Follow us:

M Izzat Nugraha, Doktor Applied Marine Biology Universitas Tohoku Lulusan Madrasah

M Izzat Nugraha, nama lengkapnya. Dia biasa dipanggil Izzat. Sejak kecil, cita-citanya adalah kuliah di Jepang dan itu berhasil diwujudkannya dari sarjana sampai doktoral.

Kepada Humas Kementerian Agama, Senin (16 Februari 2026), Izzat berbagi inspirasi tentang perjalanan pendidikannya hingga lulus sebagai doktor Biologi Kelautan pada perguruan tinggi ternama di Negeri Sakura, Jepang.

Dia mengawali ceritanya dengan sebuah postulat bahwa pendidikan dasar agama sangat penting, khususnya dalam pembiasaan membaca Al-Qur’an. Dia bersyukur kedua orang tuanya, Aceng Abdul Azis dan Khodijah Hulliyah, memberikan pendidikan dasar pada sekolah berbasis pesantren dengan kultur yang menggabungkan tradisi dan modernitas, yaitu: SDIT Pesantren Darul Muttaqien, Bogor, Jawa Barat (2004 – 2010).

“Di SDIT Darul Muttaqien, saya dididik untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an. Di situ, saya juga mulai mengenal sains melalui lomba sains dan matematika, serta ditanamkan disiplin dan minat belajar sejak dini,” ujar Izzat.

Dari SDIT, Izzat melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Jakarta (2010–2013). Di sini, Izzat mulai belajar organisasi. Dia dipercaya sebagai Ketua OSIS. Banyak hal yang dipelajari, termasuk tentang konsep diri, kepercayaan diri dan kepemimpinan. Baginya, organisasi bukan penghalang prestasi. Terbukti,  ia menjadi salah satu siswa dengan nilai tertinggi pada Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.

Modal ini dibawanya untuk mendaftar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong. Ia lulus dan belajar tiga tahun di sana, dari 2013 sampai 2016 dengan fokus pengembangan minat di bidang Biologi. Jiwa aktivisnya makin terasah. Izzat dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIS dan ketua pelaksana kegiatan nasional Sonic Linguistic 2015 (sebuah acara lomba minat dan bakat untuk SMA dan SMP se-Indonesia).

“Di MAN IC Serpong, saya mendapat pelajaran bagaimana pembelajaran akademik bisa dipadukan dengan kepemimpinan dan organisasi. Alhamdulillah saya terpilih sebagai anggota tim Olimpiade Biologi hingga tingkat provinsi dan berhasil meraih juara 3 Kompetisi Sains Madrasah atau KSM Nasional bidang Biologi,” kenangnya.

Kesan Guru

Suwardi, Kepala MAN IC Serpong saat Izzat belajar di sana (sekarang Kasubdit pada Direktorat Pesantren), mengenal Izzat sebagai sosok yang tenang selama menempuh pendidikan di madrasah. Di awal tahun pembelajaran, orang tuanya sempat gamang apakah sang anaknya mampu bertahan dengan ritme pendidikan berasrama yang disiplin dan padat. Kekhawatiran itu perlahan hilang. Izzat justru cepat menyesuaikan diri, bangun pagi tanpa banyak diingatkan, mengikuti jadwal dengan tertib, dan mulai menemukan kenyamanan dalam kemandirian.

Sebagai siswa jurusan IPA, Izzat  termasuk kelompok akademik rata-rata atas yang stabil. Izzat anaknya tekun, punya gaya belajar dengan ritme konsisten, suka membaca dan eksplorasi, dan memastikan benar-benar memahami pelajaran. Tanpa banyak bicara, ia memberi kejutan dengan hasil belajarnya. Nilainya meningkat, pemahamannya matang, dan guru-guru melihat perkembangan tersebut tidak meledak, tetapi terus menanjak naik. Izzat pernah mewakili MAN IC serpong dalam KSM, dan meraih juara 3.

Di organisasi, Izzat aktif di OSIS dengan gaya kepemimpinan yang tidak mencolok. Ia lebih sering berada di balik layar, menjaga kegiatan berjalan tertib. Peran yang paling terasa justru di masjid madrasah “Ulil Albab.” Ia aktif menggerakkan teman-temannya dalam setiap kegiatan, shalat berjamaah, hingga memotivasi kehadiran dalam kajian. Dengan cara sederhana dan tanpa memaksa, ia menumbuhkan kebersamaan melalui teladan-teladan.

“Selepas lulus dari MAN IC Serpong, Ia studi di Jepang. Saya bangga atas pencapaianya. Salah satu kebahagiaan guru adalah bila muridnya sukses meraih mimpinya,” kenangnya.

“Bagi yang mengenal Izzat, itu bukan kejutan mendadak, melainkan buah dari ketekunan yang dirawat.  Izzat membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari sorotan, tetapi dari proses adaptasi, konsistensi, dan kerja keras yang dijalani setiap hari,” sambungnya.

Rida Orang Tua

Izzat tumbuh sebagai anak pintar. Secara akademik, dia sarat prestasi. Pilihan untuk menjadi aktivis madrasah juga membentuk dirinya sebagai pribadi yang memiliki  kepercayaan diri. Semua itu menjadi modalnya memilih kuliah di Jepang.

Pilihan ini bukan spontan, tapi bahkan sudah tertanam sejak kecil. Tepatnya sekitar 2011–ketika usianya 13 tahun. Saat itu, ayahnya  yang baru pulang dari Tokyo memberinya oleh-oleh kartu telepon dengan gambar Gunung Pujiyama. Ternyata, oleh-oleh itu sampai sekarang masih disimpan di dompetnya,  sebagai stamina kuliah di Negeri Matahari Terbit itu.

“Di tahun yang sama (2011), saat car free day di Jalan Thamrin, tiba-tiba ia  berhenti dan berkata, “Satu saat, Izzat ke sini”, kenang ayahnya.

Bagi Sang Ayah, ini adalah dua isyarat tentang cita putranya untuk kuliah di Yamato. Benar-benar   menunggu takdir. Begitu lulus MAN IC, Izzat tidak ikut tes di Perguruan Tinggi manapun.  Hanya daftar di Tohoku University, Sendai. “Alhamdulillah lulus,” ujarnya.

Aceng mengaku saat itu tidak membayangkan, apakah bisa membiayai kuliah anaknya. Satu hari, menjelang keberangkatan ke Jepang, Izzat bertanya pada ayah-ibunya, berapa biaya hidup setiap bulan yang sanggup mereka kirim untuknya. Izzat bahkan memaksa ayahnya untuk menyebutkan angka. Untuk sekedar tahu, kalau ternyata kurang mencukupi, dia bisa menyesuaikan diri, termasuk bersiap untuk kuliah sambil bekerja.

“Saya menjawab, berapa pun yang kamu minta, ayah bisa memenuhi. Tetapi berapa pun angka yang ayah sebutkan, tidak akan lebih besar nilainya dari rida ayah dan ibumu,” jawab Aceng. Izzat sontak menangis. Tekadnya makin bulat, menatap ke timur, membayangkan belajar Biologi di Negeri Wakoku.

“Alhamdulilah, saat S-1 mendapat bantuan beasiswa dari Direktorat Madrasah,” sambung Aceng.

“Waktu S-2, Izzat merasakan kerja sebagai kuli bangunan dan mengantar koran. Dia mengantar koran mulai pukul tiga pagi waktu Jepang, dan salat Subuh di mana pun lokasi dia berada saat masuk waktu Subuh.  Bersyukur saat S-3, Izzat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang, sekaligus bekerja di lembaga riset kampusnya,” kenang ayahnya.

Raih Cita Kuliah di Jepang

Waktunya tiba. 2016, Izzat terbang ke negeri yang oleh Marco Polo (petualang Portugis) disebut sebagai Zipangu. Dia mendaftar Marine Biology, Tohoku University, Jepang. Di sini, Ia  selesaikan kuliah dalam rentang hampir lima tahun, dari 2016 sampai 2020.

Izzat memilih jurusan ini karena mengaku tertarik pada biodiversitas dan ekosistem laut. Di awal kuliah, Izzat mengaku menghadapi hambatan bahasa dan juga adaptasi budaya. Maklum, kampus ini membangun lingkungan akademik internasional dengan pengantar bahasa Inggris. Sebagai aktivis, dia tahu penyelesaiannya.

Hambatan bahasa asing memicunya untuk belajar intensif dan membiasakan diri berdiskusi akademik. Keterbatasan finansial saat studi, disikapi dengan bekerja paruh waktu sambil menjaga komitmen akademik. Tekanan akademik dan riset internasional melatihnya disiplin dalam manajemen waktu dan komunikasi aktif dengan pembimbing. Sementara jarak dari keluarga dan lingkungan asal menjadi triger baginya untuk komitmen dalam menjaga nilai agama dan niat belajar sebagai ibadah.

Dengan dukungan Beasiswa Madrasah Berprestasi Kemenag, Izzat mengawali rihlah ilmiahnya di Negeri Sakura. Pada perkembangan selanjutnya, dia berhasil mendapat Presidential Fellowship Tohoku University (biaya pendidikan) dan dukungan tambahan dari beasiswa MEXT Honor dan MEXT SGU.

“Selalu ada jalan meraih cita, selagi ada upaya dan tawakkal,” ucapnya.

Lulus S1, Izzat memilih untuk langsung melanjutkan Pascasarjana. Dia masuk Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University pada usia 22 tahun. Jenjang ini dijalani sekitar tiga tahun (2020–2022) untuk belajar di bidang Biological Oceanography.

“Saya pernah bekerja sebagai pekerja harian membongkar gedung tua, dan pernah menjadi pengantar koran pagi selama satu tahun lebih, dari jam 3 sampai 6 pagi, lalu ke kampus sekitar jam 9,” kenangnya.

Bagi Izzat, pengalaman itu menjadi puzzle perjalanan hidup yang melatih dirinya dalam kedisiplinan dan manajemen waktu antara kerja dan studi. “Tahun kedua saya memperoleh dukungan program Graduate Program of Resilience and Safety Studies (GPRSS),” ujarnya.

Lulus S2, Izzat memilih langsung mengambil program doktoral. Izzat kuliah S3 pada Graduate School of Agricultural Science, Tohoku University (2022–2025). Pada jenjang ini, Izzat mendapat Dukungan beasiswa Pioneering Research Project (PRP) dari GPRSS. Selama kuliah,. melanjutkan riset di laboratorium yang sama dan mendapat kesempatan Doctoral Residency di IPB University selama 4 bulan (2023). Kesempatan itu menjadi pembuka bagi jalannya ikut terlibat dalam penguatan kolaborasi riset Indonesia–Jepang.

Ahli Biologi Kelautan dan Oceanografi

Sembilan tahun di Jepang, Izzat menyelesaikan kuliah sarjana hingga doktoral. Ini menjadi penggalan panjang dari perjalanan hidupnya yang penuh tantangan dan perjuangan. Cita yang diraih tidak bisa lepas dari kerja keras untuk menjaga konsistensi dan disiplin sejak dini, aktif di bidang akademik dan organisasi, dan terbuka untuk belajar lintas disiplin ilmu.

“Terpenting, semua ini berawal dari keberanian anak madrasah bermimpi besar,  tidak takut keluar dari zona nyaman, serta sabar dan tekun menjalani proses jangka panjang,” paparnya.

Lulusan madrasah ini, sekarang tumbuh sebagai sosok yang menekuni bidang Biologi Kelautan, Oceanografi, dan Planktonologi, khususnya harmful algal bloom. Yaitu, plankton atau alga yang sewaktu-waktu bisa berkembang biak dengan sangat cepat sehingga membahayakan ekosistem.

Selain itu, Izzat juga menekuni Studi genetika dan morfologi plankton. Sejumlah riset yang pernah dilakukan antara lain: 1) penelitian Noctiluca scintillans sebagai organisme modelnya; 2) persebaran plankton di Indonesia, Jepang, dan wilayah sekitarnya; 3) analisis arus laut, suhu permukaan laut, dan salinitas menggunakan data satelit; 4) simulasi lintasan partikel laut (particle tracking) untuk memahami konektivitas laut; serta 5) integrasi biologi, oseanografi, dan pemodelan.

Kepada sesama temannya, Izzat berbagi pesan bahwa madrasah adalah fondasi, bukan batas. Ia juga meyakinkan bahwa ilmu agama dan sains dapat berjalan beriringan. Untuk itu, setiap siswa agar tidak ragu untuk bercita-cita sampai tingkat internasional.

“Manfaatkan setiap peluang pendidikan yang ada. Jaga akhlak, integritas dan semangat belajar. Dan, setelah itu harus kembali berkontribusi untuk bangsa dan umat,” tandasnya. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved