Follow us:

AMANAH DAN KHIANAT

Oleh: Ustadz Drs. Qomaruddin, MA.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ {27} وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (Al Anfal: 27-28)

Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa diantara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikankan amanah-amanahnya. Amanah, dari satu sisi dapat diartikan dengan tugas, dan dari sisi lain diartikan kredibilitas dalam menunaikan tugas. Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuatan. Firman Allah:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Al-Qhashash: 26)

Hidup ini tidak lain dari sebuah perjalanan panjang dalam melaksanakan amanah dari Allah. Dalam hidupnya manusia dibatasi oleh empat dimensi, bumi tempat beramal, waktu atau umur sebagai sebuah kesempatan beramal, nilai Islam yang menjadi landasan amal dan potensi diri sebagai modal beramal. Maka orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.

Amanah pertama yang harus dilakukan adalah Amanah Fitrah manusia, dimana mahluk lain enggan dan menolak menerimanya. Ia adalah amanah hidayah, ma’rifah dan iman kepada Allah atas dasar niat, kemauan, usaha dan orientasi. Amanah berikutnya adalah Amanah Syahadah (Kesaksian). Pertama, berupa kesaksian diri agar menjadi cermin bagi agamanya. Kedua, berupa kesaksian dakwah agar menyampaikan agama kepada manusia. Ketiga, berupa kesaksian agar menerapkan manhaj dan syariah Islam di bumi Allah.

Dan amanah itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Pertanyaan akan ditujukan atas amanah yang dibebankan kepada kita. Barangsiapa yang menunaikan amanah sekecil apapun, niscaya akan dilihat Allah. Dan barangsiapa yang melalaikan amanah sekecil apaupun niscaya akan dilihat. Manusia tidak akan dapat lari dari tanggungjawab itu. Karena tempat yang ditinggali adalah bumi Allah, umur yang dimiliki adalah ketentuan Allah, potensi yang ada adalah anugerah Allah dan nilai Islam adalah tolok ukur dari pelaksanaan amanah tersebut. Kemudian mereka akan datang menghadap Allah.

Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan, maka memiliki dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi juga mengenai umat manusia secara umum. Seorang mukmin yang bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik, maka akan memberikan dampak positif berupa ketenanggan jiwa dan kebahagiaan bagi keluarganya. Lebih dari itu dia mampu memberi sedekah dan infak kepada yang membutuhkan. Sebaliknya seorang yang mengaggur dan malas akan menimbulkan dampak negatif berupa keburukan, terlantarnya keluarga, kekisruhan, keributan dan beban bagi orang lain.

Kesalahan kecil dalam menunaikan amanah akan menimbulkan bahaya yang fatal. Bukankah terjadinya kecelakan mobil ditabrak kereta, disebabkan hanya karena sopirnya lengah atau sang penjaga pintu rel kereta tidak menutupnya? Bahaya yang lebih fatal lagi jika amanah dakwah tidak dilaksanakan, maka yang terjadi adalah merebaknya kemaksiatan, kematian hati, kerusakan moral dan tatanan sosial serta kepemimpnan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.

Kisah Abu Lubabah

Bahwa ayat di atas memiliki asbabunnuzul, yaitu sebagaimana digambarkan oleh Ibnul Jauzi. ayat ini turun kapada Abu Lubabah Ibnu ‘Abdil Mundzir, ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengepung Bani Quraidzah, lalu mereka (Bani Quraidzah) meminta perdamaian dengan beliau sebagaimana beliau berdamai dengan Bani Nadhir, agar mereka boleh keluar ke Negeri Syam. Akan tetapi Nabi tidak menyetujuinya kecuali mereka mau tunduk di bawah perintah Sa’ad ibnu Mu’adz. Merekapun enggan, lantas mereka mengatakan: “Kirimkanlah kepada kami Abu Lubabah”. Abu Lubabah adalah orang yang bisa memberikan nasehat kepada mereka, dikarenakan anak dan keluarganya ada bersama mereka, maka Nabi mengutusnya. Mereka lantas mengatakan kepada Abu Lubabah: “Bagaimanakah menurutmu, apakah kami harus tunduk di bawah perintah Sa’ad ibnu Mu’adz?” Maka Abu Lubabah memberi isyarat dengan menunjuk lehernya dengan tangannya, bahwasannya itu berarti di sembelih, lantas mereka mentaatinya. Maka itu merupakan pengkhianatannya.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir juga digambarkan sebagaimana dalam riwayat-riwayat sirah nabawiyah. Bahwa Abu Lubabah bin Abdul Mundzir diutus oleh Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam ke Bani Quraidzah (sebuah suku Yahudi Madinah yang telah melanggar perjanjian waktu perang Khandak), sebab selama ini Abu Lubabah memiliki hubungan yang baik dengan suku tersebut. Abu Lubabah juga bahkan menitipkan harta dan anak-anaknya pada Bani Quraidzah. Setelah bertemu dengan para pemuka Yahudi itu, disampaikanlah usulan Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam agar mereka (Yahudi Bani Quraidzah) menyerah pada Sa’ad bin Mu’adz yang diperintahkan Nabi Shalallahu ’Alaihi wa Sallam untuk menangani kasus mereka. Lalu pemuka Yahudi bisik-bisik bertanya, “Jika mereka turun (tidak melakukan apa yang diusulkan Rasulullah), apa kira-kira hukuman yang dijatuhkan pada mereka?” Lalu dengan tidak pikir panjang Abu Lubabah memberikan isyarat dengan mengisyaratkan tangan ke lehernya, sebagai isyarat bahwa mereka akan dibunuh semua. Kelancangan Abu Lubabah itulah yang ditegur Allah Ta’ala dengan diturunkannya QS. Al-Anfal 27 – 28 di atas. Karena tidak seharusnya Abu Lubabah “memberitahukan” hal tersebut kepada Bani Quraidzah.

Setelah turun ayat ini, Rasulullah Shalallahu ’Alaihi wa Sallam memanggil isteri Abu Lubabah dan bertanya, “Apakah Abu Lubabah tetap mengerjakan shaum dan sholat. Dan adakah dia mandi junub setelah bersetubuh? “Isterinya menjawab, “Dia Shaum, Sholat dan mandi junub, bahkan cinta kepada Allah dan Rosul-Nya“. Nabi bertanya demikian, karena meragukan keimanannya, sehingga isterinya ditanya tentang kehidupannya, apakah dia Islam atau Munafiq. Isterinya menjawab pasti dia shaum, sholat dan setelah bersetubuh dia tetap mandi junub. Ini menunjukkan keimanannya baik. Tapi ia telah berkhianat, yang merupakan perbuatan orang Munafiq. Abu Lubabah memang bukan orang munafiq, tetapi karena kelancangannya dia telah dicap sebagai penghianat. Setelah turun ayat ini, Abu Lubabah merasa sangat menyesal, sebab Allah sendiri telah mencapnya sebagai penghianat, kemudian dia segera bertaubat.

Menurut Riwayat Qatadah dan Az-Zuhri, taubatnya itu lain sekali. Dia bersumpah untuk tidak makan dan minum, sampai diberi ampun oleh Allah. Kemudian dia mengikatkan diri di tonggak masjid sampai sembilan hari, tidak makan dan tidak minum sampai jatuh pingsan. Setelah Allah menerima taubatnya, beberapa orang datang memberitahu bahwa Alloh telah menerima taubatnya dan mereka hendak melepas ikatannya. Tetapi Abu Lubabah bersumpah bahwa dia tidak mau dilepas kecuali oleh tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau pun akhirnya melepaskan ikatannya. Setelah bebas Abu Lubabah berkata, “Ya Rasulullah, saya bernadzar untuk mensedekahkan seluruh harta saya “. Beliau menjawab, “Jangan semuanya, cukup sepertiga saja“. Inilah taubat Abu Lubabah, yang sangat luar biasa karena telah merasa berkhianat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan kendatipun ayat ini turun mengenai Abu Lubabah, tetapi maksudnya umum, menjadi peringatan keras bagi umat Islam untuk teguh dan setia dalam memegang amnat. Tak ada artinya sholat, shaum, taat beribadah apabila seseorang tidak setia kepada amanah.

Kisah Hatib bin Balta’ah

Hatib bin Balta’ah, seorang dari 113 sahabat Rasulullah yang turut serta dalam perang Badar. Dimana Allah Ta’ala telah memberikan jaminan syurga dan ampunan bagi ahli Badar melalui firman- Nya dalam hadits qudsi, “Berbuatlah apa saja yang kalian ingin lakukan, karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian”.

Apa yang dilakukan seorang sahabat Rasulullah yang juga ahli Badar, Hathib bin Balta’ah, memang dapat dikategorikan sebagai sebuah pengkhianatan terhadap pimpinan tertinggi.

Ketika ia berusaha membocorkan rahasia penaklukan kota Mekah kepada keluarganya yang ada di sana. Namun atas kehendak dan izin Allah Ta’ala sekaligus sebagai ijabah atas doa Rasulullah agar rencana penaklukan ini tak diketahui seorang pun, terbongkarlah upaya yang ingin dilakukan oleh Hathib bin Balta’ah. Dan sebagaimana yang kita ketahui misi fathu Makkah berjalan sukses.

Hathib bin Balta’ah adalah seorang Muhajirin yang turut hijrah ke Madinah, meninggalkan seluruh harta benda dan keluarganya. Meninggalkan segala kenangan indah dan pahit yang ia alami di tengah masyarakat Quraisy yang mengusirnya bersama sang Rasul dan kaum Muslimin dari tanah kelahiran mereka.

Para sahabat Muhajirin itu nyaris hanya membawa pakaian yang melekat pada tubuh mereka, tak ada harta dan sanak keluarga, kecuali sebuah harapan bahwa kenikmatan iman dan islam yang telah mereka rasakan selama ini mendapatkan tempat yang layak, dan risalah sang Nabi ini menemukan lahan subur untuk bertumbuh dan kelak menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Berawal ketika kaum kafir Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah yang telah mereka buat dahulu dengan Rasulullah yang membuat pembesar Quraisy akhirnya ketar-ketir dan mengutus Abu Sufyan bin Harb agar menemui Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk meminta maaf dan melakukan rekonsiliasi. Namun, upaya tersebut gagal dan Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan tangan hampa.

Yang dilakukan Rasulullah kemudian adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk bersiap-siap menaklukkan kota Mekah secara tiba-tiba dan tak terduga, sehingga kaum Quraisy Mekah tidak memiliki kesiapan menghadapi mereka. Dengan demikian proses penaklukan dapat berjalan mudah sekaligus untuk meminimalisir jatuhnya korban. Karena itulah dalam doa-doanya Rasulullah saw. memohon, “Ya Allah, tutuplah berita ini atas mereka (Quraisy).”

Rasulullah lalu menyampaikan kepada sekelompok sahabat mengenai sasaran yang akan mereka tuju. Di antara sahabat tersebut adalah Hathib bin Balta’ah. Setelah mengetahui bahwa mobilisasi pasukan yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. adalah untuk menyerang kota Mekah, Hathib bin Balta’ah segera menulis sepucuk surat dan mengirimkannya melalui seorang wanita musyrik yang konon datang ke Mekah untuk mencari nafkah.

Dalam surat tersebut Hathib bin Balta’ah menyampaikan kepada penduduk Makkah perihal persiapan yang dilakukan Rasulullah untuk menyerang mereka, dengan harapan bahwa Hathib yang bukan berasal dari kalangan Quraisy mendapatkan pertolongan mereka untuk melindungi dan menyelamatkan keluarga dan hartanya di Makkah saat serangan berlangsung.

Namun Allah Azza wa Jalla mencurahkan ilham pada diri Rasul-Nya sebagai bentuk ijabah atas doa yang ia panjatkan. Allah menginformasikan padanya tentang adanya surat tersebut.

Beliau segera mengutus sejumlah sahabat untuk mengejar wanita yang sedang dalam perjalanan menuju Mekah membawa sepucuk surat rahasia milik Hathib bin Balta’ah. Dalam riwayat Muslim dalam shahihnya berkata, “Dari Husain bin Abdurrahman, dari Sa’ad bin Ubaidah, dari Abi Abdirrahman as-Sulami, dari Ali Radhiallahu Anhu berkata, “Aku diutus Rasulullah bersama Murtsid bin dan Zubair bin Awwam, dan beliau berkata, “Berangkatlah kalian hingga sampai ke kebun Khakh, karena sesungguhnya di sana terdapat seorang wanita Musyrik dan bersamanya sepucuk surat dari Hathib bin Balta’ah yang ditujukan buat orang-orang musyrik”.

“Kami segera mengejar wanita tersebut dan menemukannya sedang menunggang unta sebagaimana digambarkan Rasulullah. Kami lalu mengintrogasi wanita itu, namun ia mengelak dan mengaku tak membawa surat yang dimaksud. Karena wanita itu tidak juga mengaku, kamipun berkata dengan nada ancaman, “Rasulullah tidak mungkin berdusta. Jadi keluarkanlah surat itu atau kami menelanjangimu”. Saat melihat keseriusan kami, wanita itupun luluh dan mengambil surat yang ia bawa itu dari tali pinggangnya lalu menyerahkannya kepada kami”.

Kami lalu pulang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membawa surat tersebut. Saat mengetahui kenyataan itu, Umar bin Khatthab segera berseru, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman, maka biarkanlah aku untuk menebas batang lehernya.”

Rasulullah lalu bertanya balik kepada Hathib bin Balta’ah, “Apa gerangan yang mendorongmu melakukan hal ini?”

Hathib menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak melakukan apa pun kecuali beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Aku hanya ingin mendapatkan bantuan dari kaum Quraisy yang dengannya Allah melindungi keluargaku dan harta benda milikku. Dan tidak seorang pun dari sahabatmu kecuali ia sanak famili disana yang dengan mereka Allah lindungi keluarga dan harta bendanya.” Rasulullah pun berkata, “Dia benar dan jujur, maka janganlah kalian mengatakan sesuatu tentang dirinya kecuali kebaikan.” Umar berkata, “Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman. Maka biarkanlah aku menebas lehernya”. Rasulullah lalu balik bertanya kepadanya, “Bukankah Hathib adalah seorang dari ahli Badar? Sesungguhnya Allah telah mengenal ahli Badar dan berfirman kepada mereka, “Berbuatlah sekehendak kalian, karena sesungguhnya surga itu telah pasti untuk kalian (atau aku telah mengampuni kalian)”. Seketika Umar menangis mendengar kalimat itu seraya berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”.

Pelajaran dan Hikmah

Pelajaran dan hikmah dari dua kisah di atas adalah dunia terkadang membuat kita berkhianat. Penyebab terjadinya sifat “khianat” umumnya adalah faktor harta (amwalukum) dan keturunan (auladukum) beserta turunannya. Seperti Abu Lubabah yang memang secara histori memiliki hubungan sangat baik dengan Yahudi Bani Quraidzah, bahkan beliau menitipkan anak-anak dan juga harta (baca; investasi) di Yahudi Bani Quraidzah. Kedekatan hubungan dengan Yahudi inilah yang kemudian membuat Abu Lubabah tega “mengkhianati” Allah dan Rasul-Nya. Abu Lubabah memberitahukan kepada Yahudi Bani Quraidzah apa yang akan dilakukan Rasulullah jika mereka tidak mengikuti usulan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Padahal tidak seharusnya beliau memberitahukan itu. Faktor kedekatan hubungan dengan Bani Quraidzah dan faktor harta yang beliau investasikan di Bani Quraidzh telah menjadikan beliau berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. Amwal (jabatan, kedudukan, harta, investasi) dan aulad (kedekatan hubungan, hutang budi, dan sebagainya) yang seringkali “membutakan” mata manusia, sehingga ia rela berkhianat.

Makna Amanah

Dan yang di maksud dengan amanat ada tiga pendapat, yang pertama adalah kewajiban-kewajiban (yang dibebankan Allah pada seorang hamba), ini adalah pendapat Ibnu Abbas, dan khianat pada kewajiban-kewajiban di sini ada dua pendapat pula, yang pertama adalah tidak menyempurnakannya, yang kedua adalah meninggalkannya.

Al Imam Ibnu al Atsir Rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan jaminan keamanan. (An Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar)

Begitu juga al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika menafsirkan surat al Ahzab ayat 72, al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum. (Tafsir al Qur’an al ‘Azhim)

Pendapat yang kedua dari makna amanah adalah agama, ini adalah pendapat Ibnu Zaid, maka maknanya menjadi “Janganlah kalian menampakkan keimanan sedangkan kalian menyembunyikan kekufuran”. Adapun pendapat yang ke tiga dari makna amanat adalah makna umum yang mencakup khianat pada semua yang diamanahkan, dan ini dikuatkan dengan turunnya ayat ini pada apa yang dialami oleh Abu Lubabah.

Segala sesuatu yang ada dalam genggaman manusia adalah amanat Allah Ta’ala. Agama adalah amanat Allah, bumi dan segala isinya adalah amanat Allah, keluarga dan anak-anak adalah amanat Allah, bahkan jiwa dan raga manusia bersama potensi yang melekat pada dirinya adalah amanat Allah Ta’ala. Semua harus dipelihara dan dikembangkan.

Amanat manusia terhadap manusia menyangkut banyak hal, bukan hannya harta benda yang dititpkan atau ikatan perjanjian yang disepakati, tetapi termasuk juga rahasia yang dibisikkan.

Solusinya

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa lolos dari ujian harta dan anak-anak (keturunan)? Yaitu dengan mengutamakan ganjaran yang ada di sisi Allah dan rindu akhirat. Dengan mengikuti hukum-hakam agamaNya, baik yang bersangkutan dengan harta benda atau anak. Malah terkadang-kadang demi mencapai ganjaran tersebut kita terpaksa mengorbankan kepentingan anak dan sebagian harta kita. Dengan demikian kita akan terjaga dari berbuat khianat.

Contoh Sikap Amanah Dari Tiga Orang Yang Terkurung di Dalam Gua

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari Muslim dikisahkan sebuah peristiwa yang terjadi pada zaman Bani Israil, jauh sebelum diutusnya Rasulullah. Beliau mengisahkannya kepada kita berdasarkan wahyu dari Allah Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

بَيْنَمَا ثَلاَثَةُ نَفَرٍ يَتَمَشَّوْنَ أَخَذَهُمُ الْمَطَرُ فَأَوَوْا إِلَى غَارٍ فِي جَبَلٍ فَانْحَطَّتْ عَلَى فَمِ غَارِهِمْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَانْطَبَقَتْ عَلَيْهِمْ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: انْظُرُوا أَعْمَالاً عَمِلْتُمُوهَا صَالِحَةً لِلهِ فَادْعُوا اللهَ تَعَالَى بِهَا، لَعَلَّ اللهَ يَفْرُجُهَا عَنْكُمْ. فَقَالَ أَحَدُهُمْ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَ لِي وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَامْرَأَتِي وَلِي صِبْيَةٌ صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ بِوَالِدَيَّ فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ بَنِيَّ، وَأَنَّهُ نَأَى بِي ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلُبُ فَجِئْتُ بِالْحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِيَ الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا، وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ، فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبَهُمْ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَّمَاءَ. فَفَرَجَ اللهُ مِنْهَا فُرْجَةً فَرَأَوْا مِنْهَا السَّمَاءَ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمٍّ أَحْبَبْتُهَا كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النِّسَاءَ وَطَلَبْتُ إِلَيْهَا نَفْسَهَا فَأَبَتْ حَتَّى آتِيَهَا بِمِائَةِ دِينَارٍ فَتَعِبْتُ حَتَّى جَمَعْتُ مِائَةَ دِينَارٍ فَجِئْتُهَا بِهَا فَلَمَّا وَقَعْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا قَالَتْ: يَا عَبْدَ اللهِ، اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفْتَحِ الْخَاتَمَ إِلاَ بِحَقِّهِ. فَقُمْتُ عَنْهَا، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مِنْهَا فُرْجَةً. فَفَرَجَ لَهُمْ، وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنِّي كُنْتُ اسْتَأْجَرْتُ أَجِيرًا بِفَرَقِ أَرُزٍّ فَلَمَّا قَضَى عَمَلَهُ قَالَ: أَعْطِنِي حَقِّي فَعَرَضْتُ عَلَيْهِ فَرَقَهُ فَرَغِبَ عَنْهُ، فَلَمْ أَزَلْ أَزْرَعُهُ حَتَّى جَمَعْتُ مِنْهُ بَقَرًا وَرِعَاءَهَا، فَجَاءَنِي فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَظْلِمْنِي حَقِّي. قُلْتُ: اذْهَبْ إِلَى تِلْكَ الْبَقَرِ وَرِعَائِهَا فَخُذْهَا. فَقَالَ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَسْتَهْزِئْ بِي. فَقُلْتُ: إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ، خُذْ ذَلِكَ الْبَقَرَ وَرِعَاءَهَا. فَأَخَذَهُ فَذَهَبَ بِهِ، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ لَنَا مَا بَقِيَ. فَفَرَجَ اللهُ مَا بَقِيَ

Ketika ada tiga orang sedang berjalan, mereka ditimpa oleh hujan. Lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua mereka. Lalu sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Perhatikan amalan shalih yang pernah kamu kerjakan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan amalan itu. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.”

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka: “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri, dan anak-anak yang masih kecil, di mana aku menggembalakan ternak untuk mereka. Kalau aku membawa ternak itu pulang ke kandangnya, aku perahkan susu dan aku mulai dengan kedua ibu bapakku, lantas aku beri minum mereka sebelum anak-anakku. Suatu hari, ternak itu membawaku jauh mencari tempat gembalaan. Akhirnya aku tidak pulang kecuali setelah sore, dan aku dapati ibu bapakku telah tertidur. Aku pun memerah susu sebagaimana biasa, lalu aku datang membawa susu tersebut dan berdiri di dekat kepala mereka, dalam keadaan tidak suka membangunkan mereka dari tidur. Aku pun tidak suka memberi minum anak-anakku sebelum mereka (kedua orangtuanya, red.) meminumnya. Anak-anakku sendiri menangis di bawah kakiku meminta minum karena lapar. Seperti itulah keadaanku dan mereka, hingga terbit fajar. Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukakanlah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.”

Lalu Allah bukakan satu celah hingga mereka pun melihat langit.

Yang kedua berkata: “Sesungguhnya aku punya sepupu wanita yang aku cintai, sebagaimana layaknya cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Aku minta dirinya (melayaniku), tapi dia menolak sampai aku datang kepadanya (menawarkan) seratus dinar. Aku pun semakin payah, akhirnya aku kumpulkan seratus dinar, lalu menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah aku berada di antara kedua kakinya, dia berkata: ‘Wahai hamba Allah. Bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau buka tutup (kiasan untuk keperawanannya) kecuali dengan haknya.’ Maka aku pun berdiri meninggalkannya. Kalau Engkau tahu, aku melakukannya adalah karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami satu celah dari batu ini.”

Maka Allah pun membuka satu celah untuk mereka.

Laki-laki ketiga berkata: “Ya Allah, sungguh, aku pernah mengambil sewa seorang buruh, dengan upah satu faraq beras. Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata: ‘Berikan hakku.’ Lalu aku serahkan kepadanya beras tersebut, tapi dia tidak menyukainya. Akhirnya aku pun tetap menanamnya hingga aku kumpulkan dari hasil beras itu seekor sapi dan penggembalanya. Kemudian dia datang kepadaku dan berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah, dan jangan zalimi aku dalam urusan hakku.’

Aku pun berkata: ‘Pergilah, ambil sapi dan penggembalanya.’ Dia berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan jangan mempermainkan saya.’ Aku pun berkata: ‘Ambillah sapi dan penggembalanya itu.’ Akhirnya dia pun membawa sapi dan penggembalanya lalu pergi. Kalau Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami apa yang tersisa.”

Maka Allah pun membukakan untuk mereka sisa celah yang menutupi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Singkatnya amanah adalah tetap konsisten dalam tugas walaupun ada kesempatan untuk berkhianat. Kita menapaki jalan dakwah ini untuk menuju surga, namun menuju surga tidaklah semudah yang dibayangkan. Banyak sekali godaannya.

Diantara Dalil-Dalil As Sunnah Yang Berkaitan Dengan Wajibnya Menunaikan Amanah, Serta Akibat Buruk Menyia-Nyiakan Dan Melalaikannya

Hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, yang menjelaskan wajibnya menunaikan amanah kepada pemiliknya, ia berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَدِّ الأَمَانَـةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَـخُنْ مَنْ خَانَكَ .

“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”. [HR. Abu Dawud, at Tirmidzi, dan lain-lain]

Berkaitan dengan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits ini, asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata: “Perintah (di dalam hadits ini) menunjukkan wajibnya hal tersebut”. [Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi]. Yakni, seseorang wajib menunaikan amanah. Sehingga Imam adz Dzahabi rahimahullah telah mengkategorikan perbuatan khianat ini ke dalam perbuatan dosa besar. Beliau berkata,”Khianat sangat buruk dalam segala hal, sebagiannya lebih buruk dari sebagian yang lainnya. Tidaklah orang yang mengkhianatimu dengan sedikit uang, seperti orang yang mengkhianatimu pada keluargamu, hartamu, dan ia pun melakukan dosa-dosa besar (lainnya)”. [al Kabair]

Hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, yang menjelaskan salah satu tanda hari Kiamat adalah apabila amanah telah disia-siakan, ia berkata:

بَيْنَمَا النَّـبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ القَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ القَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْـثَهُ، قَالَ: أَيْنَ -أُرَاهُ- السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟ ، قَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: فَإِذَا ضُـيِّعَتِ الأَمَانَـةُ، فَانْـتَظِرِ السَّاعَةَ ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْـتَظِرِ السَّاعَةَ .

“Tatkala Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berada dalam sebuah majelis (dan) berbicara dengan sekelompok orang, datanglah kepadanya seorang sahabat (dari sebuah perkampungan) dan berkata, “Kapankah hari kiamat?”. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya, maka sebagian orang ada yang berkata, “Ia (Rasulullah) mendengar ucapannya, namun ia tidak menyukainya”. Dan sebagian yang lain berkata: “Bahkan beliau tidak mendengarnya,” hingga akhirnya Rasulullah selesai dari pembicaraannya, dan beliau pun bersabda, “Mana orang yang (tadi) bertanya?” Orang itu berkata, “Inilah saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat!” Orang itu kembali bertanya, “Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Rasulullah bersabda, “Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!” [HR. al Bukhari, Ahmad dan lain-lain]

Hadits Abu Hurairah Radhiallahu Anha , yang menerangkan khianat adalah salah satu tanda-tanda orang munafik, ia berkata:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: آيـَةُ المُـنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ؛ وَإِذَا وَعَدَ أَخْـلَفَ؛ وَإِذَا اؤْتُـمِنَ خَانَ .

“Dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat”. [HR al Bukhari, Muslim dan lain-lain]

Mudah-mudahan Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita sebagai orang-orang yang jujur, amanah, dan menjauhkan kita semua dari kelemahan, kedustaan, dan khianat. Hanya Allah sajalah Maha Pemberi taufiq.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved