Follow us:

Baitul Hikmah: Simbol Kejayaan Peradaban llmu

Istilah Baitul Hikmah yang legendaris dalam sejarah kembali mengemuka di ruang publik seiring dengan gagasan “New Baitul Hikmah” yang disampaikan oleh Menteri Agama Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar dan Wakil Menteri Agama Dr. Romo H. R. Muhammad Syafii dalam berbagai kesempatan. Secara etimologis, Baitul Hikmah (Bayt al-Hikmah) berarti rumah kebijaksanaan, pusat ilmu pengetahuan, atau House of Wisdom.

Dalam konteks kekinian, seiring pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama, pesantren diharapkan mengambil peran strategis sebagai “New Baitul Hikmah” di Indonesia. Pesantren dipandang sebagai pusat pengembangan ilmu yang memadukan akal, wahyu, dan spiritualitas. Dengan peran tersebut, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat keunggulan ilmu pengetahuan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Menengok Sejarah Baitul Hikmah

Dalam tinjauan sejarah Baitul Hikmah lahir di Baghdad pada abad VIII Masehi sebagai simbol kejayaan peradaban ilmu di dunia Islam. Zainal Abidin Ahmad dalam buku Ilmu Politik Islam, Jilid II (1977: 253), menyatakan Baitul Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid (170–193 H/786–809 M). Sejumlah ilmuwan Persia dan Yunani dari wilayah Byzantium, tidak hanya yang beragama Islam, mendedikasikan ilmunya di Baitul Hikmah.

Di masa Khalifah al-Makmun (198–218 H/813–833 M) Baitul Hikmah dikenal sebagai perpustakaan negara terbesar di wilayah Daulah Abbasiyah, menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang berwibawa. Baitul Hikmah mensponsori proyek penerjemahan karya-karya filosof Yunani, Persia dan India ke dalam bahasa Arab. Para pembesar dan gubernur berlomba mendirikan perpustakaan. Menurut penelitian Prof. Draper dari Amerika Serikat, bukan hanya pemerintah yang mendirikan perpustakaan di Baghdad, tapi juga banyak pihak swasta melakukan hal serupa.

Keberadaan pusat ilmu pengetahuan tidak terpisahkan dari lanskap pembangunan kota. Baghdad di masa itu telah menjadi kota internasional yang makmur, maju dan mewah. Baghdad mendapat julukan negeri 1001 Malam dengan tokoh cerita Abu Nawas.

Zainal Abidin Ahmad (1977: 245) lebih jauh mengungkapkan sewaktu Khalifah al-Mansyur (136 – 158 H/754 – 775 M) mendirikan kota Baghdad dan membuat desain istana negara, ia memerintahkan supaya disediakan ruangan khusus untuk pertemuan para ahli ilmu pengetahuan, ruang terbuka untuk rapat-rapat para ahli, ruang ceramah dan sebagainya. Mengikuti Baghdad, istana-istana lainnya menyediakan ruangan untuk majlis-majlis pengetahuan, seperti istana di Isfahan, Bukhara, Tabaristan, Khuwarzam Syah, Gasnah, Mousul, Aleppo, Mesir, dan Cordova.      

Kota-kota besar Islam selain Baghdad, seperti Damaskus, Shiraz, Fez, Samarkand, Bukhara dan Cordova, terinspirasi untuk membangun perpustakaan umum yang representatif. Perpustakaan pribadi dan perpustakaan masjid juga berkembang pada masa keemasan peradaban Islam tersebut. Peran dan jasa Khalifah Harun al-Rasyid dan istrinya Zubaidah yang dermawan mendirikan Baitul Hikmah dikenang abadi dalam sejarah.

Prof. Dr. Mahmud Yunus dalam Sejarah Pendidikan Islam (1981: 64-65) mengatakan Baitul Hikmah itulah universitas Islam yang pertama. Di sana berkumpul ulama dan pembahas serta mahasiswa dari berbagai negara. Di Baitul Hikmah diajarkan bukan hanya ilmu-ilmu agama Islam saja, tetapi juga ilmu-ilmu alam, kimia, falak (astronomi) dan lainnya yang disebut science.

Daulah Abbasiyah dikenal sangat mencintai ilmu, memuliakan ulama dan menghormati pujangga. Khalifah Bani Abbasiyah, terutama Harun al-Rasyid dan al-Makmun, membuka pintu istananya bagi ulama dan pujangga selebar-lebarnya. Putra khalifah memperoleh pendidikan oleh ulama dan pujangga yang diundang ke istana. Pengembangan ilmu pengetahuan dan kebebasan berpikir menjadi ciri khas zaman keemasan Islam itu.

Kegiatan membaca, menulis dan menyebarkan ilmu pengetahuan adalah bagian penting dari ajaran Islam. Al-Makmun mengikuti nasihat para ilmuwan agar mendatangkan naskah-naskah Yunani ke Baghdad untuk diterjemahkan. Kegiatan penerjemahan buku-buku dilakukan secara masif ke dalam bahasa Arab meliputi berbagai bidang ilmu pengetahuan.   

Dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan berhutang jasa kepada Baitul Hikmah. Peran Baitul Hikmah menjembatani transmisi pemikiran filosof Yunani seperti Plato, Aristoteles dan Hypocrates yang telah terbenam dihidupkan kembali melalui terjemahan bahasa Arab. Bangsa Eropa mengambil warisan pemikiran Yunani dan Persia dari terjemahan para penulis Arab muslim. Kosa kata Arab diserap menjadi kosa kata ilmu pengetahuan.

Karya-karya sarjana muslim berkebangsaan Arab yang mencakup beragam bidang ilmu membuka jalan perkembangan ilmu pengetahuan hingga mencapai puncaknya pada masa Renaissance di Eropa. Inilah fase sejarah yang menandai transisi dari Abad Pertengahan ke Abad Modern (abad XIV – XVII M).  

Pada tahun 458 H/1065 M lahir Universitas Nizamiyah sebagai kelanjutan dari tradisi keilmuan Baitul Hikmah. Universitas Nizamiyah didirikan di Baghdad oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk pada zaman Saljuk. Imam al-Ghazali dalam tahun 484–489 H/1091–1095 M diangkat sebagai guru besar oleh Nizam al-Mulk dan kemudian menjadi pimpinan Universitas Nizamiyah. Universitas tertua ini membuka cabang di luar  kota Baghdad yaitu: Balkh, Naisabur, Herat, Isfahan, Basrah, Merv, Amul, dan Mousul.  Makkah dalam perspektif kebudayaan dijuluki ibukota spiritual umat Islam, sedangkan Baghdad adalah ibukota intelektual umat Islam. Inilah salah satu kontribusi paling berharga peradaban Islam dalam seluruh sejarah kemanusiaan.  

Prof. Dr. Roger Garaudy dalam Promesses De I’Islam diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Prof. Dr. H.M. Rasjidi menjadi Janji-Janji Islam (1985: 108), mengungkapkan koleksi Baitul Hikmah berjumlah 1 juta buku. Seorang pengembara menghitung lebih dari 100 perpustakaan umum di Baghdad. Satu perpustakaan di kota kecil Najaf (Irak) mempunyai 400.000 buku. Perpustakaan tumbuh subur di seluruh dunia Arab. Orang-orang Arab belajar dari orang Cina teknik membuat kertas dan memproduksi sendiri. Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad pada tahun 800 M.

Menurut Garaudy, dalam Islam banyak sekali orang-orang jenius yang universal, dari al-Kindi sampai ar-Razi, dari al-Biruni sampai Ibnu Siena, dan berpuluh-puluh  lainnya yang merupakan pencipta-pencipta dalam ilmu kedokteran dan matematika, sampai teologi dan geografi, bahkan syair dan sastra. Universitas-universitas Eropa, dua atau tiga abad kemudian, seperti Universitas Paris (Sarbonne) dan Universitas Oxford, semuanya didirikan meniru model Islam.

Philip K. Hitti lewat karya legendarisnya History of the Arabs mengungkapkan, ketika di Oxford para Profesor Barat masih mengajarkan mandi itu dapat mendatangkan penyakit, orang-orang Islam di daerah Andalusia sudah mewajibkan para penganutnya mandi minimum sekali seminggu di kamar mandi rumah mereka yang airnya didatangkan melalui pipa air di bawah tanah. Mereka terinspirasi dari cerita dalam Al-Quran tentang surga firdaus yang air mengalir di bawahnya.

Peradaban Islam di masa Daulah Umayyah di Cordova (Spanyol) dan Daulah Abbasiyah di Baghdad (Irak) menampilkan keunggulan peradaban ilmu dan kebudayaan yang mendahului kemajuan dunia Barat, meski secara politik dan demokrasi banyak kekurangannya. Philip K. Hitti menegaskan bahwa yang diciptakan oleh bangsa Arab bukan hanya kerajaan, tetapi juga kebudayaan. Di daerah Timur (Baghdad) dalam zaman yang sama, para insinyur muslim telah membuat sistem pengairan sawah yang sampai abad XX diakui masih cukup efisien. Mereka juga menciptakan sistem ventilasi di musim panas, sehingga kekuatan angin yang berhembus secara alamiah dapat dimanfaatkan sebagai air conditioning tanpa pembuangan energi. 

Observatorium pertama di Eropa didirikan oleh orang Islam. Kitab kedokteran pertama paling lengkap dalam zaman klasik ditulis oleh Ibnu Siena yang berkebangsaan Persi (Iran) yaitu Al-Qanun fi at-Tibb. Kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun menginspirasi sarjana Barat di bidang ilmu sejarah dan sosiologi. Hakim agung atau qadhi Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah, pengarang kitab Al-Kharaj yang membahas masalah keuangan negara, hidup di masa itu.

Sejarah mencatat pengabdian para ilmuwan dan filosof dari berbagai bangsa menghidupkan peran Baitul Hikmah yang sekaligus berfungsi sebagai pusat pengumpulan manuskrip. Dalam kurun waktu itu, kaum ilmuwan, pengarang dan penerjemah buku, sangat dihargai dan diberi gaji yang layak oleh negara. Penghargaan kepada para ilmuwan pada zaman Daulah Abbasiyah, terutama di masa Khalifah Harun al-Rasyid dan diteruskan oleh al-Makmun. Philip K. Hitti dalam History of the Arabs melukiskan, penulis/penerjemah dibayar dengan emas seberat buku yang diterjemahkan.

Penghargaan negara terhadap ilmu pengetahuan berdampak menaikkan status sosial ulama dan pujangga. Zaman itu memang dikenal sebagai era keemasan peradaban Islam (The Golden Age of Islam). Robert Stephen Briffault dalam kutipan Prof. Dr. Faisal Ismail di buku Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Klasik Abad VII – XIII M (2017: 302) mengatakan: Ilmu pengetahuan adalah sumbangan peradaban Islam yang maha penting kepada dunia modern. Ilmu pengetahuan berutang besar sekali kepada kebudayaan Islam.

Masa Surut Baitul Hikmah

Sepeninggal Khalifah al-Makmun, Baitul Hikmah mengalami kemunduran bersamaan dengan dipindahkannya ibukota Daulah Abbasiyah oleh Khalifah al-Muktashim (218 – 227 H/833 – 842 M) dari Baghdad ke ibukota baru Samarra, sejauh 111 kilometer di utara Baghdad. Setelah mangkatnya al-Makmun, Baitul Hikmah kurang mendapat perhatian besar dari khalifah-khalifah sesudahnya.

Kemerosotan peradaban Islam era Abbasiyah mencapai titik nadir ketika Baghdad diserbu dan diduduki oleh tentara Kerajaan Mongol dari Asia Barat di bawah pimpinan Hulagu Khan (1256 – 1265 M) tahun 1258. Dalam peristiwa tragis itu perpustakaan dan pusat-pusat ilmu pengetahuan dihancurkan oleh tentara Mongol. Buku-buku Baitul Hikmah dan perpustakaan lainnya dibakar lalu abunya dibuang ke Sungai Dajlah. Air sungai itu berhari-hari berwarna hitam karena tinta buku.

Sewaktu tentara Mongol menghancurkan Baghdad, di kota itu terdapat tidak kurang dari 36 perpustakaan umum, termasuk Baitul Hikmah, dan tentu juga masjid dan madrasah. Sejarawan dunia Sir Arnold Toynbee menyamakannya dengan kemunduran peradaban manusia lima abad ke belakang. Hulagun Khan yang suka merebut kota-kota yang menjadi target ambisi kekuasaannya dalam sejarah dijuluki Great Teror (teroris besar). 

Dalam masa kekhalifahan al-Mutawakkil (232 – 247 H/847 – 861 M), Baitul Hikmah kembali mendapat perhatian secara khusus oleh pemerintah dengan sumber dana yang besar dari hasil tanah-tanah wakaf.  Masa kejayaan kedua Baitul Hikmah tidak berlangsung lama.

Kemunduran peradaban Islam, sebagaimana ditulis Ziauddin Sardar dan Zafar Abbas Malik dalam Mengenal Islam For Beginners (1997: 126), disebabkan oleh sejumlah faktor internal perpecahan dan permusuhan dalam kerajaan muslim, korupsi dan gaya hidup mewah para penguasa.

Kejatuhan Baghdad dan memudarnya pamor Baitul Hikmah di Timur (Baghdad) dan kejatuhan umat Islam di Barat (Spanyol) sebetulnya berawal dari kemunduran pendidikan. Dalam waktu yang sama menggejala sikap fanatik mazhab yang menimbulkan perpecahan sesama umat. Pemikir-pemikir muslim semakin konservatif dan tokoh-tokoh pembaharu semakin langka ditemukan. Kemunduran umat Islam dalam politik pertahanan negara membuka jalan bagi kekuasaan kolonial menyusup ke negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim di Afrika, Timur Tengah, sampai Asia Tenggara.

Gagasan New Baitul Hikmah

Kedatangan Islam ke Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Islam memberi jiwa dan inspirasi kemajuan pada kebudayaan bangsa. Dalam kebudayaan terkandung spirit ilmu pengetahuan dan budi pekerti.

Kementerian Agama ingin menghidupkan Baitul Hikmah dalam konteks keindonesiaan melalui pemberdayaan pesantren dan membangun umat masa depan. Dalam rangka mewujudkan gagasan New Baitul Hikmah, Direktorat Jenderal Pesantren perlu menyiapkan peta jalan untuk mengimplementasikan tujuan mulia tersebut.

Sindrom malas membaca, malas berpikir dan budaya instant harus dibuang jauh-jauh dari mental generasi muda, termasuk para santri. Barangkali tidak banyak disadari, di era transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bahwa AI adalah pembantu, bukan penentu. Potensi akal manusia tetap harus diasah dan dikembangkan dengan pendidikan yang tepat. Transformasi digital tidak boleh membuat suatu bangsa menjadi hampa secara peradaban dan kehilangan akar sejarahnya. Cara berpikir dan mengambil keputusan dipengaruhi kekayaan literasi dan keluasan bacaan.   

Sebagai contoh, membaca kitab atau buku fisik merupakan tradisi pesantren yang tidak bisa diganti dengan perangkat elektronik. Sejumlah penelitian ilmiah membuktikan bahwa membaca buku fisik memberikan manfaat kognitif yang lebih baik dibandingkan membaca digital. Metode konvensional terbukti meningkatkan pemahaman, daya ingat, dan kesehatan otak secara keseluruhan. 

Sementara itu, di dunia pendidikan pengembangan ilmu dilakukan dalam bingkai adab, “al-adab qoblal ilmu”, artinya adab itu sebelum ilmu. Sikap tawadhu dan rendah hati bukan berarti sikap rendah diri, tapi adalah sikap moral orang berilmu yang agamis.

Umat Islam Indonesia perlu menumbuhkan dan merawat iklim kebebasan berpikir dan menghargai pendapat yang berbeda. Tradisi Baitul Hikmah mengajarkan kemerdekaan berpikir, saling menguji pikiran, penalaran dan pendapat, tanpa bermusuhan dan menimbulkan perpecahan. Kebebasan berpikir, kendati dipandang penting, namun harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi etik keagamaan.

Dalam negara kesejahteraan, tiga peran negara paling mendasar ialah penyediaan pendidikan (education), kesehatan (health) dan transportasi umum (public transportation). Pendidikan adalah hak kewarganegaraan tanpa membedakan kaya dan  miskin. Pemerintah, sesuai implementasi Asta Cita Presiden, perlu mengoptimalkan pembiayaan APBN secara langsung pada penyelenggaraan pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi sesuai amanat Undang-Undang Dasar. Pendidikan umum dan pendidikan keagamaan memiliki kedudukan yang setara di negara kita dalam fingsinya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di sisi lain, penelitian (riset)dan reaktualisasi produk kajian Islam untuk Disiplin Ilmu (IDI) perlu mendapat perhatian yang lebih memadai. Upaya ini telah dirintis sekian dekade lampau di masa Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Prof. Dr. H.A. Timur Djaelani, MA, dan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Prof. Dr. Zakiah Daradjat yaitu: Islam untuk Disiplin Ilmu Ekonomi, Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran, Islam untuk Disiplin Ilmu Bahasa, Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum, Islam untuk Disiplin Ilmu Sosiologi, Islam untuk Disiplin Ilmu Biologi, dan Islam untuk Disiplin Ilmu Pertanian. Pengembangan kajian Islam untuk multi disiplin ilmu perlu diteruskan dalam konteks integrasi ilmu yakni terintegrasinya kajian Islam dengan disiplin ilmu umum.

Pengembangan New Baitul Hikmah dalam tataran konsep, semangat dan nilai-nilainya membutuhkan budaya dan pandangan hidup sosial yang menghargai ilmu pengetahuan dan orang-orang berilmu dalam masyarakat dan negara. Anomali budaya yang lebih menghargai dan memuja orang-orang kaya dan mempunyai jabatan daripada orang-orang baik dan berilmu tidak sejalan dengan nilai-nilai dan tradisi Baitul Hikmah.  

Menteri Agama ke-4 dan pahlawan nasional K.H.A. Wahid Hasjim dalam pidatonya pada pembukaan Perguruan Tinggi Agama Islam (Negeri) di Yogyakarta, 26 September 1951, menyampaikan pesan penting yang patut direnungkan, termasuk oleh dunia pesantren. Ia menegaskan bahwa “pengetahuan tidak boleh dikungkung oleh perasaan keagamaan yang sempit, tetapi juga harus bebas dari pertimbangan politik.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam sejarah di masa silam umat Islam tidak menundukkan ilmu pada kepentingan politik, melainkan sebaliknya: politik diarahkan oleh ilmu. Menurutnya, politik cenderung mengejar kemenangan, sedangkan ilmu bertujuan mencari kebenaran. Ketika politik tunduk pada ilmu yang disertai takwa, maka kemajuan intelektual akan berjalan seiring dengan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebuah harapan besar disematkan pada pemberdayaan pesantren agar mampu melahirkan ulama dalam pengertian yang utuh. Ulama yang tidak hanya mendalami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menguasai satu atau lebih cabang ilmu pengetahuan lain, seperti sejarah, hukum, politik, tata negara, ekonomi, antropologi, sosiologi, sastra, hingga sains dan teknologi seperti fisika, biologi, kesehatan, kedokteran, kimia, teknik,  pertanian, ilmu komputer, desain grafis dan sebagainya. Sistem pendidikan pesantren memberikan dasar-dasar moral kepada santri sebelum mereka mempelajari berbagai ilmu dan keterampilan tadi. Dengan demikian, pesantren sebagai lingkungan pembinaan kader-kader umat dapat melahirkan figur-figur yang relevan dengan tantangan zaman sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam.

Kehadiran Direktorat Jenderal Pesantren menjadi penguat bagi layanan umat dalam pendidikan pesantren dan pengembangan ekosistem pendidikan Islam di masa depan. Puluhan ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia, yakni sekitar 42.391 unit, sebagian ada yang mandiri dan sebagian secara historis-sosiologis berafiliasi dengan berbagai organisasi Islam, pesantren salafi maupun pesantren modern, diharapkan mampu menghidupkan kembali spirit New Baitul Hikmah. Wallahu a’lam bis-shawab.

Penulis: M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved