Follow us:

Keluarga Rasulullah: Teladan Sepanjang Zaman

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan Imam At-Turmudzi, terjemahannya, “Yang paling baik di antaramu ialah yang paling baik kepada keluarganya. Aku adalah yang baik di antaramu terhadap keluargaku.” Dalam Hadis di atas tergambar betapa keagungan dan keindahan risalah Islam tentang kehidupan keluarga dan rumah tangga dengan bimbingan dan teladan dari Rasulullah Muhammad Saw.

Perkataan baiti jannati (rumahku surgaku) telah menjadi kata-kata hikmah dalam khazanah keislaman sebelum munculnya ungkapan “there’s no place like home” (tidak ada tempat seindah rumah) yang berasal dari lagu terkenal tahun 1823 berjudul Home Sweet Home karya John Howard Payne hingga dipopulerkan melalui film klasik The Wizard of Oz pada tahun 1939. Pada intinya kebahagiaan hidup manusia tak bisa dipisahkan dari rumah, artinya dari kebahagiaan keluarga.

Islam menegakkan persaudaraan, keadilan, dan emansipasi kemanusiaan dimulai dari keluarga sebagai fondasi kehidupan masyarakat dan bangsa. Kehidupan beragama yang shaleh menjadi landasan pembentukan keluarga yang baik. Islam mengajarkan pola pembinaan keluarga sebagai salah satu bagian penting ajaran agama. Bahkan Islam mengajarkan “kenapa dan untuk apa” manusia menikah dan berkeluarga, sesuatu yang ilmu pengetahuan (sains) tidak bisa memberikan jawaban.  

Ketika memilih jodoh, calon istri atau suami, agar diutamakan agamanya, sesuai sabda Rasulullah Saw. “Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, kemuliaan nasab/keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama!”  Hadis tersebut diterima dari Abu Hurairah, dirawikan oleh Imam Al-Baihaqi, Abu Daud, dan Nasai.

Salah satu aspek penting dalam pembinaan keluarga muslim ialah menjaga kemuliaan perempuan sebagai istri, ibu bagi anak-anak, dan sumber inspirasi perjuangan bagi suami dan anak-anaknya. Seorang penulis Barat, E. M. White mengatakan, tak ada ucapan manusia yang menempatkan wanita lebih tinggi daripada ucapan Nabi Muhammad yang mengatakan “Surga di bawah telapak kaki para ibunda”. 

Dalam hubungan ini, akhlak Rasulullah sebagai kepala rumah tangga adalah teladan abadi bagi umat Islam sepanjang zaman sebagaimana abadinya agama Islam hingga datangnya kiamat. “Tidaklah memuliakan kaum wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah merendahkan kaum wanita kecuali orang yang rendah budi pekertinya.” (HR Ahmad dan Turmudzi)

Para cendekiawan dan penulis dari abad ke abad tidak pernah kehabisan bahan dalam menarasikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam rumah tangganya dengan para ummul mukminin, ibunda orang-orang beriman, baik di waktu senang maupun di waktu susah, dalam perjuangan membawa umat manusia ke jalan Ilahi.

Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Siti Aisyah radhiallahu anha. Bagaimana akhlak Rasulullah? Ummul Mukminin Aisyah balik bertanya: “Tidakkah anda membaca Al-Quran? Saripati Al-Quran itulah akhlak Rasulullah.” Akhlak kemanusiaan yang bersumber dari Al-Quran diterapkan Rasulullah terlebih dahulu di tengah keluarganya sebelum menganjurkan kepada umatnya.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin sebagian orang berhasil membangun citra diri (personal branding) sebagai pribadi yang baik dan dikagumi di luar rumah, tetapi di saat yang sama apakah sukses sebagai pribadi yang baik di mata keluarganya, atau sebaliknya menjadi pribadi yang baik bagi keluarganya, namun tidak memberi manfaat bagi orang lain. Islam mengajarkan bahwa kebaikan dimulai dari rumah sebagai pangkalan perjuangan hidup manusia dan kembali ke rumah sebagai peristirahatan tempat manusia menemukan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan.    

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Ummul Mu’minin Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa pernah datang seorang Arab Badui kepada Rasulullah Saw, dan beliau bertanya: “Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Orang-orang itu menjawab, “Kami tidak biasa mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Apa yang bisa aku perbuat jika Allah telah mencabut rahmat dari hatimu?”

H.S.M. Nasaruddin Latif dalam Seri Hidup Beragama: Keluarga Muslim, menguraikan sebagai berikut:

“Seseorang muslim yang paling baik dalam ukuran atau neraca keislaman dalam rangka iman dan taat kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw haruslah berlaku baik terhadap keluarganya sesuai dengan garis-garis hidayah dan bimbingan suci dari Allah dan Rasulullah dalam sunnahnya. Bukanlah muslim yang ideal, bilamana ia bersifat lembut dan ramah di luar rumah tangganya, terhadap orang lain, tetapi bersikap kasar dan kejam terhadap istri dan anak-anak serta keluargannya di dalam rumah tangganya.”

Lebih lanjut, dikemukakan, Rasulullah Saw sebagaimana diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali, dalam rangka tathyibu qulubin nisa’ (menyenangkan hati istri) adakalanya dalam batas-batas tertentu bersenda gurau dengan istri beliau. Bahkan didapati keterangan Tarikh (sejarah), bahwa Rasulullah pernah musabaqah, lomba lari, dengan istri beliau Sayyidah Aisyah. Menurut keterangan Al-Allamah Majduddin Muhammad bin Ya’qub Firuzabadi dalam kitabnya Safaruz Sa’adah dalam musabaqah tersebut pada kali yang pertama ummul mukminin Aisyah r.a. dapat mendahului beliau Saw, tetapi pada musabaqah di lain kalinya beliau Saw mendahului ummul mukminin, di kala itu Sayyidah Aisyah telah agak gemuk. Dan Rasulullah bersabda: “Haza bizaka”, ini menjadi imbangan bagi yang dahulu itu.

Pengarang kitab Safaruz Sa’adah dalam bab Mu’asyarah Rasulullah Saw dengan para istri beliau, menyebutkan pula bahwa Nabi yang mulia pernah minum air dari Kaz (semacam kendi bergagang) setelah ummul mukminin, dan beliau meminum di tempat bekas istri beliau menempelkan bibirnya. Dan beliau Saw menggigit daging di tempat bekas gigitan ummul mukminin Aisyah r.a. Nabi pernah membiarkan ummul mukminin bertelekan di bahu beliau di kala menonton pertunjukan kesenian (ar-raqsh) orang-orang Habsyi. Semua itu tentulah dalam rangka menyenangkan hati istri beliau, sebagai salah satu dari manifestasi “mu’asyarah bilma’ruf” selaku suami terhadap istrinya.

Maka tidaklah heran, bilamana kita mendengar keterangan dari ummul mukminin Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw tidak pernah dilihat membuang-buang waktu dalam lingkungan keluarga beliau, misalnya kalau tidak menambal/mereparasi sandal beliau sendiri atau sandal orang miskin atau menjahitkan pakaian orang miskin, sebagaimana dinukilkan oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Umar Al-Wasshaby dalam kitabnya Al-Barakah.

Menurut Nasaruddin Latif, sekelumit peristiwa di atas, bukan saja melambangkan dengan nyata sifat dan sikap Nabi yang mulia dalam keramah-tamahan dan sopan santun terhadap keluarganya dalam rumah tangga, tetapi juga memberikan contoh teladan dalam kerendahan hati (tawadhu) terhadap orang-orang miskin, meskipun beliau Saw dalam kedudukan yang hakiki adalah manusia utama yang paling tinggi dan mulia di sisi Allah Swt.

Rumah tangga Rasulullah bagaikan novel terindah dan penuh makna yang tersaji dalam buku-buku terbaik para penulis sejarah. Seorang tokoh pejuang dan pahlawan nasional A.R. Baswedan menulis buku berjudul Bilik-Bilik Muhammad: Novelet Rumah Tangga Rasulullah, pertama kali terbit tahun 1940 dengan judul Rumah Tangga Rasulullah.

Keteladanan rumah tangga Rasulullah menjadi pedoman dan inspirasi abadi bagi dunia kemanusiaan dalam membina dan menjaga kehidupan keluarga di tengah perubahan zaman. Sejalan dengan surat At-Thur (52) ayat 21 bahwa hanya rumah tangga orang-orang beriman lalu diikuti oleh anak cucunya dengan beriman pula yang dijanjikan Allah akan melahirkan generasi muslim yang baik.

Wallahu a’lam bisshawab.  

Penulis: M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved