Follow us:

Keberanian Gadis Palestina Hadapi Tentara Israel

Darussalam.id – Seorang remaja perempuan Palestina, Ahed Tamimi terlihat berjalan mendekati dua tentara Israel yang berdiri di dekat pintu masuk rumahnya. Dia meminta tentara tersebut untuk meninggalkan rumahnya.

Perempuan berambut keriting ini langsung mendorong dan menendang kedua tentara. Ia juga menampar dengan keras salah satu dari mereka.

Kini, gadis berusia 16 tahun dari desa Nabi Saleh ini dijadikan oleh rakyat Palestina sebagai pahlawan dan simbol generasi baru setelah menghadapi kedua tentara tersebut. Aksi remaja ini terekam video dan ditonton oleh banyak orang.

Di media sosial, warga Palestina menjadikan Ahed sebagai pahlawan dalam kartun yang disebar secara luas. Terdapat juga pose Ahed sambil mengibarkan bendera Palestina. Tiga hari setelah konfrontasinya dengan tentara Israel,Tamimi ditangkap dari rumahnya pada Selasa (19/12) menjelang fajar atas tuduhan menyerang tentara.

Ahed disidang di ruang sidang militer Israel keesokan harinya. Seorang hakim memerintahkan agar penahanan Tamimi ditambah lima hari lagi. Pengacara melakukan banding atas putusan majelis hakim ini. “Tetap kuat, tetap tegar,” teriak ayah Tamimi yang ikut menghadiri persidangan putrinya. Ayah Tamini, Bassem merupakan seorang aktivis veteran.

Kejadian ini semakin meningkatkan ketegangan antara Israel dan Palestina setelah penetapan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh presiden AS Donald Trump.

Nebi Saleh adalah sebuah desa yang berpenduduk sekitar 600 orang, sebagian besar merupakan anggota keluarga Tamimi. Selama delapan tahun, penduduk desa bersama dengan aktivis Israel dan asing telah melakukan demonstrasi setiap pekan terhadap kebijakan Israel di Tepi Barat.

Militer Israel mengatakan demonstrasi pada Jumat (15/12) berubah menjadi kekerasan, dengan sekitar 200 orang Palestina melemparkan batu ke tentara. Beberapa orang memasuki rumah penduduk dan terus melempar batu.

Bassem Tamimi mengatakan beberapa menit sebelumnya, tentara telah melepaskan peluru karet dari jarak dekat pada Mohammed Tamimi (15) sepupu Ahed dan seorang tamu yang sering tinggal di rumah Tamimi. Peluru dilapisi karet biasanya digunakan untuk membubarkan keramaian. Meski dianggap tidak mematikan namun penggunaan peluru karet tetap berbahaya.

Dalam sebuah wawancara , Bassem Tamimi memuji putrinya sebagai orang yang berani. Ia menolak sebuah kritik yang menyebut putrinya sedang mencari perhatian. “Kami berharap generasi ini akan lebih kuat dari kita, dan dapat mengambil bendera dari kita dengan lebih banyak kekuatan dan resistensi yang lebih serius untuk mengakhiri pendudukan,” kata Tamimi (50).

Bassem pernah di penjara Israel karena melakukan demonstrasi anti-pendudukan. Ahed pernah menjadi berita utama di masa lalu, termasuk pada 2015 saat dia menggigit tangan seorang tentara Israel.

Di Israel, militer mengatakan tentara yang terlibat dalam insiden pada Jumat bertindak secara profesional dan terkendali. ” Yang lain sangat kritis terhadap tentara tersebut. Ketika saya melihat itu, saya merasa terhina, saya merasa hancur,” kata seorang menteri kabinet Israel dan mantan juru bicara militer Miri Regev.

Dia menyebut insiden tersebut merusak kehormatan militer dan negara Israel. Ia mengatakan orang-orang Palestina dan kelompok-kelompok hak asasi internasional telah lama menuduh bahwa pasukan Israel sering menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap orang-orang Palestina.

Penahanan Tamimi juga menyoroti masalah penangkapan anak-anak di bawah umur di Palestina. Sebuah kelompok lokaluntuk Anak-anak Internasional-Palestina, mengatakanberdasarkan statistik terbaru yang dikeluarkan oleh otoritas Israel, 331 warga Palestina di bawah usia 18 tahun ditahan dalam penahanan militer pada Mei.

Pada 2016, rata-rata 375 anak ditahan setiap bulan. Militer Israel tidak dapat memberikan data mengenai jumlah anak di bawah umur yang ditangkap. (Republika)

Tags: ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved