Follow us:

NU dan Jalan Menuju Epicentrum Peradaban Islam

Indonesia memiliki modal sangat besar untuk menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia. Selain karena jumlah umat Islamnya yang besar, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan agama, kebangsaan, demokrasi, dan kebudayaan dalam satu ruang kehidupan yang damai.

Islam Indonesia memiliki wajah yang khas. Berbeda dengan corak Islam di belahan lain. Ia tumbuh dari tradisi ilmu, pesantren, kearifan lokal, implementasi budi, dan pengalaman hidup bersama dalam keberagaman. Karena itu, Indonesia tidak hanya memiliki peluang menjadi pasar besar umat Islam dunia, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi sumber munculnya gagasan peradaban Islam baru.

Di titik inilah Nahdlatul Ulama (NU) memiliki posisi yang sangat penting. NU adalah kekuatan sosial (dan politik) yang telah ikut membentuk wajah Indonesia. Tradisi pesantren, keulamaan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan komitmen kebangsaan telah menjadi modal penting NU untuk berkontribusi lebih jauh.

Oleh karena itu, Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, tidak semestinya hanya dibaca sebagai agenda pergantian kepemimpinan. Tidak dilihat murni sebagai amanat keorganisasian (AD/ART). Tetapi ia harus ditempatkan sebagai momentum menentukan arah NU memasuki abad keduanya.

Tema Muktamar yang diangkat kali ini adalah “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, menurut saya tema besar ini memiliki makna strategis yang dalam. Ada tiga kata kunci di sana, yaitu marwah, khidmat, dan maslahat.

Menjaga marwah berarti menjaga kehormatan. Tentu tidak berhenti pada upaya menjaga kehormatan organisasi, tetapi juga kehormatan tradisi keilmuan, akhlak, ulama, pesantren, dan seluruh nilai yang selama ini menjadi fondasi NU. Itulah distingsi NU yang menjadi titik lebih dibanding Ormas keagamaan lain.

Marwah tidak mungkin dijaga hanya dengan kebanggaan terhadap sejarah. Marwah harus dibuktikan melalui keteladanan, menjaga tradisi dan pencapaian cita-cita. Organisasi yang besar harus semakin matang dalam mengelola perbedaan, semakin santun dalam berkompetisi, dan semakin jauh dari kepentingan yang dapat mereduksi kehormatan organisasi.

Kemudian kata kunci memperkaya khidmat. Kata “memperkaya” menunjukkan bahwa khidmat NU tidak boleh berhenti pada pola-pola lama. Khidmat harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Dari pesantren ke pendidikan modern. Dari dakwah konvensional ke ruang digital. Dari pemberdayaan masyarakat ke penguatan ekonomi umat. Dari persoalan lokal ke persoalan kemanusiaan global.

Sedangkan diksi “kemaslahatan bangsa” adalah orientasi akhir dari khidmat NU. Dengan demikian, tema Muktamar itu sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah alur, marwah sebagai fondasi, khidmat sebagai jalan, dan maslahat sebagai tujuan.

Jika ditarik lebih jauh, tiga hal tersebut memiliki hubungan erat dengan cita-cita Indonesia menuju epicentrum peradaban Islam. Sebab, pusat peradaban tidak lahir hanya dari besarnya jumlah umat. Ia lahir dari kemampuan menghadirkan nilai, ilmu, gagasan, dan kemaslahatan yang dapat dirasakan melampaui batas kelompok dan negara.

Pertanyaannya, NU ingin menjadi apa di masa depan? Jika Indonesia berpeluang menjadi epicentrum peradaban Islam dunia, NU harus mampu mengambil peran sebagai salah satu lokomotifnya. Tidak berhenti dengan membesarkan struktur semata, tetapi dengan membesarkan gagasan dan manfaat.

Artinya, Muktamar harus menjadi pertarungan ide tentang masa depan. NU perlu melahirkan lebih banyak pemikiran tentang Islam dan masa depan. Tentang teknologi dan etika. Tentang lingkungan dan ekoteologi. Tentang ekonomi umat berbasis nilai keadilan. Tentang pendidikan yang humanis. Tentang perdamaian dunia yang lebih nyata. Tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang beretika. Tentang kemanusiaan yang bermartabat.

Di sinilah makna “memperkaya khidmat” menjadi sangat penting. Khidmat bukan semata tentang soal berapa banyak lembaga yang dimiliki NU. Bukan pula berapa banyak program yang dijalankan. Khidmat harus diukur dari seberapa besar kehadiran NU mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Dari sini, NU dapat bergerak dari “organization oriented” menuju “civilization oriented”. Dari organisasi yang kuat secara kelembagaan menjadi organisasi yang kuat secara gagasan. Dari kekuatan sosial-keagamaan menjadi kekuatan peradaban yang memiliki ragam keunggulan.

Kita tahu, dunia sedang berubah sangat cepat. Generasi muda tidak lagi hidup dalam sekat-sekat geografis. Mereka berinteraksi dengan dunia melalui teknologi. Sumber pengetahuan demikian melimpah. Mereka membutuhkan agama yang tetap berakar pada tradisi, tetapi mampu menjawab persoalan masa depan.

Bahkan dari kalangan muda NU sendiri muncul dorongan agar organisasi lebih relevan terhadap transformasi global tanpa kehilangan tradisinya. Karena itu, tantangan NU ke depan bukan semata tentang bagaimana menjaga turats, tetapi bagaimana menghidupkan turats untuk menjawab masa depan.

Abad kedua NU tidak cukup hanya ditandai dengan bertambahnya jumlah lembaga, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, atau unit organisasi. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap problem kemanusiaan.

Inilah yang membedakan organisasi yang semata besar dengan organisasi yang memiliki daya peradaban. NU juga perlu menjaga jarak yang sehat dengan politik praktis. Politik kebangsaan tentu penting. Tetapi organisasi keagamaan sebesar NU memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada hanya memenangkan kontestasi kekuasaan.

Ketika energi organisasi terlalu banyak terserap dalam tarik-menarik kepentingan, energi untuk mengurus umat dan membangun peradaban akan berkurang. Sejumlah pengamat melihat konsolidasi internal dan dinamika organisasi sebagai salah satu ujian penting menjelang Muktamar. Karena itu, Muktamar harus menjadi ruang rekonsiliasi. Jangan berhenti pada ruang kompetisi.

Yang diperebutkan hendaknya gagasan tentang masa depan. Yang dibangun tidak melulu struktur organisasi, tetapi postur peradaban yang akan dituju.

Saya percaya, NU memiliki tradisi musyawarah, kedalaman keilmuan, kearifan sikap, keluhuran budi, jaringan pesantren, dan akar rumput yang sangat kuat. Semua itu adalah modal sosial yang luar biasa. Tinggal bagaimana seluruh kekuatan tersebut disatukan dalam satu visi besar.

Visi itu tidak berhenti pada “NU untuk Indonesia”. Tetapi bergerak lebih jauh, NU dari Indonesia untuk dunia. Jika NU mampu menjaga marwahnya, memperkaya khidmatnya, dan memperluas kemaslahatannya, maka NU tidak hanya sedang membangun masa depan organisasinya. NU sedang memperkuat fondasi bagi lahirnya peradaban Islam Indonesia yang memiliki daya tawar di tingkat dunia.

Di situlah hubungan antara Muktamar NU dan cita-cita Indonesia menjadi epicentrum peradaban Islam menemukan titik temunya. Indonesia memiliki peluang besar. NU memiliki modal besar.

Muktamar adalah momentum untuk menyatukan keduanya dalam sebuah agenda besar, menjadikan kekuatan Islam Indonesia bukan hanya besar secara kuantitas, tetapi juga unggul dalam kualitas, gagasan, keteladanan, dan kemaslahatan.

Bukan dengan nostalgia terhadap kebesaran masa lalu. Tetapi dengan keberanian membaca zaman, menjaga marwah, memperkaya khidmat, melahirkan gagasan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan dunia.

Penulis: Menteri Agama Republika Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved