Follow us:

BOLEH JADI KIAMAT SUDAH DEKAT

Oleh: ustadz Ihsan Tanjung

Kita sering mengatakan atau mendengar kata Sa’ah dan Qiyamah. Namun umumnya Sa’ah dalam diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “Kiamat”, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan yang khas.

Arti dan maksud kiamat umumnya dipersepsi oleh kebanyakan orang adalah peristiwa hancurnya dunia beserta jagat raya yang selanjutnya berganti  dengan alam lain yakni alam akhirat. Pemahaman seperti ini tidaklah salah, namun belum mencukupi maksud qiyamah dalam perspektif al-Islam (Qur’an dan hadits).

Perbedaan As Sa’ah dan Al Qiyamah

Kata As-Sa’ah ( السَّاعَةُ ) secara bahasa memiliki makna satu bagian dari bagian-bagian malam dan siang. Bentuk jamaknya sa’at ( سَاعَاتٌ ) dan sa’a ( سَاعَ ). As- Sa’ah menurut istilah syar’i yaitu hari penghancuran alam semesta, dengan ditiupkannya sangkakala oleh Malaikat. Dinamakan demikian karena datangnya dengan cepat dan tiba-tiba. Dalam al-Qur’an pun istilah sa’ah tidak semuanya menunjukan kepada qiyamah.

Akan tetapi banyak manusia mencoba menalarkan arti dari sa’ah (kiamat dalam bahasa Indonesia) dengan berbagai cara. Bahkan mencoba meramal kapan akan datangnya hari kehancuran itu. Salah satu yang menarik yaitu mencoba menghubungkan data-data astronomis dengan sa’ah. Padahal penjelasan itu hanya berlaku di tata surya matahari saja. Sa’ah nanti pasti akan berlaku untuk seluruh alam semeta yang luasnya hanya Allah yang tahu.

Sedangkan Qiyamah (قيامة) berasal dari kata qa-wa-ma yang artinya; bangkit, berdiri, tegak, teguh. Yaumul Qiyamah berarti hari berbangkit atau hari bangkitnya makhluk (khususnya  golongan jin dan manusia) dari kematian mereka. Sedangkan jika dilihat dari teks (al-Qur’an dan al-Hadits) sekurang-kurangnya ada 20 istilah yang sepadan dengan qiyamah, diantaranya Yaumud Diin, Yaumul Khulud, Yaumul Hasyr, Yaumul ‘aqim, Al-Haqqah dan As Sa’ah. Dari istilah-istilah tersebut, qiyamah adalah sebuah proses panjang perjalanan makhluk taklif dari mulai kematian/kehancuran alam, barzakh (kubur), ba’ats (bangkit), mahsyar (berkumpul), hisab (perhitungan), dan jaza’ (balasan).

Inilah yang dimaksud qiyamah dalam al-Qur’an. Hari qiyamah artinya hari berbangkit semua manusia setelah kematian atau yaumul ba’ats. Sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 16

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

“Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”. (Al-Mu’minun: 16)

Yaumul Ba’ats (hari qiyamah) tidak terjadi kecuali diawali dengan proses penghancuran kosmos dengan peniupan shur (terompet) yang merubah watak kosmos yang ada dirubah dengan kosmos yang lain dengan hukum dan watak yang berbeda. Jadi qiyamah atau hari qiyamat adalah proses panjang yang diawali kehancuran kosmos, kebangkitan dari kubur, perhitungan amal sampai pembalasan amal.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ  وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً  فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ  وَانشَقَّتِ السَّمَاء فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah”. (Al-Haqqah: 13-16)

Jadi istilah qiyamah tidak boleh dipersepsi dengan kehancuran alam (dunia dan dan jagat raya) saja, namun kehancuran itu merupakan salah satu bagian dari rangkaian qiyamah.

Kekeliruan atau sempitnya mempersepsi istilah qiyamah ada beberapa kemungkinan salah satunya adalah adanya pemaksaan terjemahan oleh kalangan tertentu (konspirasi) terhadap istilah-istilah yang sepadan dengan qiyamah dengan terjemahan “kiamat” yang ada dalam teks-teks keagamaan misalnya dalam al-Qur’an dan al-hadits. Berikut ini adalah contoh  istilah yang semakna dengan qiyamah diterjemahkan dengan “kiamat”;

الْقَارِعَةُ

“Hari Kiamat” (Al-Qari’ah: 1)

إِنَّ السَّاعَةَ ءاَتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا

“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang.  Aku merahasiakan (waktunya)..” (Thaha: 187)

وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

….”dan sesungguhnya la’nat itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. ( Al-Hijr: 35)

Seharusnya penerjemahan terhadap padanan kata qiyamah tidak dipaksakan dengan terjemahan “kiamat”, namun dibiarkan menjadi suatu istilah mandiri atau diterjemahkan menurut asal katanya, karena setiap istilah dalam teks-teks Al-Qur’an dan Al Hadits memiliki maksud dan kandungan yang berbeda walaupun maksudnya mungkin sama.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً (الأحزاب: 63)

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (Al Ahzab: 63)

Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat adalah ungkapan yang terinspirasi dari Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 63. Ungkapan ini muncul karena sudah semakin banyaknya tanda-tanda kiamat yang bermunculan akhir-akhir ini.

 

Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam mengajak kaum Quraisy dan seluruh manusia untuk beriman kepada hari kiamat. Namun ajakan tauhid ini sulit diterima oleh kaum quraisy. Kenapa? Karena cara berpikir dan keyakinan mereka terhadap Allah telah terkontaminasi. Mereka berkeyakinan bahwa selain Allah itu ada ilah-ilah lainnya dan merekapun menyaksikan ilah tersebut. Di satu sisi, kaum quraisy mengetahui Allah Ta’ala bahkan mereka yakin bahwa Allah adalah pencipta jagad raya ini. Sehingga akhirnya, kaum Quraisy tidak mau menjadikan Allah sebagai Ilah satu-satunya.

 

Banyak manusia bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kapan datangnya Hari Kiamat itu? Orang-orang musyrik menanyakan tentang Kiamat tersebut secara mengejek dan mencemoohkan dan mereka meminta supaya Hari Kiamat segera didatangkan. Permintaan disegerakan kejadiannya itu mengandung keraguan atasnya, atau pendustaan atasnya, sesuai yang diinginkan oleh penanyanya dan sesuai dengan kedekatannya atau kejauhannya dari iman.

Orang-orang munafik menanyakan tentang Hari Kiamat karena terdorong oleh anggapan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam akan menjawab seperti yang mereka perkirakan.

Dan orang-orang Yahudi bertanya dengan maksud menguji kebenaran Nabi. Apakah jawabannya akan sama dengan yang tercantum dalam kitab Taurat, bahwa soal Hari Kiamat itu sesungguhnya berada di tangan Allah. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam disuruh menjawab bahwa sesungguhnya yang memberitahukan kepada Muhammad tentang kapan datangnya Kiamat itu adalah Allah Ta’ala dan boleh jadi telah dekat waktunya. Hari kiamat itu adalah perkara ghaib yang khusus diketahui oleh Allah semata-mata. Dan tidak menghendaki seorangpun dari makhluk-Nya tahu tentang hal itu. Bahkan para Rasul dan para Malaikat pun tidak tahu.

Kemudian Allah menerangkan nasib orang-orang yang bertanya itu dan orang-orang yang mengingkarinya dengan firman selanjutnya.

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيراً

“Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. (Al Ahzab: 64)

Islam mengajarkan bahwa hari Kiamat merupakan the day of total destruction of the whole universe by Allah the Al-Mighty Creator (hari penghancuran total alam semesta atas kehendak Pencipta Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Hari Kiamat merupakan berakhirnya kehidupan fana dunia untuk selanjutnya akan hadir kehidupan abadi akhirat yang sangat berbeda dengan dunia fana ini.

Allah Ta’ala hanya memberitahukan kepada kita melalui lesan Rasul-Nya akan tanda-tanda As Sa’ah dan hari terjadinya yaitu hari Jum’at.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً (الجن: 26)

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”. (Al Jin: 26)

Namun kita tidak mengetahui Jum’at tanggal, bulan dan tahun berapa? Wallahu a’lam. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Hari Jum’at adalah hari yang utama dalam sepekan. Pada hari tersebut ada kejadian-kejadian besar, di antaranya adalah terjadinya kiamat. Juga pada hari tersebut Adam diciptakan, di hari itu pula beliau dimasukkan dalam surga, juga pada hari tersebut beliau dikeluarkan dari surga.

Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan.” (HR. Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِيْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim)

Memang sudah sepantasnya kita ummat Islam yang hidup di zaman ini menghayati bahwa hari Kiamat sudah dekat. Mengapa? Karena bila kita ingat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan penutup rangkaian nabi-nabi Allah Ta’ala, berarti kita merupakan penutup berbagai ummat. Bila beliau dijuluki Nabi Akhir Zaman berarti kita merupakan Ummat Akhir Zaman. Atau dengan kata lain, We are the life of mankind, kita ini sisa-sisa kemanusiaan. Setelah kita, tidak akan ada lagi umat manusia, kita umat terakhir, umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad yang membawa ajaran baru.

Kalaupun yang sebagaimana kita yakini dalam aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah akan turun kembali nabi Isa Alaihissalam, Nabi Isa Alaihissalam kembali di akhir zaman bukan membawa ajaran baru, tetapi akan menjadi pengikut dan pengokoh ajaran Nabi Muhammad. Dengan kata lain, Al-Islam yang dibawa Oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah ajaran yang sudah lengkap, sempurna, dan cukup. Siapapun yang hidup setelah diutusnya nabi Muhammad akan masuk ke dalam golongan umat Muhammad atau umat akhir zaman, baik muslim maupun kafir. Hanya saja, ada umatnya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang ingkar kepadanya. Jadi kita semua adalah umat Muhammad.

Al-Qur’an dan Hadits adalah pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya. Mereka tidak akan sesat dan lenyap dari permukaan bumi ini selama masih berpegang teguh kepada keduanya. Al-Qur’an dan Hadits adalah pegangan yang tidak luntur dan sumber segala kekuatan serta keterangan yang lengkap dan jelas tentang identitas Islam itu sendiri. Sebenamya, segala masalah yang dihadapi oleh Umat Islam sepanjang zaman, baik yang telah lalu, dewasa ini dan yang akan datang, semuanya telah diterangkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak ada satu pun yang tertinggal. Semuanya diterangkan dan dijelaskan tentang cara-cara untuk menghadapi dan menyelesaikannya. Dalam hal ini, termasuk masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam di akhir zaman, sejak 1400 tahun yang lalu telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, untuk menjadi pedoman kepada umatnya supaya mereka dapat menjaga diri, waspada dan tetap berada dalam ajaran yang murni serta terhindar dari segala kerusakan dan bid’ah serta bahaya kesesatan.

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya seperti berikut:

حَدَّثَنِي أَبُو زَيْدٍ يَعْنِي عَمْرَو بْنَ أَخْطَبَ ، قَالَ : ” صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الظُّهْرُ ، فَنَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الْعَصْرُ ثُمَّ نَزَلَ ، فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَخَطَبَنَا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ فَأَعْلَمُنَا أَحْفَظُنَا ”

Telah menceritakan kepadaku Abu Zaid, yaitu Amr bin Akhthab al-Anshari Radhiallahu Anhu, katanya: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam shalat Subuh berjamaah dengan kami, kemudian beliau naik ke mimbar dan berkhutbah sampai masuk waktu Dluhur, kemudian beliau turun (dari mimbar) dan shalat Dluhur (bersama kami). Setelah selesai shalat Dluhur beliau naik lagi ke mimbar dan menyambung khutbahnya sampai masuk waktu Ashar, maka beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar (bersama kami). Setelah selesai shalat Ashar beliau naik lagi ke mimbar dan melanjutkan khutbahnya sehingga tenggelam matahari. Beliau memberitahu kepada kami segala apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Maka siapa yang pandai di kalangan kami, dialah yang paling banyak menghafalnya”. (HR. Muslim)

Di dalam khutbah yang panjang itu, Baginda Shallallahu Alaihi Wasallam menerangkan hal- hal yang berkaitan dengan makhluk dari permulaan penciptaannya hingga akhir zaman dan perkara-perkara yang berkaitan dengan alam barzakh dan hari qiamat.

Berkata Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiallahu Anhu: “Terkadang aku lihat sesuatu yang telah aku lupakan, maka kembali ingatanku kepada khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka aku ingat kembali, seperti keadaan salah seorang kamu yang mengenal kembali sahabat yang telah lama hilang dari ingatannya bila ia bertemu kembali dengannya”.

Pentingnya Tanda Datangnya Hari Kiamat

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa Rasulullah begitu berapi-api dan seriusnya dalam memberikan tanda-tanda akhir zaman kepada para sahabatnya? Tanda-tanda akhir zaman diberitakan secara serius karena saat-saat itulah kiamat belum terjadi dan saat itulah manusia masih diberikan hak asasi penuh oleh Allah untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Jin: 14,

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَداً (الجن: 14)

”Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus”. (Al Jinn: 14)

Sedangkan setelah hari kiamat berlangsung, maka semua makhluk termasuk manusia benar-benar tunduk kepada keputusan Allah Ta’ala yang bersifat mutlak, pada hari itulah Allah Ta’ala benar-benar Maha Kuasa atas segala peristiwanya sebagaimana dalam Surat Al-Fatihah: 4 bahwa Allah berfirman, “Yang Menguasai Hari Pembalasan”. Maka dengan adanya tanda-tanda itulah kita bisa waspada dan bisa mencoba tuk merubah diri kita sebelum penyesalan terjadi.

Lalu apakah saat kehidupan kita ini sudah benar-benar mendekati hari kiamat?

Banyak tanda-tanda yang bisa kita lihat menjelang akhir zaman sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menerangkannya secara lengkap. Akan tetapi banyak orang beriman menyatakan bahwa hari kiamat saat ini terlihat masih lama, karena kiamat baru akan terjadi saat tidak ada orang yang mengucapkan kalimat syahadat, dan saat ituah seburuk-buruk makhluk yang akan menguasai bumi.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لا يُقَالَ : اللَّهُ اللَّهُ . فِي الأَرْضِ ” .

Dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut “Allah, Allah”. (HR. Muslim)

dan dalam hadist lain dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

وعن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” لا تقوم الساعة إلا على شرار الخلق ” . رواه مسلم

“Hari kiamat tidak akan tiba melainkan atas makhluk-makhluk yang jahat”. (HR. Muslim)

Maksudnya manusia saat itu benar-benar bukanlah manusia secara hakekat, namun mereka bagai binatang dimana karakter mereka disebutkan oleh Rasulullah dalam hadist An-Nawwas Radhiallahu Anhu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Dan yang tersisa adalah seburuk-buruk manusia, mereka melakukan hubungan intim di dalamnya bagaikan keledai, maka pada merekalah kiamat akan terjadi”. (HR. Muslim)

Lantas dimanakah mereka yang beriman dan baik hatinya? Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

فبينما هم كذالك، إذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Maka tiba-tiba saja Allah mengutus angin yang lembut, sehingga mengambil (ruh) mereka dari bawah ketiak-ketiak mereka, lalu diambillah setiap ruh mukmin dan muslim. Dan yang tersisa hanyalah manusia yang paling durjana. Mereka menggauli wanita mereka secara terang-terangan bagai keledai, maka kepada merekalah kiamat akan terjadi”. (HR. Muslim)

Maka tak ada lagi orang beriman saat itu, sehingga saat ini kita bisa katakan bahwa kiamat masih jauh menurut perhitungan kita dan secara logika manusia ini adalah benar. Namun pertanyaan berikutnya, akankah kita masih aman dari jauhnya kiamat ini? Maka marilah kita simak hadist di bawah ini:

Hadist Rasulullah Tentang Periode Kepemimpinan Global

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ الله ُأَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيّاً ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa masa, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbariyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diam”. (HR. Ahmad)

Apabila kita merenungkan hadits di atas, maka dapat kita tarik suatu hipotesa (pendapat sementara, karena kenyataannya hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahuinya) bahwa periode kehidupan “Ummat Muhammad” hanya terdiri atas lima periode saja, yaitu periode Kenabian, Periode Kekhilafahan, Periode Monarki Islam, Periode Pemimpin yang menggunakan akal mereka, dan kembali lagi ke periode Kedua yaitu periode kekhilafahan yang sesuai dengan zaman kenabian.

  1. Periode Pertama

Periode kenabian telah berlalu, dimana tiada lagi nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagaimana Rasulullah sendiri bersabda, “Aku penutup para nabi. Tidak ada nabi lagi sesudah aku.” (HR. Ahmad dan Al Hakim).

Maka tatkala Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam diwafatkan hal itu secara otomatis telah berlalu masa kenabian. Adapun nabi-nabi yang diaku manusia setelahnya adalah pengakuan dusta yang hal ini merupakan tanda-tanda kiamat pula.

  1. Periode Kedua

Periode ini pun telah berlalu. Periode ini terjadi setelah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, beliau mengisyaratkan Abu Bakar as-Shiddiq Radhiallahu Anhu sebagai pengganti beliau. Tidak diragukan lagi bahwa sahabat yang dijamin masuk syurga dan merupakan sahabat terbaik ini memerintah seluruh Dunia Islam sesuai dengan landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penuh dengan nilai-nilai agama dan keadilan. Keadaan ini berlanjut kepada pemerintahan Umar Ibn Khaththab Radhiallahu Anhu, saat ini pemerintahan benar-benar penuh kedamaian landasan yang digunakan tetap hukum Allah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Fitnah mulai muncul tatkala kekhalifahan dipimpin oleh Sahabat Utsman Ibn Affan Radhiallahu Anhu. Zaman ini mulai muncul perpecahan-perpecahan pendapat di kalangan kaum Muslimin khususnya yang baru memeluk Islam saat detik-detik meninggalnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Iman mereka masih tipis akan tetapi permasalahan ummat semakin kompleks karena secara kuantitas, fisik, budaya dan politik telah mengalami kemajemukan yang sangat meluas.

Akan tetapi zaman pemerintahan Utsman Ibn Affan Radhiallahu Anhu masih tetap berpegang teguh pada jejak-jejak wahyu, khalifah juga masih memimpin dengan benar-benar berdasarkan dua konstitusi utama ummat Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Pada zaman ini keturunan bukan merupakan landasan utama untuk memilih pemimpin, adapun pemimpin dipilih berdasarkan musyawarah besar para ulama (pada saat itu adalah sahabat-sahabat senior Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam).

Fitnah bertambah besar tatkala kekhalifahan dipimpin oleh Ali Ibn Abi Thalib Radhiallahu Anhu, permasalahan-permasalahan masyarakat mulai kompleks. Saat itu muncul berbagai pemahaman yang sangat bertentangan dengan Islam, sesat dan menyesatkan seperti paham khawarij, mu’tazillah dan beberapa benih-benih pemahaman sesat lainnya. Akan tetapi Ali Ibn Abi Thalib yang merupakan keponakan Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan pemimpin yang adil dan teguh dalam memegang jejak-jejak wahyu, beliau tetap berpegang dengan nilai-nilai dan hukum-hukum Islam. Institusi pemerintahan saat itu berlandaskan pemerintahan yang sesuai dengan kaidah-kaidah Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, keputusan dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat yang digelar oleh para ahli ilmu (Ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah dan bidang-bidang yang digelutinya) sehingga keputusan dilandaskan atas dasar kaidah-kaidah Al-Qur’an dan As Sunnah bukan atas dasar kepentingan semata atau atas dasar akal yang kini banyak disaksikan pada negara-negara demokrasi.

  1. Periode Ketiga

Masa ini terjadi setelah Ali Ibn Abi Thalib Radhiallahu Anhu wafat, kondisi Umat Islam semakin terpecah belah dan muncul beberapa klan berdasarkan keturunan. Kekhalifahan bukan dipilih berdasarkan musyawarah para ulama, akan tetapi dipilih berdasarkan kaidah monarki (kerajaan) yang mengutamakan keturunan sebagai pengganti kepemimpinan. Sebagaimana diketahui bersama bahwa pada periode ini muncul beberapa Dinasti yang disebut Bani, seperti Bani Umayyah, serta Bani Abbasiyyah yang cukup terkenal dan memberikan banyak masukan sejarah Islam. Khalifah yang saat itu lebih pantas bila disebut Raja atau Sultan memerintah dengan menekan rakyatnya, para Sultan merasa memiliki kekuasaan dalam pemerintahan dan dalam mengatur kemaslahatan agama Islam. Zaman ini juga penuh dengan fitnah yang muncul dari para Sultan dan beberapa masyarakat yang mencoba mendekati sultan. Banyak sultan yang kejam dan menyimpang, namun ada juga sultan yang diberi rahmat oleh Allah sebagaimana Umar Ibn Abdul ‘Aziz dan Harun al-Rasyid Rahimahumullahu Ajma’in.

Walaupun sistem kepemimpinan beralih kepada sistem monarki, akan tetapi institusinya masih sangat erat dengan kaidah-kaidah Islam khususnya dalam landasan pemerintahan (konstitusi) yaitu sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Simbol-simbol kerajaan merupakan simbol-simbol Islam, beberapa hal yang dipegang teguh oleh aturan kerajaan adalah berdasarkan musyawarah mufakat yang dikembalikan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Semangat menyebarkan agama juga masih sangat tampak, baik melalui jihad berupa pertempuran maupun jihad melalui penyebaran ilmu agama. Sebagaimana diketahui bahwa muncul banyak sekali ulama-ulama besar dalam bidang fikih seperti Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Syafi’ie, dan Imam Malik Rahimahumullah. Ulama dalam bidang hadits seperti Imam Nawawi, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan yang lainnya serta ulama-ulama terkenal seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahumullah. Sebagian besar para ulama tersebut diangkat sebagai penasehat kerajaan, akan tetapi tak sedikit yang disiksa oleh pemerintah bila terkesan menghambat jalannya pemerintahan karena tidak sesuai dengan agenda kerajaan. Akan tetapi secara garis besar Islam masih dipakai sebagai pandangan hidup dan simbol-simbol Islam masih benar-benar dipakai dan dibanggakan.

Zaman ini merupakan zaman yang mengalami penurunan dari cahaya Islam menuju cahaya kegelapan. Fitnah banyak terjadi di mana-mana, tipuan dan muslihat banyak menimpa Kaum Muslimin, yang buruk dijadikan baik dan yang baik dijadikan buruk. Perebutan kekuasaan, pembunuhan dan kekacauan mulai terlihat jelas begitupula perpecahan dalam hal yang kecil hingga prinsip. Tanda-tanda kiamat mulai banyak bermunculan, zaman ini usianya cukup panjang yaitu sekitar seribu tahun lebih.

Namun saat ini kemungkinan besar era dan periode ini telah berakhir, karena semenjak Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 Masehi maka runtuh pula pengagungan manusia atas hukum Islam dan syariatnya. Semenjak itu simbol-simbol Islam telah disamarkan dan tidak lagi diagungkan. Dan pada zaman itu pula periode (menurut hadits di atas) bergeser ke periode selanjutnya.

  1. Periode Keempat

Periode ini merupakan periode paling kelam dalam sejarah Umat Muslim di dunia dan tatkala Umat Muslim ini sudah lebur maka kiamat benar-benar akan terjadi. Akan tetapi ternyata periode keempat ini bukanlah periode akhir karena terdapat periode terakhir sebelum kehancuran total terjadi. Hanya saja periode ini menuntut Kaum Muslimin dan Mukminin benar-benar memantapkan imannya karena fitnah pada zaman ini benar-benar dahsyat. Periode ini terjadi saat kita hidup di dunia ini, periode awal dari fitnah yang semakin mencekam hingga diperkirakan (Allahu a’lam) muncul Dajjal yang sebenarnya.

Demikian pula Abdullah bin Umar Radhiallahu Anhu menceritakan apa yang beliau alami dari peringatan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam terhadap fitnah, “Kami dahulu duduk-duduk bersama Nabi maka beliau menyebut fitnah dan berulang kali menyebutnya”.

Kalau kita lihat zaman sekarang benar-benar merupakan zaman yang sangat gelap, cahaya Islam mulai redup, akan tetapi Allah Ta’ala tidak hendak mematikannya karena Ia telah berjanji bahwa setiap zaman terdapat Ath-Tha’ifah al-Manshurah (orang-orang yang diselamatkan/berpegang teguh pada jalan Allah). Hal ini sebagaimana hadits dalam riwayat Imam Muslim Rahimahumullah telah meriwayatkan di dalam Kitab Shahihnya. Dari Tsauban Radhiallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa beliau bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Akan senantiasa ada dari sekelompok umatku melantangkan kebenaran. Tidak memudharatkan mereka siapa yang menyelisihinya dan tidak pula siapa yang meninggalkan mereka sampai datang keputusan Allah sementara mereka tetap demikian”. (HR. Muslim)

Fitnah akhir zaman yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun sangat banyak bermunculan. Kondisi ini telah diprediksi oleh Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّمَ هُوَ قَالَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ

“Zaman-zaman akan saling berdekatan, amalan akan berkurang, sifat pelit akan diberikan, fitnah dan haraj akan banyak”. Para sahabat bertanya “Apakah (haraj) itu?” Beliau menjawab “Pembunuhan, pembunuhan“. (HR. Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Segeralah beramal! fitnah-fitnah seakan potongan-potongan malam yang gelap, seorang di waktu pagi sebagai mukmin dan masuk sore menjadi kafir atau di waktu sore sebagai mukmin di waktu pagi menjadi kafir, ia menukar agama dengan harta benda dunia”. (HR. Muslim)

Masya Allah, dan sekaranglah kita lihat zaman ini banyak bermunculan hal seperti itu na’udzubillah min dzaalik. Apakah benar kondisi ini adalah sudah muncul di zaman ini? Hanya Allah yang tahu, akan tetapi melalui pengamatan dan penelaahan yang ada, maka zaman inilah apa yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu kemungkinan besar telah muncul.

Periode keempat ini diperkirakan merupakan periode paling kelam dalam sejarah keislaman hingga menuju periode puncak. Adapun masa-masa pergantian periode ini ditandai dengan peristiwa-peristiwa besar yang merupakan transisi dari kedua periode, yaitu:

  1. Dilahirkannya al-Mahdi: Al-Mahdi yang kita bahas adalah Al-Mahdi menurut versi ahlu assunnah wal jama’ah. Bahwa ia adalah bernama seperti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan nama ayahnya juga seperti nama ayah Beliau. Imam Mahdi inilah yang akan memimpin pasukan perang untuk menggempur pasukan besar Yahudi yang berusaha membinasakan Kaum Muslimin. Kaum Yahudi ini tidak mau bila Kaum Muslimin mengekang hak-hak kebebasan dengan syariatnya, karena pada dasarnya Yahudi adalah umat yang benci dengan kerasulan Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kaum Yahudi ini dipimpin oleh pemimpin utama mereka, yaitu al Masih Ad Dajjal La’natullah. Pertempuran dengan Yahudi ini telah dinyatakan dalam wahyu nubuwah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, dimana Beliau bersabda,

 

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

 

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi dan membunuh mereka. Sehingga, bersembunyilah orang-orang Yahudi di belakang batu atau kayu, kemudian batu atau kayu itu berkata, ‘Wahai orang muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakang saya, kemarilah dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad (yang tidak berbuat demikian) karena ia termasuk pohon Yahudi”. (HR. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah)

 

  1. Munculnya al-Masih ad-Dajjal la’natullah: Dajjal adalah seorang laki-laki dari anak Adam yang memiliki sejumlah sifat sebagaimana dalam beberapa hadits agar manusia mengetahuinya dan berhati-hati terhadapnya, sehingga apabila kelak ia muncul maka orang-orang mukmin dapat mengenalnya serta tidak terfitnah olehnya. Sifat-sifat inilah yang membedakannya dari manusia lainnya sehingga tidak tertipu olehnya kecuali orang yang jahil yang bakal celaka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Di Antara Sifat-Sifat Dajjal

Dia adalah seorang muda yang berkulit merah, pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, dan matanya ini tidak menonjol keluar juga tidak tenggelam, seolah-oleh buah anggur yang masak (tak bercahaya) dan matanya sebelah kiri ditumbuhi daging yang tebal pada sudutnya. Di antara kedua matanya terdapat tulisan huruf kaf, fa’, ra’ secara terpisah, atau tulisan “kafir” secara bersambung / berangkai, yang dapat dibaca oleh setiap muslim yang bisa menulis maupun yang tidak bisa menulis. Dan di antara tandanya lagi ialah mandul, tidak punya anak.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعَرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

Dari Hudzaifah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; Dajjal itu buta mata kirinya, berambut lebat, ia membawa surga dan neraka, nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka”. (HR. Muslim)

Dajjal ini memimpin 70 ribu Yahudi yang mereka akan berperang dengan Al-Mahdi dan Dajjal sendiri akan dikejar dan dibunuh oleh Isa al-Masih. Dua al-Masih akan bertempur dengan membawa panji-panji mereka, yang satu (al-Masih Ad-Dajjal) adalah al-Masih dengan arti ‘Pembohong” dan yang satu (Isa al-Masih) dengan arti penyelamat. Pada era ini merupakan puncak fitnah terbesar, dimana banyak orang yang terjebak oleh kejahatannya dan mati dalam keadaan kafir. Fitnah Dajjal sangat luar biasa, karena Allah mengijinkannya untuk dapat menghidupkan orang mati dan dapat menurunkan hujan serta menumbuhkan tanaman. Dia yang semula mengaku orang shalih, lama-lama mengaku nabi dan lama-lama mengaku Tuhan, banyak orang terkecoh padanya khususnya yang cinta dunia. Mereka cinta harta dunia dan Dajjal bisa memberikannya atas ijin Allah Ta’ala dengan kemudahan-kemudahan dan kekuatan yang diberikan padanya, akhirnya banyak orang yang menyatakan tunduk pada Dajjal dan mati menjadi kafir…na’udzubillah tsumma na’udzubillah, untuk itulah Rasulullah menyatakan bahwa syurganya Dajjal adalah nerakanya Allah dan nerakanya Dajjal adalah Syurganya Allah. Allahu a’lam, dan semoga kita terhindar dari fitnah kejinya.

  1. Turunnya Isa al-Masih bukan sebagai nabi melainkan Umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

وَاللَّهِ لَيَنْزِلَنَّ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلا ، فَلَيَكْسِرَنَّ الصَّلِيبَ ، وَلَيَقْتُلَنَّ الْخِنْزِيرَ ، وَلَيَضَعَنَّ الْجِزْيَةَ ، وَلَيَتْرُكَنَّ الْقِلاصَ فَلا يَسْعَى عَلَيْهَا ، وَلَتَذْهَبَنَّ الشَّحْنَاءُ ، وَالتَّبَاغُضُ ، وَالتَّحَاسُدُ ، وَلَيَدْعُوَنَّ إِلَى الْمَالِ فَلا يَقْبَلُهُ أَحَدٌ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh pasti akan turun pada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak serta harta begitu melimpah sehingga tak ada seorangpun yang mau menerimanya”. (HR. Muslim)

Saat diturunkan pada zaman itu, Isa al-Masih berperan sebagai ummat Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang akan membunuh Dajjal, bukan sebagai Nabi atau Rasul yang membawa syariat baru dalam kehidupan manusia. Hal ini terbukti saat al-Mahdi mengimami shalat, kemudian al-Mahdi mengetahui bahwa di belakangnya ada seorang utusan Allah yaitu Nabi Isa, lalu beliau mempersilahkan Isa al-Masih menjadi imam, akan tetapi Isa al-Masih menolaknya dan memerintahkan salah seorang dari Kaum Muslimin itulah (yang diperkirakan adalah al-Mahdi) yang menjadi imam shalat.

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ” قَالَ : ” فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ، فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ : تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ : لَا إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ ، تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ ” . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir ibn Abdullah Radhiallahu Anhu ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka meraih kemenangan sampai hari kiamat. Nabi Isa bin Maryam Alaihissalam turun (dari langit), maka amir (pemimpin) kelompok tersebut berkata kepadanya,” Silahkan mengimami kami shalat.” Nabi Isa menjawab, ”Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah umara’ (pemimpin) atas sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah kepada umat Islam ini”. (HR. Muslim)

Ini merupakan tanda bahwa Isa al-Masih saat itu tidak membawa syariat baru, ini pemahaman ahlu assunnah wal jamaa’ah.

  1. Periode Kelima

Pada periode ini, suasana kembali kepada masa periode kedua, yaitu kekhalifahan yang memegang pemerintahan berdasarkan hukum Islam dan nilai-nilai nubuwah sebagaimana kekhalifahan di zaman Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiallahu Anhum Ajma’in. Zaman ini dipimpin oleh al-Mahdi dimana hal ini telah dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sesuai dengan hadits Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai semua manusia dipimpin oleh seseorang dari Ahlulbaitku. Namanya sama dengan namaku, nama ayahnya sama dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan”.

Periode ini merupakan periode yang sangat singkat dan hanya berlangsung beberapa tahun saja (banyak yang menyatakan selama 40 tahun saja). Setelah periode ini Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak meneruskan pembicaraannya, dan setelah periode ini diperkirakan manusia menjadi sebenar-benar manusia yang sangat jelek. Di situlah angin sejuk dan lembut mulai mencabut nyawa orang-orang beriman walau sebiji sawi dan yang tertinggal hanyalah manusia-manusia yang tiada bedanya dengan binatang, dan dari situlah kiamat al-Kubra terjadi.

Suatu hal yang pasti, kalau kita umpamakan perjalanan kelima babak perjalanan sejarah umat Islam ini sebagai sebuah skenario film, maka ia sangat layak disebut sebagai film berjudul Akhir Zaman. Dan kalau kita mengikuti sebuah cerita yang mengandung lima babak dan kita tahu bahwa kita sudah sampai ke babak keempat, saya kira sudah sepantasnya kita beranggapan bahwa ini bukanlah masih di awal cerita, atau di bagian pertengahannya. Namun lebih pantas dikatakan bahwa ini sudah menjelang akhir dari rangkaian cerita.

Berarti, tidakkah pantas kitapun mengucapkan apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah firmankan di dalam Kitab-Nya: Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat Waktunya.  Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved