Follow us:

Kisah Penguasa Dibuat Menangis Pilu Hingga Hampir Pingsan Oleh Nasihat Ulama

Sejarah Islam mencatat sebuah malam sunyi ketika kekuasaan dan kemegahan tak lagi bermakna di hadapan nasihat ulama. Khalifah Harun ar-Rasyid, penguasa besar Dinasti Abbasiyah, menangis pilu hingga hampir pingsan setelah mendengar peringatan tajam tentang amanah kepemimpinan dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, pada suatu malam, Khalifah Harun ar-Rasyid memanggil Fazl Barmasid salah seorang pengawal kepercayaannya.

Kepada Fazl, Harun ar-Rasyid berkata, “Pada malam ini bawalah aku kepada seseorang yang dapat menunjukkan kepadaku siapakah aku ini sebenarnya. Aku telah bosan dengan segala kebesaran dan kebanggaan.”

Fazl pun membawa Harun ar-Rasyid ke rumah Sufyan Al-Uyainah. Mereka mengetuk pintu, lalu dari dalam terdengar suara, “Siapakah itu?”

“Pemimpin kaum Muslimin (Khalifah),” jawab Fazl.

Sufyan berkata, “Mengapa Sultan harus menyusahkan diri datang ke sini? Mengapa tidak dikabarkan saja kepadaku, niscaya aku yang akan datang menghadapnya.”

Mendengar ucapan itu, Harun ar-Rasyid berkata, “Ia bukan orang yang kucari. Ia pun menjilatku seperti yang lainnya.”

Mendengar perkataan tersebut, Sufyan al-Uyainah berkata, “Jika demikian, Fuzail bin Iyaz adalah orang yang engkau cari. Pergilah kepadanya.”

Kemudian Sufyan membacakan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَوَاۤءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ࣖࣖ

Apakah orang-orang yang melakukan keburukan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS Al-Jasiyah Ayat 21)

Harun ar-Rasyid menjawab, “Seandainya aku menginginkan nasihat, ayat itu telah mencukupi.”

Mereka pun menuju rumah Fudhail bin Iyadh dan mengetuk pintunya. Dari dalam, Fudhail bertanya, “Siapakah itu?”

“Pemimpin kaum Muslimin,” jawab Fazl.

“Bukankah suatu kewajiban mematuhi para pemegang kekuasaan?” kata Fazl kepada Fudhail.

“Jangan ganggu aku,” jawab Fudhail tegas.

“Tidak ada sesuatu yang disebut kekuasaan. Jika engkau mendobrak masuk dengan paksa, engkau tahu akibatnya,” kata Fudhail menambahkan.

Harun ar-Rasyid kemudian melangkah masuk. Saat ia mendekat, Fudhail meniup lampu hingga padam agar ia tidak dapat melihat wajah sang khalifah.

Harun mengulurkan tangannya, lalu Fudhail menyambutnya sambil berkata, “Betapa lembut dan halus tangan ini. Semoga tangan ini terhindar dari api neraka.”

Setelah itu, Fudhail berdiri dan berdoa. Hati Harun ar-Rasyid pun tergugah, dan ia tak kuasa menahan tangisnya.

“Katakan sesuatu kepadaku,” pinta Harun ar-Rasyid.

Fudhail mengucapkan salam kepadanya, lalu berkata, “Leluhurmu, paman Nabi Muhammad SAW pernah meminta kepada Nabi, ‘Jadikanlah aku pemimpin bagi sebagian umat manusia.’ Nabi SAW menjawab, ‘Wahai pamanku, sesaat aku pernah mengangkatmu menjadi pemimpin atas dirimu sendiri’.”

Yang dimaksud Nabi dengan jawaban itu adalah bahwa sesaat mematuhi Allah lebih baik daripada 1.000 tahun dipatuhi oleh manusia.

Kemudian Nabi Muhammad SAW menambahkan, “Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan pada hari kebangkitan.”

“Lanjutkan,” pinta Harun ar-Rasyid kepada Fudhail.

Fudhail melanjutkan perkataannya, “Ketika diangkat menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz memanggil Sultan bin Abdullah, Raja bin Hayat, dan Muhammad bin Ka‘ab. Umar berkata, ‘Hatiku sangat gundah karena cobaan ini. Apa yang harus kulakukan? Aku tahu bahwa kedudukan tinggi ini adalah ujian, meskipun orang lain menganggapnya sebagai karunia’.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat, pandanglah setiap Muslim yang lanjut usia sebagai ayahmu, setiap Muslim yang dewasa sebagai saudaramu, dan setiap Muslim yang masih kanak-kanak sebagai anakmu. Perlakukan mereka sebagaimana engkau memperlakukan ayah, saudara, dan anakmu sendiri.”

“Lanjutkan lagi,” kata Harun ar-Rasyid kepada Fudhail.

Fudhail berkata, “Anggaplah negeri Islam sebagai rumahmu sendiri dan penduduknya sebagai keluargamu. Jenguklah ayahmu, hormatilah saudaramu, dan berbuat baiklah kepada anakmu. Aku khawatir wajahmu yang tampan ini akan terbakar di dalam neraka. Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-Nya. Bersikaplah hati-hati dan bijaksana, karena pada hari kebangkitan Allah akan meminta pertanggung jawabanmu atas setiap Muslim. Dia akan menilai apakah engkau telah berlaku adil. Jika ada seorang wanita tua tidur dalam keadaan lapar, pada hari kebangkitan ia akan menarik pakaianmu dan memberikan kesaksian yang memberatkanmu.”

Mendengar itu, Harun ar-Rasyid menangis dengan sangat pilu hingga hampir pingsan.

Melihat keadaan tersebut, wazir Fazl menegur Fudhail, “Cukup! Engkau telah membunuh pemimpin kaum Muslimin!”

“Diamlah, wahai Haman!” jawab Fudhail kepada Fazl yang mengawal Khalifah Harun ar-Rasyid.

Fudhail berkata kepada Fazl, “Engkau dan orang-orang sepertimu yang telah menjerumuskannya, lalu engkau berkata aku yang membunuhnya. Apakah yang kulakukan ini pembunuhan?”

Mendengar perkataan itu, tangis Harun ar-Rasyid semakin menjadi-jadi. Ia berkata kepada Fazl, “Ia menyebutmu Haman, karena ia menyamakan diriku dengan Fir‘aun.”

Kemudian Harun ar-Rasyid bertanya kepada Fudhail, “Apakah engkau memiliki utang yang belum terbayar?”

“Ya, utang ketaatan kepada Allah. Seandainya Dia menuntut pelunasannya, celakalah aku,” kata Fudhail. (UYR/Republika)

Share This:
Tags: , ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved