Sehelai Kain dan Penutup Kepala yang Kini Jadi Identitas Khas Indonesia
Hampir setiap rumah, minimal punya satu. Terlipat di sudut lemari, tersampir di gantungan pintu, atau terselip di tas mudik menjelang lebaran. Kadang ia dipakai untuk salat Jumat, kadang dipakai berselimut bapak-bapak ronda malam, tidur siang, sampai sekadar duduk santai di teras sore hari. Tak ada yang benar-benar memikirkannya, sampai mungkin muncul pertanyaan: sebenarnya sarung itu apa bagi kita?
Menteri Agama menjawabnya dengan sebuah kelakar. Menurutnya, sarung lebih merdeka daripada celana. Hadirin tertawa, tetapi kelakar itu menyimpan sesuatu yang serius. Sehelai kain tabung dan sebuah penutup kepala hitam ternyata menyimpan rasa nyaman, kehormatan, hingga identitas yang dibawa berabad-abad.
Dan perjalanannya dimulai jauh dari lemari di rumah kita.
Kain yang Datang Lewat Pelabuhan
Sarung ternyata tidak lahir dari tanah Nusantara. Sejumlah catatan sejarah menyebut sarung mulai dikenal masyarakat Nusantara sekitar abad ke-14 hingga ke-15 lewat jalur perdagangan internasional. Pada beberapa periode, jenis kain, mutu bahan, dan motif sarung bahkan menjadi penanda kedudukan seseorang di masyarakat. Umumnya, kain ini sering dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India, sejak masa kerajaan di Asia Tenggara.
Di Nusantara, kain tabung ini menemukan rumahnya. Ia menyerap corak daerah: tenun Samarinda, sarung Bugis, hingga batik. Menag menyebutnya sebagai cara mengenali “mikrobudaya” lewat busana. Kain impor itu pelan-pelan menjadi bahasa visual yang menandai asal-usul pemakainya.
Sarung, Peci, dan Pesantren
Di pesantren, sarung dan peci melekat pada keseharian santri. Studi dalam jurnal Al-Iman (2024) menempatkan kopiah dan sarung sebagai identitas pesantren dan menelusurinya sebagai bentuk perlawanan terhadap kebudayaan Eropa. Gagasan ini sejalan dengan narasi yang sering diceritakan di kalangan pesantren, termasuk dalam sambutan Dirjen Pesantren, tentang sikap menjaga jarak dari simbol penjajah.
Peci: Dari Penutup Kepala Santri Menjadi Mahkota Diplomatis
Peci punya kisah yang tak kalah menarik. Sebuah penelitian sejarah dari UIN Sunan Gunung Djati menyimpulkan peci semula penutup kepala dalam konteks keagamaan Islam, lalu berkembang menjadi simbol nasionalisme dan identitas bangsa. Soekarno disebut berperan besar. Ia mulai memakainya dalam rapat Jong Java pada 1921 sebagai simbol perlawanan terhadap kolonial. Menag memberi sisi lain: Bung Karno berpeci bukan karena botak, tapi karena memang menyukainya.
Makna peci kemudian bergeser. Kajian di Jurnal Tarbawi menjelaskan kopiah pada mulanya identitas muslim, lalu pada abad ke-20 berubah menjadi identitas nasional dan bukan identitas satu golongan saja. Karena itu, pejabat dari agama apa pun mengenakannya dalam acara kenegaraan, hal yang juga disinggung Menag dalam sambutannya.
Seni yang Terancam Hilang
Kekhawatiran lain muncul dari generasi muda. Menurut Menag, anak muda sekarang sering tak bisa melilitkan sarung dengan benar. Orang pesantren, katanya, sanggup memakainya 24 jam tanpa merosot dan tanpa tali pengikat. Jahitan sarung seharusnya berada di depan, sementara yang tidak terbiasa sering memasangnya sekenanya.
Keterampilan kecil ini memang bukan data sejarah, tetapi ia gambaran bagaimana tradisi bisa memudar bukan karena dilarang, melainkan karena tidak lagi dipraktikkan.
Tradisi yang Terus Bertumbuh
Kini sarung dan peci tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak. Industri sarung berkembang dengan beragam bahan seperti katun, rayon, hingga campuran serat modern, sementara sarung Indonesia mulai dikenal di pasar internasional berkat keunikan motif dan mutu tenunnya.
Menag berharap festival ini membuka ruang kreasi baru: model sarung dan peci yang khas bagi anak muda. Mungkin itu jawaban paling masuk akal atas pertanyaan yang terus diulang dalam acara semacam ini. Tradisi hidup bukan karena dijaga seperti benda pajangan, melainkan karena terus dipakai, dikenakan, dan ditafsir ulang.
Referensi pendukung:
- Firdausi, & Azis, A. (2024). Kopiah dan sarung identitas pesantren (Studi historis tentang perlawanan pesantren terhadap kebudayaan Eropa). Al-Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, 8(1), 198–219.
- Milan, S., & Fauzi, A. M. (2022). Motif tindakan umat non-Muslim dalam memakai kopiah (Studi pada civitas akademik Universitas Negeri Surabaya). Tarbawi: Journal on Islamic Education, 6(2), 132–141.
- Purwanti, R. (2024). Sejarah peci hitam sebagai simbol nasionalisme di Indonesia pada tahun 1921-1949 [Skripsi sarjana, UIN Sunan Gunung Djati Bandung].
(UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments