Follow us:

Hakekat Musibah

Oleh:KH. Drs. Qomaruddin, MA.

Akhir-akhir ini kita menghadapi berbagai musibah.  Mulai dari bencana alam, pandemi Covids 19 hingga yang terbaru, jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ 182.

Air mata seakan tiada kunjung mengering,  karena musibah datang silih berganti.   Sebagai hamba Tuhan YME, sudah sepatutnya kita menyerahkan segala hidup dan mati kita semata kepada-Nya.

Allah mensinyalir dalam Al Quran bahwa “pasti” setiap kaum akan diberikan berbagai musibah.  Musibah yang menimbulkan rasa takut akan  keterbatasan resource seperti kebutuhan pokok (sandang,  pangan dan papan), terputusnya akses seperti informasi  dan transportasi, hingga terancamnya keselamatan harta dan nyawa.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: Al Baqarah: 155).

Kata “pasti” pada ayat tersebut,  berdasarkan petunjuk lam taukid yang bermakna “benar-benar akan diberikan”.  Isyaratnya bahwa hendaknya kita menyiapkan diri kita, bahwa hidup tidak selalu landai,  kadang menurun, kadang mendaki.  Seperti gelombang,  suka dan duka datang silih berganti.  Kita mesti menyiapkan jiwa dalam segala medan kehidupan.  Karena mustahil juga  kita menghindar darinya.

Musibah atau dalam bahasa Arnold van Gennep disebut krisis, sejatinya selalu membuat manusia getir.   Tidak ada manusia yang berkenan hidupnya dihantam  krisis.   Sebisa mungkin, naluri manusia menghindar dari resiko krisis.  Maka secara antropologis, manusia berupaya menciptakan berbagai ritus (atau ritual) sebagai media untuk berdamai dengan krisis.  Dari sini Arnold melahirkan teorinya tentang “rites the passage” (ritus siklus kehidupan).

Kiranya kita juga perlu berpandangan yang sama,  ketimbang menghindar,  lebih baik kita berdamai dengan krisis (musibah).  Dengan cara menimba hikmah dari segala musibah yang menimpa.  Jika perlu, musibah menjadi “madrasah” yang mengasuh jiwa dengan hikmah dan ibrah.  

Karena sesungguhnya, Allah SWT tidak menurunkan musibah kepada manusia,  kecuali Ia hendak mengisyaratkan sesuatu kepada manusia.   Bisa karena Ia hendak menunjukkan tentang kebijaksanaan (wisdom) yang tinggi,  bisa hendak menaikkan derajat ketaqwaan sang hamba, atau bisa pula Ia hendak mempertontonkan  kedigjayaan-Nya.

Apa sesungguhnya hakekat dari musibah?

Musibah secara bahasa, adalah serapan dari bahasa Arab mushibah.  Secara etimologi,  kata mushibah adalah masdar dari akar kata ashaba – yushibu – mushibah yang bermakna menimpa atau mengenai.  Secara terminologi bermakna ujian atau cobaan.

Dalam Al Quran kata mushibah diulang berkali-kali. Berdasarkan kitab al-Mu’jam al-Mufradat fi Alfadz al-Qur’an al-Karim, dikatakan paling tidak ada 77 kali kata musibah disebutkan dalam al Quran. Sementara dalam Indek Al Quran (Azharuddin Sahil, 2007) dikatakan terulang 13 kali.

Perbedaan ini terjadi berdasarkan pengkategorian kata, bisa dalam bentuk fi’il madhi, mudhari atau masdar. Sedangkan pada indeks Al Quran yang ditulis Azharuddin, 13 kali menggunakan kata musibah dan ada 2 ayat (Qs. Ar-Rum:36 dan Al Hujurat:6) tidak menggunakan term mushibah, tapi dalam bentuk mudhari “tushibhum saiat” dan “tushibu“.

Dari 13 ayat yang memuat term mushibah mengandung beberapa arti yaitu kesulitan atau bencana, kekalahan dalam perang, sesuatu yang buruk/bencana akibat ulah tangan diri sendiri, kematian, adzab karena dosa, mencelakakan/membahayakan. Semuanya menunjukkan pengertian yang negatif dan membuat manusia susah (atau tidak menyenangkan).

Pendapat ini sejalan dengan sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Ikrimah berikut:

“Pada suatu malam lentera nabi ﷺ mendadak padam. Lalu Nabi membaca: innalillahi wa inna ilaihi raji‟un (sesungguhnya kami adalah milik Allah swt dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali).  Para sahabat bertanya: “Apakah ini termasuk musibah wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ya, apa saja yang menyakiti orang mukmin disebut musibah.” (HR. Abu Daud).

Jadi,  dapat disimpulkan bahwa,  musibah adalah krisis yang dapat menghambat dan menghilangkan kesenangan dan kebahagiaan manusia (human’s pleasure and happiness).  Bencana alam,  wabah penyakit,  kecelakaan,  kematian dan termasuk mendapatkan amanah kedudukan adalah diantara contoh musibah.  Jabatan juga musibah,  karena menjadi pejabat pada hakekatnya tidak nyaman dan kadang menjadi  beban,  meskipun kesenangannya juga banyak.

Dari beragam bentuk musibah tersebut,  secara umum ada dua pola,  berdasarkan perspektif Al-Quran yaitu; musibah sebagai manifestasi dari hukum alam dan musibah sebagai akibat dari ulah tangan manusia.  Meskipun secara hakikat semua merupakan ketetapan Tuhan dan telah tertulis di lauhul mahfudz  (QS. 57:22 dan 64:11).

Adapun tujuan diberikan musibah beragam,  kadang sebagai batu ujian untuk melatih kesabaran manusia.  Untuk menguji proses kenaikan taraf ketaqwaan sang hamba.  Kemudian juga  sebagai bentuk “hukuman” dan “peringatan” atas kelalaian manusia maupun akibat kerusakan oleh  “tangan-tangan” (perbuatan) manusia itu sendiri.

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved