Follow us:

Wasiat Tertua Ditujukan kepada Manusia yang Diabadikan Alquran

Salah satu pelajaran terpenting dari kisah Nabi Adam AS adalah nilai agung yang diberikan oleh konsepsi Islam tentang manusia.

Hal ini sebagaimana yang telah Allah SWT tetapkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani perjalanan hidupnya di muka bumi. Allah SWT berfirman:

فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Ingatlah, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah: 38-39).

Itulah wasiat Allah SWT kepada Nabi Adam AS dan istrinya ketika Dia mengeluarkan keduanya dari surga dan menurunkan mereka ke bumi. Dalam Surah Taha, Allah SWT berfirman:

قَالَ ٱهۡبِطَا مِنۡهَا جَمِيعَۢاۖ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

“Dia berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari sini bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.’” (QS Thaha: 123).

Permusuhan antara Nabi Adam AS beserta keturunannya dan Iblis beserta golongannya telah diumumkan di alam yang tinggi.

Namun, rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya menghendaki agar Dia mengutus para rasul kepada mereka dengan membawa petunjuk, sebelum mereka ditimpa akibat dari apa yang telah mereka kerjakan.

Allah SWT berfirman:

﴿قَالَ ٱهۡبِطَا مِنۡهَا جَمِيعَۢاۖ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ، وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَة ضَنكا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ، قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرا، قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ، وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي مَنۡ أَسۡرَفَ وَلَمۡ يُؤۡمِنۢ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِۦۚ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبۡقَىٰٓ ﴾

“Dia berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari sini bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Namun, barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.’

Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’

Dia berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya. Begitu pula pada hari ini kamu dilupakan.’ Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak beriman kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha: 123-127).

Itulah wasiat Allah kepada kedua orang tua umat manusia ketika Dia menurunkan mereka ke bumi. Karena merupakan salah satu wasiat yang paling awal, wasiat tersebut layak menjadi sebuah sunnatullah yang berlaku secara universal.

Maknanya tidak akan berbeda bagi siapa pun dari makhluk-Nya, dalam keadaan apa pun.

Alquran penuh dengan penjelasan tentang sunnatullah yang tidak berubah dan tidak berganti. Allah SWT berfirman:

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلاۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ ٱللَّهِ تَحۡوِيلًا

“Dan kamu tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah, dan kamu tidak akan mendapati penyimpangan terhadap sunnatullah.” (QS Fathir: 43)

Sunnatullah itu terus berlaku. Barang siapa mengikuti petunjuk Allah, beriman kepada para rasul dan kitab-kitab-Nya, serta memperoleh petunjuk melalui mereka—dengan membenarkan seluruh berita yang disampaikan para rasul dan kitab-kitab tersebut, menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan—maka sungguh, dia telah mendapatkan petunjuk dan meraih keberuntungan.

Allah SWT berfirman:

فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 38).

Allah juga berfirman:

َمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha: 123)

Dengan mengikuti sunnatullah ini, terdapat empat hal yang akan dinafikan dari seseorang, yaitu rasa takut, kesedihan, kesesatan, dan kesengsaraan.

Adapun perbedaan antara rasa takut dan kesedihan adalah bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan, jika telah berlalu, akan menimbulkan kesedihan.

Sementara jika sesuatu yang tidak menyenangkan itu masih dinantikan, ia akan menimbulkan rasa takut. Allah meniadakan keduanya dari orang yang mengikuti petunjuk-Nya.

Ketika rasa takut dan kesedihan telah tiada, yang muncul adalah kebalikannya, yaitu petunjuk dan kebahagiaan.

Barang siapa mengikuti petunjuk Allah, dia akan memperoleh rasa aman dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Dia juga mendapatkan petunjuk dan terhindar dari segala sesuatu yang tidak menyenangkan, berupa rasa takut, kesedihan, kesesatan, dan kesengsaraan.

Dengan demikian, apa yang diharapkan akan diperoleh, sementara apa yang ditakuti akan dijauhkan darinya.

Sesungguhnya petunjuk yang dibawa oleh para nabi dan rasul melalui apa yang mereka sampaikan dari Allah dan mereka jelaskan kepada manusia menjadikan ketaatan kepada mereka sebagai jalan menuju kebahagiaan dan penolakan terhadap mereka sebagai jalan menuju kesengsaraan. Allah SWT berfirman:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَة ضَنكا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَى

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)

Dalam menyikapi petunjuk Allah, manusia terbagi menjadi dua kelompok.

Orang-orang mukmin yang saleh, yaitu mereka yang mengikuti petunjuk Allah, membenarkan para rasul-Nya, dan istiqamah dalam menaati Allah. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia di dunia.

Mereka tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Mereka berada dalam perlindungan Allah, sehingga tidak merasa takut dan tidak pula bersedih.

Allah SWT berfirman:

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَى

“Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha: 123)

Allah juga berfirman:

قُلۡنَا ٱهۡبِطُواْ مِنۡهَا جَمِيعاۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُون

“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari sini. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.’” (QS al-Baqarah: 38)

Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah, yaitu mereka yang berpaling dari peringatan Allah, menolak petunjuk-Nya, memerangi para rasul-Nya, dan mengikuti setan.

Mereka adalah orang-orang yang merugi dan binasa. Di akhirat, mereka akan disiksa dengan api neraka.

Allah SWT berfirman tentang mereka:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَة ضَنكا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124:

Allah juga berfirman:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah: 39)

Orang-orang yang membimbing kaum mukmin yang mendapat petunjuk adalah para nabi dan rasul, kemudian para pengikut rasul dari kalangan ulama dan para dai.

Sementara orang-orang kafir yang mendustakan kebenaran dipimpin oleh Iblis dan para pembantunya dari kalangan setan-setan yang durhaka, baik dari golongan jin maupun manusia.

Hal ini menegaskan sebuah kenyataan yang terus berlaku, yaitu adanya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan serta pergulatan antara kebaikan dan kejahatan.

Pertarungan tersebut telah dimulai sejak bagian awal kisah Nabi Adam AS yang berlangsung di surga, ketika Iblis menolak bersujud kepada Adam, kemudian membujuknya untuk memakan buah dari pohon yang dilarang.

Pada saat itu, Nabi Adam AS, sebagai bapak umat manusia, berada di pihak kebenaran, sedangkan Iblis berada di pihak kebatilan.

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung dengan kuat dan sengit hingga hari Kiamat. Manusia akan tetap terbagi dalam pertarungan ini menjadi dua kelompok: para pengikut kebenaran dan para pengikut kebatilan.

Orang-orang yang berada di pihak kebenaran adalah Hizbullah (kelompok Allah). Allah SWT berfirman tentang mereka:

لَّا تَجِدُ قَوۡما يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوح مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰت تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah Hizbullah. Ingatlah, sesungguhnya Hizbullah adalah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Mujadilah: 22)

Sementara orang-orang yang berada di pihak kebatilan adalah Hizbusy-Syaithan (kelompok setan). Allah SWT berfirman tentang mereka:

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَأَنسَىٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ

“Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ingatlah, sesungguhnya golongan setan adalah orang-orang yang merugi.” (QS al-Mujadilah: 19)

Orang yang berbahagia dan mendapatkan taufik adalah orang yang menerima petunjuk Allah dan mengikutinya, berpihak kepada kebenaran, serta menjadi bagian dari Hizbullah yang memperoleh keberuntungan.

Sebaliknya, orang yang merugi dan binasa adalah mereka yang menolak petunjuk Allah, mengingkari kebenaran, dan berpihak kepada Hizbusy-Syaithan, sehingga termasuk golongan orang-orang yang merugi. (UYR/Republika)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved