7 Golongan Orang yang akan Selamat dari Siksa Kubur
Sebagaimana ada orang-orang yang disiksa di dalam kuburnya, demikian pula ada orang-orang yang diselamatkan dari azab kubur.
Allah SWT telah menjelaskan dalam Alquran, dan Rasul-Nya SAW telah menerangkan dalam sunnah, sejumlah amalan yang menjadi sebab keselamatan seseorang dari azab kubur.
Berikut ini delapan golongan yang akan selamat dari siksa kubur sebagaimana dirangkum Republika:
Pertama, menjaga dan melaksanakan berbagai kewajiban serta amal saleh.
Yang dimaksud adalah memelihara rukun-rukun Islam, seperti shalat, puasa, zakat, serta memperbanyak berbagai amal kebajikan dan ibadah lainnya.
Seluruh amal saleh itu kelak akan menjadi pembela bagi pemiliknya ketika ia berada sendirian di alam kubur, setelah keluarga dan orang-orang tercinta meninggalkannya.
Dengan pertolongan Allah SWT, dia akan dimudahkan menjawab pertanyaan para malaikat di alam kubur, dan Allah akan menjadikan kuburnya sebagai salah satu taman dari taman-taman surga hingga hari kebangkitan.
Hal ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf. Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ الميتَ ليسمعُ خَفقَ نِعالِهِم حين يُولُّون عنه، فإنْ كان مؤمنًا كانت الصلاةُ عند رأسِهِ، وكان الصيامُ عن يمينِهِ، وكانت الزكاةُ عن يسارِهِ، وكان فعلُ الخيراتِ من الصدقةِ، والصلةِ، والمعروفِ، والإحسانِ إلى الناسِ عند رِجلَيْهِ، فيُؤتَى مِن عندِ رأسِهِ فتقولُ الصلاةُ: ما قِبَلي مَدخلٌ، ثم يُؤتَى عن يمينِهِ فيقولُ الصيامُ: ما قِبَلي مَدخلٌ، ثم يُؤتَى عن يسارِهِ فتقولُ الزكاةُ: ما قِبَلي مَدخلٌ، ثم يُؤتَى مِن رِجليهِ فيقولُ فِعلُ الخيراتِ من الصدقةِ، والصلةِ، والمعروفِ، والإحسانِ إلى الناسِ: ما قِبَلي مَدخلٌ. فيقالُ: اجلِسْ، فيجلسُ؛ قد مُثِّلَتْ له الشمسُ وقد دنتْ للغروبِ، فيقالُ له: ما هذا الرَّجُلُ الذي كان فيكم؟ ما تقولُ فيه؟ فيقولُ: دعوني حتى أصلي. فيقولون: إنك ستفعلُ، أخبرنا عما نسألُك عنه. فقال: عمَّ تسألوني؟ فيقولون: ما تقول في هذا الرَّجُلِ الذي كان فيكم؟ ما تشهدُ بهِ؟ فيقولُ: أشهدُ أنهُ رسولُ اللهِ، وأنهُ جاءَ بالحقِّ مِن عندِ اللهِ. فيقالُ: على ذلك حَييتَ، وعلى ذلك متَّ، وعلى ذلك تُبعَثُ إنْ شاءَ اللهُ تعالى. ثم يُفتحُ له بابٌ من أبوابِ الجنةِ، فيقالُ لهُ: ذلك مَقعدُكَ منها، وما أعدَّ اللهُ لك فيها، فيزدادُ غِبْطَةً وسرورًا. ثم يُفتحُ لهُ بابٌ من أبوابِ النارِ، فيقالُ: ذلك مَقعدُكَ منها، وما أعدَّ اللهُ لك فيها [لو عصيتَ اللهَ]، فيزدادُ غِبْطَةً وسرورًا. ثم يُفسَحُ لهُ في قبرِهِ سبعون ذراعًا، ويُنوَّرُ لهُ فيهِ، ويُعادُ جسدُهُ كما بُدِئ، وتُجعَلُ نَسَمَتُهُ في نَسَمِ الطِّيبِ، وهي طَيرٌ تَعلَقُ (تأكل) في شجرِ الجنةِ
“Sesungguhnya mayat mendengar suara langkah sandal orang-orang yang meninggalkannya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat berada di sebelah kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat berada di sebelah kirinya, sedangkan berbagai amal kebajikan seperti sedekah, menyambung silaturahim, berbuat baik, dan berbuat ihsan kepada sesama berada di dekat kedua kakinya.
Lalu malaikat datang dari arah kepalanya, namun shalat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Mereka kemudian datang dari sebelah kanannya, tetapi puasa berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Mereka mendatanginya dari sebelah kirinya, lalu zakat berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian mereka datang dari arah kedua kakinya, namun amal-amal kebajikan berkata, ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’
Setelah itu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah!’ Maka ia pun duduk. Matahari diperlihatkan kepadanya seakan-akan hampir terbenam. Kemudian ditanyakan kepadanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang pernah diutus kepada kalian? Apa yang engkau katakan tentangnya?’
Ia menjawab, ‘Biarkan aku shalat terlebih dahulu.’ Mereka berkata, ‘Engkau akan melakukannya nanti. Jawablah terlebih dahulu apa yang kami tanyakan.’ Ia bertanya, ‘Tentang apa kalian bertanya?’ Mereka menjawab, ‘Apa pendapatmu tentang laki-laki yang dahulu berada di tengah-tengah kalian? Apa kesaksianmu tentang dirinya?’
Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah, dan bahwa beliau datang membawa kebenaran dari sisi Allah.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Di atas keyakinan itulah engkau hidup, di atasnya pula engkau meninggal, dan di atasnya pula engkau akan dibangkitkan, insya Allah.’
Kemudian dibukakan baginya salah satu pintu surga, lalu dikatakan, ‘Inilah tempat tinggalmu di surga dan segala kenikmatan yang telah Allah sediakan untukmu.’ Maka bertambahlah kegembiraan dan kebahagiaannya
Setelah itu dibukakan pula salah satu pintu neraka, lalu dikatakan, ‘Inilah tempatmu seandainya dahulu engkau durhaka kepada Allah.’ Maka rasa syukur, kebahagiaan, dan kegembiraannya pun semakin bertambah.
Kuburnya kemudian diluaskan sejauh tujuh puluh hasta dan dipenuhi cahaya. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula, sedangkan ruhnya ditempatkan bersama ruh-ruh yang baik dalam bentuk seekor burung yang memakan buah-buahan dari pepohonan surga.”
Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa amal saleh akan datang menemui pelakunya dalam rupa seorang laki-laki yang tampan, berpakaian indah, dan beraroma harum. Ia akan memberi kabar gembira kepada pemiliknya dan memuji kehidupannya ketika di dunia.
Hal ini disebutkan dalam hadis panjang yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya. Dari Al-Bara’ bin ‘Azib RA, Nabi SAW bersabda:
“…Lalu datanglah kepadanya seorang laki-laki yang berwajah tampan, berpakaian indah, dan beraroma harum. Ia berkata, ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang akan membahagiakanmu. Bergembiralah dengan keridaan Allah dan surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang kekal. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.
Orang mukmin itu bertanya, ‘Semoga Allah juga memberikan kabar gembira kepadamu. Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.
Laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, selama di dunia aku mengetahui bahwa engkau adalah orang yang selalu bersegera dalam menaati Allah dan lambat dalam melakukan kemaksiatan. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan.’
Setelah itu dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga dan sebuah pintu menuju neraka. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempatmu seandainya dahulu engkau bermaksiat kepada Allah, namun Allah menggantinya dengan tempat yang lebih baik ini.
Ketika ia melihat kenikmatan surga, ia pun berkata, ‘Ya Rabb, segerakanlah datangnya hari kiamat, agar aku dapat kembali menemui keluargaku dan hartaku.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Tinggallah dengan tenang.'”
Kedua, memohon perlindungan kepada Allah dari azab dan fitnah kubur.
Karena begitu pentingnya amalan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengajarkan umatnya doa-doa yang berisi permohonan perlindungan dari azab kubur dalam setiap shalat.
Dalam Shahih Muslim, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah RA, beliau mengabarkan bahwa Rasulullah SAW biasa berdoa dalam shalatnya:
اللهمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ من عذابِ القبرِ، وأعوذُ بِكَ من فتنةِ المسيحِ الدَّجَالِ، وأعوذُ بِكَ من فتنةِ المحيا وفتنةِ المماتِ، اللهُمَّ إنِّي أعوذُ بكَ من المَأْثَمِ والمَغْرَمِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan lilitan utang.”
Beliau juga menganjurkan umatnya agar selalu memohon perlindungan dari azab kubur setiap selesai membaca tasyahud dalam shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إذا تشهَّد أحدكم فليستعذ بالله من أربع؛ يقول: اللهم إني أعوذ بك من عذاب جهنم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدجَّال
“Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai membaca tasyahud, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan membaca: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.'”
Rasulullah SAW juga memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengingatkan umatnya agar berlindung kepada Allah dari azab kubur.
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan bersama beberapa sahabat di sebuah kebun milik Bani An-Najjar.
Tiba-tiba bagal yang beliau tunggangi menyimpang hingga hampir menjatuhkan beliau. Di tempat itu terdapat empat, lima, atau enam kuburan.
Beliau kemudian bertanya, “Siapa yang mengetahui siapa penghuni kubur-kubur ini?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Kapan mereka meninggal dunia?”
Orang itu menjawab, “Mereka meninggal dalam keadaan musyrik.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kubur mereka. Seandainya aku tidak khawatir kalian tidak lagi mau menguburkan jenazah, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian sebagian azab kubur yang aku dengar.”
Kemudian beliau menghadap kepada para sahabat seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab neraka.” Mereka pun menjawab, “Kami berlindung kepada Allah dari azab neraka.”
Beliau kembali bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.” Mereka pun berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari azab kubur.”
Tidak hanya itu, setiap kali Rasulullah SAW menghadiri pemakaman bersama para sahabat, beliau juga mengingatkan mereka agar memohon perlindungan kepada Allah dari azab kubur.
Dalam hadis Al-Bara’ bin ‘Azib RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i.
“Kami pernah keluar bersama Rasulullah SAW untuk mengantarkan jenazah seorang laki-laki dari kaum Anshar. Ketika kami tiba di kuburan, liang lahat belum selesai dibuat. Rasulullah SAW lalu duduk menghadap kiblat, dan kami duduk mengelilingi beliau dengan penuh khusyuk, seakan-akan ada burung bertengger di atas kepala kami. Di tangan beliau terdapat sebatang kayu kecil yang digunakan untuk menggores-gores tanah. Sesekali beliau memandang ke langit, lalu menundukkan pandangan ke bumi, mengulanginya hingga tiga kali. Setelah itu beliau bersabda, ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.’
Beliau mengulanginya dua atau tiga kali, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur.’ Beliau mengulang doa tersebut sebanyak tiga kali.”
Karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim membiasakan diri memohon perlindungan kepada Allah dari azab kubur setiap selesai shalat. Hendaklah doa tersebut juga dipanjatkan pada berbagai kesempatan lainnya, dengan harapan Allah Ta’ala menyelamatkannya dari azab dan fitnah kubur.
Ketiga, Allah memilih seorang hamba untuk memperoleh syahid di jalan-Nya.
Hal ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba RA. Rasulullah SAW bersabda:
للشهيد عند الله ستُّ خصال: يغفر له في أول دفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منه خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويُشفَّع في سبعين من أقاربه
“Seorang yang gugur sebagai syahid di sisi Allah memperoleh enam keutamaan: dosanya diampuni sejak tetesan darah pertamanya, diperlihatkan tempatnya di surga, dilindungi dari azab kubur, diamankan dari kedahsyatan hari kiamat, dipakaikan mahkota kemuliaan yang salah satu permatanya lebih baik daripada dunia beserta seluruh isinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan diberi hak memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang dari kerabatnya.”
Betapa pantas Allah Ta’ala melindungi seorang syahid dari azab dan fitnah kubur. Sebab, ketika masih hidup di dunia, ia telah menghadapi ujian yang sangat berat dalam perjuangannya di jalan Allah.
Ia telah melewati berbagai medan pertempuran, menyaksikan kilatan pedang yang berayun di atas kepalanya, atau mendengar desingan peluru dan ledakan proyektil yang datang dari kanan dan kirinya. Namun semua itu tidak menggoyahkan keteguhannya.
Ia tetap tegar, terus berjihad di jalan Allah dengan mengharap ridha-Nya dan mendambakan keselamatan dari azab-Nya.
Para sahabat RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai sebab mengapa seorang syahid terbebas dari fitnah kubur. Beliau pun menjelaskan hikmah di balik keistimewaan tersebut.
عن راشد بن سعد- رحمه الله-: عن رجل من أصحاب النبيِّ- صلى الله عليه وسلم-: أن رجلًا قال: «يا رسول الله، ما بالُ المؤمنينَ يُفْتَنون في قبورهم إلا الشهيد؟ قال: ((كَفَى ببارقةِ السُّيوف على رأسِهِ فتنة
Dalam Sunan At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari Rasyid bin Sa’ad rahimahullah, dari salah seorang sahabat Nabi SAW, disebutkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa seluruh orang beriman akan diuji di dalam kubur mereka, sedangkan seorang syahid tidak?”
Beliau menjawab, “Kilatan pedang di atas kepalanya telah cukup menjadi ujian baginya.”
Kita berharap, pada masa ini Allah Ta’ala telah memilih banyak syuhada dari bumi Palestina. Lebih dari tujuh puluh ribu orang telah gugur sebagai syahid selama lebih dari dua tahun terakhir, ketika mereka menghadapi pertempuran yang sangat berat melawan pasukan Zionis yang menduduki tanah suci tempat Isra’ Rasulullah SAW, kiblat pertama kaum Muslimin, sekaligus lokasi masjid ketiga yang paling dimuliakan dalam Islam.
Keempat, meninggal dunia karena penyakit yang menyerang perut.
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam Sunan keduanya, serta Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Dari Abdullah bin Yasar, ia berkata, “Aku pernah duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin ‘Urfuthah. Saat itu keduanya hendak mengantarkan jenazah seseorang yang meninggal karena penyakit perut.
Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa meninggal karena penyakit yang menyerang perutnya, maka ia tidak akan diazab di dalam kuburnya?” Yang lain menjawab, ‘Benar.'”
Imam Al-Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan hadis ini menerangkan makna “penyakit perut” (dā’ul-bathn). Beliau menyebutkan bahwa para ulama memiliki dua pendapat.
Pendapat pertama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah penyakit dzarab, yaitu diare yang sangat berat.
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud adalah istisqa’, yaitu penyakit penumpukan cairan di dalam rongga perut (ascites).
Menurut Imam Al-Qurthubi, pendapat inilah yang lebih kuat. Sebab, orang Arab biasa mengatakan, “Perutnya telah membunuhnya,” sebagai ungkapan bagi seseorang yang meninggal karena penyakit yang menyerang organ-organ di dalam perutnya.
Sementara itu, penderita penyakit istisqa’ umumnya juga mengalami diare berat menjelang wafat, sehingga penyakit tersebut mencakup kedua keadaan tersebut, bahkan juga berbagai penyakit lain yang menyerang bagian dalam tubuh.
Pada masa sekarang, para dokter mengenal istisqa’ (ascites) sebagai kondisi medis berupa penumpukan cairan di dalam rongga perut yang menyebabkan perut membesar dan membengkak.
Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, di antaranya sirosis hati, gagal ginjal, radang pankreas, penyakit jantung seperti gagal jantung kongestif, kanker seperti kanker hati atau kanker ovarium, serta penyakit tuberkulosis (TBC).
Karena itu, diharapkan setiap Muslim yang meninggal dunia akibat salah satu penyakit tersebut termasuk ke dalam golongan orang yang dimaksud dalam hadis, yaitu mereka yang wafat karena penyakit perut, sehingga Allah Ta’ala berkenan menyelamatkannya dari azab kubur.
Boleh jadi hikmah di balik keutamaan tersebut adalah karena penderita penyakit-penyakit itu merasakan penderitaan dan rasa sakit yang sangat berat selama hidupnya. Dengan kesabaran dalam menghadapi ujian itu, Allah menghapus dosa-dosanya dan menjadikannya sebagai sebab keselamatannya dari azab kubur.
Kelima, meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya.
عن عبدالله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur.”
Keenam, membiasakan membaca Surah Al-Mulk setiap malam.
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud.
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن سورة من القرآن ثلاثون آية شفعت لرجل حتى غفر له؛ وهي سورة تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada satu surah dalam Alquran yang terdiri dari tiga puluh ayat. Surah itu memberi syafaat kepada seseorang hingga dosanya diampuni. Itulah surah: ‘Mahasuci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan (Tabāraka alladzī biyadihil mulk).'”
Para sahabat Nabi SAW bahkan menjuluki Surah Al-Mulk sebagai “Al-Māni’ah”, yaitu surah yang menjadi penghalang dari azab kubur.
Ketujuh, memperbanyak sedekah.
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman.
عن عقبة بن عامر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الصدقة لتطفئ عن أهلها حر القبور، وإنما يستظل المؤمن يوم القيامة في ظل صدقته
Dari Uqbah bin Amir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Dan pada hari kiamat, seorang mukmin akan bernaung di bawah naungan sedekahnya.”
Meskipun hadis ini berstatus dhaif, kandungannya masih dapat dijadikan sebagai motivasi (istinas) dalam pembahasan ini, terlebih lagi karena terdapat banyak hadis sahih yang menjelaskan keutamaan sedekah.
Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:
الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” Oleh karena itu, hendaklah setiap mukmin memperbanyak sedekah. Semoga amalan tersebut menjadi salah satu sebab yang mengantarkannya kepada keselamatan dari azab kubur. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments