Asal Muasal Penamaan Bulan Sya’ban
Umat Islam sudah memasuki bulan Sya’ban, bulan kedelapan dalam penanggalan Islam. Bulan ini menjadi salah satu bulan penting dalam lintasan tahun Hijriyah.
Pasalnya, bulan ini diimpit dengan dua bulan yang istimewa antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Ada banyak sekali keistimewaan dan amalan tertentu yang bisa dipanjatkan dalam bulan ini.
Bulan Sya’ban identik dengan keistimewaan yang terletak pada pertengahan bulan. Pada tanggal itu, Allah SWT memanifestasikan diri-Nya dalam bentuk pengampunan dan kasih sayang kepada semua, mengampuni orang-orang yang memaafkan, memiliki belas kasihan terhadap mereka yang meminta, menjawab doa-doa para pemohon, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan membebaskan suatu kelompok dari api neraka.
Meski demikian, banyak umat Islam yang kurang mengetahui asal muasal penamaan bulan Sya’ban. Fakta ini tidak banyak orang yang mengetahuinya sehingga menjadi rahasia yang tidak semua orang ketahui.
Secara etimologi, dinamakan Sya’ban karena bulan ini berada di antara Rajab dan Ramadhan. Bentuk jamak Sya’ban dalam bahasa Arab adalah memakai kata “Sya’banat” dan “Sya’abin”.
Seperti bulan-bulan lainnya yang diberi nama pada zaman Jahiliyah, orang-orang Arab biasa memberi nama bulan berdasarkan beberapa peristiwa atau hal-hal yang terjadi di dalamnya.
Sya’ban adalah istilah yang menunjukkan percabangan dan perpecahan. Seroang Ahli bahasa, Abu Abbas Ahmad bin Yahya Thalab, mengatakan,
إنما سمي شعبانُ شعبانَ، لأنه شعب أي ظهر بين شهري رجب ورمضان
“Bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena muncul di antara bulan Rajab dan Ramadhan.”
Sebagai bulan yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan, Sya’ban menjadi bulan bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan mengingat dan membaca Alquran.
Sedangkan secara historis, bulan Sya’ban sudah dikenal sekitar tahun 412 Masehi pada masa pemerintahan Kilab bin Murrah, kakek kelima Nabi Muhammad SAW.
Penamaan bulan ini—seperti bulan-bulan Arab lainnya—sudah dilakukan sejak zaman Jahiliyah. Dinamakan bulan Sya’ban karena orang-orang Arab pada waktu itu biasa berpencar di bulan ini ke berbagai penjuru bumi.
Artinya, mereka menyebar ke berbagai wilayah untuk mencari air, dan dikatakan juga bahwa mereka biasa bercabang di bulan ini berpencar dalam berbagai penyerangan setelah mereka menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas tersebut selama Rajab.
Ada yang mengatakan bahwa penamaan Sya’ban didasarkan pada suatu kondisi yang memisahkan antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Beberapa riwayat mengatakan, bahwa bulan ini dinamakan demikian karena kabilah-kabilah Arab berpencar untuk mendatangi raja-raja dan meminta bantuan mereka.
Kabilah-kabilah tersebut berpencar untuk mencari air dan padang rumput. Selain itu, bangsa Arab biasa berpencar di bulan ini untuk melakukan penyerangan atau penyerbuan setelah mereka menahan diri dari peperangan selama bulan Rajab, karena bulan ini termasuk bulan yang disucikan. Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Bari (4/213):
وسمي شعبان لتشعبهم في طلب المياه أو في الغارات بعد شهر رجب الحرام
“Dinamakan Sya’ban karena mereka bercabang-cabang untuk mencari air atau saat dalam peperangan setelah bulan suci Rajab.”
Dalam posisinya yang diimpit dua bulan istimewa, Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri. Nabi SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Bulan ini menjadi bulan yang penuh dengan karunia Allah SWT yang diberikan kepada umat Muhammad SAW.
Tanpa disadari, bulan Sya’ban sering dilalaikan oleh manusia di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Padahal, Sya’ban menjadi bulan yang di dalamnya amal-amal diserahkan kepada Tuhan semesta alam, serta bulan yang di dalamnya kasih sayang Allah SWT ditampakkan kepada para hamba.
Allah SWT memberikan kepada mereka perbendaharaan kebaikan dan memberikan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya. (UYR/MUI)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments