Follow us:

Bahaya LGBT

Kajian ilmiah oleh KH. Drs. Qomaruddin, MA
Darussalam.id – Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan para pendukung LGBT yang berkeinginan memperjuangkan perkawinan sesama jenis disahkan melalui undang-undang. Disamping itu tidak sedikit remaja dan para pemuda kaum muslimin yang terjatuh ke dalam kelamnya perbuatan LGBT.

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) merupakan masalah besar yang sangat mengkhawatirkan banyak umat manusia. Secara naluri, manusia diciptakan dengan saling berpasangan antara pria dan wanita. Membina hubungan untuk membina rumah tangga dan memiliki keturunan melalui proses hubungan biologis yang normal. Kehidupan normal dan sehat menjadi kunci untuk ketentraman hidup. Tapi bagaimana jika hubungan tersebut menyimpang?

LGBT adalah sebuah penyakit dan penyimpangan yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, disamping LGBT adalah perbuatan dosa besar yang membinasakan seseorang di dunia dan di akhirat.
Liwath (homoseks) adalah dosa yang tidak pernah dilakukan oleh sebuah kaum pun sebelum kaum Nabi Luth. Allah menimpakan kepada kaum Nabi Luth ini azab yang belum pernah diturunkan kepada siapa pun karena sangat jelek dan sangat berbahayanya perbuatan tersebut.

Allah Ta’ala telah mengabadikan kisah perbuatan “Al Fakhisyah” kaum Nabi Luth Alaihisslam di banyak tempat di dalam alquran yang mulia. Allah telah membinasakan mereka disebabkan oleh perbuatan keji mereka. Kisah Nabi Luth dan kaumnya diceritakan dalam surat-surat dan ayat-ayat berikut; (An Naml: 54-58), (Al A’raf: 80-84), (Hud: 77-83) (Hud: 69-83), (Al-Hijr: 51-57), (Asy-Syu’ara’: 160-175), (Al-Qamar: 33-40), (Adz-Dzariyat: 31-37), (Al Ankabut: 28-35).

Kisah Nabi Luth (Kaum Pertama Pelaku Homoseksual
Nabi Luth adalah putra dari Nabi Harun. Harun adalah adik Nabi Ibrahim. Luth dipilih oleh Allah sebagai Rasul pada saat Nabi Ibrahim masih hidup, bahkan Nabi Luth pernah menyertai Nabi Ibrahim berhijrah ke Palestina. Dengan demikian, Nabi Luth banyak mengenyam pedidikan dan ajaran suci dari pamannya.

Nabi Luth bertempat tinggal jauh dari pamannya, Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim di Palestina sebelah barat, sedang Nabi Luth di Yordania tepatnya di kota Sodom, ujung timur tanah Urdun.

Kaum Nabi Luth di tanah Sodom mengingkari akan adanya Allah. Selain itu, mereka juga melakukan pekerjaan terkutuk. Mereka tidak mau mengawini wanita-wanita, tetapi malah mencintai dan mengawini sesama jenis (Homoseksual). Perbuatan seperti ini ialah perbuatan yang terkutuk dan dilarang oleh agama.

Nabi Luth mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah dan mengancam perbuatan mereka dengan siksa-Nya. Nabi Luth Alaihissalam berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, maka takutlah kamu kepada Allah dan patuhlah kamu kepada perintah dan ajakanku. Aku tidak memintah upah darimu atas petunjuk dan kebenaran yang kuserukan kepadamu, tapi Allah sendiri yang akan memberikan balasan kepadaku”

Nabi Luth sering mengingatkan kaumnya, namun mereka malah balik mengejek Nabi Luth. Bahkan mereka menentang agar diturunkan siksa. Seperti yang tertulis dalam al-Quran surah al-Ankabut: 28-29 “Jika engkau benar dalam ancamanmu itu, maka segerakanlah dan datangkan siksaan itu..”

Nabi Luth Alaihissalam berdakwah untuk memerangi kezaliman itu. Namun ia tidak berhasil, bahkan istrinya termasuk orang yang melakukan penyimpangan kaumnya itu.

وَلُوطاً إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ{28} أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan (Ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Datangkanlah kepada kami adzab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al ‘Ankabut: 28-29)

Beberapa malaikat menuju Sodom/Sadum

Nabi Luth Alaihissalam kemudian berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kaumnya ditimpakan adzab. Menurut Nabi Luth Alaihissalam, itulah satu-satunya cara untuk membasmi umatnya agar akhlak yang rusak itu tidak menyebar ke umat-umat di wilayah lain, disamping sebagai pelajaran bagi umat di sekelilingnya.
Doa Luth terkabul. Sebelumnya, beberapa malaikat datang ke rumah Nabi Ibrahim Alaihissalam sebagai tamu yang menyamar dalam bentuk pemuda-pemuda. Mereka memberitakan pada Ibrahim bahwa mereka akan membinasakan penduduk Kota Sadum disebabkan pembangkangan mereka terhadap Nabi Luth Alaihissalam dan perbuatan-perbuatan keji mereka.

Ibrahim sangat terkejut mendengar berita ini, karena disana terdapat putera saudaranya, yaitu Luth. Namun para malaikat itu mengatakan, “Kami tahu bahwa di sana terdapat Luth, dan bahwa kebinasaan tidak terjadi kecuali atas orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah. Adapun Luth dan keluarganya serta para pengikutnya, mereka itu pasti akan selamat, kecuali istrinya yang akan ditimpa siksaan seperti orang-orang kafir, dan kedudukannya sebagai istri Luth tidak bisa menyelamatkannya, karena buruk perbuatannya disamping ia mengkhianati suaminya serta terus membangkang dan berada dalam kekafiran”.

Kisah kedatangan para malaikat kepada Ibrahim Alaihissalam ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabût: 30-32.
قَالَ رَبِّ انصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ{30} وَلَمَّا جَاءتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ{31} قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطاً قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَن فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ{32}
Luth berdoa: “Ya Tuhanku, tolonglah Aku (dengan menimpakan adzab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. Dan tatkala utusan kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; Sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zhalim”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

Malaikat Bertamu Ke Rumah Luth
Para malaikat itu meninggalkan Ibrahim dan pergi ke kota Sadum. Mereka datang ke rumah Luth yang tidak mengetahui siapa sebenarnya para tamunya yang berwajah tampan itu. Hati Luth sangat cemas, karena ia khawatir tamu-tamunya itu akan diperkosa oleh kaumnya.

Tersebar berita di antara kaum Luth tentang kedatangan tamu-tamu yang tampan di rumah Luth, maka segeralah mereka datang ke sana dengan maksud berbuat maksiat.
Untuk melindungi para tamunya, Luth Alaihissalam berusaha membujuk mereka dengan menawarkan putri-putrinya untuk dinikahi dengan syarat mereka tidak mengganggu tamu-tamunya. Namun kaum Luth tetap bersikeras melaksanakan niat mereka.

Ketika mereka tetap pada pendiriannya, maka malaikat-malaikat itu membutakan mata mereka hingga gagallah upaya mereka dalam keadaan terhina. Para malaikat itu pun akhirnya mengungkapkan kepada Luth tentang siapa mereka sebenarnya dan memberitahunya bahwa mereka datang untuk membinasakan kaumnya setelah membutakan mata mereka hingga mereka tak dapat menyelamatkan diri.

Adapun untuk Luth Alaihissalam dan pengikutnya, para malaikat memerintahkan mereka untuk meninggalkan desanya di malam hari, karena adzab Allah akan diturunkan di waktu subuh. Dan janganlah seorang pun diantara mereka menoleh ke belakang agar tidak melihat siksaan yang akan terjadi.

Kisah kedatangan para malaikat ke rumah Luth dan perbuatan kaum Luth diceritakan dalam Al-Qur’an surat Hûd: 77-81, Al-Ankabût: 33-34, dan Al-Qamar: 37.

وَلَمَّا أَن جَاءتْ رُسُلُنَا لُوطاً سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعاً وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ{33} إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَى أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزاً مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ{34} وَلَقَد تَّرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ{35}

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: “Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)”. Sesungguhnya Kami akan menurunkan adzab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.” (Al ‘Ankabut: 33-35)

Adzab Allah Terhadap Kaum Luth Alaihissalam
Di waktu subuh, turunlah adzab yang amat dahsyat berupa bencana alam yang sangat mengerikan. Tanah desa tempat tinggal kaum Luth menjadi rendah dan turunlah hujan batu dari tanah keras menimpa mereka secara berturut-turut hingga mereka binasa. Hanya Nabi Luth Alaihissalam dan kedua putrinya, serta para pengikutnya yang beriman, yang selamat dari bencana tersebut


Siksa Allah Telah Ditimpakan Kepada Orang-Orang Yang Zalim Dan Fasik

Kisah adzab terhadap kaum Nabi Luth Alaihissalam terdapat dalam surat Al Anbiyâ: 74-75, Hûd: 82-83, dan Al-Qamar: 33-38.
Daerah yang ditimpa siksaan atas kaum Nabi Luth Alaihissalam adalah daerah yang kita kenal sekarang sebagai Laut Mati atau Danau Luth.

Penutup
Islam memberikan perhatiannya pada naluri manusia, dan Islam memberikan satu pintu yang baik untuknya untuk menyalurkan kekuatannya dan menikmati kelezatannya. Di antara naluri yang dimiliki manusia adalah gejolak seks, Islam memberikannya bingkai yang mulia dan bersih melalui hubungan antara lelaki dan perempuan dengan perjanjian yang kokoh yang dipenuhi dengan cinta, kasih dan sayang yang disertai dengan pengakuan bahwasanya hubungan tersebut merupakan suatu keniscayaan yang harus dipenuhi dalam kehidupan ini sebagaimana kebutuhan pada makanan dan pakaian.

Hendaknya para orang tua mengawasi dan mengevaluasi perilaku anak-anaknya di dalam dan di luar rumah, dalam rangka melindungi mereka dari perilaku buruk ini dan bahaya yang akan ditimbulkannya. Hal ini bisa dilakukan dengan senantiasa mengamati apa yang disaksikannya di stasiun televisi, jaringan internet dan media massa lainnya. Memberikan perlindungan kepada mereka melalui arahan wahyu dan anjuran Al-Quran. Hal inilah wasiat terpenting yang diberikan Allah kepada para orang tua, suami, dan wali.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahriim: 6)
Wallahu Ta’ala A’lam
(ddn/darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved