Follow us:

LEMBUT HATI

Oleh:Ustadz Wahibul Minan, Lc.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

 “Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri. Jika seseorang menentang atau memakinya maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” – dua kali. Demi Dzat yang diriku di’ tanganNya, bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Kebaikan itu lipat sepuluhnya”. (HR. Bukhari)

Bukan hanya menahan lapar, haus dan syahwat saja. Tetapi puasa juga menahan lisan agar tidak berkata kotor, tidak berkata yang akan menimbulkan permusuhan, dan lebih tinggi lagi, jika ada orang yang mencela, maka kita ucapkan “saya sedang berpuasa”. Berarti, puasa itu menahan nafsu amarah sehingga puasa mengajarkan kelembutan.

Kekuatan seseorang terlihat dari bagaimana ia mengendalikan emosi. Rasulullah telah memberikan contoh dalam hal ini,

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

Dari Aisyah Radhiallahu Anha berkata: Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu mereka mengucapkan: “Assaamu `alaikum” (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: “Bal `alaikumus saam” (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah menegur: Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Aku telah menjawab: “Wa`alaikum” (semoga menimpa kalian). (HR. Muslim)

Demikianlah Rasulullah melarang Aisyah Radhiallahu Anha yang membalas plesetan salam orang Yahudi itu dengan doa yang sama buruknya. Namun demikian kita dilarang untuk duluan mengucap salam kepada non-muslim.

Contoh Kasih Sayang Rasul Kepada Orang Yang Menyakiti Beliau

Suatu ketika, ada seorang Badui berbuat kasar kepada nabi. Kala itu Rasulullah sedang berjalan bersama Anas bin Malik, pembantu beliau yang kemudian banyak meriwayatkan hadits. Tiba-tiba Si Arab Badui menarik selendang Najran yang dikalungkan di leher Rasul. Begitu kerasnya tarikan si Badui, Rasul pun tercekik. Anas, seperti tercatat dalam Shahih Bukhari, sempat melihat bekas guratan di leher Rasul. “Hai, Muhammad, beri aku sebagian harta yang kau miliki!”. bentak si Badui, masih dengan posisi selendang mencekik leher rasul. Kemudian beliau memandangnya dan tersenyum lalu berkata pada Anas, “Berikanlah sesuatu kepadanya!”.

Kasih sayang Rasulullah terhadap orang badui ini begitu menakjubkan. Adanya kekasaran dan kekerasan ini dalam kehidupan kita bisa menimbulkan reaksi yang sangat keras apalagi bila hal ini menunjukkan permusuhan kepada Rasulullah, terlebih lagi jika kita melihat posisi beliau dalam Negara Islam adalah seorang komandan dan pimpinannya. Pada kebanyakan orang, maksimal tingkat kasih sayang mereka adalah memberi maaf. Tapi tidak dengan Rasul. Beliau justru tersenyum dan berkata pada Anas, “Berikanlah sesuatu kepadanya!”.

Kelembutan Hati Umar Bin Abdul Aziz

Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz masuk ke sebuah masjid bersama pengawalnya. Karena keadaan gelap, kaki Umar menyandung seseorang yang sedang tidur, sehingga orang tersebut terbangun kaget. Dengan kesal ia membentak Umar.

“Hei, apakah kamu ini gila?”

Gelapnya suasana saat itu membuat orang itu tidak tahu kalau yang dibentaknya adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tapi Umar menjawab dengan tenang.

“Tidak, saya tidak gila. Saya mohon maaf karena telah menginjak kaki Anda dengan tidak sengaja.”

Pengawal yang mengawal Umar menjadi marah. Ia hendak memukul orang itu. Namun Umar segera memegang tangan pengawalnya.

“Sabarlah. Orang ini hanya bertanya, apakah aku ini gila atau tidak? Lalu aku jawab bahwa aku tidak gila,” kata Umar kepada pengawalnya dengan berbisik.

Keduanya pun lalu berlalu.

Di hari yang lain, Umar bin Abdul Aziz mendapati salah seorang puteranya berlumuran darah dilukai oleh seorang anak nakal. Orang tua si anak nakal itu segera menghadap ke Umar dan meminta maaf. Umar memaafkannya. Namun begitu mengetahui bahwa anak nakal tersebut adalah seorang yatim, Umar justeru memberikan uang kepadanya.

Tindakan Umar itu membuat isterinya heran.

“Wahai suamiku, anak itu telah melukai anak kita. Mengapa engkau malah memberinya uang?” tanya isteri Umar.

Sambil menenangkan istrinya, Umar menjawab, “Anak itu memang nakal. Namun ia adalah anak yatim yang harus kita bantu.” Isteri Umar pun mengerti dengan apa yang dilakukan suaminya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sifat Ar-Rifq Dalam Menghadapi Kerasnya Problem Kehidupan

Dan diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).

Dan diantara ciri-ciri orang bertakwa adalah menahan amarah dan mudah memaafkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ{134}

“Orang-orang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran: 134)

Islam tidak melarang kita marah. Islam membolehkan kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali. Emosi yang meletup-letup tanpa kontrol.

Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia. Persoalannya, orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan dimana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidak senangannya.

Orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik.

Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved