Follow us:

Kematian Itu Pasti Terjadi

                                                                                                    

oleh: Abdurrahman Makatita, Lc, MA

الحمد لله الذى جعلنا من القائمين وأنعمنا بنعم كثيرة، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.

اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله وصحبه المجاهدين الصادقين، المؤمنين المحتسبين الذين قال لهم الناس: إن الناس قد جمعوا لكم فاخشوهم فزادهم إيمانا، وقالوا حسبنا الله ونعم الوكيل، رضي الله عنهم وأرضاهم أجمعين . أما بعد،

فيا عبادالله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون فقال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران: 102)

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullahu

Alhamdulillah, Maha Suci Allah yang mengumpulkan kita di dalam masjid ini bersama orang-orang shalih. Mudah-mudahan pertemuan ini bukan merupakan pertemuan terakhir. Tetapi yang kita inginkan adalah pertemuan ini akan menjadi saksi dihadapan Allah Ta’ala. Dan semoga Allah Ta’ala mempertemukan kita kembali di surga-Nya kelak.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, keluarga, dan para sahabat Ridhwanullah alaihim. Dan semoga kita juga mendapatkan syafa’at dari Rasulullah atas ridha dan izinnya Allah Ta’ala.

Sekarang kita bertemu dan sebentar akan berpisah. Kita berkumpul bersama keluarga, seorang suami akan bertemu istrinya, orangtua akan bertemu dengan anaknya, tetapi nantinya juga akan berpisah. Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tetapi ingat, hingga kematian datang menjemput bukanlah dinamakan sebuah perpisahan.

Ada sebuah ungkapan untuk memaknai perpisahan yang sebenarnya:

الفراق ليس السفر ولا فراق الحب، حتى الموت ليس فراقاً، الفراق هو أن يكون أحدنا في الجنة والآخر في النار.

Perpisahan bukan karena perjalanan jauh atau ditinggal orang tercinta, bahkan kematian pun bukan perpisahan. Sebab, kita akan dipertemukan kembali kelak di akhirat. Perpisahan adalah, ketika seseorang berada di syurga sementara yang lainnya ada di neraka.

Semoga kita semua dikumpulkan dan dimasukkan Allah Ta’ala ke dalam syurga-Nya bersama keluarga, orangtua, anak dan istri kita serta orang-orang yang kita cintai, sehingga perpisahan di dunia ini bukanlah perpisahan yang terakhir.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu)”. (HR. Muslim)

Diantara Bekal Mendapatkan Syurga Allah

Jama’ah Rahimakumullah

Tentunya kita harus berbekal diri untuk mendapatkan syurga Allah Ta’ala. Sebab antara penghuni syurga dan neraka tidaklah sama.

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (الحشر: 20)

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah Itulah orang-orang yang beruntung”. (Al Hasyr: 20)

Pertama, iman

Iman yang kuat adalah bekal utama bagi kita untuk menghuni syurga Allah. Ingatlah, banyak sekali ayat alquran yang menyeru kepada orang-orang beriman bahkan ketika Allah menyebutkan bahwa tidak akan sama antara penghuni syurga dan neraka. Pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala menyeru kepada orang-orang beriman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ{18} وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ{19}

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (Al Hasyr: 19)

Mari kita benahi iman ini. Saya yakin seruan keimanan selalu didengungkan. Seruan untuk memperkuat iman selalu diperdengarkan dalam mimbar khutbah-khutbah jum’at. Oleh karena itu, kita mulai dari diri kita pribadi, keluarga, anak-anak dan istri. Kata iman sangat mudah dilafalkan oleh kebanyakan umat islam. Tetapi, buktinya banyak sekali kaum muslimin yang jauh dari makna iman yang sebenarnya.

Sebab itu, ketika Allah Ta’ala mengatakan bahwa orang-orang beriman yang tidak mencampuri imannya dengan kesyirikan akan mendapatkan level keamanan, dan mendapatkan petunjuk.

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: 82)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al An’am: 82)

Oleh itu, keimanan para sahabat tidak diragukan disebabkan pengorbanan harta dan jiwa yang mereka lakukan demi menguatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Suatu saat Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu mengatakan kepada Rasulullah,

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wasallam  bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari VI/2445 no.6257).

Hal ini menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah adalah wajib melebihi kecintaan kita kepada kedua ortu, anak, keluarga, dan harta benda.

Kedua, Takwa

Ketakwaan adalah bekal selanjutnya untuk menghuni syurga Allah Ta’ala. Seruan Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman dalam surah Al Hasyr ayat 18 di atas adalah untuk bertakwa. Bahkan perintah takwa diulang hingga dua kali.

Ingatlah, di dalam alquranul karim kata-kata iman selalu digandengkan dengan takwa, dan iman juga selalu digandengkan dengan kata-kata beramal shalih. Sebab, memang inilah sebaik-baiknya bekal yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta;ala.

Mendapatkan zona aman, Allah sampaikan hanya kepada orang-orang bertakwa dan yang memperhatikan ketakwaan. Dan zona yang aman adalah syurga Allah Ta’ala.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ{51} فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ{52}

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,  (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air”. (Ad Dukhan: 51-52)

Takwa, takwa, takwa kepada Allah juga selalu disampaikan oleh para khatib-khatib di mimbar dan penceramah dalam kajiannya. Umar Radhiallahu Anhu pernah bertanya kepada seorang sahabat yang lain bernama Ubai bin Ka’ab Radhiallahu Anhu makna taqwa. Lalu Ubai bertanya kepada Umar:

“Adakah engkau pernah melalui satu jalan yang berduri?

Jawab Umar: “Ya”.

Tanya Ubai lagi: “Apakah yang kamu lakukan untuk melalui jalan tersebut?”.

Jawab Umar: “Aku melangkah dengan waspada dan berhati-hati”. Balas Ubai: “Itulah yang dikatakan taqwa”.

Kita mengenal Imam Abdullah bin Mubarak, namun tahukah kita siapa ayahnya? Membaca salah satu episode kehidupan Mubarak, kagumlah kita betapa jujurnya ia dan karenanya pantaslah jika putranya menjadi ulama besar.

Belasan tahun sesudah abad pertama Hijriyah berlalu, Mubarak masih menjadi budak. Ia ditugasi oleh tuannya untuk menjaga kebun delima. Bertahun-tahun Mubarak menjadi penjaga kebun delima itu. Suatu hari, majikannya datang ke kebun itu dan minta diambilkan delima yang manis.

Mubarak mengambilkan salah satu buah delima, tetapi majikannya tidak berkenan saat mencicipinya. “Ini masam, Mubarak,” katanya dengan nada kecewa, “carikan yang manis”

Mubarak mengambilkan buah kedua. “Ini juga masam, carikan yang manis!” kata-kata itu kembali meluncur dari sang majikan setelah ia mencicipinya.

Mubarak mengambilkan buah delima ketiga. Lagi-lagi, wajah majikan menandakan raut muka kecewa setelah memakannya. “Ini masam, Mubarak. Apakah kau tidak bisa membedakan buah delima yang manis dan buah delima yang masam?”

“Saya tidak dapat membedakannya, tuan. Sebab saya tak pernah mencicipinya?”

Mendengar jawaban itu, alangkah herannya sang majikan. “Kau tidak pernah mencicipinya? Padahal kau sudah bertahun-tahun aku tugaskan menjaga kebun ini”

“Iya tuan. Engkau menugaskan aku untuk menjaganya, bukan untuk mencicipinya. Karenanya aku tidak berani mencicipinya walaupun satu buah,” jawab Mubarak.

Sang majikan tidak jadi marah. Persoalan tidak mendapatkan delima yang manis terlupakan begitu saja. Yang ada kini hanya kekaguman. Ia kagum dengan kejujuran penjaga kebunnya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang lebih jujur dan memegang amanah melebihi budak di hadapannya ini.

Kehati-hatian Mubarak inilah yang disebut dengan KETAKWAAN kepada Allah Ta’ala.

Jama’ah Rahimakumullah

Begitu banyak amanah yang diberikan kepada kita semua, namun begitu banyak diantara kita yang tidak menjalankan amanah tersebut.

Taruhlah misalnya seorang guru. Ketika sarana yang diberikan kepada seorang guru dalam sebuah lembaga pendidikan. Maka apa saja bentuk sarana tersebut, selama tidak diijinkan kepada, maka kita tidak berhak untuk menggunakannya. Katakanlah, selembar kertas yang dinilai tidak ada harganya. Sehingga ada sebagian guru mengambil kertas itu digunakan untuk kepentingan dirinya, bukan untuk kepentingan lembaga pendidikan tersebut. Mungkin banyak yang melakukan hal seperti ini. Tapi ini menandakan ketidak hati-hatian seseorang.

Ingatlah akan kisah Wara’ Kahmas bin al-Hasan at-Tamimiy -semoga Allah merahmatinya-. Amâroh bin Zâdzan berkata: “Berkata kepadaku Kahmas, Abu Abdullah:  “Wahai abu Salamah, aku telah melakukan dosa yang membuatku menangis selama 40 tahun.”

“Dosa apa itu, wahai abu Abdullah?” Tanya Abu Salamah.

“Ketika saudaraku mengunjungiku, aku membelikannya ikan seharga satu danik . Seusai makan aku berdiri menuju dinding rumah tetanggaku yang terbuat dari tanah dan mengambil cuilan dinding itu untuk membasuh tanganku. Itulah yang membuatku senantiasa menangis selama 40 tahun.”

Subhanallah, satu dosa membuat Kahmas menangis 40 tahun. Bagaimana jika sekiranya beliau hidup di masa ini dan melihat begitu banyak orang melakukan perbuatan dosa baik kecil maupun besar, bagaimana jadinya beliau??!

Ketiga, Muhasabah

Introspeksi diri juga merupakan bekal untuk menuju syurga Allah Ta’ala dan menjadi penghuninya. Kisah Kahmas di atas juga merupakan bagian sikap Muhasabah. Kahmas bin Hasan mengingat dosanya lalu menangis dan bertekad tidak akan mengulangi dosanya.

Seharusnya kita juga bermuhasabah terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan selama ini. Mungkin kalau kita menghitung perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan dengan lisan, mata, telinga, pikiran bahkan lewat anggota tubuh lainnya, maka banyak sekali dosa yang telah diperbuat. Tapi kenapa kita masih mengulang dosa dan kemaksiatan tersebut.

Bahkan sampai Umar Radhiallahu Anhu mengibaratkan taubat yang benar adalah seperti air susu ibu yang sudah keluar, tidak mungkin kembali ke dalam kantung kelenjarnya.

Mari dari sekarang, kita ingat benar kebaikan-kebaikan kemudian kita lakukan dan pertahankan, dan mengingat benar akan perbuatan dosa serta jangan diulangi kembali.

Kalau kita merenungkan ayat dalam surah Al Hasyr di atas, bagaimana sampai Allah Ta’ala menyuruh ktia untuk melihat dan mempersiapkan bekal untuk esok hari (alam akhirat).

Ketika bayi berada dalam alam rahim, kemudian lahir ke alam dunia dan berpindah kembali kepada alam barzakh dan selanjutnya akan menuju alam akhirat, alam yang tiada batasnya. Maka, sesudah kita meninggalkan alam dunia, sekali-kali kita tidak akan pernah kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi beramal shalih. Sebab, alam akhirat adalah tempat pembalasan.

Oleh karena itu, bermuhasabah ini sangat penting, jangan sampai kita menyesal kemudian hari. Ketika dikembalikan oleh Allah Ta’ala, kita ingin agar Allah Ta’ala mengembalikan untuk bisa bersedekah dan sebagainya, sudah tidak ada lagi. Oleh karenanya, jika ada kesempatan untuk beramal shalih, segera lakukan dan tunaikan, mumpung masih berada di alam dunia.

Mudah-mudahan dengan menguatkan iman, memperbaiki ketakwaan serta selalu bermuhasabah tiap hari, akan menjadikan diri sebagai orang-orang terbaik di sisi-Nya. Dan semoga di akhirat dikumpulkan bersama para penghuni syurga lainnya. Aaamiin yaa Rabbal ‘aalamin.

بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

(Hud/Darussalam.id)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved