Follow us:

JANGAN MENYISAKAN SIFAT BINATANG

Ust. Ahmad Farid Oqbah, MA

Barangkali pada Idul Qurban yang lalu para pembaca telah menyembelih kambing dan sapi. Mudah-mudahan dengan itu semua disembelih juga sifat binatang pada diri kita. Sebab, banyak orang yang menyembelih tapi masih menyisakan sifat binatang pada dirinya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Al A’raf: 179)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita bahwa Ia telah menyiapkan neraka Jahannam untuk  jin dan manusia disebabkan mereka punya hati tidak digunakan untuk memahami, punya mata tapi tidak digunakan untuk melihat, dan mereka punya telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar, maka permisalan mereka tidak ubahnya seperti binatang-binatang ternak bahkan lebih rendah dari binatang ternak. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat ini sangat dalam sekali untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa neraka telah diciptakan oleh Allah sebagai tempat untuk menghukum makhluk-makhluk-Nya yang inkar pada-Nya. Padahal Allah Ta’ala telah memberikan kepada mereka segala kebutuhannya, menyempurnakan segala hal yang ada dalam dirinya, namun mereka-lah yang akan menempati neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat.

Dan Allah juga menyiapkan syurga bagi hamba-hamba-Nya yang taat dan memberikan nikmat kepada mereka, sebagaimana dalam riwayat Imam muslim meriwayatkan dalam shahinya bahwa Allah memiliki 100 rahmat namun hanya 1 rahmat saja yang diturunkan ke bumi, sedangkan 99 rahmat lainnya akan diberikan kepada penghuni syurga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdulloh bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik dari ‘Atha dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Alloh yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim)

Kita akan membahas ayat terkait permisalan jin dan manusia dengan binatang ternak karena tidak menggunakan hati, mata dan telinga mereka. Oleh itu, janganlah kita seperti binatang ternak yang memang dibesarkan untuk dikonsumsi oleh manusia. Dan jangan juga menjadi seorang yang dibesarkan hanya untuk menjadi warga-warga neraka Jahannam.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menciptakan mati dan hidup untuk menguji manusia siapakah diantara kita yang lebih baik amalnya, bukan yang paling ganteng, bukan paling tinggi keturunannya, bukan yang paling hebat kedudukannya, tetapi Allah  menetapkan yang paling bagus amalnya.

Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam).”

Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullahu lalu berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima”. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab al Hanbali)

Oleh sebab itu, tidak ada seorangpun manusia yang hidup di dunia dalam keadaan senang terus maupun susah selamanya. Terkadang senang dan terkadang susah. Kita diuji oleh Allah Ta’ala dengan 2 hal yaitu:

Pertama, Ujian Syari’ah

Ditetapkan oleh Allah ketika berusia baligh, kemudian seluruh ucapan maupun perbuatan kita dicatat oleh 2 Malaikat yang berada di kanan dan kiri manusia.

Suatu kali Nabi Isa Alaihissalam berkata:

طُوبَى لمن كان قِيلُه تذكّرًا، وصَمْته تَفكُّرًا، ونَظَره عبرًا.

“Sungguh beruntung orang yang perkataannya adalah dzikir, diamnya adalah bertafakkur, penelitiannya adalah untuk mengambil pelajaran”.

Untuk melewati ujian ini adalah dengan menjalankan syariat Allah secara benar tanpa adanya penambahan maupun pengurangan. Jangan seperti aliran-aliran sesat yang suka menambah dan mengurangi ajaran syari’at. Departeman agama menyatakan bahwa ada lebih dari 300 aliran sesat yang berada di Indonesia, Na’udzu billah min dzalik. Dan salah satu sebab yang menyebabkan sesatnya aliran-aliran itu adalah karena mengikuti hawa nafsu (bisikan syetan) orang-orang yang tidak mengetahui. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (الجاثية: 18)

“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Al Jatsiyah: 18)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang datang menghadap Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulallah, mengapa kita boleh makan yang kita sembelih dan dilarang makan yang dimatikan oleh Allah?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 118-121) yang menegaskan bahwa yang halal dimakan adalah sembelihan yang disaat menyembelihnya dibaca bismillah (dengan nama Allah).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah, …. wa innasy syayaathiina la yuuhuuna ilaa auliyaa-ihim li yujaadiluukum…(… sesungguhnya syetan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu…) (al-An’am: 121), turun berkenaan dengan ucapan kaum musyrikin yang bertanya: “Mengapa kalian tidak makan apa yang dimatikan oleh Allah dan kalian makan apa yang kalian sembelih?”

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Al An’am: 121)

Ayat ini (al-An’am: 121) memberi peringatan kepada kaum Mukminin supaya tidak mengikuti ajakan setan.

Inilah syari’at yang harus kita pegangi sebagai ujian bagi kita semua. Dan yang mendapatkan untung adalah kita semua, bukan lainnya.

Hari ini banyak syari’at yang terabaikan dan berguguran. Untuk urusan shalat saja sudah banyak yang berguguran dan belum tentu, semua shalat kita diterima. Sebab, nilai shalat kita diukur dengan kekhusyu’annya.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. al-Mu’minuun: 1-2)

Rasa khusyu’ hilang bisa disebabkan karena makanan, pelanggaran dosa, atau pikiran sibuk dengan urusan duniawi dan sebagainya.

Ath Thabrani dan selainnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَوَّل مَا يُرْفَعُ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا تَرَى فِيهَا رَجُلًا خَاشِعًا

Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah khusyu’, sehingga engkau tidak akan melihat seorang pun yang khusyu’.

Sahabat Hudzaifah Radhiallahu Anhu berkata: “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’, dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang khusyu’”.

Semua syariat ini adalah adil ketika Allah turunkan. Dalam hidup pasti ada aturan. Bisa jadi sejalan, bisa jadi berbenturan. Antara syariat Allah dan syariat hawa nafsu manusia. Orang yang saat ini tidak sedang mengikuti syariat Allah, berarti dia sedang mengikuti syariat hawa nafsunya. Karena hidup tidak akan pernah lepas dari aturan dan syariat, dan semua akan dipertanggung jawabkan. Tinggal satu pertanyaan, manakah yang akan kita pilih?

Kedua, Ujian Musibah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (البقرة: 155)

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Al Baqarah: 155)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia pasti akan menguji para hambaNya dengan bencana-bencana. Agar menjadi jelas siapa (di antara) hamba itu yang sejati dan pendusta, yang sabar dan yang berkeluh-kesah. Ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seandainya kebahagiaan selalu menyertai kaum Mukminin, tidak ada bencana (yang menimpa mereka), niscaya terjadi percampuran, tidak ada pemisah (dengan orang-orang tidak baik). Kejadian ini merupakan kerusakan tersendiri. Sifat hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ini) menggariskan adanya pemisah antara orang-orang baik dengan orang-orang yang jelek. Inilah fungsi musibah”.

Senjata yang dibutuhkan dalam ujian musibah ini adalah sabar. Maka, janganlah mengeluh selain kepada Allah. Lihatlah Nabi Ya’qub Alaihissalam ketika menghadapi kesedihan berupa kehilangan putranya, Yusuf, sehingga anak-anaknya yang lain mengiranya akan bertambah sakit dan sedih. Maka dengarlah jawaban Nabi Ya’qub yang perlu diteladani setiap muslim,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

“Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)

Semua orang pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak diinginkan. Semua orang juga pasti mempunyai masalah dan problem kehidupan. Di saat tertentu orang hidup bahagia dan senang, di saat yang lain pula boleh jadi sedih dan pilu. Dan ini adalah sunnatullah.

Dalam menyikapi masalah kehidupannya, orang memiliki beragam tindakan untuk memecahkannya. Ada yang mencurahkan perasaan dan uneg-unegnya kepada keluarga, teman, atau bahkan kepada benda-benda mati. Apalagi sering dijumpai tidak sedikit orang yang apabila mempunyai problem, selalu ia curhatkan di jejaring sosial seperti facebook atau twitter sehingga semua manusia mengetahuinya.

Lalu bagaimana kita menyelesaikan masalah tersebut tanpa masalah? Hal ini memerlukan iman dan kesabaran. Jika hamba yang tertimpa musibah tersebut ridha maka ia bisa sampai pada tataran menjadikan musibah menjadi sebuah kenikmatan.

Kita wajib beriman bahwa segala musibah yang terjadi seperti gempa bumi, banjir, wabah penyakit adalah ketetapan daripada Allah Ta’ala di Lauhul Mahfuzh. Kita juga wajib menerima ketentuan Allah ini dengan berlapang dada (ridha). Allah Ta’ala berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Oleh sebab itu, adalah tidak benar jika ada orang berkata, “gempa bumi itu terjadi karena ada roh yang sedang marah”. Sebaliknya, bencana itu terjadi karena ia adalah ketentuan daripada Allah Ta’ala dan bukannya ketentuan dari yang lain.

Kita wajib menerima takdir Allah ini dengan penuh ridha, bukan dengan perasaan geram atau marah kepada Allah misalnya dengan berkata, “Ya Allah, mengapa harus aku? Apakah dosaku ya Allah?”. Sikap yang sedemikian adalah sangat biadap. Allah Ta’ala berfirman :

“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dilakukan, tetapi merekalah yang akan ditanya”. (Al-Anbiyaa`: 23)

Namun semua musibah itu kecil selama tidak terkait dengan agama. Kalau sampai ada anak kita yang murtad, istri atau anak perempuan kita keluar rumah tanpa hijab, itulah musibah yang sebenarnya. Kalau sampai ada orang kaya kemudian tidak membayar zakat, itulah musibah sebenarnya. Pada dasarnya hakekat musibah adalah ketika ia sudah berbenturan dengan agama, musibah selain itu adalah kecil.

Dua ujian di atas harus kita lewati, mau atau tidak mau. Jika kita mampu melewatinya dengan rasa syukur ketika menjalankan syariat Allah. Dan sabar ketika melewati ujian musibah dari Allah. Sebab itu, mari kita ingat akan peringatan dalam sebuah hadits,

عَنْ أبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفِكُم فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءِ .رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Said Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:  “Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi. Maka Allah akan melihat apa yang kalian perbuat. Maka takutlah kepada dunia, dan takutlah kepada wanita”. (HR Muslim)

Hadits ini menjelaskan kondisi dunia, dunia itu memperdaya manusia dengan keindahannya, perhiasannya, Rasulullah menggambarkan dunia dengan “manis dan hijau”. Dua sifat yang menggambarkannya berkaitan dengan nikmatnya rasa dan indahnya pemandangan, dengan kedua sifat ini (manis dan hijau) akan menarik hati-hati manusia. Maka jika seseorang memperhatikan permisalan ini, “manis dan hijau” itu sejatinya fana, yang hijau di dunia akan menguning, layu, kering dan mati. Begitu pula manisnya dunia akan habis, di”rubung” semut, lama kelamaan akan basi dan kecut.

Hadits ini menunjukkan bahwa kalian akan berlalu, kalian akan diganti dengan umat lain sesudah kalian, sebagaimana kalian pun telah menggantikan umat sebelum kalian. Kalian akan mati. Adapun tujuan utamamu ada di dunia ini adalah untuk beribadah hanya kepada Allah, dan Allah akan melihat dan memberi balasan atas apa yang kalian ‘amalkan di dunia.

Hadits ini memberikan peringatan agar waspada terhadap dunia, jangan sampai terperdaya/terfitnah olehnya, jangan sampai tujuan utama kalian adalah dunia, jangan sampai puncak ilmu kalian dalah dunia.

Dan Rasulullah lebih mengkhususkan tentang fitnah wanita, padahal fitnah wanita adalah termasuk fitnah dunia. Karena fitnah ini adalah fitnah yang besar, fitnah wanita. Ketika seorang wanita mendengar hadits ini maka hendaknya mereka para wanita menjaga dirinya agar tidak menjadi sumber fitnah, jangan sampai dirinya memfitnah para lelaki, hendaknya dia berhijab, senang di rumahnya, dan tidak keluar rumah kecuali jika memang ada keperluan mendesak, adapun jika memang harus keluar maka mereka menggunakan hijab yang syar’i dengan penuh rasa malu, dan keberadaannya jangan sampai menjadi fitnah. Namun memang zaman ini banyak di dapati bahwa para wanita yang justru ingin menyebarkan fitnah. Cobalah lihat betapa banyak wanita yang menjadikan dirinya sebagai fitnah, mereka ketika hendak keluar dari rumah selalu berhias, bersolek dengan seindah-indahnya, memamerkan kemolekannya, menebar wangi parfumnya, membuat mata para lelaki terpesona. Hilang hijab syar’inya, hilang malunya, atau mungkin dia berhijab tapi dia tujukan itu untuk berhias dan secara tidak sadar itu menghilangkan rasa malunya. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai para wanita.

Dan hendaklah para lelaki Mukmin menghindari fitnah wanita, jangan malah menjerumuskan diri ke tempat fitnah-fitnah tersebut. Hendaknya tidak menjadikan interaksi dengan mereka para wanita sebagai sesuatu yang mengasyikkan, apalagi malah menikmatinya.

Bagaimana Agar Tidak Menjadi “Binatang Ternak”?

Tidak bersenang-senang di dunia dan tidak makan dan minum seperti makannya binatang. Karenanya sebagai muslim, jangan pernah berharap dan berkeinginan untuk menjadi seperti orang-orang kafir yang hidupnya bebas, tidak terikat halal dan haram, meskipun mereka adalah orang hebat menurut pandangan manusia. Sebab tempat tinggal mereka kelak adalah neraka. Allah Ta’ala berfirman,

….. وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ (محمد: 12)

…..dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka”. (Muhammad: 12)

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَراً حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاء يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (الزمر: 71)

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir”. (Az Zumar: 71)

Sebab Manusia Dimisalkan Seperti Binatang Ternak

  • Mempunyai hati/akal tapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah dan kebenarannya
  • Mempunyai mata tapi tidak digunakan untuk melihat kekuasaan Allah dan mengambil pelajaran
  • Mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah dan nasehat yang baik. Dan jika itu terjadi, maka “derajat” manusia bisa sama dan bahkan lebih rendah derajatnya daripada hewan ternak.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved