Belajar Bersikap Dewasa dari Perselisihan Dua Sahabat Nabi
Ini adalah kisah masyhur seorang Zaid bin Tsabit RA dan Ibnu Abbas RA. Zaid adalah pencatat wahyu Allah Ta’ala. Ia adalah ulamanya umat ini. Saat memberi kesaksian soal Zaid bin Tsabit RA, Umar bin Khatab RA berkata, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya dengan Al-Quran maka datanglah kepada Zaid bin Tsabit.”
Seperti halnya kemuliaan Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas adalah seorang sahabat yang sangat fakih terhadap agama. Sepupu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ini pernah didekap oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Ya Allah, ajarkanlah kepadanya hikmah.”
Hikmah yang dimaksud, sebagian ulama menafsirkannya sebagai ilmu Al-Qur`an. Ibnu Abbas RA tumbuh dan besar menjadi ahli Al-Qur`an. Namun, meski sebagai sahabat terdekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keduanya tak selalu seiring sepemahaman. Syahdan, suatu ketika Zaid dan Ibnu Abbas berselisih paham tentang sebuah persoalan waris.
Zaid berpendapat, seorang kakek tidak menghalangi waris saudara orang yang meninggal. Sementara, Ibnu Abbas berpendapat kakek menghalangi saudara orang yang meninggal untuk mendapatkan waris. Ibnu Abbas bahkan sampai berkata dengan nada tinggi, “Apakah Zaid bin Tsabit dan orang-orang yang mengikutinya tidak takut kepada Allah? Ia menjadikan cucu penghalang waris, tapi tidak dengan kakek.”
Kerasnya perbedaan keduanya tak lantas melunturkan ukhuwah. Lihatlah bagaimana Ibnu Abbas RA memperlakukan Zaid bin Tsabit dalam sebuah kesempatan. Mengetahui Zaid menaiki bughal, Ibnu Abbas langsung memegang tali kekang lalu menuntun bughal Zaid.
Terkaget, Zaid lantas mengungkapkan ketidakenakannya, “Apa yang engkau lakukan, wahai anak paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?” “Beginilah kami,” jawab Ibnu Abbas, “diajarkan untuk memuliakan ulama kami.”
Tak lama berselang sebelum hendak turun, Zaid meminta Ibnu Abbas mengulurkan tangan, “Ulurkan tanganmu, wahai anak paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Saat Ibnu Abbas mengulurkan tangan, Zaid langsung meraihnya dan menciumi tangannya. “Apa yang kau lakukan, wahai Zaid?” tanya Ibnu Abbas terkaget. “Beginilah kami,” ujar Zaid, “diajarkan untuk memuliakan keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”
Lihatlah fragmen kecil dalam kehidupan generasi terbaik umat ini. Perselisihan paham di antara mereka tak lantas membuat mereka saling membenci. Justru keduanya mencontohkan cara memberikan penghormatan tertinggi kepada yang lain.
Zaid dan Ibnu Abbas RA paham caranya mendudukkan sebuah persoalan. Dalam hal pendapat fikih, dibuka lebar semangat untuk ijtihad sehingga memungkinkan sebuah perbedaan. Namun, keduanya paham soal memuliakan sosok ahli ilmu dan keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Lantas, ada baiknya kita berkaca pada diri sendiri. Apakah kita yang jauh dari generasi terbaik itu sudah mampu meneladan sikap mulia keduanya? Mampu mengelola perbedaan yang tajam sekalipun dalam bingkai ukhuwah nan indah?
Tampaknya kita menjadi generasi yang cepat marah. Selip sedikit saja sahabat kita salah, kita lantas mengibarkan bendera perang. Kita hapus namanya dalam deretan phonebook, berjanji enggan menatap wajahnya nan menyebalkan itu, dan mengajak gerombolan kawan untuk bersepakat menjauhinya.
Kita ini bahkan menjadi generasi yang sangat lemah. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengungkapkan ciri-ciri orang yang kuat? Orang yang kuat bukanlah sang jago gulat, tapi mereka yang bisa menahan amarah. Lingkungan kita hari ini seolah mendukung sikap-sikap yang lemah itu. Marah dianggap sebagai ekspresi yang dilindungi hukum, memutus hubungan silaturahim dianggap sebagai pembelajaran, berkelahi identik dengan jiwa maskulin, memiliki musuh dianggap sebagai risiko perjuangan.
Kita juga pantas bertanya, apakah sikap-sikap kita itu sudah mencerminkan bagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kita ini saat ditanya siapa idola kita dalam sebuah curiculum vitae dengan tegas menulis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Entah benar mengidolakan akan sebatas pemantas saja karena kita seorang muslim. Namun, dalam keseharian, sungguh melakukan hal-hal kecil saja, seperti menghormati orang yang berbeda pendapat dengan kita, tak bisa kita lakukan.
Semoga kita dalam ikhtiar yang terus berproses bisa menjadi orang-orang yang berlapang dada, seperti Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas. Kita membebaskan diri kita dari riak dengki yang menggumpal. Lalu kita ikhlaskan semua agar sifat permusuhan itu tak menjadi beban kita di dunia dan akhirat. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments