkasyi menempuh pendidikan di Thawalib School Padang Panjang yang dirintis oleh Syekh Dr. H. Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dan diteruskan oleh Abdul Hamid Hakim Tuanku Mudo. Di masa itu ribuan pelajar yang berasal dari seluruh Indonesia dan Semenanjung Melayu menuntut ilmu di madrasah Thawalib Padang Panjang.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Thawalib, Imam Zarkasyi melanjutkan ke sekolah Normaal Islam Padang di bawah pimpinan Al-Ustaz Mahmud Yunus. Setamat dari Normaal Islam, ia ditugaskan oleh Mahmud Yunus menjadi Direktur Kweekschool Muhammadiyah Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Setelah satu tahun, tugas memimpin Kweekschool Muhammadiyah atau Sekolah Muallimin di Padang Sidempuan dilanjutkan oleh H. Oemar Bakry. Saat itu Imam Zarkasyi dipanggil pulang ke Gontor untuk mengembangkan Pondok Modern Darussalam Gontor.  

Dalam wawancara Prof. Dr. Deliar Noer dengan K.H. Ahmad Sahal untuk penelitian disertasinya di Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat, pada awal 1960-an, Ahmad Sahal mengungkapkan alasan mengapa Imam Zarkasyi, dikirim belajar ke Sumatera Barat.

“Saya ingin pondok ini mengikuti zaman, dan untuk itu, adik saya (Imam Zarkasyi, pen.) saya kirim ke Sumatera Barat.”

“Kenapa ke sana?” tanya Deliar Noer.

“Sumatera Barat ketika itu merupakan daerah kebangkitan Islam. Ulamanya terkenal, sistem surau sudah dipermodern, tetapi dengan tetap memelihara jiwa Islam. Saya mempunyai kenangan indah tentang Minangkabau. Saya masih bisa berbahasa Minang,” ujar K.H. Imam Zarkasyi yang 6 tahun menimba ilmu pengetahuan di Sumatera Barat.

Cendekiawan muslim Prof. Dr. Nurcholish Madjid dalam buku K.H. Imam Zarkasyi Di Mata Umat (1996) mengungkapkan setelah Imam Zarkasyi datang dari Padang Panjang, mulailah sejarah baru dalam pengajaran di Gontor. Dengan begitu di Gontor telah terjadi perubahan besar. Sistem pengajaran modern, al-Thariqah al-Haditsah mulai diterapkan dan sejak saat itu pengajaran di situ tersistematisasikan.

Saya kira cukup beralasan Prof. Dr. Muchlis Bahar, Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, alumni Thawalib Padang Panjang dan Universitas Al-Azhar Cairo, mengatakan kepada saya dalam suatu perbincangan di Padang, “Thawalib lahir di Padang Panjang, tapi berkembang di Jawa.” Perkembangan Thawalib di Jawa tercermin dari perkembangan Pondok Modern Gontor.  

Peresmian Pondok Gontor dengan nama baru Pondok Modern Darussalam Gontor dilakukan pada 19 Desember 1936 oleh Trimurti: K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi.

Pondok Modern Gontor mengintegrasikan sistem madrasah dan pesantren menjadi sistem baru pondok pesantren. Pola pengajaran di Pondok Modern Gontor tidak melakukan dikotomi dalam mengajarkan ilmu pengetahuan antara ilmu agama dan ilmu umum, antara ilmu Barat dan ilmu Timur, karena semua ilmu bersumber dari Allah. Sementara itu bahasa Arab dan bahasa Inggris diajarkan dan dipraktikkan secara intensif dengan menggunakan direct method.

Prof. Dr. Mahmud Yunus dalam Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (1996) menjelaskan bahwa cara mendidik dan mengajar di Gontor diatur menurut metode dan sistem pendidikan modern. Karena itu, tidak mengherankan apabila pesantren tersebut dinamai “Pondok Modern”. Nama pondok itu kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai Pondok Modern Gontor.

Pondok Modern Gontor mengajarkan cara pandang moderat dan inklusif kepada para santrinya. Meski di antara pendirinya ada yang menjadi pengurus dan aktivis organisasi kemasyarakatan Islam tertentu, tetapi Gontor secara kelembagaan “berdiri di atas dan untuk semua golongan”. Para pendiri Pondok Modern Gontor memilih pendidikan sebagai wasilah untuk meningkatkan martabat masyarakat dan memperjuangkan ajaran-ajaran agama Islam.

Setelah lulus dari Gontor, alumni yang mempunyai bakat organisasi ada yang aktif di dalam perkumpulan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, atau melakukan dakwah dengan caranya sendiri-sendiri. Pimpinan Pondok Modern Gontor menggambarkan bahwa pondoknya tidak dibangun untuk memindahkan santri dari satu organisasi ke organisasi lainnya. Santri berlatar tradisi organisasi NU masuk Gontor, tetap bisa kembali sebagai NU. Begitu pula, santri berlatar organisasi Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah setelah tamat dari Gontor. Saya kira penggambaran ini tepat dan benar karena tugas lembaga pendidikan Islam adalah mendidik generasi muslim. 

K.H. Imam Zarkasyi pernah mengutarakan bahwa Gontor tidak melakukan indoktrinasi. Ajaran Islam disampaikan secara apa adanya, termasuk yang mengandung variasi pendirian: tradisional dan modern. Pesantren Modern Gontor tidak hanya mendidik dan mengajar santrinya agar menguasai ilmu agama (tafaqquh fiddien) dan ilmu pengetahuan umum secara terpadu, tetapi membentuk generasi yang berkarakter dan  memiliki etos kemandirian. Para alumni Pondok Modern Gontor dibekali kemampuan beradaptasi dengan lingkungan global sebagai fenomena yang tak bisa dihindari oleh umat manusia dewasa ini.

Para alumni Gontor berkiprah sebagai ulama, guru, akademisi, birokrat, politisi, wartawan, diplomat, pengusaha, dan sebagainya sesuai bakat masing-masing. Ada alumni Gontor yang menjadi pimpinan organisasi Islam skala nasional, pimpinan lembaga tinggi negara, menteri, dan duta besar. Sampai saat ini Pondok Modern Gontor telah melahirkan lebih dari seratusan ribu alumni di seluruh Indonesia, dan sejumlah alumni Gontor mendirikan pesantren yang melahirkan ribuan alumni pula.

Mengutip pesan K.H. Imam Zarkasyi kepada para santri Gontor, “Kamu pulang ke masyarakat harus bermental, bersikap, dan berpikir jujur.” Prinsip kesederhanaan, kejujuran, dan tidak berlebih-lebihan, selalu ditekankan. Segala sesuatu yang berlebihan dapat merusak masyarakat dan menjadi faktor korupsi.

Mengenai keberanian dan optimisme menghadapi masa depan, pimpinan Gontor mengamanatkan, “Yang paling utama, jangan kecil hati menghadapi masa depanmu.  Meskipun kamu akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat, ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah.”

Nilai-Nilai Pengorbanan

Trimurti yang paling lama membersamai perjalanan Pondok Modern Gontor, K.H. Imam Zarkasyi pernah berkata, “Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalau pun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena.” 

Dengan demikian, kalau direnungkan, warisan terbesar dan termahal dari tiga pejuang pendiri Gontor, saya kira bukan tanah dan gedung, tetapi warisan nonbenda ialah nilai-nilai pengorbanan tanpa pamrih dan keikhlasan. Warisan nilai-nilai itulah yang ingin saya bicarakan dalam tulisan ini.

Salah satu pernyataan K.H. Imam Zarkasyi yang menginspirasi santri dan guru pondok pesantren Gontor adalah “Gontor maju karena dibantu atau Gontor dibantu karena maju?” Jawabannya: “Gontor dibantu karena maju.” Gontor maju karena mampu dan berhasil mewujudkan pendidikan yang bermutu.

Dalam buku Kyai Seribu Pondok: Inspirasi dan Dedikasi K.H. Kafrawi Ridwan (2018) diungkapkan oleh eks Sekretaris Jenderal Kementerian Agama dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam yang pernah menjadi Ketua Umun Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor itu bahwa di antara nilai-nilai keteladanan pendiri Pondok Modern Gontor adalah mereka mewakafkan harta milik pribadinya untuk umat Islam melalui pondok. Dalam sejarah Pondok Modern Gontor tercatat pada tahun 1958, Trimurti mewakafkan lembaga dan seluruh aset Gontor kepada umat Islam.

Setelah revolusi kemerdekaan, Trimurti: Ahmad Sahal, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi, menjual harta warisan orangtua mereka demi untuk membangun kembali pondok yang roboh. Sejak pondok berdiri hingga beberapa dekade tidak menarik uang sekolah dari para santri. Kelebihan uang yang diberikan para donator digunakan untuk melengkapi kegiatan santri.

Keteladanan lainnya adalah sifat amanah, bersih dan tertib dalam administrasi pesantren. Trimurti sejak awal telah memisahkan kekayaan pribadi dan kekayaan pesantren. Sebuah contoh kecil yang mengesankan, K.H. Ahmad Sahal, tertua dari Trimurti, satu ketika memakai kendaraan pondok untuk keperluan pribadi, setelahnya beliau mengganti bahan bakar yang digunakan. Sewaktu pergi haji, ia berangkat dengan biaya sendiri, bukan atas biaya pondok padahal Pondok Modern Gontor saat itu sudah maju dan memiliki aset yang banyak serta mampu memberangkatkan haji pimpinannya.

Suatu hari di depan para santrinya K.H. Ahmad Sahal menegaskan, “Sekiranya tempat, pakaian, makan dan minum saya lebih mewah, lebih bagus, lebih enak dari tempat, pakaian, makan, minum anak-anakku santri sekalian, maka anak-anakku boleh memprotes saya.”

Doa yang pernah diucapkan oleh K.H. Imam Zarkasyi, selaku pengasuh pondok, “Ya Allah, kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tak akan memberikan faedah kepada masyarakat, maka lenyapkanlah ia dari pandangan saya dengan segera.”

Para pendiri Pondok Modern Gontor yakin bahwa kebangkitan umat Islam tergantung pada pengelolaan pendidikan. Pendidikan membuat umat hidup mandiri, memiliki ‘izzah (harga diri) kapan dan di mana saja.  

Zainuddin Fananie, semasa merantau ke Palembang sebagai Konsul Muhammadiyah dan Imam Zarkasyi sewaktu belajar di Normaal Islam Padang menulis buku Pedoman Pendidikan Modern. Dalam buku yang diterbitkan di Padang, Januari 1934 itu, dijelaskan kedudukan pendidikan, tujuan pendidikan, cara dan daya upaya mendidik, pendidikan sekolahan, pendidikan dalam keluarga, pendidikan pemuda dan lain-lain. Buku ini dianggap sebagai magnum opus tentang modernisasi pendidikan pesantren di Indonesia.

Sebuah penggambaran dalam buku Pedoman Pendidikan Modern bahwa manusia yang pandai apabila berbuat jahat akan lebih jahat daripada orang bodoh. Jika mengacau atau berkhianat, akan lebih pandai dan jika merusak pun lebih berbahaya. Karena itu, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi membedakan pengertian pendidikan dan pengajaran.

Gontor Menuju Abad Kedua

Gontor adalah unik, sekalipun modern, tetap namanya pondok. Walau dinamakan pondok, tetapi modern. Saya pribadi tidak pernah menuntut ilmu di Pondok Modern Gontor, tetapi mengenal beberapa alumnus Gontor dan membaca tentang tokoh-tokoh Gontor, sehingga sedikit mengenal sejarah dan sistem pendidikannya. Bahkan tidak berlebihan disebut kebesaran Gontor adalah salah satu simbol kebesaran pendidikan Islam di Indonesia.     

Pondok Modern Gontor telah memasuki abad kedua. Pondok Modern Gontor diakui karena kualitas pendidikan dan pengajaran serta kualitas alumninya. Pondok Modern Gontor telah membuka 20 kampus cabang di seluruh Indonesia dengan ribuan santri dan mahasiswa Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor).

Selama satu abad Pondok Modern Gontor mengukir reputasi sebagai lembaga pendidikan yang mencetak guru dan ulama intelek. Semua santri Gontor dididik dengan  kemandirian dan keterampilan hidup (life skill). Santri Gontor diajari kemandirian agar kelak tidak menggantungkan kebutuhan hidup pribadinya pada imbalan kegiatan dakwah. 

Dalam buku Ajaran Kiai Gontor: 72 Prinsip Hidup K.H. Imam Zarkasyi (Muhammad Ridlo Zarkasyi, 2017), para santri Gontor diingatkan agar meluruskan niat belajar: Lillahi Ta’ala dan Li l’laai Kalimatillah, artinya hanya untuk Allah dan untuk menegakkan kalimat Allah. Lebih jauh diajarkan, kekayaan tidak ada hubungannya dengan kepintaran, maka belajarlah bukan untuk kekayaan. Trimurti berpesan: jangan segala sesuatu tergantung pada uang. Mental skill lebih penting daripada job skill. Semangat dan motivasi adalah bagian dari mental skill.

Pendidikan Pondok Modern Gontor menekankan pembentukan pribadi mukmin-muslim dengan motto: berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar. Motto ini menjadi pedoman sehari-hari bagi guru dan santri sehingga mewarnai pendidikan dan pengajaran di pesantren tersebut.

Program Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (putra) dan Kulliyyatu-l-Mu’allimat Al-Islamiyyah (putri) merupakan pendidikan formal Gontor setingkat SMP/SMA. Pendidikan diselenggarakan dari pagi sampai malam dengan pola berasrama, disiplin beribadah, penguasaan bahasa asing, latihan organisasi, kepemimpinan, pramuka, kegiatan sosial, olahraga, seni, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pengelolaan harta dan aset wakaf sejak semula merupakan tulang punggung pendidikan di Pondok Modern Gontor. Manfaat pengelolaan wakaf diharapkan lebih optimal menunjang pembiayaan pendidikan Gontor, seperti pada Universitas Al-Azhar di Mesir. Bertepatan dengan peringatan 100 tahun Pondok Modern Gontor, Yayasan Darussalam Global Charity menerima Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 1206 Tahun 2026 tentang Pemberian Izin sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) Skala Nasional.

Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan, adalah nilai-nilai yang selama ini membingkai pelaksanaan pendidikan di Pondok Modern Gontor. Ini sejalan dengan pesan K.H. Imam Zarkasyi yang membandingkan antara pendidikan kolonial dan pendidikan nasional. Pendidikan kolonial bertujuan untuk menjadikan anak didik sebagai pegawai, sedangkan pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan rakyat.

Pondok Modern Gontor mengemban tanggung jawab dakwah dan tanggung jawab sejarah yang tidak ringan, bersama lembaga pendidikan lainnya, dalam mendidik generasi muslim dan membangun sejarah. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang besar dan terkemuka, Gontor memberi kontribusi nyata untuk memajukan pendidikan di Indonesia dan membangun peradaban bangsa melalui pendidikan. Sulit memprediksikan wajah pendidikan nasional tanpa peran dan sumbangsih lembaga pendidikan swasta, terutama pondok pesantren dan madrasah, yang didirikan umat Islam sejak sebelum Indonesia merdeka. Kemoderenan Gontor diharapkan tidak hanya dalam konteks masa lalu saja, tetapi harus dipayakan tetap relevan sampai kapan pun.

Peringatan kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Gontor merefleksikan mozaik perjalanan sejarah pembaruan pendidikan Islam di Tanah Air. Para alumni Gontor yang sebagian berkiprah di bidang pendidikan dan berperan di pusat pengambilan keputusan turut mengawal sistem pendidikan Indonesia sehingga tetap di dalam garis Ketuhanan Yang Maha Esa dan terjaga dari arus sekularisme.

Selamat memperingati satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor.  Semoga semakin gemilang memasuki abad kedua. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved