Follow us:

Berkorban Karena Allah

Oleh: Adiwarman Azwar Karim, MBA, MAEP

Dalam sebuah penggalan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu Anhu)

Yakni dia berusaha semaksimal mungkin agar sedekah dan dermanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali Allah, sampai-sampai diibaratkan dengan kalimat ‘hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’.

Karenanya disunnahkan dalam setiap zakat, infaq, dan sedekah agar orang yang mempunyai harta menyerahkannya secara langsung kepada yang berhak menerimanya dan tidak melalui wakil dan perantara. Karena hal itu akan lebih menyembunyikan sedekahnya. Juga disunnahkan dia memberikannya kepada kerabatnya sendiri sebelum kepada orang lain, agar sedekahnya juga bisa dia sembunyikan.

Allah Mengetahui Niat Kita

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Ada seseorang mengatakan, ”Sungguh aku akan memberikan sedekah”. Di malam hari, ia keluar membawa sedekah dan memberikannya kepada seorang pencuri (tanpa diketahui). Pagi harinya, orang-orang membicarakan, ”Tadi malam, ada seorang pencuri mendapat sedekah”. Orang itu mengatakan, ”Ya Allah, hanya kepada Mu segala pujian. Sungguh aku akan memberikan sedekah lagi”.

Di malam hari berikutnya, ia keluar membawa sedekah dan memberikannya kepada seorang wanita pelacur (tanpa diketahuinya). Pagi harinya, orang-orang membicarkan, ”Tadi malam, ada seorang wanita pelacur mendapat sedekah”. Orang itu mengatakan, ”Ya Allah, hanya kepada Mu segala pujian, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina. Sungguh aku akan memberikan sedekah lagi”.

Di malam hari ketiga, ia keluar membawa sedekah dan memberikannya kepada salah satu orang kaya (tanpa diketahui). Pagi harinya, orang-orang membicarakan, ”Tadi malam, ada orang kaya mendapat sedekah”. Orang itu mengatakan, ”Ya Allah, hanya kepada Mu segala pujian. Untuk seorang pencuri, seorang pelacur dan orang kaya”.

Lalu orang itu didatangi dan dikatakan kepadanya, ”Adapun sedekah yang engkau berikan kepada si pencuri, mudah-mudahan dengan harta itu ia dapat menahan diri dari perbuatan mencuri. Adapun si pelacur,mudah-mudahan dengan harta itu ia kan menahan diri dari perbuatan zina. Adapun orang kaya,barangkali ia dapat mengambil pelajaran sehingga ia pun mau berinfak dari harta yang Allah berikan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah niat yang baik. Niat yang baik dan tulus selalu membawa kebaikan. Hadits ini sebagai dalil ; seseorang yang berniat baik dan telah berusaha namun akhirnya salah, tetap dicatatkan amal kebaikan untuknya. Oleh sebab itu, ulama’ mengatakan: Jika seseorang menyerahkan zakat kepada orang yang ia sangka berhak, ternyata di kemudian waktu terbukti bahwa orang tersebut tidak berhak, maka zakat tersebut tetap dihukumi sah.

Di dalam hadits ini terdapat ibrah lain;

Pertama, Keutamaan sedekah secara ikhlas dan diam-diam. Betapa mahal arti sebuah keikhlasan. Manusia dicipta dengan wataknya yang senang dipuji,tidak ingin dibenci. Tanpa ajaran keikhlasan, seorang hamba akan berbuat untuk selain Allah. Ingin dilihat dan diperhatikan orang banyak. Didengar dan diperbincangkan khalayak ramai. Sungguh berat menjaga agar ibadah selamat dari riya’. Yusuf bin Al Husain berkata, ”Tugas terberat di dunia adalah sikap ikhlas. Betapa seringnya aku berusaha untuk menghilangkan riya’ dari hati,seolah-olah ia muncul kembali dengan warna yang lain”.

Islam menganjurkan, dalam beramal hendaknya menjaga niat yang tulus dalam mengharap ridha Allah. Sampai-sampai digambarkan oleh Rasulullah; ia berinfak menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tidak mengetahui. Apalagi orang lain.

Hal ini ditunjukkan dengan perbuatan orang tersebut yang memberikan sedekah di malam hari, agar tidak diketahui orang.

Kedua, Dianjurkan untuk mengulangi sedekah jika tidak tepat orang. Hal ini mengajarkan untuk kita ; bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik, senantiasa mewujudkan ibadah yang berkualitas. Tidak merasa puas dengan sedikitnya amalan yang telah dikerjakan.

Allah berfirman,

لَن تّنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَىْءٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran: 92)

Ketiga, Hukum diberikan sesuai bentuk lahiriyah sampai diketahui keadaan sesungguhnya. Seseorang yang menampakkan kebaikan, ia disikapi dengan baik juga. Orang lain yang menunjukkan kejahatan, ia disikapi sesuai dengan perbuatannya.

Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu berkata, ”Sesungguhnya orang-orang di masa Rasulullah dinilai dengan wahyu. Dan wahyu telah terputus. Sekarang, kami menilai kalian dengan bentuk lahir dari amalan. Barangsiapa menampakkan kebaikan, kami memberikan kepercayaan dan kedekatan untuknya. Tidak ada urusan kami dengan apa yang dia sembunyikan. Allah yang akan menghisab apa yang dia rahasiakan. Barangsiapa menampakkan keburukan, kami tidak akan memberikan amanah dan kepercayaan untuknya. Meskipun dia mengatakan, ”Apa yang dia rahasiakan adalah kebaikan”. (HR. Bukhari)

Keempat, Berkah dari sikap menerima dan ridha. Demikianlah sikap seorang muslim dalam menghadapi setiap ketentuan Allah. Ia selalu memilih bersikap sabar dan ridha. Tidak mengeluh, bukannya tidak menerima.

Ummu Salamah Radhiallahu Anha pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Tidak ada seorang muslim yang tertimpa musibah lalu berdoa sesuai perintah Allah, ”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berikanlah pahala untukku pada musibah ini dan berilah ganti dengan lebih baik” kecuali pasti Allah akan memberikan untuknya pengganti yang lebih baik”.

Pada saat Abu Salamah, suaminya, meninggal dunia, Ummu Salamah berkata, ”Siapakah dari kaum muslimin yang lebih baik dari Abu Salamah. Keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah”. Kemudian aku mengucapkan doa tersebut. Dan Allah memberikan untukku Rasulullah sebagai pengganti. (HR. Muslim)

Balasan Kebaikan Terbaik

Abu Thalhah Radhiallahu Anhu salah seorang sahabat yang memiliki banyak kebun yang luas di sekitar Madinah. Sebidang di antaranya bersebelahan dengan kebun milik seseorang yang dijaga oleh budak hitam. Karena kebunnya tidak seberapa luas, maka gaji si penjaganya juga kecil, hanya tiga potong roti setiap hari.

Pada suatu hari ketika Abu Thalhah berada di kebunnya, ia melihat satu pemandangan yang aneh. Seekor anjing kurus, mendekati si budak hitam yang bersiap-siap untuk memakan rotinya. Sang anjing mengibas-ngibaskan ekornya. Kemudian si budak itu memberinya sepotong roti. Karena anjing itu masih lapar nampaknya, ia berikan lagi sepotong. Tetapi anjing itu tetap mengibas-ngibaskan ekornya.  Lalu ia berikan lagi roti yang terakhir. Setelah itu sang anjing pergi.

Karena penasaran, Abu Thalhah menemui si budak itu. Intinya, menurut pengakuan sang budak ia tahu bahwa anjing itu berasal dari jauh dan sedang kelaparan. “Lalu apa kamu tidak merasa kuatir tidak dapat makan?”

“Oh tidak, kan saya bisa berpuasa hari ini. Saya yakin Allah Ta’ala akan menguatkan saya, ”jawab si budak dengan penuh keyakinan. Mendengar penjelasan si budak itu, maka Abu Thalhah memintanya untuk menunjukkan rumah majikannya. Maksud dari Abu Thalhah adalah untuk membeli kebun dan budak hitam itu.

Singkat cerita, kebun itu berpindah tangan menjadi kebunnya Abu Thalhah. Dan Abu Thalhah menghadiahkan kebun tersebut kepada si budak tadi. Dan jadilah kini budak tersebut pemilik baru kebun tersebut. SubhanAllah swt.. Budak tadi hanya memberikan 3 potong roti, tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalasnya dengan satu bidang kebun.

Dari kisah di atas, sebenarnya bukan tiga potong roti itu esensi dasar penghargaan Allah. Tapi kalau kalu kita simak, betapa dahsyatnya pengorbanan sang budak itu bukan? Tiga potong roti itu merupakan kekayaan yang ia miliki. Tapi karena empatinya terhadap sang Anjing, ia rela mengorbankan nafkahnya untuk hari itu sehingga ia rela untuk berpuasa. Terhadap si budak hitam itu berlakulah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna, sampai kamu menafkahkan apa yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92)

Nenek dan Perang Badar

Dalam sebuah kisah diceritakan, ketika kaum muslimin sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi perang badar, terjadilah antrian panjang. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kaum muslimin yang ingin memberikan kontribusi dengan apapun yang mereka miliki. Ada yang membawa emas, pedang, tombak, dan banyak pula yang hanya membawa badan mendaftr sebagai tentara. Ditengah antrian panjang, terlihat seorang nenek tua yang tidak membawa apa-apa. Tidak ada harta yang dapat disumbangkan, sehingga petugas yang menerima sumbangan mendatangi nenek tua ini dan bertanya,

“Nenek, ini adalah antrian untuk menghadapi perang badar, apa nenek tidak salah antri? Nenek itu menjawab, “Wahai anak muda, aku memang tidak memiliki apa-apa. Aku tidak punya harta benda yang dapat aku sedekahkan untuk menghadapi perang badar, bahkan akupun tidak dapat memberikan tenagaku. Yang aku punya hanyalah seutas tali yang panjangnya kurang lebih 40 cm. Wahai anak muda, tolong terima tali ini dan bawalah ke perang badar. Inilah harta terbaik yang aku miliki”.

Maka ketika perang badar yang begitu dahsyat berkecamuk, banyak petinggi-petinggi kafir quraish yang terbunuh.

Seorang diantaranya berhasil ditawan. Tentara muslim kebingungan, bagaimana menjaga tawanan itu sementara Rasulullah memerintahkan tidak boleh membunuh yang sudah menyerah atau tertawan. Maka tali 40 cm pemberian sinenek tua menjadi solusi yang tepat.

Dari segi mata manusia, dari ukuran dunia, apalah artinya seutas tali yang panjangnya 40 cm. Tapi dimata Allah, keikhlasan si nenek tua lebih bermakna sehingga amalnya diangkat Allah begitu tinggi.

Memaknai Kontribusi

Ibnu Katsir Rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan, setidaknya 40 hari 40 malam Khalilullah Nabi Ibrahim Alaihissalam dibakar hidup-hidup oleh Namrud, seorang raja zhalim pada masa peradaban Babilonia Lama. Masih menurut Ibnu Katsir, ketika Ibrahim Alaihissalam dibakar, maka seluruh binatang berlomba-lomba untuk mematikan api tersebut. Termasuk seekor burung pipit kecil, dia hanya membawa setetes air untuk bisa membantu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam. Burung pipit tersebut tak pernah memikirkan akankah setetes air itu dapat memadamkan api tersebut. Tapi, mungkin satu-satunya yang ada dalam benaknya adalah: ‘Kontribusi’. Yang dengan kontribusinya tersebut dia takkan takut lagi untuk bertemu dengan Allah. Pada Allah Ta’ala, dirinya bisa mengatakan bahwa dengan setetes air, dia sudah ingin menolong Ibrahim. Sedikit, kecil tapi kontributif.

Seseorang itu dimuliakan bukanlah disebabkan oleh apa yang dimilikinya, tetapi karena pengorbanannya untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Sesungguhnya pengorbanan itu adalah usaha seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada pencipta-Nya melalui amal perbuatannya yang ikhlas.

Sedekah Memang Ajaib

Terhadap Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu Anhu, salah seorang sahabat termiskin, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tetap menganjurkan agar gemar bersedekah. “Kalau engkau membikin sop, perbanyak kuahnya dan hendaknya engkau bagikan kepada tetanggamu”, demikian, kurang lebih anjuran Utusan Allah ini kepadanya. “Tapi sop saya istimewa, ya Rasulullah!”, kilah Abu Dzar. “Apa maksudmu?”, tanya Rasulullah. “Sop saya hanya terdiri dari air putih, dibubuhi garam dan sedikit irisan bawang”, tuturnya. “Tidak mengapa”, terang Rasulullah. Anjuran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini diturutinya. Tetangga yang menerima sop Abu Dzar ini merasa terharu dan membalasnya dengan menu yang lebih baik.

Abu Dzar bersegera untuk bersedekah tak lain setelah mendengar ucapan Rasulullah yang gemilang berulang dua sampai tiga kali, Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib (sedekah itu ajaib), dan ia mendapat keajaiban ketika tetangga itu membalas sedekah terbaiknya dengan sop berisi daging kambing.

Kisah Sapi Betina

Di zaman Nabi Musa Alaihissalam terjadi beberapa perkara aneh, di antaranya kisah terbunuhnya salah seorang Bani Israil kaya raya yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Mereka telah mencari siapa pembunuhnya namun tetap saja tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Ketika mereka telah bosan mencarinya, maka mereka ingat, bahwa di tengah-tengah mereka ada Nabi Musa Alaihissalam, lalu sebagian mereka mendatanginya dan memintanya untuk berdoa kepada Allah agar Dia memberitahukan siapa pembunuhnya.

Lalu Nabi Musa Alaihissalam berdoa kepada Allah agar menyelesaikan masalah itu, kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa Alaihissalam agar ia memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina.

Saat mereka mendengar perintah itu, mereka heran dan menyangka bahwa hal itu hanya mengolok-olok mereka, sehingga Bani Israil tidak segera melaksanakan perintah itu, bahkan kembali bertanya tentang sifat-sifat sapi betina itu dan meminta penjelasan lebih rinci tentang sifat-sifatnya.

Karena mereka tidak segera melaksanakan perintah itu bahkan membebani diri dengan bertanya lebih rinci sifat-sifatnya sehingga mereka diberi beban dengan beban yang lebih berat, diberitahukan kepada mereka sifat-sifatnya yang berbeda dengan sapi betina lainnya.

Allah Ta’ala menyuruh mereka menyembelih sapi yang tidak muda dan tidak tua yang sudah banyak melahirkan, tetapi sapi itu masih kuat yang baru melahirkan sekali atau dua kali. Kalau mereka langsung mengerjakan, tentu akan mudah mendapatkannya, tetapi mereka malah bertanya lagi kepada Nabi Musa sifat-sifatnya; mereka bertanya apa warnanya, maka Nabi Musa Alaihissalam berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Mereka pun terus bertanya tentang sapi betina itu sehingga mereka dibebani dengan beban yang lebih berat lagi, yaitu perintah Nabi Musa Alaihissalam berikutnya, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Mereka pun berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”.

Kemudian mereka mencari sapi itu dengan susah payah hingga akhirnya mereka menemukannya dan membelinya dengan harga yang cukup mahal, mereka pun menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu”. (Lihat. QS. Al Baqarah: 67-73)

Selanjutnya Nabi Musa Alaihissalam mendekati sapi itu dan mengambil bagian anggota badannya, kemudian ia gunakan untuk memukul orang yang terbunuh itu, maka tiba-tiba orang yang terbunuh itu dapat bergerak setelah Allah mengembalikan ruhnya kepadanya, kemudian ia memberitahukan siapa pembunuhnya, yaitu putra saudaranya, kemudian ia pun mati lagi. Ini termasuk mukjizat besar dari Allah untuk menunjukkan kebenaran Nabi Musa Alaihissalam.

Jika sudah mengetahui betapa totalitas berjuang di jalan Allah menuai berkah tak terkira, diantaranya dengan berinfaq maupun bersedekah. Berinfaq adalah bagian dari jihad di jalan Allah. Menunaikannya tanpa banyak perhitungan, juga akan menuai ridha Allah. Karena keduanya bisa mendatangkan ampunan Allah Ta’ala, menghapus dosa dan menutup kesalahan serta keburukan. Infaq dan sedekah juga bisa mendatangkan ridha dan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Jangan pernah takut sama rezeki! Sebab sudah ada schedulenya. Tidak bakal salah alamat. Apa yang Anda khawatirkan?? Bukankah harta tidak akan berkurang karena sedekah?!

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved