Dari Quadruple Helix menuju Pentahelix: Saatnya PTKI Berhenti Jadi Menara Gading
Ada pertanyaan yang patut diajukan secara jujur: untuk siapa sebenarnya perguruan tinggi dibangun? Untuk mengejar akreditasi? Memperbanyak publikasi? Memenuhi indikator kinerja? Menghasilkan laporan kegiatan? Ataukah untuk menjawab persoalan nyata manusia dan masyarakat?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Sebab PTKIN tidak hanya membawa mandat akademik, tetapi juga mandat moral dan sosial. Ia berdiri bukan semata untuk memproduksi sarjana, tetapi untuk menghadirkan ilmu yang mencerahkan, memberdayakan, dan menyelesaikan problem kehidupan. Di sinilah pengabdian kepada masyarakat harus ditempatkan kembali pada tempat yang semestinya.
Pengabdian bukan kegiatan sampingan. Bukan pula sekadar kewajiban Tri Dharma yang selesai setelah proposal disetujui, kegiatan dilaksanakan, dokumentasi diunggah, dan laporan ditandatangani. Jika pengabdian berhenti pada seremoni, maka kampus hanya sedang memindahkan aktivitas akademik ke desa—bukan menghadirkan perubahan di desa.
Karena itu, PTKIN membutuhkan lompatan paradigma: dari pengabdian berbasis kegiatan menuju pengabdian berbasis dampak; dari kampus yang bekerja sendiri menuju ekosistem kolaboratif; dari Quadruple Helix menuju Pentahelix.
Pengabdian Bukan Rutinitas Berbungkus Ilmiah
Selama ini, banyak program pengabdian masih terjebak dalam logika yang sederhana: ada anggaran, ada kegiatan, ada peserta, ada dokumentasi, lalu selesai. Padahal masyarakat tidak membutuhkan sekadar kegiatan. Masyarakat membutuhkan perubahan.
Desa tidak menjadi lebih mandiri hanya karena pernah didatangi mahasiswa KKN/KPM. UMKM tidak otomatis naik kelas karena pernah mengikuti pelatihan. Kemiskinan tidak berkurang hanya karena ada seminar pemberdayaan. Literasi masyarakat tidak serta-merta meningkat karena satu kali penyuluhan.
Inilah paradoks yang harus berani dibongkar. Kampus sering merasa telah mengabdi karena telah melakukan kegiatan, sementara masyarakat belum tentu merasa telah diberdayakan.
Ukuran keberhasilan pengabdian karenanya harus digeser. Bukan lagi terutama bertanya, “Apa yang telah kita lakukan?”, tetapi:
“Apa yang berubah setelah kita datang?”
Apakah pendapatan masyarakat meningkat?
Apakah kelembagaan desa semakin kuat?
Apakah UMKM mampu naik kelas?
Apakah anak-anak desa memiliki akses pendidikan yang lebih baik?
Apakah persoalan lingkungan berkurang?
Apakah masyarakat menjadi lebih mandiri setelah program berakhir?
Jika jawabannya tidak jelas, maka kita perlu berani mengakui: barangkali yang selama ini kita sebut pengabdian belum sepenuhnya menjadi pemberdayaan.
Dari Triple Helix ke Quadruple Helix
Perubahan sosial yang kompleks tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi. Karena itu, paradigma kolaborasi berkembang dari Triple Helix—yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dan industri—menuju Quadruple Helix dengan memasukkan masyarakat sebagai aktor penting.
Perubahan ini membawa pesan filosofis yang sederhana tetapi mendasar: masyarakat bukan objek pembangunan; masyarakat adalah subjek perubahan.
Akademisi membawa pengetahuan. Pemerintah membawa kebijakan dan otoritas. Dunia usaha membawa modal, teknologi, pasar, dan jaringan. Masyarakat membawa pengalaman, kebutuhan, pengetahuan lokal, sekaligus legitimasi sosial.
Tetapi bahkan empat aktor tersebut belum cukup. Sebab pada zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kebijakan dan opini publik dapat terbentuk hanya dalam hitungan menit, ada satu kekuatan yang tidak boleh diabaikan: media.
Di sinilah Pentahelix memperoleh relevansinya. Pentahelix bukan tentang lima aktor yang duduk bersama, tetapi lima kekuatan yang bergerak bersama. Pentahelix mempertemukan lima unsur utama: Academics, Business, Community, Government, dan Media.
Namun, jangan berhenti pada definisi. Bahaya terbesar Pentahelix adalah menjadikannya sekadar jargon baru dalam proposal lama: lima logo dicantumkan, lima pihak diundang, foto bersama diambil, kemudian semua kembali ke kesibukan masing-masing. Itu bukan kolaborasi. Itu dekorasi kelembagaan. Kolaborasi yang sesungguhnya mensyaratkan pembagian peran, sumber daya, risiko, tanggung jawab, dan hasil.
PTKIN harus menjadi orkestrator pengetahuan dan perubahan, bukan sekadar penyelenggara kegiatan. Pemerintah tidak cukup hadir sebagai pemberi izin atau penerima laporan. Ia harus membuka akses kebijakan, anggaran, data, dan jejaring layanan publik. Dunia usaha tidak cukup hadir sebagai pemberi sponsor. Ia harus membuka akses modal, teknologi, rantai pasok, pasar, dan business matching. Masyarakat tidak cukup dijadikan peserta. Ia harus menjadi pemilik masalah sekaligus pemilik solusi.
Media tidak cukup menjadi peliput. Ia harus menjadi kekuatan literasi publik, transparansi, edukasi, dan pengganda dampak. Dan akademisi tidak boleh berhenti sebagai narasumber.
Akademisi harus turun dari podium, masuk ke dalam persoalan, mengubah ilmu menjadi solusi, dan memastikan solusi itu dapat bertahan setelah program berakhir.
Media, Pengganda Dampak
Dalam ekosistem Pentahelix, media sering dipahami secara terlalu sederhana: sebagai saluran publikasi. Padahal perannya jauh lebih besar. Media memiliki kemampuan membangun narasi, memperluas pengetahuan, menghubungkan inovasi dengan publik, membuka ruang kontrol sosial, sekaligus mengangkat praktik baik agar direplikasi.
Tetapi ada satu koreksi penting: publikasi bukanlah dampak. Kesalahan lain dalam budaya akademik adalah menganggap program berhasil karena diberitakan media. Padahal viral bukan berarti berdampak; terkenal bukan berarti berhasil. Karena itu, prinsipnya harus dibalik: dampak harus lahir lebih dahulu, publikasi mengikuti; bukan publikasi yang menggantikan dampak.
Media harus membantu memastikan bahwa praktik baik tidak mati sebagai laporan di rak kantor, tetapi menjadi pengetahuan publik yang dapat ditiru, dikembangkan, bahkan direplikasi di tempat lain.
Mengubah Cara Bermain PTKIN
Sejumlah PTKIN telah menunjukkan arah tersebut. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, misalnya, telah mengembangkan berbagai program pengabdian dengan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan media. Ini menunjukkan bahwa pengabdian semakin dipahami sebagai kerja lintas sektor, bukan pekerjaan akademisi semata.
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto juga memperlihatkan praktik menarik melalui KKN Tematik “Kampung Zakat dan Tanggap Bencana”. Program semacam ini memperlihatkan bagaimana KKN dapat ditransformasikan dari aktivitas rutin mahasiswa menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat sekaligus penguatan ketangguhan masyarakat.
Demikian pula berbagai kerja sama UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dengan pemerintah daerah—mulai dari desa digital, pendampingan UMKM, pengurusan NIB dan sertifikasi halal hingga pengelolaan limbah minyak jelantah—menunjukkan bahwa kampus dapat mengambil posisi sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
Tetapi praktik baik semacam ini jangan berhenti sebagai cerita keberhasilan. Yang dibutuhkan PTKIN bukan hanya proyek percontohan, melainkan ekosistem yang membuat keberhasilan dapat direplikasi dan diperbesar.
Dari KKN ke “Laboratorium Sosial”
Sudah saatnya PTKIN memikirkan kembali desain pengabdian masyarakat. KKN, misalnya, jangan lagi diperlakukan semata sebagai ritual akademik yang berulang setiap tahun. Desa jangan menjadi “laboratorium sesaat” yang didatangi mahasiswa, kemudian ditinggalkan setelah masa KKN selesai.
Desa harus menjadi mitra jangka panjang. PTKIN dapat membangun living laboratory atau laboratorium sosial berbasis kawasan: satu desa atau satu komunitas didampingi secara berkelanjutan selama beberapa tahun dengan indikator perubahan yang jelas.
Mahasiswa datang bukan sekadar membawa program. Mereka datang membawa riset, teknologi, literasi, pendampingan, jejaring bisnis, dan energi perubahan. Dosen tidak hanya mengajar mahasiswa tentang masyarakat. Masyarakat menjadi ruang belajar bagi dosen untuk menguji apakah ilmu yang diajarkan benar-benar bekerja.
Dunia usaha masuk untuk membuka pasar. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur. Media mengawal transparansi dan menyebarluaskan inovasi. Masyarakat menjadi pusat sekaligus pemilik perubahan. Inilah Pentahelix yang sesungguhnya.
Dari “Berapa Kegiatan?” Menjadi “Berapa Perubahan?”
PTKIN juga perlu melakukan revolusi kecil dalam cara mengukur keberhasilan pengabdian. Selama indikator utama masih berupa jumlah kegiatan, jumlah peserta, jumlah sertifikat, jumlah publikasi, dan jumlah dokumentasi, maka orientasi pengabdian akan mudah terjebak pada produksi aktivitas, bukan produksi dampak.
Sudah waktunya indikator digeser menjadi:
• berapa UMKM yang benar-benar naik omzet;
• berapa usaha yang berhasil masuk pasar baru;
• berapa desa yang mengalami peningkatan kemandirian;
• berapa kelompok masyarakat yang mampu melanjutkan program secara mandiri;
• berapa inovasi yang berhasil direplikasi;
• berapa masalah sosial yang mengalami perbaikan terukur;
• dan yang paling penting: apa yang tetap hidup setelah kampus pergi?
Sebab pengabdian yang baik bukan yang paling ramai ketika kampus hadir. Pengabdian yang baik adalah yang tetap hidup ketika kampus sudah tidak berada di sana.
PTKIN Harus Menjadi “Jembatan”, Bukan “Pulau”
PTKIN tidak boleh menjadi pulau pengetahuan yang dikelilingi lautan persoalan masyarakat. Ia harus menjadi jembatan.
Jembatan antara ilmu dan kebutuhan. Antara kebijakan dan kenyataan. Antara modal dan masyarakat kecil. Antara inovasi dan pengguna. Antara kampus dan desa. Antara pengetahuan dan perubahan.
Di situlah sesungguhnya makna Tri Dharma memperoleh ruhnya. Sebab ilmu yang hanya berputar di ruang seminar akan menjadi wacana. Penelitian yang hanya berhenti di jurnal akan menjadi arsip. Dan pengabdian yang hanya selesai dalam laporan akan menjadi administrasi.
Ilmu baru menemukan kemuliaannya ketika ia mengubah kehidupan.
Jangan Hanya Mengabdi, Ciptakan Perubahan
Transformasi PTKIN tidak cukup ditandai oleh perubahan status kelembagaan dari IAIN menjadi UIN, bertambahnya program studi, megahnya gedung, atau meningkatnya jumlah publikasi. Transformasi sejati terjadi ketika masyarakat mulai merasakan bahwa keberadaan kampus memang membuat kehidupan mereka lebih baik.
Karena itu, Pentahelix jangan diperlakukan sebagai mode konseptual baru. Ia harus menjadi cara berpikir baru. PTKIN harus berani meninggalkan paradigma: dari kegiatan menuju dampak; dari seremoni menuju transformasi; dari objek menuju subjek; dari kerja sendiri menuju kolaborasi; dari proyek jangka pendek menuju ekosistem berkelanjutan.
Dan satu hal yang paling penting: jangan lagi menjadikan masyarakat sebagai halaman terakhir dari kerja akademik. Masyarakat harus menjadi alasan pertama mengapa ilmu pengetahuan dikembangkan. Sebab pada akhirnya, ukuran kemuliaan sebuah perguruan tinggi bukan hanya seberapa tinggi menara akademiknya menjulang, tetapi seberapa jauh cahaya ilmunya menerangi kehidupan di bawahnya.
PTKIN tidak boleh hanya menjadi menara gading. Ia harus menjadi menara cahaya.
Penulis: Dr. Aji Damanuri, M.E.I. (Dekan FEBI UIN Ponorogo). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments