Follow us:

Kebangkitan Ilmu Pengetahuan di Nahdlatul Ulama: Menuju Baitul Hikmah Kedua di Indonesia

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki tradisi keilmuan sangat kuat. Selama lebih dari satu abad, NU telah berhasil menjaga, mengembangkan, dan mentransmisikan khazanah Islam Ahlussunnah wal Jamaah melalui pesantren, madrasah, perguruan tinggi, forum bahtsul masa’il, dan karya-karya para ulama. Tradisi intelektual ini menjadi salah satu pilar penting yang menjaga moderasi Islam Indonesia.

Namun, tantangan abad ke-21 berbeda dengan tantangan yang dihadapi para ulama pada masa lalu. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), bioteknologi, perubahan iklim, ekonomi digital, hingga dinamika geopolitik global menghadirkan persoalan-persoalan baru yang memerlukan respons keagamaan yang lebih komprehensif. Karena itu, kebangkitan ilmu pengetahuan di lingkungan NU tidak cukup hanya mempertahankan tradisi lama, tetapi juga perlu mengembangkan tradisi tersebut melalui integrasi antara kajian keislaman dengan ilmu-ilmu kontemporer.

Dalam konteks inilah, gagasan integrasi keilmuan yang selama dua dekade terakhir berkembang di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi sangat relevan. Transformasi IAIN menjadi UIN telah membuka ruang bagi pengembangan ilmu-ilmu agama bersama ilmu sosial, humaniora, sains, dan teknologi dalam satu ekosistem akademik. Integrasi ini bukan sekadar penambahan fakultas umum, tetapi usaha membangun paradigma ilmu yang saling memperkaya.

NU dan Pengembangan Metode Ijtihad Kontemporer

NU memiliki tradisi ijtihad kolektif melalui forum Bahtsul Masa’il yang telah menghasilkan banyak keputusan penting bagi kehidupan umat. Metode ini selama ini bertumpu pada penguasaan kitab-kitab klasik (turats) serta metodologi ushul fiqh yang mapan.

Tradisi tersebut merupakan kekuatan yang harus dipertahankan. Akan tetapi, perkembangan zaman menuntut agar metodologi ijtihad juga mengalami pengayaan. Pengembangan metodologi bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuatnya melalui dialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Salah satu pendekatan yang layak mendapat perhatian lebih luas di lingkungan NU adalah Pendekatan Ma’na-cum-Maghza yang dikembangkan penulis. Pendekatan ini berusaha menemukan tiga lapisan makna dalam suatu ayat Al-Qur’an, yaitu:

  1. Makna historis (al-ma’na al-tarikhi) sebagaimana dipahami oleh masyarakat pertama yang menerima wahyu.
  2. Signifikansi historis (al-maghza al-tarikhi) atau pesan utama yang ingin disampaikan pada masa turunnya ayat.
  3. Signifikansi kontemporer (al-maghza al-mutaharrik al-mu’ashir), yaitu bagaimana pesan tersebut diterapkan dalam konteks kehidupan modern.

Pendekatan ini mengintegrasikan khazanah ‘Ulum al-Qur’an dengan teori-teori hermeneutika modern tanpa mengurangi penghormatan terhadap otoritas wahyu. Prinsip yang dikedepankan adalah mempertahankan aspek-aspek klasik yang masih relevan (al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih) sekaligus mengambil pendekatan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman (wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah).

Pendekatan semacam ini dapat menjadi salah satu instrumen metodologis untuk memperkuat Bahtsul Masa’il sehingga mampu merespons isu-isu mutakhir seperti kecerdasan buatan, rekayasa genetika, krisis lingkungan, ekonomi digital, hingga etika teknologi.

Membangun Tradisi Sains di Lingkungan NU

Di bidang kajian Islam, NU telah memiliki ribuan ulama, kiai, dan akademisi yang berkompeten. Namun jika dibandingkan dengan jumlah tersebut, keberadaan ilmuwan di bidang sains, teknologi, kedokteran, matematika, fisika, kimia, maupun rekayasa masih relatif terbatas.

Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya lahir dari penguasaan ilmu agama, tetapi juga dari kemajuan ilmu-ilmu alam dan teknologi. Para ilmuwan Muslim klasik seperti Ibn Sina, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ibn al-Haytham, dan Jabir ibn Hayyan berhasil membangun peradaban karena menguasai dua dunia sekaligus: ilmu agama dan ilmu empiris.

Oleh karena itu, NU perlu menjadikan pengembangan sumber daya manusia di bidang sains sebagai agenda strategis jangka panjang. Program-program tersebut dapat dilakukan melalui:

  • pemberian beasiswa bagi kader NU untuk menempuh studi sains di universitas terbaik dalam dan luar negeri;
  • penguatan riset kolaboratif antara pesantren, perguruan tinggi NU, PTKI, BRIN, serta universitas internasional;
  • pembangunan pusat-pusat riset unggulan di bidang teknologi, kesehatan, energi, lingkungan, dan kecerdasan buatan;
  • pengembangan budaya riset sejak tingkat pesantren dan sekolah.

Dengan langkah tersebut, NU tidak hanya menjadi pusat kajian keislaman, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Integrasi sebagai Jalan Kebangkitan Ilmu Pengetahuan

Kebangkitan ilmu pengetahuan memerlukan paradigma integratif. Selama ini, integrasi keilmuan telah menjadi salah satu program unggulan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama. Berbagai akademisi telah mengembangkan konsep integrasi antara studi Islam dengan ilmu-ilmu lain melalui tiga bentuk utama.

Pertama, integrasi metodis, yaitu penggunaan pendekatan dan metode dari berbagai disiplin ilmu secara bersamaan dalam memahami teks-teks Islam. Pendekatan Ma’na-cum-Maghza merupakan salah satu contoh paling menonjol dari integrasi metodis ini.

Kedua, integrasi substansial, yaitu penggabungan substansi ilmu-ilmu Islam dengan ilmu pengetahuan modern sehingga lahir disiplin-disiplin baru, seperti kedokteran Islam, psikologi Islam, ekonomi syariah berbasis data, bahkan integrasi studi Islam dengan robotika dan kecerdasan buatan.

Ketiga, integrasi etis, yaitu pemberian landasan moral dan spiritual terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga sains tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya.

Paradigma integratif tersebut sangat sejalan dengan karakter NU yang selama ini mengembangkan prinsip tawazun (keseimbangan), tawasuth (moderat), dan tasamuh (toleran). Integrasi bukanlah pencampuran tanpa batas, melainkan dialog kreatif antara wahyu, akal, pengalaman empiris, dan realitas sosial untuk menghasilkan ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia.

Menuju Baitul Hikmah Kedua

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, menyampaikan gagasan besar untuk membangun Baitul Hikmah Kedua di Indonesia. Gagasan ini merupakan inspirasi dari Bayt al-Hikmah di Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah yang menjadi pusat penerjemahan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dunia.

Baitul Hikmah pada masa lalu mempertemukan ulama, filsuf, dokter, matematikawan, astronom, penerjemah, dan ilmuwan dari berbagai latar belakang untuk bekerja sama mengembangkan ilmu pengetahuan. Dari lembaga inilah lahir berbagai inovasi yang kemudian menjadi fondasi perkembangan ilmu modern.

Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan jaringan pesantren terbesar di dunia, ratusan perguruan tinggi Islam, puluhan UIN, organisasi-organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah, serta bonus demografi yang besar, Indonesia memiliki potensi menjadi pusat kebangkitan ilmu pengetahuan Islam abad ke-21.

Dalam konteks ini, NU dapat memainkan peran strategis sebagai salah satu pilar utama Baitul Hikmah Kedua. Tradisi pesantren yang kaya dapat dipadukan dengan budaya riset modern, inovasi teknologi, serta kolaborasi internasional sehingga melahirkan generasi ulama sekaligus ilmuwan.

Kebangkitan ilmu pengetahuan di lingkungan Nahdlatul Ulama bukan berarti mengubah identitas organisasi, melainkan memperluas cakrawala keilmuannya. Kekuatan NU dalam kajian Islam harus tetap dipertahankan, sekaligus diperkuat melalui pembaruan metodologi ijtihad, pengembangan ilmu-ilmu sains, dan integrasi berbagai disiplin ilmu.

Pendekatan Ma’na-cum-Maghza menawarkan salah satu model pembaruan metodologis yang memungkinkan teks-teks keagamaan terus berdialog dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, investasi besar dalam pengembangan ilmuwan sains akan memperkuat kontribusi NU bagi kemajuan bangsa.

Apabila tradisi keilmuan pesantren, integrasi keilmuan di perguruan tinggi, penguatan riset sains, dan visi besar Baitul Hikmah Kedua dapat berjalan secara sinergis, maka NU tidak hanya akan menjadi penjaga tradisi Islam Indonesia, tetapi juga menjadi motor kebangkitan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat bagi Indonesia dan dunia.

Penulis: Prof. Dr. Phil Sahiron, M.A. (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama RI). (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved