Follow us:

Senantiasa Istiqamah

Sesungguhnya hal yang tersulit dan terberat dalam menjalankan aktivitas beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan terletak pada ibadah mahdhah (wajib) yang kita kerjakan. Karena ternyata, ibadah mahdhah tersebut adalah ringan dibandingkan dengan hal lainnya.

Jika islam itu dilihat hanya dari shalatnya saja, shalat itu apabila kita renungkan adalah ringan. Bayangkan, shalat dikerjakan dalam waktu kurang lebih 15 menit dikalikan 5 = 75 menit, dibandingkan dengan 24 jam yang diberikan Allah bagi orang yang mempunyai hati yang lurus, maka sesungguhnya shalat itu bukanlah hal yang terberat. Dan ibadah Ramadhan juga bukan merupakan ibadah yang paling berat dalam islam.

Yang paling berat juga bukan ibadah haji dan umrah. Terutama bagi orang yang punya kelapangan harta dan kesehatan, haji dan umrah itu ringan. Haji bisa dilaksanakan dalam beberapa hari setelah wukuf di Arafah, begitu juga dengan umrah bisa selesai dalam beberapa jam saja. Tetapi ternyata, yang paling berat dalam menghambakan diri kepada Allah Ta’ala adalah bagaimana menjaga keimanan dan ketaatan ini selama hidup ini. Inilah yang disebut para ulama’ dengan sikap istiqamah.

Mari kita perhatikan contoh yang diberikan Allah Ta’ala ketika menyampaikan kisah orang-orang yang bertabur dengan keimanan dan ketakwaan, tetapi tidak menjamin mereka “mati” dalam keadaan iman dan takwa. Mereka diceritakan oleh alquran agar kita bisa mengambil pelajaran besar bahwasanya menjaga iman dan takwa bukan merupakan pekerjaan ringan dan mudah.

Kisah Bal’am bin Ba’ura

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي ءَاتَيْنَاهُ ءَايَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al A’raf: 175)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam agar menceritakan sebuah kisah kepada Ahli Kitab tentang seseorang yang keluar dengan kekafirannya seperti lepasnya ular dari kulitnya.

Dia dikenal dalam kitab-kitab tafsir dengan nama Bal’am bin Ba’ura, salah seorang ulama dari kalangan Bani Israil di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. Dia termasuk salah seorang yang diberi ilmu tentang Ismul A’zham (Nama Allah Yang Paling Agung). Di dalam majelisnya terdapat 12.000 tinta untuk menuliskan uraian-uraian yang disampaikannya.

Malik bin Dinar Rahimahullahu mengatakan bahwa dia termasuk orang yang terkabul doanya. Mereka (orang-orang Bani Israil) mengajukannya setiap kali ditimpa kesulitan. Suatu ketika, dia diutus oleh Nabi Musa Alaihissalam mengajak salah seorang penguasa Madyan kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Raja itu memberinya harta, lalu diapun meninggalkan ajaran Musa Alaihissalam dan mengikuti agama raja itu.

Di dalam kitab Tasir Qur’anul Azim karangan Ibnu Katsir, dikatakan bahwa Muhammad bin Ishaq bin Yasar mencertiakan dari Salim, dari Abu An-Nadr bahwa ketika Musa memasuki pulau Bani Kan’an di daerah Ash-Sham (daerah Syria), orang-orang Bal’am datang padanya, dan berkata, “Ini adalah Musa, anak dari Imran dengan anak-anak Israel. Dia ingin mengusir kita keluar dari pulau kita, membunuh kita, dan mengganti kita dengan anak-anak Israel. Kami adalah kaummu dan tidak mempunyai tempat tinggal yang lain. Kau adalah orang yang doanya pasti dikabulkan (oleh Allah), maka pergilah dan mohonlah kepada Allah agar Dia memerangi mereka. Dia (Bal’am) berkata, “Sengsara kalian! Dia adalah Nabi Allah (Musa) dengan para malaikat dan orang beriman! Bagaimana mungkin aku dapat memohon kehancuran mereka sedang aku tahu dari Alah apa yang aku tahu.” Mereka berkata, “Kami tidak mempunyai tempat tinggal lagi.” Lalu mereka tetap menggoda dan memohon padanya sampai dia tergoda oleh rayuan dan pergi dengan menunggangi keledai menuju gunung Husba, yang berada di belakang barak tentara Israel. Tak lama kemudian ketika dia dalam perjalanan menuju gunung, keledainya duduk dan menolak untuk pergi. Lalu dia turun dan memukul keledainya sampai berdiri dan menungganginya lagi. Tak lama setelah itu, si keledai melakukan hal yang sama, dan dia memukulnya lagi sampai berdiri. Lalu dia meneruskan perjalanannya dan mencoba untuk memohoh kehancuran Musa dan kaumnya. Namun, Allah membuat lidahnya mengucapkan keburukan untuk kaumnya dan kebaikan untuk anak-anak Israel. Lalu kaumnya protes, “O Bal’am! Apa yang kamu lakukan? Kamu mendoakan kebaikan kepada mereka dan keburukan untuk kami!” Dia berkata, “Hal ini bertentangan dengan kemauanku. Ini merupakan sebuah masalah yang sudah ditetapkan Allah.” Dia kemudian berkata kepada mereka, dengan lidahnya yang dibuat seolah-olah enggan keluar dari mulutnya, “Sekarang aku sudah kehilangan dunia ini dan akhirat”. [Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Kathir]

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil faedah bahwa iman dan hangatnya ketaatan dalam hati itu bukanlah sesuatu yang statis. Terkadang iman dan kekufuran itu batasnya sangat tipis. Orang yang terlihat penuh dengan catatan keimanan, belum jadi jaminan dirinya meninggal dalam keadaan iman. Karena menjaga iman itu sangatlah sulit, apalagi di zaman sekarang.

Ayat di atas menceritakan tentang seorang hamba Allah yang dulunya taat dan diberi kelebihan (nikmat) kemudian dia mengingkarinya. Memang, kisah ini bersumber dari cerita-cerita Israiliyat. Di mana kita tidak bisa begitu saja secara mutlak menerima dan mendustakannya. Tetapi tipe atau karakter yang disebutkan dalam kisah ini banyak kita lihat dalam kenyataan di sekitar kita. Berapa banyak orang yang dulunya shalih, hari ini ini belum tentu ia masih shalih dan taat.

Rajjal bin ‘Unfuwwah

Pada suatu hari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam duduk dikelilingi sejumlah orang­-orang Islam. Selagi pembicaraan berlangsung, tiba-tiba Rasulullah terdiam sejenak, kemudian beliau menghadapkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya dengan ucapan:

“Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki, gerahamnya di dalam neraka, lebih besar dari gunung Uhud. . . !”

Semua yang hadir dalam majlis beserta Rasulullah ini senantiasa diliputi ketakutan dan kecemasan akan timbulnya fitnah dalam Agama kelak . . . . Masing-masing mereka merasa kecut dan takut, kalau-kalau ia lah yang akan menerima nasib yang paling jelek dan kesudahan yang terkutuk itu . . . ! Tetapi mereka semua, yang mendengar pembicaraan waktu itu, kehidupannya telah berakhir dengan kebaikan, mereka telah menemui ajal mereka sebagai syuhada di jalan Allah. Yang tinggal masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah.

Setelah gugur sebagai syuhada para shahabat tersebut di atas, Abu Hurairah merasa seluruh persendiannya gemetar dan hatinya diliputi ketakutan, kalau-kalau ramalan Nabi itu menimpa dirinya. Matanya tak mau terpejam ditidurkan, dan belum tenang rasa cemasnya, sampai taqdir menyingkapkan tabir orang yang bernasib celaka itu. Orang yang bernama Rajjal itu murtad dari Islam dan ia bergabung dengan Musailamah al-Kaddzab, malah mengakui kenabian palsunya.

Ketika itu ternyatalah apa yang diramalkan Rasul dengan nubuatnya mengenai nasib jelek dan kesudahan yang celaka itu …. Rajjal bin ‘Unfuwah ini pergi di suatu hari kepada Rasul saw. berbai’at dan masuk Islam. Sesudah ia menganut Islam itu kembalilah ia kepada kaumnya. Ia tak pernah datang lagi ke Madinah, kecuali sesudah Rasul wafat dan terpilihnya Abu Bakar ash-Shiddiq jadi Khalifah Kaum Muslimin. Kepada Abu Bakar telah disampaikan orang berita tentang keadaan penduduk Yamamah dan bergabungnya mereka dengan Musailamah. Rajjal mengusulkan kepada ash-Shiddiq agar ia sendiri diutus kepada mereka untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Usul itu diterima oleh Khalifah.

Maka berangkatlah Rajjal ke negeri Yamamah. Sewaktu ia menyaksikan jumlah mereka sangat banyak serta menakutkan dan disangkanya bahwa orang-orang itu pasti menang. Maka jiwa khianatnya membisikkan agar mulai hari itu, ia menyeberang saja ke pihak gerombolan “Al-Kaddzab” si pembohong itu yang disangkanya akan jaya dan menang, lalu ditinggalkannya Islam, dan bergabung ke dalam barisan Musai­lamah yang bermurah hati kepadanya dengan mengobral janji-janji.

Bahaya Rajjal terhadap Islam lebih mengkhawatirkan dari bahaya Musailamah sendiri. Sebabnya karena ia dapat me­nyalahgunakan keislamannya yang lalu, dan masa-masa hidupnya bersama Rasul di Madinah, serta hafalnya akan ayat-ayat Quran yang tidak sedikit, begitupun dikirimnya ia sebagai utusan oleh Abu Bakar, Khalifah Kaum Muslimin. Semua itu disalahgunakan­nya secara keji untuk memperkuat kekuasaan Musailamah dan mengukuhkan kenabian palsunya.

Dengan sungguh-sungguh ia pergi menyebarluaskan kepada orang banyak, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah berkata yang maksudnya: Bahwa beliau menjadikan Musailamah bin Habib sebagai serikatnya dalam perkara itu …. Sekarang, karena Rasul telah wafat, maka orang yang paling berhaq membawa bendera kenabian dan wahyu sesudahnya ialah Musailamah!!

Jumlah orang-orang yang bergabung kepada Musailamah semakin bertambah banyak, disebabkan kebohongan-kebohongan Rajjal ini, dan karena penyalahgunaan keislaman dan hubungan­nya dengan Rasulullah di masa. silam

Berita kebohongan Rajjal ini sampai ke Madinah. Kemarahan orang-orang Islam menjadi berkobar karena tindakan si murtad ini, yang akan menyesatkan manusia sampai sebegitu jauh, dan yang dengan kesesatan itu akan memperluas daerah peperangan, yang mau tak mau harus diterjuni Kaum Muslimin.

Riwayat hidupnya akhirnya ditamatkan oleh Zaid Bin Khattab dalam perang Yamamah. Demikianlah kisah salah seorang yang pernah bersama dalam majlis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beriman dengan risalah baginda, akhirnya mati dalam keadaan kafir.

Istiqamah

Dengan keimanan kita yang belum benar-benar dibuktikan, bukankah kita yang lebih patut untuk menggandakan usaha meningkatkan iman dan takwa sepanjang masa? Jangan kita merasa selamat dan takkan terpaling daripada kebenaran dengan melihat kepada keimanan yang kita ‘rasa’ kan kuat sekarang, karena kisah berpaling dari keimanan juga pernah berlaku pada zaman Sahabat Radhiallahu Anhum.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْاْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (Hud: 112)

Mengawali dan memulai sebuah pekerjaan baik mungkin tidak mudah, utamanya bagi yang tidak terbiasa. Diperlukan tekad kuat untuk melakukannya. Tapi sesungguhnya yang lebih berat lagi adalah mempertahankan kebiasaan baik tersebut dan menjaganya untuk tetap konsisten dan kontinyu, sembari meningkatkan kualitasnya.

Pentingnya memelihara kontinyuitas ini ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya,

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” Al Qasim berkata; Dan Aisyah, bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya.” (HR Muslim)

Inilah yang disebut dengan istiqamah. Tanpa adanya sikap istiqamah, amal baik yang dilakukan seseorang bagaikan setangki air yang disiramkan ke gurun pasir. Basah sekejap, untuk kemudian hilang tak berbekas.

Istiqamah adalah sebuah aplikasi nyata yang ajeg, tidak plin-plan atau plintat-plintut. Istiqamah adalah semangat beramal pantang menyerah, anti loyo, yang tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas.

Istiqamah membutuhkan konsistensi yang kuat dalam menyikapi kebenaran dalam segala kondisi dan situasi. Ia adalah sikap tegas menolak kebatilan yang ada di hadapannya. Kita diharuskan untuk tidak condong atau memihak kepada kebatilan itu.

Demikian istiqamah bukan berarti hal mustahil. Karena itu, perhatian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terhadap masalah istiqamah ini sangat besar. Beliau sendiri mengatakan, “Ayat yang ada dalam surat Hud (ayat 112) itu telah membuatku beruban”. Dan bahkan diceritakan, setelah ayat tersebut turun, beliau lebih banyak menangis daripada tertawa. Ini menunjukkan bahwa istiqamah membutuhkan perhatian khusus dan konsentrasi sepanjang waktu.

Semua manusia mempunyai kemampuan untuk istiqamah sepanjang ia menancapkan tekad bulat dan kesungguhan hati. Sebab, semua dibebankan Allah kepada manusia baik berupa perintah, larangan, ujian tidak ada satupun yang di luar batas kemampuannya. Semuanya sudah diukur dengan kemampuan manusia, sebab Allah Maha Adil.

Karena beratnya istiqamah itulah, Allah menjanjikan kepada mereka balasan yang setimpal berupa kebaikan-kebaikan yang disegerakan di dunia dan di akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat: 30)

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqamah.

Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat di atas, ia pun berdo’a, “Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).” [Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam]

Maka tidak heran jika syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,

أعظم الكرامة لزوم الاستقامة

“Sebesar-besar ‘karamah’ adalah terus-menerus ‘istiqamah’.” [Madarijus Salikin]

Dan do’a yang paling sering Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.“ [HR. Tirmidzi]

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا

“Sesungguhnya hati-hati hamba berada di tangan Allah ‘Azza Wa Jalla, Allah yang membolak-balikkannya.“ [HR. Ahmad]

Sebab Yang Meneguhkan Keistiqamahan

  • Mengenal Allah Azza Wa Jalla

Kenapa orang bisa melenceng dari jalan yang benar? Karena tidak mengenal Allah. Kenapa orang bisa jatuh dalam tawaran kenikmatan yang menjadikan dirinya menggadaikan imannya? Karena ia tidak paham dengan apa yang dijanjikan Allah. Oleh karena itu perumpamaan orang bertauhid laksana pohon kokoh, akarnya dalam ke tanah dan dahannya menjulang ke langit.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء (إبراهيم: 24)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (Ibrahim: 24)

[786]  termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti Laa ilaa ha illallaah.

Semakin seseorang mengenal Allah, maka beratnya ujian akan terasa ringan karena ia paham bahwa Allah akan memberikan padanya janji yang lebih besar (menguntungkan) daripada apa yang ia dapatkan di dunia.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَخْبِرُونِي بِشَجَرَةٍ تُشْبِهُ أَوْ كَالرَّجُلِ الْمُسْلِمِ لَا يَتَحَاتُّ وَرَقُهَا وَلَا وَلَا وَلَا تُؤْتِي أُكْلَهَا كُلَّ حِينٍ قَالَ ابْنُ عُمَرَ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ وَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَا يَتَكَلَّمَانِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ فَلَمَّا لَمْ يَقُولُوا شَيْئًا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ فَلَمَّا قُمْنَا قُلْتُ لِعُمَرَ يَا أَبَتَاهُ وَاللَّهِ لَقَدْ كَانَ وَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَكَلَّمَ قَالَ لَمْ أَرَكُمْ تَكَلَّمُونَ فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ أَوْ أَقُولَ شَيْئًا قَالَ عُمَرُ لَأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا

Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma berkata, ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bertanya, “Beritahukan padaku suatu pohon yang mirip seorang muslim, daunnya tak berguguran, dan ia tak berbuah setiap waktu”. Ibnu Umar berkata:

Hatiku mengatakan bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Aku melihat Abu Bakar dan Umar tak berbicara sehingga aku tak mau berbicara atau mengatakan apa pun. Tatkala para sahabat tak ada yang menjawab sedikitpun, Rasulullah bersabda:

“Yaitu pohon kurma”. Ketika kami sudah beranjak pergi, aku berkata kepada Umar; Wahai bapakku, dalam hatiku juga mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Lalu ia berkata; Kenapa kamu tak mengatakannya tadi?

Ibnu Umar menjawab; ‘Aku melihat kalian semua tak menjawab, maka aku pun tak mau menjawab atau mengatakan sesuatu pun. Umar berkata: ‘Andai kau mengatakannya, itu lebih aku sukai dari ini dan ini”. [HR. Bukhari]

  • Senantiasa Menghadiri Majlis Ilmu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya”.

)Hadits ini merupakan potongan dari hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah(

Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang ‘alim. Karena hal itu merupakan martabat tertinggi para ulama rabbani, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. [Ali Imran: 79]

Majlis-majlis ilmu adalah majlis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dipahami makna-maknanya, serta saling memberikan nasehat untuk menambah keimanan dan ketakwaan.

  • Berkumpul Bersama Orang-Orang Shalih

Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran: 101)

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة: 119)

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar“. (At Taubah: 119)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” [HR. Bukhari dari Abu Musa]

Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullahu mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia”. (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqalani)

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih.

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati”. (Siyar A’lam An Nubala’)

Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang saolih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya.

  • Dekat Dengan Alquran

Alquran berisi penjelasan-penjelasan dan fakta-fakta yang tidak terbantahkan, khususnya yang terkait menjelaskan perbedaan antara haq dan batil. Dengan alquran, penyakit syubhat yang merusak ilmu, merusak konsepsi dan merusak pemahaman akan hilang, sehingga dia melihat sesuatu berdasarkan hakekatnya.

Barangsiapa yang sungguh-sungguh mempelajari alquran, sehingga alquran menyatu dengan hatinya, otomatis dia akan melihat yang haq dan batil, dan bisa membedakan antara keduanya sebagaimana dia bisa melihat dengan mata kepalanya perbedaan malam dan siang. Jadi alquran adalah solusi dan jalan hidup.

Banyak sekali hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan Al-Qur`an; baik itu kepada pembacanya, penghafalnya, orang yang mengamalkannya, orang yang mendakwahkannya dan selainnya. Diantaranya:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ ، وَلَامٌ حَرْفٌ ، وَمِيمٌ حَرْفٌ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia akan memperoleh satu hasanah (kebajikan), dan satu hasanah akan dilipat gandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصَحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: “siapa yang mencintai alquran berarti dia mencintai Allah dan RasulNya”. Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu berkata: “sekiranya hati kalian bersih niscaya tidak akan pernah kenyang dengan kalam Allah (alquran)”.

  • Senantiasa Memakan Makanan Yang Halal

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah kepada para Rasul,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (Al-Mukminun: 51)

Kemudian Nabi menceritakan keadaan seseorang yang melakukan safar panjang, rambutnya kusut, mukanya berdoa, menengadahkan tangan ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi asupan gizi dari yang haram, maka bagaimana bisa diterima doanya”?! (HR. Muslim)

Ada orang-orang yang diwafatkan oleh Allah dalam keadaan baik dan sedang menjalankan kebaikan, mafhum mukhalafah berarti ada orang-orang yang diwafatkan Allah dalam keadaan tidak baik dan sedang menjalankan kemaksiatan. Ada tidak, orang yang meninggal dunia dalam keadaan berbuat baik? Banyak, contoh nyatanya adalah meninggalnya para Rasul dan Nabi, sahabat Radhiallahu Anhum, orang-orang shiddiq dan orang-orang shalih.

  • Banyak Membaca Kisah-Kisah Orang Terdahulu

Dalam Al Qur’an banyak diceritakan kisah-kisah para nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu. Kisah-kisah ini Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 11)

Contohnya kita bisa mengambil kisah istiqamahnya Nabi Ibrahim.

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آَلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ (70)

“Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Al Anbiya’: 68-70)

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu Anhuma berkata,

آخِرَ قَوْلِ إِبْرَاهِيمَ حِينَ أُلْقِىَ فِى النَّارِ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Akhir perkataan Ibrahim ketika dilemparkan dalam kobaran api adalah “hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar).”

Lihatlah bagaimana keteguhan Nabi Ibrahim dalam menghadapi ujian tersebut? Beliau menyandarkan semua urusannya pada Allah, sehingga ia pun selamat. Begitu pula kita ketika hendak istiqomah, juga sudah seharusnya melakukan sebagaimana yang Nabi Ibrahim contohkan. Ini satu pelajaran penting dari kisah seorang Nabi.

Begitu pula kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa Alaihissalam dalam firman Allah,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ, قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.” (QS. Asy Syu’ara: 61-62)

Lihatlah bagaimana keteguhan Nabi Musa ‘alaihis salam ketika berada dalam kondisi sempit? Dia begitu yakin dengan pertolongan Allah yang begitu dekat. Inilah yang bisa kita contoh.

Oleh karena itu, para salaf sangat senang sekali mempelajari kisah-kisah orang shalih agar bisa diambil teladan.

Basyr bin Al Harits Al Hafi mengatakan,

أَنَّ أَقْوَامًا مَوْتَى تَحْيَا القُلُوْبَ بِذِكْرِهِمْ وَأَنَّ أَقْوَامًا أَحْيَاءَ تَعْمَى الأَبْصَارَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِمْ

“Betapa banyak manusia yang telah mati (yaitu orang-orang yang shalih, pen) membuat hati menjadi hidup karena mengingat mereka. Namun sebaliknya, ada manusia yang masih hidup (yaitu orang-orang fasik, pen) membuat hati ini mati karena melihat mereka”.

Itulah orang-orang shalih yang jika dipelajari jalan hidupnya akan membuat hati semakin hidup, walaupun mereka sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kita. Namun berbeda halnya jika yang dipelajari adalah kisah-kisah para artis, yang menjadi public figure. Walaupun mereka hidup, bukan malah membuat hati semakin hidup. Mengetahui kisah-kisah mereka mati membuat kita semakin tamak pada dunia.

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh: Ustadz Oemar Mita, Lc.                                                                                                                      (Hud/Darussalam.id)

 

 

 

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved