Bersyukur Itu Hakikat Kekayaan
Dalam hidup ini akan selalu ada orang yang lebih kaya dari kita. Namun, jika kita mensyukuri apa adanya, hati kita pasti akan tenang.
Bahkan, hakikat kekayaan adalah kepuasan hati atas nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Sedikit apa pun, jika itu adalah pemberian-Nya, maka itulah yang terbaik. Adakalanya seseorang diberi banyak nikmat, tetapi malah terjerumus pada kebinasaan karena keengganannya untuk bersyukur.
Allah Ta’ala sudah mengingatkan kita dalam firman-Nya, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.” (QS Ibrahim [14]: 7).
Disebutkan dalam tafsir At-Tabari bahwa yang dimaksud ‘bersyukur’ pada ayat tersebut adalah melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala. Sedangkan yang dimaksud ‘mengingkari’ adalah melakukan kemaksiatan kepada-Nya.
Firman Allah Ta’ala ini ada kaitannya dengan firman-Nya yang lain. “Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Duha [93]: 11).
Dari kedua ayat Al-Quran tersebut dapat dipahami bahwa bersyukur itu bukan pilihan, tetapi perintah Allah Ta’ala. Untuk bisa bersyukur, kita harus mengingat-ingat kembali apa pun yang telah Allah Ta’ala berikan pada kita sampai detik ini. Dengan begitu, kita akan sadar ternyata lautan karunia-Nya sungguh tak terhingga.
Hal yang lebih besar dan agung dari semuanya itu adalah iman di dalam hati. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun memberikan pemahaman bahwa ternyata bersyukur itu bukan hanya kepada Allah Ta’ala, tetapi juga pada manusia. Sebagaimana sabda beliau, “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada orang lain, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR At-Tirmidzi).
Lebih lanjut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan tuntunan terkait cara membalas kebaikan orang lain. “Barangsiapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaklah ia membalasnya. Jika ia tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah ia memuji orang tersebut, karena jika ia memujinya, maka ia telah mensyukurinya. Jika ia menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkari kebaikannya.” (HR At-Tirmidzi).
Mari kita renungkan sejenak hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut. Jika hubungan antar manusia saja, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk berusaha membalas kebaikan orang lain, walaupun hanya dengan memujinya, apalagi hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Bukankah Allah Ta’ala telah memberikan segalanya yang terbaik pada kita, sesuai dengan ukuran dan takaran?
Bukankah sudah sepantasnya jika Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya sebagai bentuk syukur atas semua nikmat dan karunia-Nya?
Bahkan, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya oleh Siti Aisyah RA mengapa beliau melakukan shalat malam sampai kedua telapak kaki beliau pecah-pecah, beliau menjawab, “Adakah aku tidak senang untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kita harus menyadari semua nikmat Allah Ta’ala, sehingga kita akan mudah bersyukur. Jika kita bersyukur, maka nikmat itu pasti akan ditambah.
Bertambahnya nikmat bukan hanya tentang kuantitas atau banyaknya, tetapi juga tentang keberkahan dan kebermanfaatan di dunia maupun di akhirat. Itulah hakikat kekayaan.
Begitu juga jika kita berusaha membalas kebaikan orang lain dengan yang lebih baik atau sekadar menyebut kebaikannya, maka akan terjalin hubungan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Dari situ akan tercipta budaya saling memberi, sebagaimana hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Al-Bukhari).
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments