Follow us:

Cita-Cita Peserta Anak-Anak MTQN 2026: Jadi Qari Internasional

Suara lantunan Al-Qur’an terdengar dari Masjid Raya Baiturrahman, Semarang. Di tengah suasana Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional 2026, anak-anak tampil membawa suara, semangat, dan cita-cita mereka.

Pada Musabaqah Cabang Seni Baca Al-Qur’an Golongan Anak-Anak, sejumlah peserta menunjukkan kemampuan terbaiknya. Di balik penampilan mereka, tersimpan cerita tentang bagaimana kecintaan terhadap Al-Qur’an tumbuh sejak usia dini.

Salah satunya Faiz, peserta berusia 11 tahun dari Provinsi Papua Barat. Ia mengaku senang belajar membaca Al-Qur’an karena tertarik dengan keindahan suara ketika Al-Qur’an dilantunkan.

“Saya suka belajar membaca Al-Qur’an karena saya mendengar nada suaranya sangat bagus,” ujar Faiz, Kamis (17 September 2026).

Bagi Faiz, belajar tilawah bukan sekadar persiapan mengikuti perlombaan. Ia rutin berlatih sekitar dua jam setiap hari dan dilakukan secara terus-menerus. Latihan yang tekun itu menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk mengasah kemampuan membaca Al-Qur’an. 

“Untuk latihan, saya berlatih sekitar dua jam setiap hari dan dilakukan secara terus-menerus,” tuturnya.

Dari kecintaannya terhadap Al-Qur’an, Faiz memiliki cita-cita besar. Ia ingin suatu hari dapat menjadi qari internasional.

Ia juga memiliki sosok yang menjadi inspirasinya dalam menekuni dunia tilawah, yakni Syamsuri Firdaus, qari internasional asal Indonesia. Faiz menyebut Syamsuri Firdaus sebagai sosok yang menginspirasinya. Ia mengetahui bahwa qari tersebut telah dua kali meraih juara dunia dalam ajang tilawah.

“Cita-cita saya ingin menjadi qari internasional. Sosok inspirasi saya adalah Ustaz Syamsuri Firdaus. Beliau qari internasional yang sudah dua kali menjadi juara dunia,” ungkapnya.

Baginya, membaca Al-Qur’an juga memberikan ketenangan. “Dengan membaca Al-Qur’an hati jadi lebih tenang,” katanya.

Cerita serupa datang dari Muh. Zaky Irsyad Batuta, peserta asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Zaky kini berusia 13 tahun dan bersekolah di MTs di Mataram.

Zaky mengenal Al-Qur’an sejak masih duduk di taman kanak-kanak. Sementara itu, ia mulai belajar tilawah secara lebih serius sejak kelas 1 SD.

Berada di tingkat nasional menjadi pengalaman yang membanggakan bagi Zaky. Ia mengaku senang sekaligus bangga bisa membawa nama daerahnya dalam ajang tersebut.

“Perasaannya senang dan bangga sudah sampai ke MTQ Nasional,” katanya.

Bagi Zaky, perjalanan ini juga tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada ayah dan bundanya yang telah membimbingnya hingga sampai pada titik tersebut.

“Terima kasih ayah dan bunda yang telah membimbing saya sampai ke titik ini,” ucapnya.

MTQ Nasional bagi Faiz dan Zaky bukan hanya tentang tampil dan berkompetisi. Di usia yang masih belia, keduanya telah memiliki gambaran tentang masa depan yang ingin mereka raih melalui Al-Qur’an.

Faiz ingin menjadi qari internasional. Begitu pula Zaky. Ia bahkan membayangkan dapat tampil di luar negeri dan memiliki kesempatan pergi ke Makkah.

“Cita-cita mau jadi qari internasional di luar negeri, mau ke Makkah,” tuturnya.

Cita-cita itu mungkin masih panjang untuk diwujudkan. Namun, dari Masjid Raya Baiturrahman Semarang, keduanya sedang memulai langkahnya. (UYR/Kemenag)

Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved