Cara Memilih Teman Sesuai Tuntunan Syariat
Pergaulan dan pertemanan dalam kehidupan sehari-hari dalamIslam sudah diatur. Dalam memilih teman atau panutan sudah seharusnya sesuai syariat terutama karena Allah Ta’ala.
Mengutip buku Bergaul ala Penghuni Surga karya Imam Al Ghazali, menjelaskan bergaul karena Allah dan bersaudara karena agama-Nya adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama. Bergaul juga merupakan hasil dari rasa taat kepada Allah yang paling Indah dari segi berlakunya adat kebiasaan.
Dalam bergaul, hendaknya memiliki banyak syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang berusaha untuk saling cinta kasih karena Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda dalam memberi motivasi untuk bersaudara karena Allah Subhanahu wa Ta’ala;
“Barang siapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajat orang itu di surga yang mana derajat tersebut tidak bisa diperoleh dengan amal perbuatannya.”
Abu Idris al-Khaulanly berkata kepada Mu’adz, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah.” Lalu Mu’adz berkata kepadanya, “Aku sangat bahagia, aku sangat bahagia. Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi bersabda,
“Di hari kiamat nanti ada sekelompok manusia yang ditempatkan di kursi-kursi yang berada di sekeliling Arsy, kursi-kursi tersebut memiliki mimbar dari cahaya. Di dalam kelompok manusia itu terdapat sebuah kaum yang wajah mereka bersinar bagaikan bulan purnama. Orang-orang meminta tolong, namun mereka tidak, orang-orang merasa takut, namun mereka tidak merasa takut sedikitpun. Mereka itu adalah para kekasih Allah yang tidak ada rasa takut pada dirinya, mereka juga tidak pernah bersedih hati.”
Lalu ditanyakan kepada Rasulullah, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling cinta karena Allah dan saling duduk bersama karena Allah.”
Abu Hurairah meriwayatkan hadits di atas, dalam hal ini ia berkata, sesungguhnya di sekeliling ‘Arsy terdapat beberapa mimbar yang terbuat dari cahaya, di atas mimbar itu terdapat sebuah kaum yang pakaian mereka terbuat dari cahaya dan wajah mereka bersinar. Mereka itu bukan para Nabi dan juga bukan para syuhada’, para Nabi dan para syuhada’ menginginkan kedudukan seperti mereka. Lalu Abu Hurairah berkata, Wahai Rasulullah, sebutkan sifat mereka kepada kami. Lalu Rasulullah bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling cinta karena Allah, selalu duduk bersama (membahas perihal Agama) karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.”
Nabi bersabda, “Tiada dua orang yang saling cinta karena Allah kecuali (di antara mereka berdua) yang paling cinta kepada Allah itulah yang paling mencintai temannya.”
Sesungguhnya dua orang yang bersaudara dan berteman karena Allah, jika salah satu dari mereka berdua memiliki kedudukan yang lebih tinggi di akhirat, maka Allah akan mengangkat yang lain bersamanya hingga mencapai kedudukan seperti yang lain. Allah akan mempertemukan mereka sebagaimana anak cucu bertemu dengan kedua orangtuanya. Hal ini karena jika persaudaraan dijalankan karena Allah maka ia melebihi hubungan kerabat. Allah berfirman;
“Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal perbuatan mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)
Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman (dalam hadits Qudsi):
“Cinta kasih-Ku ditetapkan pada orang-orang yang saling bersilaturahim karena-Ku, cinta kasih-Ku juga ditentukan untuk orang-orang yang saling kasih sayang karena-Ku, cinta kasih-Ku ditetapkan pada orang-orang yang saling mencurahkan kekuatannya karena-Ku, dan cinta kasih-Ku diberikan kepada orang-orang yang saling menolong karena-Ku.”
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya, besok di hari kiamat Allah berkata; Dimana orang-orang yang saling cinta karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku menaunginya di dalam naungan-Ku, (hari ini) adalah hari di mana tiada naungan kecuali hanya naungan-Ku.”
Nabi bersabda, orang yang hatinya selalu bergantung pada masjid ketika ia keluar dari masjid hingga ia datang kembali, dua orang yang saling menyayangi karena
“Terdapat tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dengan naungan-Nya pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, (tujuh golongan tersebut) adalah; imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah, Allah, mereka berdua berkumpul karena Allah dan memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia berpisah juga karena Allah, orang yang ingat Allah di waktu sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata, seorang lelaki yang diajak oleh wanita yang menjawab; Sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.”
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang lelaki mengunjungi saudaranya karena Allah, maka Allah akan menyediakan seorang malaikat untuknya. Lalu malaikat itu berkata; Kemana kamu ingin pergi? la berkata; Saya ingin mengunjungi saudaraku yang bernama Fulan, lalu malaikat itu bertanya; Untuk hajatmu yang ada padanya? la menjawab; tidak, malaikat bertanya lagi; Karena hubungan kerabat antara dirimu dan ia? la menjawab; tidak, lalu malaikat itu bertanya lagi; Untuk mengantar kenikmatan miliknya yang masih ada padamu? la menjawab; tidak, lalu malaikat bertanya; Lalu untuk apa kamu mengunjunginya? la menjawab; Saya menyayanginya karena Allah. Lalu malaikat itu berkata; Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutusku untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa Allah benar-benar telah mencintai kamu karena rasa cintamu kepadanya, dan Allah telah menetapkan surga untukmu.” (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments