Kisah Pertobatan Adam-Hawa di Balik Wukuf Arafah
Bertemunya manusia di Padang Arafah tidak lepas dari kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Pasangan pertama manusia itu diturunkan ke bumi setelah Adam melanggar perintah Allah SWT untuk tidak memakan buah dari pohon khuldi (kekekalan).
Syahdan, Adam pun turun di sekitar India, sementara Hawa di Arab Saudi. Ustaz Adi Hidayat, pendiri Quran dan Sunnah Solution menjelaskan, kedua manusia itu kemudian saling mencari dari jarak yang beratus-ratus kilometer.
Atas kehendak Allah SWT, mereka pun bertemu di sebuah tempat yang disebut Jabal Rahmah, bukit kasih sayang. Di bukit ini, mereka lantas berintrospeksi. Adam dan Hawa saling mengingatkan betapa sulitnya hidup saat keluar dari surga. Jika di surga semua kebutuhan tersedia, tidak demikian saat berada di bumi.
Semua itu mereka rasakan karena pernah melanggar perintah Allah SWT untuk tidak memakan buah dari pohon khuldi. Pengetahuan mereka untuk mengenal satu dengan lainnya dan kemauan untuk berintrospeksi disebut dengan Arafah.
Allah SWT pun mengingatkan kepada anak cucu Adam agar tidak mengulangi kembali perbuatan nenek moyangnya saat di surga. Sungguh, Allah SWT mengingatkan agar manusia mengambil hikmah dari kejadian ini.
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya, ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung guhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-Araf ayat 27).
Karena itu, Ustaz Adi Hidayat mengungkapkan, wukuf bukan bermakna diam tanpa ekspresi. Wukuf artinya diam sambil bertafakur. Saat memasuki Arafah, jamaah seharusnya tidak sekadar diam. Tapi, mengenali kesalahan dan kekurangan yang melekat pada diri.
Iri, dengki, takabur, serakah, lalai dan dosa-dosa lain yang sudah mendarah daging di dalam diri harus dikenali. Lantas disesali untuk dikeluarkan dari diri. “Kadang-kadang, orang lupa. Sekatnya belum dibuka. Kenali dulu sekat kita selama ini,” ujar Ustaz Adi di dalam salah satu kajian.
Jika sekat itu sudah dibuka, jamaah dianjurkan untuk tobat. Bertekad untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Memenuhi apa yang diamanahkan Rabb semesta alam untuk tidak lagi terkena akan tipu daya setan. Setelah tobat, Ustaz Adi juga mengimbau jamaah agar mengenali penyebab kesalahan, dosa, dan maksiat yang pernah dilakukan. Dengan demikian, jamaah bisa terhindar terjerembap dalam lubang yang sama.
Bersihnya hati jutaan hamba usai melakukan wukuf membuat Allah SWT pun bangga. Meski mereka mendatangi Tuhan dalam keadaan kusut. “Sesungguhnya, Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah dan berkata: Lihatlah keadaan ham ba-Ku, mereka mendatangi-Ku dalam ke adaan kusut dan berdebu.” (HR Ahmad). (UYR/Republika)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments