Follow us:

Iklim Sekolah: Tak Terlihat, Tapi Menentukan

Saya ayah dari empat anak. Anak ketiga kami dipanggil Allah satu jam setelah lahir. Kehilangan itu mengajarkan saya bahwa setiap anak adalah amanah yang tak tergantikan. Kini ketiga anak kami menimba ilmu di jenjang pendidikan yang berbeda, dan sebagai orang tua, saya sangat ingin mereka tumbuh di tempat yang iklimnya mendukung, atau yang dalam kajian pendidikan disebut iklim sekolah (school climate). 

Apa yang dimaksud tempat dengan iklim yang mendukung itu? Tentu saja setiap orang akan berbeda memahami dan memaknainya, bagi si A mungkin ruangan ber-AC, halaman yang luas. Bagi si B bayarannya harus mahal, sebab dengan bayaran mahal pasti akan lahir pelayanan maksimal. Bagi si C cukup dengan aturan yang ketat sebagai panduan atau SOP.

Bagaimana fakta saat ini tentang lingkungan sekolah/madrasah sebagai institusi luhur, tempat thalibin (pencari ilmu) berada? Pastinya anak kita (saya dan anda) telah, sedang atau akan berada di sana. Apakah sekolah/madrasah yang mahal pasti nirmasalah. Apakah sekolah/madrasah segudang fasilitas bebas dari masalah, apakah aturan yang ketat juga memakmurkan jiwa anak-anak?. Jawabannya bisa kita saksikan dari data yang dirilis lembaga pemerintah maupun swasta.

Berdasarkan data rapor pendidikan tahun 2024, pada domain “iklim sekolah” secara umum sudah baik, namun masih ada yang berpredikat “sedang” pada jenjang SMP kesetaraan. Maksud kategori “Sedang” adalah bahwa sekolah mulai mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, guru, dan tenaga pendidikan. Predikat ini masih bisa diperdebatkan dari sisi metodologis. Dari sisi lain, kabar tentang persoalan di sekolah dan madrasah mudah kita temukan di berbagai media, baik media arus utama maupun media sosial. Salah satu yang paling sering muncul adalah perundungan (bullying).

Hasil PISA 2025 yang dirilis OECD pada September 2026 menunjukkan bahwa 24,1% siswa Indonesia mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Angka ini berada di atas rata-rata negara-negara OECD, yaitu 20%. Bentuk perundungan yang paling banyak dialami adalah diejek atau dijadikan bahan olok-olok (15,2%), disusul penyebaran rumor buruk (11,6%), penyebaran informasi pribadi secara daring tanpa izin (7%), kekerasan fisik seperti dipukul atau didorong (5,6%), dan ancaman dari siswa lain (3,2%).

Berkaca dari masalah di atas, saya melihat persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari iklim sekolah (school climate). Baik buruknya sebuah lembaga pendidikan, termasuk apakah ia mendukung tumbuh kembang anak atau tidak, sangat beririsan dengan iklim sekolahnya. Iklim sekolah didefinisikan sebagai “the quality and character of school life” (kualitas dan karakter kehidupan sekolah). Thapa dkk. (2013) memetakannya ke dalam lima dimensi: keamanan (safety), hubungan antarwarga sekolah (relationships), pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning), lingkungan kelembagaan (institutional environment), serta proses perbaikan sekolah (school improvement process).

Bersama tim, saya menelaah studi-studi tentang iklim sekolah yang terbit pada 2020 sampai 2025, dan hasilnya kami terbitkan di jurnal School Effectiveness and School Improvement (Mujahid dkk., 2026). Sebagian besar studi itu berasal dari sembilan negara: Amerika Serikat, Kanada, Belgia, Chile, China, Finlandia, Spanyol, Swedia, dan Singapura. Pesannya serupa: di sekolah yang iklimnya baik, hasil siswanya juga cenderung baik.

Kaitan itu terlihat setidaknya dalam empat hal. Pertama, prestasi akademik. Siswa di sekolah yang suasananya mendukung dan menyenangkan cenderung meraih skor lebih baik, termasuk dalam matematika dan literasi. Kedua, kesejahteraan emosional. Sekolah yang hangat, aman, dan menerima keberagaman beriringan dengan siswa yang lebih sejahtera secara emosional dan hubungan yang lebih kuat antara siswa dan staf sekolah. Ketiga, perilaku dan keterlibatan. Siswa yang memandang sekolahnya positif cenderung lebih aktif, baik dalam belajar maupun bergaul. Keempat, sekolah itu sendiri. Sekolah dengan iklim yang baik umumnya lebih tertib, dan warganya lebih puas.

Lalu, apa yang membentuk iklim sekolah yang baik? Kajian kami menemukan empat faktor kunci: kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dalam urusan pembelajaran dan organisasi, hubungan yang harmonis antarwarga sekolah, lingkungan yang aman dan inklusif, serta guru dan staf yang terus mengembangkan diri. Khusus soal kepemimpinan, keyakinan kepala sekolah dan guru secara bersama akan kemampuan mereka secara konsisten berkorelasi dengan iklim sekolah yang baik.

Temuan ini membawa pesan sederhana bagi madrasah: iklim sekolah bukan pelengkap, melainkan bagian dari mutu itu sendiri. Bagi kepala madrasah, kepemimpinan perlu diarahkan tidak hanya pada urusan administrasi, tetapi juga pada upaya membangun rasa aman dan hubungan yang sehat di antara seluruh warga madrasah. Bagi guru, kelas adalah tempat pertama anak merasakan iklim itu: dari cara guru menyapa, menegur, dan memberi kesempatan bertanya. Bagi pemangku kebijakan, data iklim yang sudah dikumpulkan melalui Survei Lingkungan Belajar dalam Asesmen Nasional perlu benar-benar dibaca dan dijadikan dasar pembinaan, bukan berhenti sebagai laporan.

Sebagai orang tua, saya kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini. Ruangan ber-AC, biaya yang mahal, dan aturan yang ketat tidak salah, tetapi semua itu belum menjamin anak tumbuh dengan baik. Yang lebih menentukan adalah apakah anak merasa aman, dihargai, dan diperhatikan setiap kali ia melangkah masuk ke madrasahnya. Itulah iklim sekolah. Ia tidak tercantum di brosur penerimaan siswa baru, tetapi anak-anak kita merasakannya setiap hari. Madrasah, sebagai rumah para thalibin, layak menjadi tempat yang paling aman bagi mereka.

Penulis: Mujahid (Mahasiswa Ph.D. pada SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved