Follow us:

Gencatan di Gaza, Tepi Barat Tetap Diserang

Gencatan senjata sementara yang disepakati di Gaza tak menghentikan aksi pasukan penjajahan Zionis Israel (IDF)  melanjutkan serangan militer dan kampanye penangkapan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat pada Jumat (24 November 2023). Penangkapan-penangkapan dan pembunuhan masih terus berlanjut.

Menurut laporan Anadolu Agency, tentara Zionis Israel melakukan penggerebekan di beberapa kota besar dan kecil di Tepi Barat. Tindakan ini mengakibatkan penangkapan banyak warga Palestina.

Dalam insiden terpisah, sumber medis Palestina memberi tahu, setidaknya satu warga Palestina terluka dalam serangan Zionis Israel ke kawasan Kota Tua Nablus. Saksi mata melaporkan, bahwa pasukan Zionis Israel menahan dua warga Palestina dalam penggerebekan di Nablus, dengan dua mobil warga Palestina dibakar sebelum pasukan mundur dari kota tersebut.

Ketegangan masih tinggi di Tepi Barat sejak pecahnya pertempuran antara kelompok Palestina dan Zionis Israel di Gaza pada 7 Oktober. Jeda kemanusiaan selama empat hari antara tentara Zionis Israel dan Hamas mulai berlaku di seluruh wilayah Jalur Gaza pada Jumat, menghentikan sementara serangan untuk pertukaran tahanan dan bantuan.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sejak 7 Oktober, 220 warga Palestina di Tepi Barat telah dibunuh oleh tentara Zionis Israel dan serangan oleh pemukim Zionis Israel. Tentara Zionis Israel telah melaporkan menahan lebih dari 1.800 warga Palestina dalam kurun waktu yang sama atas tuduhan bahwa sebagian besar dari mereka memiliki hubungan dengan kelompok perlawanan Palestina Hamas.

Sejak awal 2023, 416 warga Palestina telah terbunuh di Tepi Barat dalam operasi militer Zionis Israel, serangan oleh pemukim Zionis Israel, atau serangan pribadi. Kekerasan yang dilakukan pemukim Zionis Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah meningkat sejak serangan Hamas terhadap Zionis Israel pada 7 Oktober.

Tindakan itu pun menarik perhatian Barat, meski hanya menyoroti tindakan para pemukim Zionis Israel, bukan militer. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan,  meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh ekstremis di wilayah pendudukan Tepi Barat harus dihentikan. 

“Kita harus mencegah kekerasan menyebar, dan oleh karena itu hidup berdampingan secara damai hanya mungkin terjadi melalui solusi dua negara,” kata Von der Leyen pada konferensi pers di Kanada bersama Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

Awal pekan ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden juga mengatakan, bahwa AS siap mengeluarkan larangan visa terhadap ekstremis yang menyerang warga sipil di Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron juga mendesak Zionis Israel untuk menindak  kekerasan yang sama sekali tidak dapat diterima yang dilakukan oleh pemukim di Tepi Barat.

“Orang-orang sebenarnya menargetkan dan kadang-kadang membunuh warga sipil Palestina, itu benar-benar tidak dapat diterima dan orang-orang yang bertanggung jawab atas hal itu, tidak cukup hanya dengan menangkap mereka, mereka harus ditangkap, diadili, dan dipenjarakan. Ini adalah kejahatan,” kata Cameron.

Mantan perdana menteri Inggris ini melakukan kunjungan ke Ramallah di Tepi Barat. dia terlibat dalam diskusi dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas dan para pemimpin terkemuka Palestina lainnya.

Cameron mendesak Zionis Israel untuk mengambil tindakan tegas untuk mengekang insiden semacam itu dan menekankan pentingnya menegakkan standar hak asasi manusia di wilayah tersebut. “Laporan mengenai warga sipil Palestina yang dibunuh oleh pemukim di Tepi Barat sungguh mengerikan. Zionis Israel harus mencegah tindakan kekerasan ini dan meminta pertanggungjawaban mereka,” tulis Kementerian Luar Negeri di X.

Zionis Israel menduduki Tepi Barat dalam perang Timur Tengah pada 1967. Sejak saat itu, mereka membangun pemukiman Yahudi di sana yang dianggap ilegal oleh sebagian besar negara. Zionis Israel membantah hal ini dan mengutip hubungan historis dan alkitabiah dengan tanah tersebut.

Tepi Barat adalah rumah bagi tiga juta warga Palestina yang tinggal di antara lebih dari setengah juta pemukim Yahudi. Perluasan pemukiman yang berkelanjutan adalah salah satu isu yang paling diperdebatkan antara Zionis Israel, Palestina, dan komunitas internasional. 

Di Yerusalem, pasukan Zionis Israel menyerbu rumah dua tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran sandera dengan Hamas pada Jumat (24 November 2023) waktu setempat. Hal ini disampaikan oleh Kelompok Tahanan Palestina dalam pernyataannya.

“(Pasukan) Pendudukan Zionis Israel menyerbu rumah dua perempuan tawanan, Amani Al-Hashem dan Zeina Abdo di Yerusalem, dan memperingatkan keluarga Zeina untuk tidak melakukan wawancara pers,” kata Klub Tahanan Palestina, sebagaimana dilansir Middle East Monitor, Sabtu (25 November 2023).

Kelompok itu juga menyatakan, sejak Jumat pagi, pasukan pendudukan Zionis Israel telah memanggil anggota keluarga tahanan perempuan dari Yerusalem untuk diselidiki. Telepon mereka disita, dan mereka ditahan hingga sekarang. Bahkan pasukan Zionis Israel juga mengancam keluarga tahanan, Fatima Shaheen, di Betlehem, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan Hamas berkomitmen untuk menerapkan perjanjian jeda kemanusiaan alias gencatan senjata selama Zionis Israel mematuhinya. Hamas menegaskan komitmennya untuk melaksanakan perjanjian jeda kemanusiaan selama musuh berkomitmen untuk melaksanakannya.

“Kelanjutan upaya baik untuk mengakhiri agresi Zionis terhadap rakyat kami, ditambah dengan pencabutan pengepungan Gaza secara menyeluruh, pertukaran tahanan, penghentian serangan terhadap Masjid Al-Aqsa, dan memungkinkan rakyat kami untuk menggunakan seluruh kekuatan mereka. Hak nasional yang sah untuk mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya,” kata dia.

Haniyeh juga mengakui, Mesir dan Qatar telah melakukan upaya diplomasi yang rajin dan aktif hingga kesepakatan ini tercapai. Dia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua negara, menekankan kesiapannya untuk terus bekerja sama dengan kedua negara guna mencapai penghentian komprehensif agresi terhadap Gaza.

“Termasuk memberikan bantuan mendesak kepada warga Palestina di Gaza, dan melindungi rakyat Palestina di Yerusalem dan Tepi Barat,” ujarnya.

Gencatan senjata selama empat hari antara tentara Zionis Israel dan Hamas mulai berlaku pada Jumat pagi di seluruh wilayah Jalur Gaza. Ini menghentikan sementara serangan untuk pertukaran tahanan dan bantuan. Korban meninggal warga Palestina akibat serangan Zionis Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 14.854 orang. Korbannya termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 perempuan, sementara lebih dari 36.000 orang terluka. Adapun korban tewas di Zionis Israel yang disampaikan secara resmi, mencapai 1.200 orang. (UYR/Republika)

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved