Follow us:

DUA PELAJARAN BESAR DARI HIJRAHNYA RASULULLAH

Tahun Hijriyah adalah tahun umat islam dan sangat terkait dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Apa yang beliau putuskan, bukan tanpa alasan. Tetapi beliau berharap bahwa di kemudian hari umat islam selalu mengenang peristiwa hijrah tersebut. Sebab dalam peristwa hijrahnya Rasul, banyak kejadian yang menjadi pelajaran besar bagi umat sepanjang masa.

Dari banyak kejadian dalam hijrahnya Rasul, minimal ada dua kejadian yang menjadi pelajaran besar bagi umat islam.

  • Membangun Pusat Kegiatan Umat Islam (Masjid Quba’)

Setelah mengarungi padang pasir yang sangat luas dan amat panas akhimya pada tanggal 8 Rabiul Awal tahun 1 Hijrah tibalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Auf (Quba) yaitu sebuah tempat kira-kira 10 Km jaraknya dari Yatsrib (Madinah). Di sinilah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu menyusul Rasulullah setelah mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya. Selama empat hari beristirahat di Quba beliau mendirikan sebuah mesjid yang pertama kali didirikan dalam sejarah Islam sebelum masjid Nabawi.

Setelah empat hari beristirahat di Quba maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib melanjutkan perjalanan ke Yatsrib dan tiba di sana pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijrah atau tanggal 24 September 622 Masehi dengan mendapat sambutan yang hangat penuh kerinduan dan rasa hormat dari penduduk Yatsrib. Sejak kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di Yatsrib maka nama Yatsrib berubah menjadi Madinatun Nabiy artinya “Kota Nabi” dan selanjutnya disebut Madinah.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah saat berhijrah, hal pertama yang dilakukan Baginda Nabi adalah membangun masjid, yakni Masjid Nabawi. Tempat yang dipilih untuk membangun masjid itu merupakan pilihan unta Nabi saat pertamakali berhenti di Madinah.

Masjid tersebut menjadi tempat shalat bagi seluruh kaum muslimin Madinah. Sebelumnya, lokasi itu merupakan lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon kurma dan dijadikan kuburan beberapa orang musyrik.

Rasulullah membeli tanah itu dari pemiliknya, yaitu dua anak yatim dari bani Najjar. Kemudian Rasulullah mengajak para sahabat untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma”.

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.

Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari peristiwa ini kita bisa melihat bahwa ternyata agenda besar pertama kali yang dilakukan Rasulullah adalah membangun markas islam. Membangun pusat kegiatan umat isam. Sehingga masjid di zaman nabi bukan hanya digunakan untuk mendirikan shalat, tetapi masjid di masa Nabi dan pada masa Khulafa’ur Rasyidin dijadikan sebagai pusat kegiatan, aktifias, menyelesaikan berbagai macam persoalan yang dihadapi umat islam, bahkan khalifah Umar melatih kemiliteran di masjid.

Jadi, ruh masjid mestinya menjadi inspirasi besar bagi semua umat islam dalam melakukan agenda besar, dari mulai mengatur ekonomi sampai mengatur masyarakat dan negara, semuanya bermula dari masjid.

Karena apa? Karena masjid adalah pondasi awal yang dibangun oleh Rasulullah ketika beliau hijrah. Maka sangatlah wajar jika beliau menjadi pemimpin umat dan masyarakat. Bahkan rumah beliau tidak lebih dari ukuran 3×4 berada di dalam masjid. Dan memang ada hadits nabi yang menjelaskan bahwa rumah nabi dengan mimbar masjid tidak jauh.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي قال: “مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman diantara taman-taman surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Bukhari)

Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Jarak antara mimbar dan rumah Nabi adalah 53 hasta atau sekitar 26,5M.

Apakah ada amalan istimewa yang dianjurkan untuk dikerjakan dalam raudhah tersebut? Tidak ada. Maknanya, tidak ada keutamaan lain kecuali jika mengerjakan shalat dalam raudhah tersebut seakan-akan shalat diantara taman-taman syurga. Dan niatnya juga bukan untuk shalat sunnah Raudhah, namun niatnya hanya shalat sunnah Tahiyyatul Masjid.

Begitu pentingnya masjid, sehingga Rasulullah menyuruh umat islam untuk shalat berjama’ah di masjid meskipun harus mendatangi dengan merangkak, bahkan beliau mengancam membakar rumah-rumah bagi yang tidak berjama’ah di masjid. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullahu mengatakan, “Shalat ‘Isya’ dan Subuh [berjama’ah] itu paling berat bagi mereka -orang munafiq- apabila dibandingkan shalat yang lainnya [meskipun secara umum mereka juga malas untuk melakukan shalat yang lainnya] dikarenakan kuatnya dorongan untuk meninggalkan kedua shalat tersebut. Karena waktu Isyak adalah waktu yang tenang dan cocok untuk beristirahat sedangkan subuh adalah waktu yang enak untuk tidur…” (Fath Al-Bari, cet Dar Al-Hadits, 2/166).

Mari kita bersama-sama kembali ke masjid, banyak agenda besar yang bisa dibicarakan di masjid. Masjid adalah milik umat bukan milik sekelompok orang. Kalau kita menginginkan Allah memberikan hidayah-Nya, maka tanamkan semangat untuk takut hanya kepada Allah. Sehingga ketika berada dalam masjid, kepentingan kita adalah ingin memakmurkan masjid. Sebab, masih banyak agenda besar masjid yang belum selesai.

Diantara agenda besar masjid itu adalah melahirkan semangat memperbaiki kondisi masyarakat. Jika kondisi masyarakat telah baik, maka akan muncul sebuah wilayah kekuasaan islam. Kenapa islam belum tegak? Karena umat islam masih menjauhi agenda besar masjid. Padahal para sahabat dahulu justru memfungsikan masjid sebagai tempat kegiatan semua persoalan umat.

  • Mempersaudarakan Sahabat Muhajirin Dan Anshar

Jika Allah memberikan izin untuk bertemu lagi, maka pelajaran ini akan kita bahas dalam pertemuan selanjutnya..

Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh:Drs. Masdan Sutan Panis, MA.

(Hud/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved