Isra Mikraj: Spiritualitas yang Melahirkan Tanggung Jawab Sosial
Isra Mikraj merupakan salah satu momentum utama dalam perjalanan kenabian Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini tidak hanya dimaknai sebagai pengalaman spiritual yang luar biasa, tetapi juga sebagai titik berangkat lahirnya orientasi etis bagi kehidupan umat. Melalui Isra Mikraj, umat diajak menyadari bahwa kedekatan dengan Allah selalu membawa konsekuensi moral dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Peristiwa ini menegaskan bahwa pengalaman religius tidak berhenti pada relasi vertikal antara manusia dan Tuhan. Spiritualitas justru menemukan maknanya ketika hadir dalam relasi horizontal, yakni dalam sikap adil, jujur, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Dengan cara inilah Isra Mikraj mengajarkan keterpaduan antara ibadah dan akhlak sosial.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (2002) menjelaskan bahwa pengalaman spiritual dalam Islam selalu terkait dengan misi perbaikan kehidupan. Kedekatan dengan Allah bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan energi etis yang menggerakkan terwujudnya keadilan, ketertiban dan kasih sayang dalam relasi antarmanusia. Spiritualitas yang tidak membuahkan perubahan perilaku kehilangan daya transformasinya.
Kesadaran ini penting agar umat tidak terjebak pada dimensi ritual semata. Mun’im Sirry dalam Kontroversi Islam Awal (2015) mengingatkan bahwa narasi keagamaan hadir dalam ruang sejarah dan dipahami melalui proses penafsiran manusia. Karena itu, pesan keagamaan perlu dibaca bukan hanya dari bentuk lahiriahnya, tetapi dari arah nilai dan tujuan moral yang hendak dibangun.
Jika ditarik ke horizon yang lebih luas, pengalaman perjalanan spiritual juga dikenal dalam berbagai tradisi keagamaan. Karen Armstrong dalam Sejarah Tuhan (2001) menunjukkan adanya kisah-kisah serupa, seperti Henokh dalam tradisi Yahudi, pengalaman mistik Rasul Paulus dalam tradisi Kristen, serta kisah Arda Viraf dalam tradisi Persia kuno. Meski berbeda latar dan keyakinan, kisah-kisah tersebut memperlihatkan pola yang sejalan: pengalaman transendental selalu diikuti oleh panggilan etis untuk memperbaiki kehidupan.
Pola ini menunjukkan bahwa religiositas sejati bukanlah pelarian dari dunia, melainkan sumber komitmen terhadap dunia. Seseorang yang mengalami “kenaikan” secara rohani justru dipanggil untuk “turun” kembali dengan kepekaan sosial yang lebih tajam, empati yang lebih luas, dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap sesama manusia.
Komaruddin Hidayat dalam Agama Punya Seribu Nyawa (2012) menyatakan bahwa agama yang hidup adalah agama yang menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan, ketidakadilan dan kerentanan manusia. Oleh sebab itu, ukuran kedalaman iman tidak hanya terletak pada intensitas ritual, tetapi pada kualitas kepedulian sosial yang diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks kehidupan kebangsaan yang beragam, pesan ini menjadi semakin relevan. Agama tidak hadir di ruang publik sebagai sarana kompetisi kebenaran, melainkan sebagai sumber nilai etika bersama. Isra Mikraj mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan seharusnya memperhalus relasi dengan sesama, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan tanggung jawab kolektif untuk merawat kebersamaan.
Membaca Isra Mikraj secara lintas perspektif tidak berarti mencairkan perbedaan iman, tetapi memperkaya cara memahami pesan kemanusiaan yang dikandungnya. Di balik kisah perjalanan menembus langit, tersimpan seruan agar manusia menjadi lebih adil, lebih rendah hati dan lebih peduli terhadap kehidupan bersama.
Akhirnya, Isra Mikraj mengingatkan bahwa puncak pengalaman religius tidak dimaksudkan untuk meninggikan seseorang di atas yang lain, melainkan untuk membentuk manusia yang lebih beradab. Naik ke langit bukanlah tujuan akhir, tetapi jalan untuk kembali ke bumi dengan hati yang lebih jernih, sikap yang lebih bijak, dan tangan yang lebih siap membangun kebaikan bersama.
Penulis: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd. (Kasi PAPKI Kantor Kemenag Kabupaten Tanggamus). (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments