Follow us:

APA HAKIKAT HIDUP KESUKSESAN

Oleh: Ustadz Fathuddin, MA.

Salah satu pesan Ramadhan adalah bagaimana Ramadhan membentuk hamba-hamba Allah manjadi pribadi-pribadi yang sukses. Sukses dalam konsepsi islam, sukses menurut pandangan alquran, pandangan sunnah Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam. Kalau kita lihat rangkaian ibadah yang Allah syariatkan dalam Ramadhan ini, mulai dari Shiyam, Qiyam, berdzikir, tilawah alquran, infaq, dan sebagainya, maka jelas sekali bahwa Ramadhan memiliki pesan agar kita menjadi pribadi yang sukses, tangguh, kuat, istqamah dalam iman dan islam, pribadi yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, situasi dan kondisi apapun.

Oleh karena itu, Ramadhan adalah penyeleksi siapakah hamba-hamba yang layak dikatakan sukses. Maka simaklah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران: 185)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Ali Imran: 185)

Ada 4 point besar yang disampaikan melalui ayat di atas,

Pertama, merupakan sunnatullah bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Ini adalah sunnatullah yang tidak bisa dibantah. Kematian adalah pemutus segala angan-angan dan segala kelezatan dunia, pemutus aktivitas dunia. Oleh karena itu, Allah mewanti-wanti agar kita tidak lengah dan agar siap tiap saat untuk menghadapi kematian.

Namun Allah Ta’ala merahasiakan kematian agar teruji siapa yang ingat mati dan siapa yang melupakannya. Siapa yang siap menghadapi kematian dan siapa yang lari dari kematian. Allah Ta’ala hanya memberikan kaidah umum bahwa setiap yang bernyawa pasti mati.

Kematian tidak ada kaitannya dengan masa muda, kesehatan, popularitas, kebesaran diri di mata manusia, pangkat yang tinggi dan tidak ada kaitannya dengan harta yang melimpah, kematian hanya terkait dengan satu perkara yaitu ajal. Kalau ajal sudah tiba, Allah akan mengambilnya, malaikat maut akan menghampiri dan mencabut nyawa kita dalam situasai dan kondisi apapun, baik dalam kondisi ketaatan atau maksiat (na’udzu billah). Dimanapun kita berada, baik dirumah sakit atau di jalanan, ketika ajal itu sampai, maka tidak akan ada penundaan sedikitpun. Tidak akan ada yang bisa untuk minta ditunda atau dipercepat, bahkan di medan perang, meskipun ditimpa oleh roket, terkena peluru, seseorang tidak akan mati kalau belum sampai ajalnya.

وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (المنافقون: 11)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Munafiqun: 11)

Oleh karena itu, jika berbicara tentang sukses maka kita harus berbicara tentang kematian. Karena jangan-jangan kita merasa sukses di dunia, namun akhirnya menderita sepanjang masa di akhirat. Karena kehidupan sekarang ini yang jauh dari alquran telah merubah makna dan definisi sukses yang benar. Apalagi kita terjerat dengan paham materialisme yang semuanya berstandarkan “materi”. Baik materi dalam bentuk uang, rumah, kendaraan maupun dalam bentuk ketenaran, kesohoran, nama besar, darah biru, itulah yang menjadi standar masyarakat hari ini. Sehingga definisi sukses tersebut sangat kerdil dan berjangka pendek.

Kedua, Pahala akan disempurnakan pada hari kiamat

وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu”

Kita lihat kenyataan di dunia ini, keadilan tidak tegak dengan sebenarnya! Memang, di dunia ini sudah ada balasan, namun belum sempurna. Demikian juga di alam kubur, namun itu juga belum sempurna. Balasan yang sempurna adalah setelah pengadilan agung pada hari kiamat. Sudah siapkah kita menghadapinya? Siapkah kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita?

Kehidupan manusia tidak terhenti di dunia melainkan akan kekal di akhirat. Sebab itu, sukses merupakan jangka panjang, apakah seseorang akan berada di surga ataukah di neraka.

Menentukan arah tujuan ke surga atau neraka bukan kemarin atau yang akan datang, melainkan hari ini. Karenanya di dalam alquran, Allah Ta’ala memotivasi untuk mengejar sukses akhirat dengan berbagai macam istilah. Seperti; datang kepada Allah.

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (الصافات: 99)

“Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan dia akan memberi petunjuk kepadaku”.  (Ash Shaffat: 99)

Berlomba-lomba dalam kebaikan, tidak hanya melihat dan menunggu.

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (البقرة: 148)

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al Baqarah: 148)

Berlari kepada Allah

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (الذاريات: 50)

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya Aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu”. (Adz Dzaariyat: 50)

Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu menurut persangkaan hamba kepada-Nya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –  يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (HR. Bukhari)

Diantara faedah hadits ini adalah mengajarkan untuk berhusnuzhon (berprasangka baik) pada Allah. Yaitu setiap hamba hendaklah berprasangka pada Allah bahwasanya Dia maha pengampun, begitu menyayangi hamba-Nya, maha menerima taubat, melipatgandakan ganjaran dan memberi pertolongan bagi orang beriman. Berhusnuzhon pada Allah di sini dibuktikan dengan seorang hamba punya rasa harap dan rajin memohon do’a pada Allah.

Ketiga, Sukses menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung”.

Inilah keberuntungan hakiki, inilah kesuksesan abadi, inilah puncak harapan sejati, inilah yang pantas dijadikan cita-cita. Yaitu selamat dari neraka dan masuk ke dalam surga. Dan ini tidak akan terjadi, kecuali jika seorang hamba mendapat rahmat Allah, rahmat ar-Rahman, rahmat ar-Rahim. Adapun sarana untuk meraih rahmat Allah, wasilah masuk surga, sebab selamat dari neraka, adalah iman dan amal shaleh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ´Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Al-Bayyinah: 7-8)

Namun jika seseorang tidak beriman, maka dia disebut seburuk-buruk makhluk dan kekal di dalam neraka. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Jadi, definisi sukses yang bersifat materialistic duniawi tersebut harus dibuang jauh, karena akan menghancurkan masa depan dan merusak seluruh kehidupan kita, padahal kehidupan kita sesungguhnya adalah di akhirat kelak. Walaupun jalan itu sudah jelas, kebenaran terang-benderang, ternyata banyak manusia tertipu dan terpedaya di dunia ini.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ )التحريم: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At Tahrim: 6)

Keempat, Dunia hanya kesenangan yang menipu

Fokus kita sekarang adalah bagaimana menyelamatkan diri dan keluarga kita sukses masuk surga Allah dan terhindar dari api neraka. Faktor besar yang menjadi penghambat untuk meraih sukses akhirat adalah kenikmatan dunia yang menipu. Hal inipun telah dijelaskan dalam firman-Nya,

وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران: 185)

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Ali Imran: 185)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (المنافقون: 9)

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al Munafiqun: 9)

Al-Allamah As-Sa’di Rahimahullahu mengatakan:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk memperbanyak berdzikir kepada-Nya, karena hal itu akan mendatangkan keberuntungan, kemenangan, dan kebaikan yang banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang mereka tersibukkan dengan harta dan anak-anak mereka dari berdzikir kepada-Nya. Karena mencintai harta dan anak-anak adalah sesuatu yang menjadi tabiat kebanyakan jiwa, sehingga akan menyebabkan lebih dia utamakan daripada kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hal itu akan mendatangkan kerugian yang besar.

Oleh karenanya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman ‘Barangsiapa yang melakukan itu’, yaitu harta dan anak melalaikannya dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘maka mereka itulah orang-orang yang merugi’ dari mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan yang fana daripada kehidupan yang kekal. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Al-Alusi Rahimahullahu berkata: “Janganlah karena mementingkan pengurusan (anak-anak dan harta) dan memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa shalat dan ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq Subhanahu wa Ta’ala.” (Tafsir Al-Alusi)

Asy-Syaukani Rahimahullahu menyebutkan bahwa harta dan anak-anak yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu akhlak kaum munafiqin. (Fathul Qadir)

Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi bulan training kesuksesan bagi orang-orang beriman.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved