Follow us:

Program Bisa Ditiru Tapi Identitas Tidak, Belajar dari MAN Unggulan

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar nama Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia? Sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan madrasah dengan prestasi akademik yang kuat, budaya riset yang berkembang, serta lulusan yang mampu diterima di berbagai perguruan tinggi terbaik dalam dan luar negeri. Begitu pula ketika mendengar MAN Program Keagamaan, yang muncul di benak banyak orang adalah madrasah dengan penguatan ilmu-ilmu keislaman, penguasaan bahasa Arab, dan pembinaan calon ulama.

Menariknya, kesan tersebut muncul bahkan sebelum masyarakat mengetahui secara rinci program yang dimiliki kedua madrasah itu. Artinya, yang lebih dahulu melekat di benak publik bukan daftar kegiatannya, melainkan identitas lembaganya.

Keberhasilan kedua model madrasah tersebut menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang diumumkan, melainkan sesuatu yang diingat masyarakat.

Pelajaran inilah yang menurut saya menarik untuk dikaitkan dengan kebijakan Diversifikasi Madrasah yang sedang dikembangkan Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama. Melalui kebijakan tersebut, madrasah didorong mengembangkan berbagai tipologi, mulai dari Madrasah Riset, Madrasah Inklusif, Madrasah Ramah Anak, Madrasah Berasrama, MA Plus Keterampilan, hingga berbagai model lainnya.

Kebijakan ini lahir pada saat yang tepat. Anak-anak madrasah saat ini merupakan bagian dari Net Generation, generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Mereka memiliki minat, bakat, gaya belajar, dan cita-cita yang semakin beragam. Karena itu, sudah tidak mungkin lagi semua madrasah menawarkan pendekatan yang sama. Masyarakat pun membutuhkan pilihan pendidikan yang lebih beragam sesuai kebutuhan dan potensi anak-anak mereka.

Namun, menurut saya, keberhasilan diversifikasi tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah tipologi madrasah. Yang lebih penting adalah apakah setiap tipologi mampu membangun identitas yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Refleksi tersebut muncul selama saya melakukan penelitian pada berbagai Madrasah Aliyah di Kabupaten Bogor. Hampir semua madrasah yang saya kunjungi terus berbenah. Mereka mengembangkan program tahfiz Al-Qur’an, memperkuat penguasaan bahasa asing, membangun literasi digital, membuka program keterampilan dan kewirausahaan, meningkatkan pembinaan karakter, serta memperluas dan memperkuat kegiatan ekstrakurikuler agar peserta didik mampu berprestasi di bidang akademik maupun nonakademik. Semangat berinovasi tersebut menunjukkan bahwa madrasah terus berusaha menjawab tuntutan zaman.

Namun, saya juga menemukan fenomena yang menarik. Ketika mencoba memahami apa yang menjadi ciri khas masing-masing madrasah, jawaban yang muncul sering kali masih berupa daftar program. Padahal sebagian besar program tersebut juga dimiliki oleh madrasah lain, bahkan oleh banyak SMA dan sekolah Islam.

Di sinilah letak tantangannya.

Masyarakat tidak selalu mengingat banyaknya program yang dimiliki sebuah sekolah. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu yang menjadi karakter lembaga tersebut. Ada sekolah yang langsung dikenal karena budaya disiplinnya, ada yang identik dengan prestasi riset, ada yang dipercaya karena pembinaan karakternya, dan ada pula yang terkenal karena keberhasilannya mengantarkan lulusan ke perguruan tinggi unggulan.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keunggulan madrasah tidak cukup dibangun melalui banyaknya program yang dimiliki. Yang lebih menentukan adalah kemampuan madrasah mengenali jati dirinya, menghadirkan keunikan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat, kemudian membangun reputasi secara konsisten melalui kualitas layanan dan budaya organisasi. Dalam perspektif ini, positioning, differentiation, dan branding bukan sekadar strategi promosi, melainkan kapabilitas organisasi yang memperkuat daya saing madrasah. Lebih penting lagi, seluruh proses tersebut berpijak pada nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pengelolaan madrasah.

Pandangan tersebut sejalan dengan Hemsley-Brown dan Oplatka (2015) yang menjelaskan bahwa identitas dan reputasi sekolah merupakan faktor penting yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan. Hal ini juga selaras dengan pemikiran Day (2011) yang menempatkan pemasaran sebagai kapabilitas organisasi, bukan sekadar aktivitas promosi. Dalam dunia pendidikan, kepercayaan masyarakat tumbuh dari kualitas layanan, budaya organisasi, dan pengalaman nyata yang dirasakan peserta didik serta orang tua.

Karena itu, kebijakan diversifikasi madrasah sesungguhnya membuka peluang besar bagi setiap madrasah untuk membangun identitasnya sendiri. Madrasah Riset tidak cukup hanya memiliki predikat sebagai madrasah riset, tetapi perlu menghadirkan budaya ilmiah yang hidup di kalangan guru dan peserta didik. MA Plus Keterampilan tidak cukup hanya membuka program vokasional, tetapi harus dikenal karena menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi kerja. Demikian pula Madrasah Ramah Anak, Madrasah Inklusif, maupun Madrasah Berasrama perlu memastikan bahwa tipologi tersebut benar-benar tercermin dalam budaya, tata kelola, dan pengalaman belajar sehari-hari.

Hal yang sama berlaku bagi madrasah reguler. Tidak semua madrasah harus menjadi MAN Insan Cendekia atau MAN Program Keagamaan. Setiap madrasah memiliki konteks, sumber daya, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Ada yang dapat dikenal karena pembinaan karakter, ada yang unggul dalam literasi, ada yang kuat dalam kewirausahaan, atau menjadi pusat pengembangan keterampilan. Yang terpenting, keunggulan tersebut dibangun secara konsisten hingga menjadi identitas yang diingat masyarakat.

Pada akhirnya, diversifikasi madrasah bukan sekadar menghadirkan semakin banyak tipologi. Diversifikasi adalah ikhtiar membangun wajah-wajah baru madrasah yang memiliki karakter, keunggulan, dan kepercayaan publik. Program dapat ditiru, fasilitas dapat dibangun, bahkan kurikulum dapat terus disempurnakan. Namun identitas hanya tumbuh ketika nilai, budaya, kepemimpinan, dan kualitas layanan berjalan secara selaras dari waktu ke waktu. Di tengah persaingan pendidikan yang semakin terbuka, identitas itulah yang akan menjadi keunggulan paling sulit ditiru sekaligus fondasi utama bagi tumbuhnya kepercayaan masyarakat.

Penulis: Yosef Budiman (Mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan UPI, penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag–LPDP dan guru Ekonomi MAN 2 Bogor). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved