Inspirasi Pembebasan Al-Aqsa (Bagian 2)
‘Cahaya Agama’
Imaduddin Zanki memiliki dua orang putra, yakni si sulung Syaifuddin Ghazi dan si bungsu, Nuruddin Mahmud. Setelah Imaduddin mangkat, keduanya membagi wilayah kekuasaan yang ditinggalkan sang ayah. Sebelah timur yang berpusat di Mosul dikendalikan sang kakak. Adapun sang adik menguasai Syam, dengan Aleppo sebagai ibu kota.
Begitu kekuasaan berada di tangannya, Nuruddin Mahmud—namanya berarti ‘cahaya agama’—langsung menyusun kekuatan untuk menyerang sejumlah kerajaan yang dibentuk Pasukan Salib di Syam. Pemimpin muslim itu berhasil merebut Antiokhia pada pertengahan abad ke-12.
Ia dan pasukannya juga mengambil beberapa benteng Salibis di bagian utara Syam. Bala tentara yang dipimpinnya juga berhasil mematahkan serangan Joscelin II yang berupaya mencaplok Edessa, salah satu wilayah kekuasaan Zankiyah.
Nuruddin mengusir seluruh rakyat Kristen dari Edessa. Sebab, mereka terbukti membantu tentara Jocelin II saat melawan pasukan muslim. Pada 1147, Nuruddin menandatangani perjanjian temporal dengan gubernur Damaskus, Mu’inuddin Unur.
Dengan begitu, konsolidasi dengan negeri-negeri muslim di utara dapat kukuh. Sebagai bagian dari kerja sama, ia menikahi putri sang gubernur. Setelah Aleppo dan Damaskus membangun aliansi, penyerangan atas Bosra dan Sarkhand pun dapat dilancarkan.
Kedua kota tersebut direbut oleh pengikut Mu’inuddin yang memberontak. Lantaran gagal merebut Edessa pada Perang Salib I, kerajaan-kerajaan Kristen dari Eropa mulai melancarkan misi Perang Salib II. Raja Prancis Louis VII dan raja Jerman Conrad III memantik meletusnya palagan (perang) tersebut.
Akan tetapi, upaya Salibis untuk melawan pasukan Islam tak berjalan mulus. Mereka dihadapkan pada kekuatan militer tangguh yang dipimpin Nuruddin. Ambisi Louis VII dan Conrad III pun tak kesampaian. Damaskus tak dapat ditembus keduanya.
Kegagalan dua raja Kristen itu dimanfaatkan dengan baik oleh Nuruddin. Pada 1149, penguasa muslim berdarah Turki itu pun menggerakkan pasukannya untuk mengambil alih Antikhia sekali dan untuk selamanya. Pangeran Antiokhia, Raymond Poitiers, tak kuasa membendung semangat juang muslimin. Bahkan, putra raja William IX itu tewas dalam perang tersebut.
Kini, “hanya” tinggal Damaskus yang belum dikuasai Nuruddin di Syam. Mu’inuddin, sang penguasa kota tersebut, cepat-cepat beraliansi dengan kerajaan-kerajaan Kristen yang tersisa. Dua kali pemimpin Zankiyah itu berusaha pada 1150 dan 1151, hasilnya tidak banyak berubah.
Barulah kira-kira tiga tahun kemudian, Damaksus dapat dikuasai. Maka sejak 1154, mayoritas Syam berada dalam genggaman Nuruddin.
Beberapa tahun kemudian, Syaifuddin Ghazi wafat di Mosul dan digantikan oleh Qutbuddin. Lantas, Qutbuddin menyerahkan kekuasaannya kepada Nuruddin Mahmud. Alhasil, kendali Nuruddin kini meliputi wilayah luas yang membentang antara pesisir Mediterania Timur dan Irak.
Mengutamakan persatuan
Begitu menjadi raja atas seluruh wilayah Dinasti Zankiyah, Nuruddin Mahmud langsung menerapkan berbagai strategi dalam menyusun kekuatan muslimin. Ia pertama-tama berfokus pada persatuan umat. Sebab, masalah penting saat itu bukanlah sedikitnya orang Islam dibandingkan Tentara Salib. Kemenangan musuh, di satu sisi, menandakan bahwa jumlah yang banyak tidak akan berarti tanpa diorganisasi secara matang.
Nuruddin juga meyakini bahwa aspek mental tidak kurang pentingnya. Kaum muslimin perlu ditempa wataknya agar tangguh dan berani. Ia tidak ingin mereka terjangkit penyakit-hati yang sudah diperingatkan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis, yakni wahn—cinta dunia dan takut mati.
Karena itu, pemimpin berkebangsaan Turki itu mencurahkan perhatian yang begitu besar pada dunia pendidikan. Prof Ali Muhammad ash-Shallabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Daulah Zankiyah (2007) mengatakan, umara yang bijaksana itu mendirikan banyak lembaga pendidikan Islam di sekujur wilayah kekuasaannya. Di samping itu, lanjut sejarawan tersebut, sang raja Zankiyah juga membangun pelbagai infrastruktur publik lainnya, semisal jalan raya, penginapan gratis untuk musafir haji, saluran irigasi, serta pasar-pasar.
Nuruddin mewakafkan banyak lahan miliknya pribadi untuk kepentingan umat. Di antara tanah-tanah yang diwakafkannya, ada yang menjadi taman-taman, masjid-masjid raya, dan tentunya madrasah-madrasah. Semua itu dimaksudkannya sebagai ladang amal jariyah demi meraih ridha Allah SWT.
“Nuruddin Mahmud benar-benar menyadari bahwa di antara faktor-faktor pendukung kebangkitan umat adalah kepemimpinan rabbani (yang mendekatkan diri kepada Allah),” tulis ash-Shallabi.
Tidak mungkin mewujudkan negeri yang baik (baldatun thayyibatun), yang diliputi rahmat dari Tuhan Yang Mahapengampun (wa Rabbun Ghafuur), tanpa melibatkan alim ulama. Bahkan, umara-lah yang dibimbing ulama. Bukan sebaliknya.
Menurut ash-Shallabi, aktivitas pendidikan dan keilmuan pada masa Nuruddin bukan sekadar hasil dari lembaga-lembaga yang dibentuk pemerintah. Sebab, kaum cendekiawan kala itu juga memiliki rancang-bangun besar (grand design) yang bertujuan luhur.
Kaum intelektual yang peduli pada upaya kebangkitan Islam hendak menguatkan jiwa tauhid pada diri kolektif generasi Muslimin. Hal itu melalui pendidikan secara berkelanjutan. Mereka bermaksud mencetak generasi yang tidak sekadar alim dunia, tetapi ukhrawi-duniawi sekaligus.
Menurut ash-Shallabi, Nuruddin Mahmud pada dasarnya merupakan seorang ulama sebelum menjadi seorang pemimpin pemerintahan. Putra Imaduddin Zanki itu selalu haus akan ilmu pengetahuan sehingga menyukai diskusi-diskusi keilmuan. Ia juga berupaya memetik keteladanan dari para pendahulunya yang saleh.
“Para ulama dalam pandangan Nuruddin Mahmud menempati kedudukan yang mulia dan agung. Ia mengundang mereka dalam forum-forum yang diselenggarakannya, menghormati dan bersikap rendah hati di hadapan mereka,” kata ash-Shallabi.
Reputasi Dinasti Zankiyah pun menyebar luas hingga ke kota-kota besar dunia Islam, semisal Baghdad, Nishapur, dan Ray. Banyak alim ulama yang kemudian memutuskan bermigrasi ke Syam, utamanya Aleppo dan Damaskus. Bahkan, tidak sedikit akademisi dan lulusan universitas-universitas Nizhamiyah yang turut hijrah. Mereka ingin berkontribusi pada upaya kebangkitan Islam di bawah bendera Bani Zankiyah.
Fenomena itu sangat menakjubkan. Sebab, Syam sejak jatuhnya Dinasti Umayyah pada pertengahan abad kedelapan Masehi cenderung sepi dari aktivitas-aktivitas ilmiah. Sinarnya kalah terang dibandingkan Irak dan Persia pada era Abbasiyah awal, khususnya dengan Bait al-Hikmah di Baghdad yang memesona. Pamor Syam sebagai tempat bermukimnya kaum cerdik cendekia juga kalah tenar dari Andalusia kala itu.
Namun, Wangsa Zankiyah mampu mengubah keadaan tersebut. Syam kembali menjadi pusat intelektual Islam yang terang benderang. Madrasah-madrasah bertumbuhan di mana-mana di seluruh negeri tersebut. Di sanalah titik-titik temu para ulama, pakar fikih, sufi, cendekiawan, dan saintis dari pelbagai wilayah.
Ash-Shallabi menyebutkan beberapa alim yang berpindah ke Syam. Misalnya ialah Imaduddin Abu al-Fath (guru besar sufi), Abu al-Fath bin Abul Hasan al-Faqih (seorang guru besar Nizhamiyah), Hasan bin ash-Shafi (pakar gramatika Arab yang dijuluki “raja nahwu”), serta Quthbuddin Mas’ud an-Nisaburi (ahli fikih mazhab Syafii). Tentunya, tidak sedikit ahli ilmu yang berasal dari dalam negeri Syam, semisal pakar hadis yang juga penulis Tarikh Dimashiq, Ibnu Asakir.
Yang juga istimewa dari sosok Nuruddin Mahmud ialah sikapnya yang toleran. Ia menghindari fanatisme terhadap mazhab-mazhab tertentu dalam ahlus sunnah waljama’ah (Sunni). Dalam fikih, dirinya berhaluan Hambali. Namun, tidak pernah penguasa Syam itu menutup pintu bagi para pembelajar dan dai dari aliran fikih-Sunni manapun.
Selain itu, pemimpin yang rutin mendirikan shalat tahajud itu juga mengagumi metode reformasi (islah) yang digagas Imam al-Ghazali (1058-1111 M). Gerakan Islah sang Hujjatul Islam kemudian digiatkan lagi oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1077-1166 M) melalui madrasah-madrasah Qadiriyah yang didirikan oleh dirinya serta para pengikutnya di Irak. (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments