Warna-Warni Nusantara: Merayakan Syiar Al-Qur’an lewat Pawai Ta’aruf MTQ Nasional
Dentum perkusi dan harmoni alat musik tiup dari Marching Band UNIMAR AMNI memecah suasana di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Sabtu (12 September 2026). Di sepanjang jalan, antusiasme warga tumpah ruah menyambut iring-iringan 46 defile mobil hias yang bergerak perlahan dari kawasan Jalan Pemuda menuju Jalan Pahlawan.
Keriuhan warga menjadi pemandangan tersendiri pada perhelatan Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 Tahun 2026, yang diselenggarakan di Provinsi Jawa Tengah. Siswa-siswi dari SMK Negeri 1, 3, dan 4 Semarang tampak antusias berbaur bersama masyarakat umum yang datang dari berbagai daerah, mulai dari Pacitan, Demak, Kendal dengan ciri khas Kaliwungu, hingga warga Blora.
Kemeriahan pawai budaya ini bukan sekadar hiburan semata. Ini adalah penanda resmi dimulainya rangkaian panjang MTQ Nasional yang akan berlangsung hingga 20 September 2026. Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar hadir langsung di panggung kehormatan, didampingi jajaran pimpinan daerah se-Indonesia, guna menyambut para kafilah dari 38 provinsi yang siap berlaga.
Dalam pawai ini, setiap provinsi seakan membawa sepotong identitas negerinya ke tanah Semarang. Kafilah tuan rumah, Jawa Tengah, tampil memukau dengan replika Kapal Laksamana Cheng Ho. Mengusung tema “Gumregut Nyawiji”, kapal ini menjadi simbol perjumpaan berbagai budaya dan persahabatan, di mana Al-Qur’an hadir sebagai cahaya penunjuk jalan. Pesona Jawa Tengah semakin lengkap dengan hadirnya mushaf Al-Qur’an Wijaya Kusuma yang dibawa oleh kontingen Kabupaten Cilacap.
Dari ufuk barat, Provinsi Banten menggemakan nilai keteguhan lewat atraksi kesenian Debus. Tradisi ini merepresentasikan simbol penjagaan akidah masyarakat Banten yang harmonis. Tak kalah memukau, Provinsi Jambi menghadirkan miniatur Menara Gentala Arasy, melambangkan jembatan silaturahmi di atas aliran Sungai Batanghari. Diiringi senyum khas Betawi, kontingen DKI Jakarta melenggang percaya diri, bahkan turut menghadirkan sosok ikonik Bang Haji Mandra di tengah rombongan.
Pawai ini juga menjadi potret nyata dari pilar moderasi beragama yang terus dirawat di Indonesia. Pesan toleransi terasa kental saat kafilah Nusa Tenggara Timur (NTT) melintas diiringi alunan lagu Maumere, menceritakan potret daerah di mana berbagai suku dan agama hidup subur berdampingan. Dari tanah khatulistiwa, Kalimantan Barat memvisualisasikan harmoni Suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa yang rukun bermasyarakat di tepian Sungai Kapuas.
Momen istimewa turut ditorehkan oleh Provinsi Papua Tengah. Sebagai daerah pemekaran baru sejak tahun 2022, kafilah ini menorehkan sejarah dengan keikutsertaan perdananya di ajang MTQ Nasional. Mereka hadir membawa lambang perisai bersudut lima yang merepresentasikan Pancasila, bersanding dengan kemegahan budaya Maluku Utara yang menampilkan goheba berkepala dua sebagai simbol keselarasan pemimpin dan rakyat.
Pawai Ta’aruf MTQ Nasional ke-31 di Kota Semarang ini pada akhirnya bukan sekadar ajang unjuk keindahan dekorasi kendaraan. Rangkaian ini menjadi etalase raksasa yang membuktikan bahwa di Indonesia, keagungan syiar Islam dan keragaman budaya lokal dapat melebur menjadi sebuah harmoni yang indah. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments