Follow us:

MTQ, Al-Qur’an, dan Pembentukan Akhlak

Ada banyak cara manusia mencintai Al-Qur’an. Ada yang mencintainya dengan membaca. Ada yang menghafalnya. Ada yang mempelajari tafsirnya. Ada pula yang mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain.

Semua itu adalah bentuk kecintaan yang mulia. Tetapi ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan sejauh mana Al-Qur’an telah mengubah diri kita? Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an tidak diturunkan sebatas untuk menjadi bacaan yang indah. Ia diturunkan sebagai petunjuk kehidupan.

Karena itu, ukuran kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an semestinya tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ayat yang dibaca atau dihafal, tetapi juga dari seberapa jauh nilai-nilainya hadir dalam sikap dan perilaku.

Al-Qur’an mengingatkan kita tentang pengaduan Rasulullah saw: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. Al-Furqan: 30).

Meninggalkan Al-Qur’an ternyata tidak selalu berarti berhenti membacanya. Seseorang bisa membaca Al-Qur’an setiap hari, bahkan menghafalnya, tetapi pada saat yang sama jauh dari petunjuknya.

Al-Qur’an bisa dibaca tanpa direnungkan. Dipahami tanpa diamalkan. Dihormati sebagai kitab suci, tetapi tidak dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan.

Karena itu, tantangan kita bukan hanya bagaimana memperbanyak orang yang bisa membaca Al-Qur’an, tetapi bagaimana melahirkan manusia yang berperilaku Qur’ani.

Di dalam keluarga, Al-Qur’an seharusnya menjelma menjadi kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan penghormatan terhadap pasangan serta anak. Tidak ada kekerasan, penghinaan, dan kesewenang-wenangan yang dapat dibenarkan atas nama agama.

Di tempat kerja, Al-Qur’an seharusnya melahirkan amanah, kedisiplinan, profesionalitas, dan pelayanan yang adil. Orang yang dekat dengan Al-Qur’an semestinya menjadi orang yang paling dapat dipercaya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Al-Qur’an mengajarkan ta‘aruf, ta‘awun, dan tabayyun, saling mengenal, saling menolong, dan berhati-hati dalam menerima serta menyebarkan informasi.

Di ruang digital, pesan ini menjadi semakin penting. Jangan sampai ayat-ayat Al-Qur’an begitu mudah kita kutip untuk menilai orang lain, tetapi sulit kita gunakan untuk mengoreksi diri sendiri.

Demikian pula dalam kehidupan berbangsa. Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin santun tutur katanya, semakin menghargai perbedaan, semakin peduli kepada kelompok yang lemah, dan semakin besar kontribusinya bagi persatuan.

Kita memiliki teladan yang sempurna dalam diri Rasulullah SAW. Ketika Sayyidah Aisyah ditanya tentang akhlak beliau, jawabannya sangat singkat: “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.”

Rasulullah adalah Al-Qur’an yang berjalan. Nilai-nilai Al-Qur’an tidak berhenti dalam ucapan, tetapi menjelma dalam kasih sayang, kejujuran, kesabaran, kebijaksanaan, keberpihakan kepada yang lemah, dan kemampuan memaafkan.

Karena itu, mencintai Rasulullah tidak cukup dengan memperbanyak pujian dan selawat. Cinta kepada beliau harus menemukan bentuknya dalam akhlak.

Begitu pula mencintai Al-Qur’an. Ia tidak cukup dibuktikan dengan suara yang merdu ketika membacanya, hafalan yang kuat, atau kemampuan menjelaskan kandungannya. Cinta kepada Al-Qur’an harus terlihat dalam kehidupan.

Di sinilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) memiliki makna yang lebih dalam. MTQ selain arena mencari qari, hafiz, mufasir, penulis, atau kaligrafer terbaik, juga menjadi ruang untuk menumbuhkan manusia-manusia yang membawa cahaya Al-Qur’an ke tengah masyarakat.

Sebab itu, kita perlu melakukan hijrah, dari hanya memperindah tajwid bacaan menuju tajwid amalan; dari menghafal menuju mengamalkan; dari memperlombakan Al-Qur’an menuju membangun kehidupan yang Qur’ani. Gagasan ini menjadi salah satu penekanan utama dalam sambutan saya pada pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang Jawa Tengah.

Pada akhirnya, kemuliaan Al-Qur’an bukan hanya ketika ia terdengar indah di lisan kita, tetapi ketika ia terlihat indah dalam kehidupan kita.

Semoga Al-Qur’an tidak hanya menjadi cahaya yang menerangi masjid dan majelis kita, tetapi juga menerangi keluarga, tempat kerja, masyarakat, dan perjalanan bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, adil, sejahtera, dan berkeadaban.

Penulis: Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menteri Agama Republik Indonesia. (UYR/Kemenag).

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved