Follow us:

TAFSIR SURAH AL FATIHAH

Oleh:Ustadz Taqiyuddin, Lc.

Surat Al Fatihah adalah surah Makkiyyah maknanya, surah ini diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah sebelum hijrahnya beliau ke Madinah. Karena para ulama telah menentukan batasan tentang status suatu surah, apakah termasuk Madaniyah atau Makkiyah, dilihat dari sisi waktu turunnnya ayat. Maksudnya, surah yang turun sebelum hijrahnya Rasulullah disebut dengan surah Makkiyah. Sedangkan surah yang turun setelah hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah disebut dengan Madaniyah, walaupun surah tersebut turun di kota Makkah, misalnya Surah An Nashr. Surah ini turun di Makkah saat Fathu Makkah, namun para ulama’ menyebutnya dengan surah Madaniyah, karena Fathu Makkah terjadi 8 tahun setelah hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Ini adalah pendapat ulama’ yang mendekati kebenaran dan tidak membingungkan.

Surah al-Fatihah adalah Ummul Qur’an’ atau ‘Induk al-Quran’. Banyak nama yang disandangkan kepada awal surah al-Quran itu. Dari nama-nama itu dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat diperoleh bagi pembacanya. Tidak heran jika doa dianjurkan agar ditutup dengan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin atau bahkan ditutup dengan surah ini.

Dari sekian banyak nama yang disandangnya, hanya tiga atau empat nama yang diperkenalkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pada masa beliau dikenal al-Fatihah (Pembuka) karena secara tekstual ia memang merupakan surah yang membuka atau mengawali Al-Qur’an, dan sebagai bacaan yang mengawali dibacanya surah lain dalam shalat.

Selain al-Fatihah, surat ini juga dinamakan oleh mayoritas ulama dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur’an (Induk al-Qur’an). Dinamakannya Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab (Induk Kitab) adalah karena ia mengandung seluruh tema pokok dalam Alquran, yaitu tema pujian kepada Allah yang memang berhak untuk mendapatkan pujian, tema ibadah dalam bentuk perintah maupun larangan, serta tema ancaman dan janji tentang hari kiamat. Dengan kata lain, al-Fatihah mencakup ajaran-ajaran pokok dalam Islam, yaitu ajaran tentang tauhid, kepercayaan terhadap Hari Kiamat, cara beribadah, dan petunjuk dalam menjalani hidup.

Al Fatihah juga disebut dengan nama As-Sab’ul Matsani karena tujuh ayatnya yang selalu diulang-ulang khususnya di dalam shalat. (Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 1995)

TAFSIR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة : 1[

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Para ulama Madinah, Bashrah, dan Syam menganggap bahwa basmalah bukanlah termasuk ayat Alquran, termasuk bukan ayat dalam Surah Al-Fatihah, kecuali dalam surah an-Naml. Adanya basmalah hanyalah berfungsi sebagai pemisah antara satu surah dengan surah lain serta demi mencari keberkahan karena mengawali membaca Alquran dengan basmalah. Pendapat seperti ini pula yang dipilih Imam Hanafi dan para pengikutnya. Karena itulah, mereka selalu membaca secara perlahan (sirr) di dalam shalat.

Sedangkan menurut Imam Syafi’i, basmalah adalah awal ayat dalam surah al-Fatihah, karena itulah dalam mazhab Syafi’i, basmalah diucapkan secara jelas (jahr). Menurut Ibnu Abbas, basmalah adalah awal ayat pada setiap surah.

Dan ada pula pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu bahwa pada al-Fatihah sajalah Bismillahir Rohmanir Rohim itu termasuk ayat, sedang pada surat-surat yang lain tidak demikian halnya. Oleh karena masalah ini tidaklah mengenai pokok akidah, tidaklah kita salah jika kita cenderung kepada salah satu pendapat itu, mana yang lebih dekat kepada penerimaan ilmu kita setelah menyelidikinya. Maka di dalam menafsir Bismilahir-Rohmanir­-Rohim pada pembukaan al-Fatihah, kita jadikan dia ayat yang pertama, menurut Hadits Abu Hurairah yang dirawikan oleh ad-Daruquthni.

Sebuah Hadits yang dirawikan ad-Daruquthni dari Abu Hurairah, dia berkata: Berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Apabila kamu membaca Alhamdulillah yaitu Surat al-Fatihah maka bacalah Bismilllahir-Rahmanir-Rahim, maka sesungguhnya dia adalah ibu al-Qur’an dan Tujuh yang diulang-ulang, sedang Birmillahir Rahmanir Rahim adalah salah satu daripada ayatnya.”

Dan tidak mungkin BismillahirRahmanir-Rahim dimuka al-Fatihah itu disebut sebagai satu ayat pembatas dengan surat yang lain, karena tidak ada surat lain yang terlebih dahulu dari pada surat al-Fatihah.

Kalimat basmalah tersebut bermakna: “Aku memulai bacaanku ini seraya memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah”. Meminta barokah kepada Allah artinya meminta tambahan dan peningkatan amal kebaikan dan pahalanya. Barokah adalah milik Allah. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi barokah bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki. (Syarhu Ma’aani Suratil Fatihah, Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alus Syaikh hafizhahullah)

Idiom “nama Allah” berarti mencakup semua nama Allah di dalam Asmaul Husna. Karena kaidah dalam bahasa arab, jika kata tunggal ketika disandarkan kepada kata yang lain, maka bermakna umum. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada Rabb-Nya. Dalam permohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah yang sesuai dengan permohonannya. Permohonan pertolongan yang paling agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Dan yang paling utama lagi adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, memahami makna kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.

Allah adalah Dzat yang harus disembah. Hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa takut, pengharapan, dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.

Anjuran Memulai Pekerjaan Dengan Membaca Basmalah

Rasulullah Menulis Surat Dakwah Kepada Raja Romawi Diawali Dengan Basmalah

Disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam sebuah kisah yang panjang, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mengirim surat kepada raja Romawi, Heraclius. Surat yang dikirim kepada kaisar Romawi dibawa oleh Dihyah bin Khalifah Al-Kalbiy, bunyinya demikian:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ اِلَى هِرَقْلَ عَظِيْمِ الرُّوْمِ.

سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ اْلهُدَى، اَمَّا بَعْدُ: فَاِنّى اَدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ اْلاِسْلاَمِ. اَسْلِمْ تَسْلَمْ. اَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللهُ اَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتَ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ اِثْمُ اْلاَرِيْسِيّيْنَ. وَ ياَهْلَ اْلكِتبِ تَعَالَوْا اِلى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَ بَيْنَكُمْ اَنْ لاَّ نَعْبُدَ اِلاَّ اللهَ وَ لاَ نُشْرِكَ بِه شَيْئًا وَّ لاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مّنْ دُوْنِ اللهِ، فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ. البداية و النهاية 4: 658

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya.

Kepada Hiraklius Pembesar Negara Ruum.

 

Semoga keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Adapun sesudah itu, sesungguhnya aku mengajak kepadamu kepada seruan Islam, maka dari itu masuk Islam lah, niscaya engkau selamat. Masuk Islamlah, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Maka jika engkau berpaling, sesungguhnya kamu akan mendapat dosa-dosa segenap rakyat.

 

“Dan, wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu kita tidak menyembah melainkan hanya kepada Allah, dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) [QS. Ali Imran: 64]”. [Al-Bidaayah wan Nihaayah 4: 658] (Hadits ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan yang lainnya)

Rasulullah Menyuruh Menulis Perjanjian Hudaibiyah Dengan Basmalah

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّهُ لَمَّا جَاءَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَقَدْ سَهُلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ. قَالَ مَعْمَرٌ: قَالَ الزُّهْرِيُّ فِي حَدِيثِهِ: فَجَاءَ سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فَقَالَ: هَاتِ اكْتُبْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابًا. فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَاتِبَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. قَالَ سُهَيْلٌ: أَمَّا الرَّحْمَنُ، فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا هُوَ وَلَكِنْ اكْتُبْ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ كَمَا كُنْتَ تَكْتُبُ. فَقَالَ الْمُسْلِمُونَ: وَاللَّهِ لَا نَكْتُبُهَا إِلَّا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اكْتُبْ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

فَقَالَ سُهَيْلٌ: وَاللَّهِ لَوْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا صَدَدْنَاكَ عَنْ الْبَيْتِ وَلَا قَاتَلْنَاكَ، وَلَكِنْ اكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللَّهِ إِنِّي لَرَسُولُ اللَّهِ، وَإِنْ كَذَّبْتُمُونِي. اكْتُبْ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ. قَالَ الزُّهْرِيُّ: وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنْ تُخَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْبَيْتِ فَنَطُوفَ بِهِ. فَقَالَ سُهَيْلٌ: وَاللَّهِ لَا تَتَحَدَّثُ الْعَرَبُ أَنَّا أُخِذْنَا ضُغْطَةً..{ أي قهرا}..وَلَكِنْ ذَلِكَ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ. فَكَتَبَ، فَقَالَ سُهَيْلٌ: وَعَلَى أَنَّهُ لَا يَأْتِيكَ مِنَّا رَجُلٌ وَإِنْ كَانَ عَلَى دِينِكَ إِلَّا رَدَدْتَهُ إِلَيْنَا. قَالَ الْمُسْلِمُونَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، كَيْفَ يُرَدُّ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَقَدْ جَاءَ مُسْلِمًا

Dari ‘Ikrimah, ketika Suhail bin ‘Amr tiba, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: “Semakin mudah urusan kalian,” Kemudian dia berkata: “Marilah tulis suatu ketetapan antara kami dan kalian.”

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memanggil seorang penulis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim.” Kata Suhail: “Adapun Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu apa ini, tapi tulislah ‘Bismikallahumma’ sebagaimana biasa kami menulis.” Kaum muslimin bersikeras: “Jangan tulis kecuali Bismillahirrahmanirrahim“, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: “Tulislah ‘Bismikallahumma’,” kemudian beliau menambahkan: “Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasul Allah.”

Suhail menukas: “Demi Allah, kalau kami tahu engkau adalah Rasul Allah, tentu tidaklah kami menghalangi engkau dari Baitullah dan tidak pula memerangimu. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: “Demi Allah, sungguh aku adalah Rasul Allah meskipun kalian mendustakanku. Tulislah Muhammad bin ‘Abdullah.”

Az-Zuhri menjelaskan: Itu karena beliau pernah mengatakan: “Tidaklah mereka memintaku satu perkara yang mereka agungkan padanya kehormatan Allah, melainkan aku berikan kepada mereka.”

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepadanya: “Yaitu agar kalian biarkan kami thawaf di Ka’bah.” Suhail segera menukas: “Demi Allah, (kalau demikian) tentulah orang-orang Arab akan mengatakan kami ditekan (kalah). (Tidak), tapi tahun depan.” Lalu keputusan ini dituliskan.

Kata Suhail: “Tidak ada yang datang kepadamu seorang laki-laki dari kami meskipun dia seiman denganmu melainkan harus kamu kembalikan kepada kami.”

Kaum muslimin pun ribut: “Maha Suci Allah, bagaimana mungkin dia dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal dia datang sebagai muslim”. (HR. Bukhari, Kitab As Syuruth, bab Syuruth fil jihad wal Mushalahah Ma’a Ahlil Harbi wa Kitabatusy Syuruth)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu mengatakan: “Siapa yang mendatangi mereka dari pihak kita, semoga Allah menjauhkannya. Dan siapa yang datang kepada kita dari pihak mereka kita kembalikan kepada mereka, semoga Allah berikan kepadanya jalan keluar dan kelapangan”.

Adapun hadits-hadits qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, ‘Kullu amrin dzii baalin laa yubda’u fiihi bibismillaahi fahuwa abtar.’ Hadits-hadits tersebut adalah hadits yang dilemahkan oleh para ulama.” Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Al Jami’ (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafi’iyah Al Kubra, muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, tetapi hadits itu adalah hadits dha’ifun jiddan (sangat lemah) karena ia merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikh-nya (5/77): ‘Orang ini dilemahkan riwayat-riwayatnya dan ada celaan pada madzhabnya.’ Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi’ah. Ibnu ‘Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syari’ah Al Marfuu’ah (1/33): ‘Dia adalah pengikut Syi’ah.

Adapun hadits: ‘Kullu amrin laa yubda’u fiihi bibismillaahiirahmaanirrahiim fahuwa ajdzam’ adalah hadits dha’if, didha’ifkan Syaikh Al Albani dalam Dha’iful Jaami’.

Jadi, kita bersandar kepada hadits-hadits shahih diantaranya adalah kedua hadits Imam Bukhari di atas yang menunjukkan bahwa termasuk sunnah untuk mengawali aktivitas dengan mengucapkan  basmalah.

Nama dan Sifat Allah Menurut Manhaj Ahlus Sunnah

Metodologi Ahlusunnah Wal Jamaah berkenaan dengan nama dan sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menetapkan nama dan sifat tersebut sebagaimana yang tercantum di dalam al-Quran dan as-Sunnah, sesuai dengan zhahirnya, disertai keyakinan terhadap kandungan maknanya.

Mereka juga berkeyakinan bahwa menetapkan nama dan sifat bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah berarti menyerupakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk -Maha Suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari yang demikian- karena keadaan sifat-sifat Allah subhaanahu wa ta’ala adalah khusus bagi-Nya dan sesuai dengan keagungan serta kebesaran-Nya. Sedangkan sifat-sifat makhluk adalah khusus bagi makhluk dan sesuai dengan keadaan mereka. Tidak ada keserupaan antara keduanya, sebagaimana tidak ada keserupaan antara wujud Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan wujud makhluk.

Nama-nama Allah Ta’ala yang indah itu beserta sifat-sifat yang mulia tersebut telah ditetapkan oleh ahlussunnah wal jama’ah tanpa menakwilkannya/mentahrif (merubah atau mengganti), ta’thil (menghilangkan), tasybih (menyerupakan dengan sifat makhluk, ataupun takyif mengatakan “bagaimana sifat Allah ini” (menentukan kondisi dan menetapkan esensinya). Jadi kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang Allah Ta’ala tetapkan.

Karenanya ketika para ulama’ salaf ditanya tentang kaifiyyah istiwa’ (cara Allah bersemayam), mereka menjawab: “bahwa itu sudah dipahami, sedangkan cara-caranya tidak diketahui, mengimaninya (istiwa’) adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Jadi kaum salaf sepakat bahwa kaifiyyah istiwa itu tidak diketahui oleh manusia dan bertanya tentang hal itu adalah bid’ah.

Begitu juga bila ada yang bertanya “bagaimana cara turunnya Allah ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir?” kita jawab, turunnya Allah Ta’ala itu pasti, bukan pula diartikan dengan turunnya rahmat, dan tidak dapat digambarkan juga karena bukan termasuk dalam ranah pengetahuan kita, dan tidak bisa disamakan dengan turunnya makhluk-Nya, karena Allah Ta’ala adalah dzat yang Maha Sempurna dan tidak ada yang menandingi-Nya.

Menetapkan (itsbat) Tanpa Menyerupakan (tamtsil), Mensucikan Dari Yang Tidak Sesuai (tanzih) Tanpa Meniadakan

Metode yang ditempuh Ahlus Sunnah dalam menetapkan dan menafikan nama dan sifat bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah metode al-Quran dan as-Sunnah, yaitu penafian secara global dan penetapan secara terperinci. Ini seperti yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Dalam ayat ini Allah memberikan penafian secara global, yaitu pada firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” dan memberikan penetapan secara terperinci, yaitu pada firman-Nya, “Dan Dia (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Semua sifat yang dinafikan oleh Allah Ta’ala dari diri-Nya mengandung penetapan kesempurnaan sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga penafian itu tidak hanya sekadar penafian. Sebab sekadar penafian tidaklah mengandung pujian.

Di antara contoh penafian yang mengandung unsur penetapan kesempurnaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah firman-Nya:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدا

“Dan Tuhanmu tidak akan berbuat zalim kepada siapapun.” (Al-Kahfi: 49) Allah tidak menzalimi siapapun karena keadilan-Nya Maha Sempurna.

Kemudian firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya (langit dan bumi)..” (Al-Baqarah: 255)

Allah menafikan sifat merasa berat karena kekuatan dan kekuasaan Allah maha sempurna. Demikian pula sifat-sifat lain yang dinafikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semuanya mengandung penetapan kesempurnaan dan keagungan yang merupakan lawan dari sifat yang dinafikan itu.

Perbedaan Sifat Rahman (Kasih) Dan Rahim (Sayang)

Pada basmalah terdapat kata ar-Rahman dan ar-Rahim yang menjelaskan mengenai kasih sayang Allah yang begitu luas.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu ar-rahmah. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.

Banyak para ulama yang membedakan antara makna ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan sifat ar-Rahim adalah sifat kasih sayang-Nya yang memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rahim merupakan sifat kasih Allah yang memberikan kenikmatan bersifat khusus. (Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith)

Al-’Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah telah membawakan pendapat bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat yang terkandung pada Dzat. Sedangkan Ar-Rahim adalah nama Allah Ta’ala yang menunjukkan atas keterkaitan sifat tersebut (rahmat) dengan makhluk yang dirahmati. Dengan demikian, lafal ‘Ar-Rahman’ tidak diungkapkan dalam bentuk muta’addi (perlu objek). Sementara lafal Ar-Rahim diungkapkan dengan menyebutkan objek. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيماً

…”Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (Al-Ahzab: 43)

(Dalam ayat tersebut) tidak dikatakan رحمانا (Rahmanan), tetapi Allah nyatakan “رَحِيماً ” (Rahiimaa). Inilah pendapat terbaik tentang perbedaan makna kedua lafal tersebut.”

Dari pendapat Ibnu Qayyim Rahimahullahu di atas, dapat ditarik kesimpulan: bahwa Ar-Rahman adalah sifat rahmat bagi-Nya, sedangkan Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Allah mencurahkan rahmat (kasih sayang) kepada makhlukNya.

Diantara cara memuji Allah Ta’ala adalah dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifatNya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) [الفاتحة : 2[

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Ayat ini merupakan pujian dan pengagungan kita kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin; baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Di dalam ayat itu pula, terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya. Karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan. Kepada makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal shaleh.

Pujian terhadap Allah mencakup pujian yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam dzat-Nya ataupun pujian yang berhubungan dengan perbuatan Allah. Sedangkan perbuatan Allah tidak terlepas dari dua sifat, yaitu karunia (فضل) dan keadilan-Nya (عدل).

Amal yang dibuat oleh seseorang itu tidak akan dapat menyamai walaupun setitik debu sekalipun dengan nikmat yang Allah berikan pada hambaNya, oleh itu janganlah mengharapkan amal kita itu akan dapat memasukkan kita ke dalam syurga Allah, sebaliknya memohonlah dengan rahmatNya.

Sebab hanya dengan rahmat Allah Ta’ala sajalah seseorang itu dapat memasuki syurga-Nya. Apabila kita memohon kepada Allah Ta’ala supaya dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmatNya maka mintalah supaya Allah memasukkan kita dengan rahmatNya ke dalam syurga Firdaus.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved