Follow us:

Dampak Perbuatan Dosa Dan Maksiat Terhadap Pribadi Dan Masyarakat

 

الحمد لله الفتاح المنان ذي الفضل والإحسان، الذي فضل الإسلام على سائر الأديان، ومحى برسوله عبادة الأوثان، أشهد أن لا إله إلا الله خالق البشرية والعالم، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله خير الأنام. اللهم صل على عبدك ورسولك محمد، وعلى آله وأصحابه ومن اتبعه بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد،

فيا عباد الله اتقوا الله تعالى ولا تحصوه، فقد قال سبحانه وتعالى فى القرأن الكربم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وقال فى آية أخرى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً{71}

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..

Hari ini kita telah memasuki bulan pertama dari tahun 1436 Hijriyah. Mudah-mudahan tahun ini dan tahun mendatang, akan terus menjadi tahun yang penuh keberkahan dari Allah bagi kehidupan keluarga kita dan terlebih bagi negeri Indonesia ini. Kalau kita menelaah ayat-ayat alquran, akan didapatkan tuntunan dan teladan yang sangat menarik tentang bagaimana memelihara dan memaknai keberkahan bagi suatu negeri.

Misalnya, doa Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk keberkahan kota Makkah yang diabadikan di dalam surah Al Baqarah 126.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (البقرة: 126)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Al Baqarah: 126)

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim memberikan teladan yang sangat jelas, bahwa keberkahan memiliki dua tanda penting; yaitu jika suatu negeri aman dan sentosa, kemudian penduduknya dikaruniai rezeki yang berkecukupan. Nabi Ibrahim juga memberikan satu kunci yang sangat mendasar untuk bagaimana memelihara keberhakan suatu negri, yaitu bahwa penduduk negeri tersebut harus didasari dan digerakkan oleh keimanan kepada Allah dan hari akhir. Karena demikian lengkapnya doa keberkahan Nabi Ibrahim untuk negri Makkah ini, sampai-sampai Rasulullah menjadikannya standar untuk keberkahan kota Madinah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ وَمِثْلِهِ مَعَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Jika para sahabat menyaksikan buah pertama dari sebuah pohon, maka mereka segera membawanya kehadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan ketika mengambilnya, beliau berdoa: “Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkahilah kota kami, berkahilah Sha’ kami, dan berkahilah Mud kami. Ya Allah, Nabi Ibrahim adalah hamba-Mu dan kekasih-Mu. Sedangkan aku adalah hamba dan Nabi-Mu. Dia berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Makkah, dan aku berdo’a kepada-Mu bagi kemakmuran Madinah, seperti Ibrahim mendo’akan kota Makkah”. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, sangat layak jika kita menjadikan standar doa Nabi Ibrahim bagi keberkahan Makkah, juga menjadi doa kita bagi keberkahan negri Indonesia. Sebab, Indonesia memiliki banyak peluang untuk mendapatkan keberkahan dari Allah, karena dalam berbagai aspeknya, Indonesia juga memenuhi syarat yaitu adanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Sebab itu, adalah sebuah kewajiban seluruh bagian negeri ini untuk menjaga potensi keberkahan yang telah Allah limpahkan. Kewajiban para pemimpin adalah untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan yang akan terus membuat negeri ini selalu dinaungi keberkahan dan ridha Allah. Bukan malah membuat kebijakan yang mengantarkan bangsa dan negeri ini kepada murka dan adzab Allah. Bukan malah membuat kebijakan, seperti dengan mendukung “Pekan Kondom Nasional”, ataupun melegalkan penjualan minuman keras di mini market- mini market, atau bahkan mengosongkan kolom agama dalam kartu tanda penduduk.

Dan telah kita ketahui, bahwa tanpa adanya dukungan pemerintah terhadap pekan kondom nasional sekalipun, terlihat parahnya pergaulan bebas ditengah-tengah generasi muda negri ini. Berapa ratus ribu kasus aborsi disebabkan pergaulan bebas? Tanpa melegalkan penjualan minuman keras sekalipun, banyak puluhan bahkan ratusan nyawa yang melayang disebabkan menegak minuman keras oplosan dan sebagainya.

Kalau kita tidak bisa berharap banyak terhadap pemerintah untuk terus menjaga potensi keberkahan negri ini, maka kewajiban seluruh rakyat Indonesia adalah menyesuaikan gaya hidup mereka sesuai dengan tuntunan Allah agar potensi keberkahan negri ini tidak sampai tercabut. Paling tidak ada dua agenda penting yang harus dilakukan oleh penduduk negri ini:

  • Menghilangkan Kebiasaan Dosa Dan Maksiat Di Tengah Masyarakat

Karena sesungguhnya masyarakat yang kesehariannya akrab dengan dosa dan maksiat, hakikatnya adalah masyarakat yang rapuh. Ibarat tubuh, maka tubuh mereka adalah tubuh yang penuh penyakit dan kotoran yang menjijikkan. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam Al Jawabul Kaafi menyebutkan beberapa dampak dan bahaya bagi pribadi maupun masyarakat jika telah akrab dengan dosa dan maksiat.  Bahaya itu adalah:

  1. Tidak bisa merasakan indahnya hidup dekat dengan Allah

Kaki mereka akan malas melangkah kepada kebaikan, badan akan terasa berat melakukan ibadah, telinga mereka tidak bisa merasakan kenikmatan saat mendengarkan ayat-ayat alquran, dan perlahan-lahan hati mereka menjadi keras seperti batu bahkan akan lebih keras dari batu. Inilah yang digambarkan oleh Allah Ta’ala dalam surah Al Baqarah ayat 74.

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”….. (Al Baqarah: 74)

  1. Allah akan mencabut kenikmatannya dan digantikan dengan musibah

Alquran telah banyak memberikan banyak peringatan tentang akibat dari perbuatan dosa dan maksiat.

Diantaranya adalah Allah Ta’ala menenggelamkan semua penghuni bumi hingga air melampaui puncak-puncak gunung, sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam. Kehancuran yang menjemput kaum ’Aad yang memiliki peradaban tinggi. Mereka dihancurkan di atas bumi seperti pohon kurma yang telah lapuk, menghancurkan apa yang dilewatinya baik rumah, tanaman dan hewan, sehingga mereka menjadi bahan renungan bagi setiap kaum hingga hari kiamat. Hentakan suara yang mengakibatkan kaum Tsamud yang mengakibatkan hati mereka terpotong-potong hatinya hingga mereka binasa. Hancurnya kaum Nabi Luth hingga malaikat mendengar jeritan mereka, kemudian membalikkannya, yang atas jadi bawah dan yang bawah jadi atas. Mereka semua dihancurkan, kemudian disusul dengan hujan batu dari langit. Adzab kepada kaum Syu’aib berupa awan siksa yang menyerupai mendung, yang ketika sampai di atas kepala mereka awan tersebut menjadi hujan api yang panas. Ditenggelamkannya Fir’aun dan kaumnya di laut, kemudian jiwa mereka dipindahkan ke jahannam. Badan ditenggelamkan tetapi nyawa dibakar. Tenggelamnya Qarun beserta istana, harta, dan pengikutnya.

Apa yang menimpa dan menghancurkan mereka semua adalah akibat dosa-dosa dan kemaksiatan mereka.

أَلَمْ يَرَوْاْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاء عَلَيْهِم مِّدْرَاراً وَجَعَلْنَا الأَنْهَارَ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْناً آخَرِينَ

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah kami berikan kepadamu, dan kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain”. (Al An’am: 6)

Agenda kedua

  • Mengembalikan Gaya Kehidupan Sesuai Dengan Tuntunan Allah Dalam Berbagai Aspeknya

Tidak hanya shalat saja yang harus sesuai dengan syariat, namun pendidikan keluarga kita juga harus sesuai dengan tuntunan syari’at Allah. Tidak juga puasa yang harus sesuai dengan tuntunan Allah, namun juga pembagian waris harus sesuai dengan tuntunan Allah.  Tidak juga zakat yang harus sesuai dengan syari’at, namun kehidupan sosial, ekonomi, aktifitas bisnis kita harus juga sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Diantara doa yang sangat sering dilantunkan oleh bangsa ini ketika memohon pertolongan dari Allah Ta’ala dan berhajat di dalam sesuatu permohonan baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Mereka menengadahkan tangan mereka kepada Allah sambil berucap,

…… رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari seksa neraka”. (Al-Baqarah: 201)

Doa ini disarikan dari firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 201 dan telah dicontohkan juga oleh Rasulullah dalam berbagai hadits shahih.

Ada satu renungan yang menarik dari Imam Ibnu Katsir Rahimahullah ketika beliau menafsirkan ayat di atas bahwa di dalam ayat ini Allah menyebutkan manusia yang memperoleh keuntungan dunia dan akhirat, adalah orang-orang yang di dalam doanya selalu minta supaya mendapat kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan di jauhi dari siksaan api neraka.

Untuk mencapai hidup bahagia di dunia perlulah melalui beberapa syarat, di antaranya sentiasa bersabar dalam berusaha, patuh kepada peraturan dan disiplin yang di tetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pandai bergaul dan dipercaya serta mempunyai niat yang baik dalam usahanya.

Untuk mencapai hidup bahagia di akhirat haruslah mempunyai iman yang murni dan kuat, serta mengerjakan amal yang soleh dan mempunyai akhlak yang mulia. Maka untuk terlepas dari siksa hendaklah sentiasa meninggalkan pekerjaan-pekerjaan maksiat, menjauhkan diri dari sifat keji serta memelihara diri jangan sampai melakukan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Ta’ala karena pengaruh syahwat dan hawa nafsu.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (202)

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (Surah al-Baqarah ayat 202)

Mereka yang meminta kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat itulah yang akan mendapat nasib yang baik dan beruntung kerana kesungguhannya dalam berusaha dan beramal. Maksudnya mereka memohon kepada Allah dengan hatinya, yang diucapkan oleh lidahnya dengan kesungguhan jasmaninya dalam berusaha dan beramal. Hasilnya ialah keuntungan dan kebahagiaan. Ayat ini diakhiri dengan peringatan bahwa Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

Maksudnya ialah supaya setiap manusia tidak boleh ragu-ragu dalam berusaha dan beramal, sebab seluruhnya itu akan diperhitungkan oleh Allah dan tidak akan dirugikan-Nya seorang pun juga. Perhitungan Allah sangat cepat dan tepat sehingga dalam waktu sekejap mata saja, setiap manusia itu sudah dapat melihat hasil usaha dan amalnya dan sekaligus akan dapat menerima balasan dari usaha dan amalnya itu dari Allah Ta’ala.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala terus mengaruniakan keistiqamahan kepada kita, agar dalam semua aspek kehidupan ini kita bisa istiqamah berada di atas syari’at-Nya.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وتقبل الله مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ.

Oleh:Ust. Abdullah Hakamsyah, MA.

(Hud/Darussalam.id)

 

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved