Follow us:

Ummat Islam, Bersatulah!

Balasan Rasulullah terhadap para tawanan perang Badar adalah menyuruh mereka untuk mengajarkan baca tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya. Ajaran Rasulullah ini dimengerti seratus persen oleh para sahabat dan generasi selanjutnya.

Pada tahun 637 M, pasukan Islam sudah mendekati wilayah Jerusalem. kota ini memiliki beberapa nama Jerusalem, al-Quds, Yerushaláyim, Aelia (Umar bin Khattba menyebut dengan nama ini dalam surat perjanjiannya).

Saat itu Jerusalem dibawah tanggung jawab Uskup Sophronius sebagai perwakilan Bizantium dan kepala gereja Kristen Jerusalem. Ketika pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota suci tersebut Sophronius tetap menolak untuk menyerahkan Jerusalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

Mendengar kabar tersebut, Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Jerusalem. Sang khalifah berangkat dengan hanya berkendara keledai dengan ditemani satu orang pengawal. Setibanya di Jerusalem, Umar disambut oleh Sophronius yang benar-benar merasa takjub dan kagum dengan sosok pemimpin muslim satu ini. Salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya.

Umar diajak mengelilingi Jerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa dimakamkan di gereja ini). Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja namun Umar menolaknya. Umar khawatir kalau seandainya ia shalat di gereja tersebut, nanti umat Islam akan merubah gereja ini menjadi masjid dengan dalih Umar pernah shalat disitu sehingga menzalimi hak umat Nasrani. Umar shlat di luar gereja, lalu tempat Umar shalat itu dibangun Masjid Umar bin Khattab.

Perjanjian Aelia

Sebagaimana kebiasaan umat Islam ketika menaklukkan suatu daerah, mereka membuat perjanjian tertulis dengan penduduk setempat yang mengatur hak dan kewajiban antara umat Islam Jerusalem dan penduduk non-Islam. Perjanjian ini ditandatangani oleh Umar bin Khattab, Uskup Sophronius, dan beberapa panglima perang Islam. Teks perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Jerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja-gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipakasa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Jerusalem. Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Jerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Jerussalem, karena penduduk Jerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuhi tawanan Nashrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Jerusalem).

Penduduk Jerusalem diwajibkan membayar pajak sebagaimana penduduk kota-kota lainnya, mereka juga harus mengeluarkan orang-orang Bizantium, dan para perampok. Orang-orang Jerusalem yang tetap ingin tinggal di wilayah Bizantium, mereka boleh membawa barang-barang dan salib-salib mereka. Mereka dijamin aman sampai mereka tiba di wilayah Bizantium. Setelah itu mereka pun masih diperbolehkan kembali lagi ke Jerusalem jika ingin berkumpul dengan keluarga mereka, namun mereka wajib membayar pajak sebagaimana penduduk lainnya.

Apabila mereka membayar pajak sesuai dengan kewajiban, maka persyaratan yang tercantum dalam surat ini adalah di bawah perjanjian Allah, Rasul-Nya, Khalifah, dan umat Islam. (Tarikh at-Thabari).

Pada waktu itu, apa yang dilakukan Umar bin Khattab adalah langkah yang benar-benar maju dalam masalah pakta (perjanjian). Sebagai perbandingan, 23 tahun sebelum Jerusalem ditaklukkan umat Islam, wilayah Bizantium ini pernah ditaklukkan oleh Persia, saat itu Persia memerintahkan melakukan pembantaian terhadap masyarakat sipil Jerusalem. Kejadian serupa terjadi ketika Jerusalem yang dikuasai umat Islam ditaklukkan pasukan salib pada tahun 1099 M.

Perjanjian yang dilakukan oleh Umar membebaskan penduduk Jerusalem beribadah sesuai dengan keyakinan mereka adalah pakta pertama dan sangat berpengaruh dalam hal menjamin kebebasan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan. Meskipun ada klausul dalam perjanjian yang mengusir Yahudi dari Jerusalem, klausul ini masih diperdebatkan (keshahihannya). Karena salah seorang pemandu Umar di Jerusalem adalah seorang Yahudi yang bernama Ka’ab al-Ahbar, Umar juga mengizinkan orang-orang Yahudi untuk beribadah di reruntuhan Kuil Sulaiman dan Tembok Ratapan, padahal sebelumnya Bizantium melarang orang-orang Yahudi melakukan ritual tersebut. Oleh karena itulah, klausul yang melarang orang Yahudi ini masih diperdebatkan.

Perjanjian tersebut menjadi acuan dalam hubungan umat Islam dan Kristren di seluruh bekas wilayah Bizantium. Orang-orang Kristen di wilayah Bizantium akan dilindungi hak-hak mereka dalam segala kondisi dan orang-orang yang memaksa mereka untuk mengubah keyakinan menjadi Islam atau selainnya akan dikenakan sangsi.

Ketika Yerussalem dikuasai umat islam sejak tahun 636 sampai 1093, Yerussalem aman tentram karena perjanjian Aelia yang dibuat oleh Umar Radhiyallahu Anhu.

Namun pada Tahun 1094 pasukan Kristen mulai datang dan membunuh sekitar 74.000 umat islam di Yerussalem dan berhasil mendudukinya pada tahun 1099. Setelah 88 tahun dikuasai serdadu Perang Salib, kota Yerusalem, Palestina akhirnya kembali jatuh kepangkuan umat Islam. Tepat pada 2 Oktober 1187 atau setelah tiga bulan berjibaku dalam pertempuran Hittin, pasukan tentara Islam yang dipimpin Shalahudin Al-Ayyubi berhasil menaklukan dan membebaskan kota suci itu dari kedzaliman dan kebiadaban.

Penaklukan Yerusalem yang dilakukan pasukan Islam di bawah komando Shalahudin sungguh amat berbeda, ketika tentara Perang Salib menduduki Yerussalem pada 1099. Shalahudin menetapi janjinya. Jenderal dan panglima perang tentara Islam itu menaklukan Yerusalem menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Tak ada balas dendam dan pembantaian, penaklukan berlangsung ‘mulus’ seperti yang diajarkan Alquran.

Karen Amstrong dalam bukunya Perang Suci menggambarkan, saat Salahudin dan pasukan Islam membebaskan Palestina, tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh. Tak ada pula perampasan harta benda. ”Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Dan ia pun membebaskan banyak dari mereka, sesuai imbauan Al-Qur’an,” papar Amstrong.

Keadilan dan kenegarawanan Shalahudin pun membuat umat Nashrani yang tinggal di Yerusalem saat itu berdecak kagum. Seorang tua penganut Kristen pun bertanya kepada Salahudin. ”Kenapa tuan tidak bertindak balas terhadap musuh-musuhmu?”

Shalahudin menjawab, ”Islam bukanlah agama pendendam bahkan sangat mencegah dari melakukan perkara diluar perikemanusiaan, Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun ketika musuh berkuasa, umat Islam ditindas.”

Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu. Ia pun kemudian berkata, ”Sungguh indah agama tuan! Maka diakhir hayatku ini, bagaimana untuk aku memeluk agamamu?” Shalahudin pun berkata, ”Ucapkanlah dua kalimah syahadah.”

Saat itu, Shalahuddin juga memperbaharui perjanjian Aelia dengan perjanjian Ramallah.

Pada tahun 1436 ketika Raja Philips III dengan gemarnya membunuh umat Islam di Spanyol hingga tiga ratusan ribu jiwa. Kemudian Philips mempersilahkan umat islam yang tersisa di Spanyol untuk keluar dari Spanyol atau masuk Kristen. Pada saat yang sama, Negara Turki yang berbatasan langsung dengan Spanyol yang dipimpin oleh Sultan Salim malah membuat undang-undang untuk melindungi umat Kristen di Turki.

Itulah sejarah umat islam ketika menduduki dunia, mencontoh generasi sahabat dan Rasulullah.

Kalau kita tarik sejarah di atas tadi dengan garis lurus, maka semuanya menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga toleransi, menjaga persatuan dan melindungi kaum yang lemah. Sebaliknya jika umat Kristen menjadi mayoritas dan berkuasa mereka melakukan berbagai kezaliman dan kebiadaban dengan segala macam cara.

Pemateri menyampaikan ini bukan bermaksud untuk menebarkan, mencemarkan dan merancu persatuan, tetapi demi menjaga keamanan semuanya.

Belanda datang ke Indonesia bukan hanya mencari rempah-rempah, tetapi kedatangan mereka merupakan bagian dari perang Salib dalam rangka membumi hanguskan umat islam dimanapun berada. Kita tahu persis, bahwa dakwah islam masuk Indonesia pada tahun 625 dengan adanya pemukiman Baros di Tapanuli. Lalu dengan penyebaran Islam oleh Mu’awiyah di Kalingga Jepara, membuat Ratu Sima masuk islam.

Pada tahun 718 Khalifah Umar bin Abdul Aziz menginjakkan kaki di Palembang dan mengislamkan Banjar  Sri Indrawarman. Kemudian islam berkembang lebih hebat lagi ketika kedatangan cucu nabi yang ke 22 yaitu Maulana Malik Ibrahim yang kita kenal dengan Sunan Gresik. Sehingga islam membumi di Nusantara.

Lalu apa yang terjadi kemudian?? Pada tahun 1595 datanglah Cornelius de Houtman beserta armadanya melakukan pelayaran sehingga berhasil mencapai kepulauan Nusantara dan menjadi pembuka jalan penjajahan Belanda (VOC) di Nusantara.

Maka, bersatulah wahai umat Islam, jangan mudah diadu domba, negeri ini milikmu, milik kita-kita juga.

Jangan sampai bangsa asing/aseng mengaku sebagai bangsa Indonesia lalu menjajah kita, kita adalah umat terbesar di muka bumi ini (ada dinegeri ini). Allah Ta’ala telah melimpahkan berlimpah kekayaan alam, beriklim tropis, negeri ini jangan kita biarkan dijarah asing.
Dr. Haikal Hasan

(ddn/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved