Follow us:

Praktik Baik dari Guluk-Guluk ke Kemandirian Pesantren

Saya akan menuturkan sebuah kisah yang inspiratif. Kisah terjadi di Guluk-Guluk pada tahun 1980-an. Kisah yang direkam dengan cukup apik oleh Majalah Pesantren No. 1 Vol. VIII Tahun 1990 yang diterbitkan oleh P3M dengan tema utama Pesantren dan Ekonomi Pedesaan. Ketika itu pimpinan umumnya KH. MA. Sahal Mahfudh dan pemimpin redaksinya KH. Masdar Farid Mas’udi. Nama-nama lain seperti Djohan Effendi, Helmy Ali, Moeslim Abdurrahman, dan Mufid A. Busyairi menjadi Dewan Redaksi. Sedangkan Staf Ahlinya adalah KH. Ali Yafie, Abdullah Syarwani, Abdurrahman Wahid, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, dan Soetjipto Wirosardjono.

Kisah itu mengambil latar Pesantren Annuqayah, salah satu pesantren tua di Madura yang berdiri sejak 1887 dan hingga hari ini tetap tumbuh sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Pesantren ini didirikan oleh KH. Moh. Syarqawi, seorang pengembara ilmu asal Kudus. Sebelum menetap di Madura, ia menempuh perjalanan panjang mencari ilmu ke berbagai pesantren, merantau ke Pontianak, menyeberang ke Malaysia dan Patani, lalu bermukim beberapa tahun di Makkah. Sepulangnya ke tanah air, ia memilih Guluk-Guluk sebagai tempat menanam cita-cita.

Di atas tanah sederhana dengan bangunan awal yang konon memanfaatkan bahan bekas kandang kuda, berdirilah sebuah langgar kecil. Dari tempat yang sederhana itu lahir Annuqayah. Nama Annuqayah mulai digunakan ketika sistem pendidikan klasikal diperkenalkan pada sekitar tahun 1930-an. Nama itu diambil dari kitab karya Imam As-Suyuthi yang memuat beragam cabang ilmu. Tetapi bagi masyarakat sekitar, Annuqayah juga berarti sesuatu yang bersih yaitu bersih ilmu, bersih hati, dan bersih niat.

Seiring waktu, Annuqayah berkembang menjadi sebuah ekosistem pesantren yang luas. Dari sana lahir ulama, guru, birokrat, pemikir Islam, penulis, sastrawan, dan aktivis sosial. Tetapi ada satu hal yang menarik. Annuqayah tidak berhenti menjadi tempat belajar. Ia memilih menjadi tempat masyarakat belajar hidup.

Ketika Pengajian Membaca Persoalan Ekonomi

Guluk-Guluk pada masa itu bukan wilayah yang mudah. Tanah berkapur membuat pertanian tidak selalu menjanjikan. Musim menjadi penentu nasib keluarga. Saat hujan datang, orang menanam. Saat kemarau memanjang, orang mulai menghitung apa yang bisa dijual dan kepada siapa harus meminjam.

Dalam keadaan seperti itu, gadai tanah menjadi praktik yang lumrah. Seseorang yang membutuhkan biaya hidup atau biaya tanam datang kepada pemilik modal. Sebidang tanah dijadikan jaminan. Uang diterima. Tetapi selama utang belum dilunasi, tanah itu berpindah pengelolaan.

Secara hukum sosial saat itu, semua tampak wajar. Tetapi dalam praktiknya, banyak petani kehilangan ruang hidup. Mereka tidak lagi menikmati hasil lahannya sendiri. Kadang mereka justru menjadi pekerja di tanah yang sebelumnya mereka miliki. Yang menarik, pesantren tidak merespons keadaan itu dengan ceramah yang panjang. Pesantren memilih jalan yang lebih pelan tetapi lebih dekat.

Sejak tahun 1978, melalui Biro Pengabdian Masyarakat Pesantren Annuqayah (BPM-PPA), pesantren mulai menyusun gerakan pemberdayaan masyarakat. Cara mereka bekerja menarik. Kelompok binaan dibentuk melalui dua jalan. Pertama, dari permintaan masyarakat sendiri, sering kali melalui alumni Annuqayah yang melihat persoalan ekonomi di kampungnya.

Kedua, dengan mendatangi wilayah yang dianggap membutuhkan intervensi, terutama daerah yang mulai masuk dalam lingkaran ketergantungan kepada rentenir. Tetapi mereka tidak datang membawa instruksi. Mereka datang membawa percakapan. Pendekatan dilakukan kepada tokoh masyarakat dan kelompok pemuda. Lalu pengajian dijadikan ruang komunikasi. Di sela pembahasan ayat dan kitab, orang mulai berbicara tentang utang, tanah, panen, dan usaha. Dari situ lahirlah kepercayaan. Dan dari kepercayaan lahirlah gerakan.

Dari Gadai Menuju Kemandirian

BPM-PPA mulai membentuk kelompok petani, pengrajin, pedagang kecil, dan kelompok masyarakat lainnya. Mereka didampingi. Diberi pelatihan. Dikenalkan pola pertanian yang lebih inovatif. Diberi akses terhadap bahan pertanian dan penguatan usaha. Sebagian pembiayaan dilakukan tanpa bunga.

Di beberapa praktik, hubungan antara modal dan petani juga mulai diubah. Tanah tidak lagi semata dipindahkan penguasaannya. Petani tetap diberi ruang menggarap. Modal hadir sebagai pendamping. Hasil dibagi dengan pendekatan yang lebih adil. Yang dibangun bukan ketergantungan. Yang dibangun adalah kemampuan untuk berdiri. Inilah yang kemudian disebut sebagai dakwah bil-hal. Dakwah yang tidak berhenti pada nasihat. Tetapi menjelma menjadi sistem sosial.

Penelitian tentang Annuqayah kemudian menunjukkan bahwa keberhasilan model ini bukan terutama karena uang. Tetapi karena modal sosial. Ada kepercayaan antara kiai dan masyarakat. Ada jaringan alumni. Ada budaya silaturahim. Ada nilai kejujuran. Ada kebiasaan saling membantu. Semua itu membentuk energi sosial yang memungkinkan pemberdayaan berjalan. Ketika ekonomi modern sering memulai dari modal finansial, Annuqayah justru memulai dari hubungan. Dan mungkin karena itu dampaknya bertahan lebih lama.

Ketika membaca kembali kisah Guluk-Guluk hari ini, saya merasa sedang membaca sesuatu yang sangat dekat dengan arah pengembangan pesantren yang sekarang terus diperkuat Kementerian Agama melalui semangat Kemandirian Pesantren. Kemandirian Pesantren bukan sekadar mengembangkan unit usaha. Ia adalah ikhtiar menjadikan pesantren sebagai pusat kehidupan masyarakat. Tempat pendidikan berjalan bersama ekonomi. Tempat dakwah berjalan bersama pemberdayaan. Tempat agama hadir bukan hanya di ruang ibadah, tetapi juga di sawah, pasar, dan rumah-rumah warga.

Dan jika ditelusuri lebih jauh, Annuqayah sesungguhnya telah menunjukkan jalan itu sejak puluhan tahun lalu. Bahwa pesantren tidak harus menunggu kaya untuk memberdayakan. Tidak harus menunggu program besar untuk bergerak. Cukup dengan membuka pintu, mendengar masyarakat, dan menjadikan ilmu sebagai tindakan.

Di atas tanah kapur Guluk-Guluk, Annuqayah memberi satu pelajaran yang masih relevan hingga hari ini; pesantren yang besar bukan yang paling tinggi bangunannya. Tetapi yang membuat masyarakat di sekitarnya bisa berdiri dan berjalan lebih tegak. Wallahul musta’an.

Penulis: Fahmi Arif El Muniry (Kasubtim pada Subdit Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Pesantren). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved