Follow us:

KEBERKAHAN TANAH SYAM

Khutbah Jum’at:

Ust. Umar Mitha, Lc

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره ونستهديه ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

قال الله تعالى فى القرأن الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران :102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً{70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً{71}

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jama’ah shalat Jum’at yang semoga Allah rahmati dan berkahi…,

Tidak ada perkara penting untuk kita tanamkan dalam jiwa kecuali menata dan menanam rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan dalam kehidupan ini. Yaitu kenikmatan zhahir ketika Allah melimpahkan kesehatan dan kelapangan dan kenikmatan batin ketika Allah memberikan keimanan, menggerakkan hati kita hingga mampu menjadikan kita berkumpul di salah satu jengkal tanah yang Allah cintai diantara rumahNya, menyambut panggilan-Nya untuk melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau adalah panutan dan sumber ilmu dalam setiap kehidupan. Bukan hanya memuji akhlak dan sifat beliau, tetapi bagaimana kita mengikuti setiap kehidupannya, karena yang terpenting bukan memuji, tetapi bagaimana kita mengkuti sikap beliau dalam kehidupan kita.

Kami tidak lupa mengingatkan kepada diri kami secara khusus dan kepada jama’ah sekalian, bahwa kita akan menuju kepada satu titik kampung akhirat, yaitu bagaimana kita senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan. Karena sungguh perkara yang paling penting dan berat adalah menjaga imana. Sebab, akan datang suatu hari tidak bermanfaat apa yang kita peroleh dan kita kumpulkan, melainkan keimanan dan ketakwaan.

Setiap muslim ketika ditanyakan kepadanya “apakah ia mencintai Allah”? maka jawabannya adalah “mencintai Allah”. Tetapi tahukah kita bahwa mencintai Allah, ternyata mempunyai syarat yang harus senantiasa diperhatikan sehingga kecintaan tersebut diterima oleh Allah Ta’ala,

Ibnu Qayyim Rahimahullahu menyebutkan bahwa ada 4 perkara yang harus diperhatikan dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya:

  • Mengetahui apa saja yang dicintai Allah dan apa saja yang dicintai Rasul-Nya. Jika seseorang tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh kecintaannya adalah pengakuan kosong tanpa makna.
  • Mengetahui perkara apa saja yang dibenci oleh Allah Ta’ala dan apa saja yang dibenci Rasul-Nya.
  • Memahami siapa saja yang dicintai Allah dan siapa saja yang dicintai Rasul-Nya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui siapa wali Allah dari orang-orang beriman dan siapa saja yang termasuk wali syetan.
  • Mengerti siapa saja yang dibenci Allah dan siapa saja yang dibenci Rasul-Nya.

Itulah empat perkara yang menandakan kesempurnaan seorang muslim dalam mereka menata iman dan kecintaannya kepada Allah Ta’ala. Sehingga barangsiapa dalam kehidupannya mengumpulkan empat perkara ini maka mereka adalah orang yang sempurna cintanya kepada Allah Ta’ala.

Ternyata dzat yang kita sembah dan rasul yang kita ikuti mempunyai sesuatu yang mereka dicintai. Allah mencintai banyak perkara dalam ciptaan-Nya, begitu juga Rasulullah yang mencintai banyak perkara dalam kehidupan syariatnya. Maka hari ini kita akan membahas salah satu perkara dari point pertama yaitu mengetahui apa saja yang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Perkara yang dicintai Allah diantaranya adalah sujud kita, doa, taubat dan istighfar. Dan diantaranya juga adalah tanah-tanah yang Allah maklumkan bahwa Ia mencintai tanah tersebut. Kemudian kita sebagai seorang muslim juga berkewajiban untuk mencintai apa yang Allah cintai. Sebab kita juga memiliki tanah iman sebagaimana kita memiliki ibu iman. Pada dasarnya kita mempuyai dua ibu. Pertama, ibu yang melahirkan dan merawat kita sejak kecil. Yang kedua adalah ibunda kaum mukmin yaitu para istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Begitu juga dengan tanah, ada sebagian tanah yang Allah nyatakan sebagai tanah yang dicintai dan diberkahi dan dijadikan sebagai tanah iman dan keutamaannya begitu banyak. Para ulama’ menjelaskan bahwa ada 4 tanah yang dicintai Allah dalam bumi ini.

  • Tanah Makkah. Tanah dimana Dajjal tidak dapat memasukinya dan menginjakkan kakinya di dalamnya.
  • Tanah Madinah. Tanah yang menjadi tempat perlindungan bagi Rasulullah ketika beliau menegakkan islam.
  • Tanah Syam.
  • Tanah Arab.

Tanah Syam adalah tanahnya para nabi dan rasul dilahirkan. Para ulama’-ulama’ besar seperti Imam An Nawawi juga lahir dan dibesarkan di atas tanah tersebut.

Tanah syam sekarang terbagi menjadi ىegara-negara kecil yaitu Yordania, Suriah secara keseluruhan, Libanon, dan Palestina. Tanah syam adalah tanah yang disebutkan Allah Ta’ala dalam ayat pertama surah Al Isra’,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al Isra’: 1)

Tanah Masjidil Aqsha dan sekitarnya dikatakan oleh para ahli tafsir dengan tanah Syam. Tanah yang Allah Ta’ala abadikan dengan kata “keberkahan”, bukan hanya ketika diturunkannya alquran, namun keberkahan tersebut berlangsung hingga hari kiamat.

Keberkahan tidak selalu bersifat indah dan mudah. Namun berkah adalah segala perkara yang dapat menambah ketaatan kepada Allah. Tanah itu mungkin tidak seindah tanah yang kita miliki, tidak seindah pekarangan yang kita miliki. Tapi tanah tersebut adalah saksi meninggalnya para nabi dan rasul dan dikuburkan di dalamnya, tanah itu juga tempat mengalirnya darah para syuhada’.

Jadi, Allah Ta’ala tidak main-main dengan ayat-Nya ketika menetapkan “yang Kami berkahi sekelilingnya”.   

Maka beruntunglah orang-orang yang menjadi penghuni Syam. Diriwayatkan oleh Sahabat mulia Zaid bin Tsabit Radhiallahu Anhu, dia berkata: ’Kami bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam sedang menulis Al-Qur’an dari pelepah kayu, kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

طُوبَى لِلشَّامِ. فَقُلْنَا : لأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : لأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

“Kebaikan pada negeri Syam.’ Kami bertanya, ‘Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Karena Malaikat rahmah (pembawa kebaikan) mengembangkan sayap di atasnya.”

(HR. Tirmidzi. Beliau berkomentar, haditsnya hasan Gharib. Imam Ahmad dalam Al-Musnad, 35/483. Cetakan Muassasah Ar-Risalah, dishahihkan oleh para peneliti. Dishahihkan pula oleh Syekh Al-Albany dalam kitab ‘As-Silsilah As-Shahihah)

Ibnu Atsir Rahimahullah berkata: “Kata (طوبى) berasal dari wazan (فعلى) , maksudnya  kebaikan. Maknanya bukan kebun juga bukan pohon.’ (An-Nihayah, 3/318)

Tentang negeri Syam Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

عَلَيْكَ بِالشَّامِ فَإِنَّهَا خِيرَةُ اللَّهِ مِنْ أَرْضِهِ يَجْتَبِي إِلَيْهَا خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ فَأَمَّا إِنْ أَبَيْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِيَمَنِكُمْ وَ اسْقُوا مِنْ غُدُرِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ تَوَكَّلَ لِي بِالشَّامِ وَ أَهْلِهِ.

“Pergilah ke Syam karena ia adalah bumi pilhan Allah, Dia memilih hamba-hamba terbaik-Nya untuk kesana. Jika kalian tidak mau maka pergilah ke Yaman kalian dan minumlah dari telaga-telaga kalian. Karena sesungguhnya Allah telah menjamin untukku Syam dan penduduknya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim; dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Rasulullah juga meminta barokah untuk negeri Syam, dan harapan Rasulullah agar penduduknya dihindarkan dari keburukan dan musibah.

اللهم بارك لنا في شامنا ، اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا : وفي نجدنا ، قال : اللهم بارك لنا في شامنا ، اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا : يا رسول الله وفي نجدنا فأظنه قال الثالثة : هناك الزلازل والفتن ، وبها يطلع قرن الشيطان

“Ya Allah, berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman. Para sahabat bertanya: termasuk Nejed? Rasulullah berdoa: Ya Allah berilah kami barakah pada negeri Syam, ya Allah berilah kami barakah pada negeri Yaman. Para sahabat masih bertanya: termasuk Nejed? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: Di sana (nejed) terjadi gempa dan huru-hara, dan di sana muncul dua tanduk syetan”. (HR. Bukhari)

Syam adalah tempat yang akan menjadi saksi bahwa Imam Mahdi akan membangun kembali Khilafah Rasyidah sesuai dengan manhaj nabi.

إني رأيت كأن عمود الكتاب انتزع من تحت وسادتي، فأتبعته بصري، فإذا هو نور ساطع، عُمِدَ به إلى الشام، ألا وإن الإيمان إذا وقعت الفتن بالشام

“Aku bermimpi melihat tiang kitab (Islam) ditarik dari bawah bantalku, aku ikuti pandanganku, ternyata ia adalah cahaya sangat terang hingga aku mengira akan mencabut penglihatanku, lalu diarahkan tiang cahaya itu ke Syam, dan aku lihat bahwa bila fitnah (konflik) terjadi maka iman terletak di negeri Syam”. (Shahih Targhib)

Jika kita memiliki tanah yang berbeda, namun kita mempunyai satu kolektif iman dalam hal tanah. Diantaranya adalah tanah Syam. Dan sudah 3 tahun tanah Syam khususnya Suriah mengalami berbagai macam kezaliman besar, mereka melawan penindasan kaum Syi’ah. Mereka mempertahankan keimanan dan aqidah di dalam hati. Bukan hanya Syam, Palestina hari ini juga sedang dihujani dengan berbagai macam roket dan rudal, sehingga banyak darah iman yang mengalir di atas tanah yang diberkahi Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, sesungguhnya wajib bagi setiap muslim untuk membuka mata dan hatinya, membuka lebar telinganya, dan untuk merasakan betul apa yang terjadi di tanah saudara-saudara kita. Tanah dimana saudara-saudara kita sedang meregang nyawa. Sebagaimana kita marah disaat tanah kita direbut oleh orang lain tanpa hak. Bahkan ini adalah tanah yang lebih mahal daripada tanah yang kita beli per meter, sebab ini adalah tanah iman.  Bukankah kita pernah mendengar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tentag konsep ukhuwah yang benar,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam”. (HR. Muslim)

Dan hadits diatas nyata terjadi dihadapan kita. Maka sesungguhnya jika kita tidak mempunyai rasa marah ketika saudara kita dizhalimi maka keimanan dalam hati kita telah hilang. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan,

“Sesungguhnya Allah Subhanahu  wa Ta’ala kelak di hari kiamat akan bertanya kepada kita, “Wahai anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa Engkau tidak menjenguk-Ku?” Manusia (kita) akan menjawab,”Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Rabb, Tuhan Semesta Alam?”

Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan bertanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan Engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya?”

Allah Subhanahu  wa ta’ala berfirman kembali, “Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi kenapa Engkau tidak memberi-Ku makan?” Anak Adam akan menjawab, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam ?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggugat, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku si fulan minta makan kepadamu sedangkan engkau tidak memberinya makan? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkan-Ku disisinya?

Allah Subhanahu  wa Ta’ala akan berfirman kembali, “Hai anak Adam, aku minta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum?” Anak Adam akan menjawab lagi, “Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

Allah Subhanahu  wa Ta’ala bertanya kembali, “Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum maka sudah pasti engkau akan mendapati-Ku di sisinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Jika kita renungkan hadits Qudsi di atas, nampak jelas betapa pentingnya kepedulian antar sesama di dalam Islam. Di hari kiamat nanti, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menanyakan tentang hak diantara sesama muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggugat jika ada di antara kita yang tidak peduli dengan saudaranya yang sakit, haus dan kelaparan. Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits tersebut mengungkapkan, bahwa jika kita ingin mendekati Allah ta’ala maka jalannya adalah mendekati orang-orang yang kesusahan di antara kita.

Jika Allah Ta’ala akan menggugat jika ada di antara kita yang tidak peduli dengan saudaranya yang sakit, haus dan kelaparan, bagaimana jika kita membiarkan kematian saudara kita yang terbunuh tanpa haq??! Apa jawaban kita dihadapan Allah Ta’ala kelak??

Karena itu wajarlah jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam sebuah hadits pernah mengungkapkan, “Bukanlah bagian dari kami (kaum muslimin) orang-orang yang tidak peduli dengan masalah kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak)

Terakhir kami ingatkan dengan sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari. Dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya:

“Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi”.

Itu adalah kisah wanita Himyariyah Israiliyah yang mengurung seekor kucing, tetapi dia tidak memberinya makan dan minum hingga kucing itu mati karena kelaparan dan kehausan. Jika hanya karena mengurung seekor kucing dan tidak memberinya makan kemudian wanita tersebut disiksa karenanya. Maka apa jawaban kita dihadapan Allah Ta’ala jika yang meninggal adalah saudara-saudara seiman kita??!

Semoga penjelasan di atas menjadikan kita mengerti bahwasanya tanah Syam, tanah Palestina bukanlah tanah penduduk Palestina tetapi itu adalah tanah kita kaum muslimin, tanah yang telah diberkahi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan semoga kita mampu menunaikan kewajiban kita. Karena kewajiban pokok dalam kehidupan ini bukan hanya terletak pada ibadah mahdhah seperti shalat atau haji, bahkan Rasulullah menyatakan,

أَوثَقُ عُرَى الإِيمَانِ المُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالمُعَادَاةُ فِي اللهِ والحُبُّ فِي اللهِ وَالبُغضُ فِي اللهِ

“Sekuat-kuat tali keimanan adalah berloyalitas dan memusuhi karena Allah serta cinta dan benci karena Allah”. [HR. Thabrani]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah kedua

Setelah mengetahui tentang apa yang terjadi di tanah Syam hari ini. Inilah diantara kewajiban yang layak kita tunaikan;

Berjihad sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dari harta benda yang ada. Sesungguhnya barangsiapa yang menitipkan hartanya di jalan Allah, maka Ia adalah Dzat yang tidak akan menyia-nyiakan titipan tersebut. Oleh karena itu, titipkanlah harta kita di tempay yang benar yaitu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita tidak pernah mampu nyawa mereka, tapi setidaknya apa yang kita perhatikan dari mereka, mampu meringankan beban mereka. Siapapun yang tidak tergerak, maka kami khawatir merupakan tanda bahwa imannya mengalami keropohan. Tidak marah ketika saudaranya dihina dan tidak marah ketika nyawa saudara seimannya direnggut tanpa haq.

Mendoakan mujahidin dan kaum muslimin yang sedang berada di bawah tekanan Syiah, Yahudi Israel

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved