Follow us:

Masjid, Medium Inspiratif untuk Menemukan Makna

Kalau ditanya, pengalaman hidup apa yang paling membekas saat masa kecil, saya akan menjawab dengan tegas, berenang di kolam wudu masjid kampung. Terdengar aneh, bahkan sedikit absurd. Namun justru dari sanalah saya menemukan salah satu jejak ingatan paling kuat tentang bagaimana masjid membentuk cara pandang saya terhadap hidup.

Kolam wudu masjid di kampung saya dulu, bahkan hingga kini, cukup besar. Selain untuk menampung air agar lebih hemat, kolam itu menjadi semacam magnet bagi anak-anak kampung. Berbeda dengan tempat wudu modern yang serba kran dan praktis, kolam air itu terasa hidup. Ada ikan kecil sesekali berenang, ada pantulan cahaya lampu masjid di malam hari, dan tentu saja ada godaan besar bagi anak-anak untuk bermain air.

Suatu hari, ketika masjid sedang sepi, saya dan beberapa teman memutuskan masuk ke kolam wudu. Awalnya hanya bermain ciprat-cipratan, lalu berubah menjadi kompetisi berenang dadakan. Kami tertawa seolah menemukan taman hiburan gratis. Sampai akhirnya, seorang ustadz datang sambil membawa potongan tambang karet dan memarahi kami habis-habisan. Kami diteriaki “kurang ajar” karena menjadikan air wudu untuk berenang. Naif memang saat itu!

Seketika suasana berubah panik. Kami lompat keluar dan lari tunggang-langgang menyelamatkan diri dari kemungkinan terkena sabetan. Saya berhasil lolos, tetapi tetap tidak bisa menghindari omelan bapak di rumah setelah ustadz itu mengadukan kenakalan kami.

Kenangan lain yang tak kalah berkesan adalah menginap di masjid setiap malam Minggu. Alasannya sederhana, menonton film action dan komedi di televisi hitam putih milik tetangga yang cukup berpunya. Karena film selesai larut malam, sementara pintu rumah biasanya sudah dikunci oleh bapak/ibu. Pilihan paling realistis adalah tidur di masjid.

Mungkin bagi orang dewasa, cerita-cerita itu terdengar seperti kumpulan kebandelan anak kampung. Tetapi justru di sanalah letak maknanya. Di balik kenakalan, ada fakta penting, masjid menjadi rumah kedua.

Kami datang bukan semata-mata untuk ibadah formal. Kami datang karena merasa nyaman. Masjid menjadi titik kumpul, tempat bermain, tempat belajar mengaji, tempat berteduh dari hujan, bahkan tempat melarikan diri saat dimarahi orang tua.

Tanpa sadar, kedekatan fisik dengan masjid membangun kedekatan emosional. Masjid bukan ruang asing yang hanya boleh dimasuki dengan wajah serius dan langkah penuh formalitas. Ia hadir sebagai bagian organik dari kehidupan sehari-hari.

Di sanalah kami ikut shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Seusai Subuh, kami belajar mengaji Al-Qur’an secara bergiliran dengan ustadz kampung. Ada aroma lantai yang khas, suara kipas angin tua, gema azan yang memecah pagi, dan obrolan jamaah selepas shalat. Semua itu membentuk memori yang sangat kuat.

Sementara saat remaja, saya belajar di pesantren yang juga sangat dekat dengan masjid. Hampir setiap lima waktu, saya sholat berjamaah bersama santri lain. Selepas sholat, saya biasa duduk sambil membawa buku kecil nadzam Alfiyah untuk dihafal. Belum lagi habis sholat subuh wajib membaca Alfatihah sebanyak 1000 kali. Sambil terkantuk-kantuk dan sering mendapat “hukuman” disabet sajadah pengurus pondok.

Kini saya memahami, pengalaman masa kecil yang dekat dengan masjid ternyata bukan pengalaman sepele. Ia adalah fondasi psikologis dan spiritual. Semua kenangan bagus tertanam dalem dalam ingatan hidup saya, hingga saat ini. Termasuk di dalamnya pengalaman negatif yang dicatat sebagai bagian dari kenakalan masa kecil.

Saat itu, kami, anak-anak membangun hubungan dengan ruang bukan melalui ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman. Tempat yang sering dikunjungi dengan perasaan nyaman akan tertanam kuat dalam memori.

Karena itu, saya sering khawatir ketika melihat sebagian orang dewasa memperlakukan anak-anak di masjid dengan cara yang keras. Saya pernah mengalami satu kejadian yang cukup mengganggu batin. Saat shalat berjamaah di mushalla dekat Stasiun Lenteng Agung, dua anak kecil di belakang saya sedikit berisik. Mungkin mereka bercanda atau sekadar belum memahami etika berjamaah.

Tiba-tiba seorang jamaah membatalkan shalatnya, berbalik, lalu membentak kedua anak itu dengan suara keras dan mengusir mereka keluar. Saya tak menduga, jamaah yang awalnya baik-baik saja ikut berjamaah, seketika berbalik badan dan teriak sama anak-anak yang sedang bercanda dengan suara yang seharusnya tidak perlu dilakukannya.

Jujur, saya justru kehilangan kekhusyukan karena tindakan orang dewasa tersebut. Memang benar, anak-anak yang ribut dapat mengganggu konsentrasi ibadah. Namun orang dewasa yang marah-marah di tengah shalat sering kali justru lebih mengganggu, baik secara akustik maupun psikologis.

Ada paradoks yang menarik. Kita begitu bersemangat menjaga kekhusyukan diri sendiri, tetapi kadang lupa menjaga hati anak-anak yang sedang belajar mengenal rumah ibadah. Padahal Nabi Muhammad  justru memberi teladan sangat berbeda. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah pernah shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Zainab. Ketika beliau sujud, cucunya diletakkan; ketika berdiri, beliau menggendongnya kembali.

Dalam hadis lain, Nabi bersabda, “Aku masuk shalat dengan niat memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku percepat shalat karena aku mengetahui ibunya akan merasa terganggu.” (HR. Al-Bukhari).

Hadis ini memberi pesan penting, keberadaan anak-anak di sekitar ibadah bukan gangguan yang harus diusir, melainkan realitas kehidupan yang perlu diakomodasi dengan kasih sayang. Nabi tidak membangun kultur keberagamaan berbasis intimidasi. Beliau paham bahwa agama harus terlebih dahulu dicintai sebelum ditaati.

Masjid, dalam sejarah Islam, sejak awal memang tidak hanya didesain sebagai ruang ibadah ritual. Ketika Nabi membangun Masjid Nabawi di Madinah, fungsi masjid sangat luas. Ia menjadi pusat pendidikan, tempat musyawarah, ruang sosial, titik distribusi zakat, bahkan pusat penguatan komunitas.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 18)

Ayat tersebut sangat penting. Kata ya’muru dalam ayat tersebut tidak hanya berarti mengisi masjid dengan ritual, tetapi juga menghidupkannya dengan aktivitas kebermanfaatan. Menurut Ibnu Katsir, memakmurkan masjid berarti menjaga keberlangsungan fungsi spiritual sekaligus sosialnya.

Artinya, masjid yang makmur bukan sekadar masjid yang penuh saat shalat Jumat, melainkan masjid yang menghadirkan kehidupan. Dalam konteks Indonesia, mungkin salah satu masjid contoh yang bagus adalah masjid Jogokariyan, Jogjakarta, dimana masjid mampu menjadi pusat pemberdayaan umat dan juga jamaahnya.

Di masa klasik Islam, masjid bahkan menjadi ruang produksi pengetahuan. Halaqah-halaqah ilmu berkembang dari masjid. Al-Azhar di Mesir, salah satu institusi pendidikan Islam paling berpengaruh di dunia, tumbuh dari ekosistem masjid. Di Indonesia pun sebenarnya telah dicontohkan oleh para tokoh masa lalu, dimana dari masjid telah lahir pesantren dan juga madrasah yang muridnya sejutaan hingga kini.

Masjid juga menjadi pusat solidaritas sosial. Dari sana zakat didistribusikan, fakir miskin dibantu, dan problem sosial umat dibicarakan bersama. Karena itu, memaknai masjid hanya sebagai tempat ritual individual sesungguhnya terlalu sempit.

Masjid adalah institusi peradaban. Di sanalah manusia belajar disiplin melalui shalat berjamaah, belajar kesetaraan ketika berdiri sejajar tanpa memandang status sosial, belajar ilmu melalui majelis, serta belajar empati melalui gerakan sosial. Rasulullah saw bersabda,

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.” Salah satunya adalah, “seseorang yang hatinya terpaut pada masjid.” (HR. Bukhari-Muslim).

Sering kali hadis ini dipahami secara literal, orang yang rajin datang shalat berjamaah. Tentu itu benar, tetapi maknanya jauh lebih luas. Hati yang terpaut pada masjid adalah hati yang merasa terhubung dengan nilai-nilai yang dihidupkan masjid, ibadah, ilmu, solidaritas, pembinaan, dan kebermanfaatan sosial.

Masjid bukan sekadar bangunan yang dikunjungi lima kali sehari. Ia adalah orientasi hidup. Dalam konteks modern, ketika manusia semakin terjebak dalam ritme hidup yang cepat, kompetitif, dan melelahkan, fungsi eksistensial masjid justru semakin relevan.

Hari-hari ini kita hidup dalam kelimpahan konektivitas digital, tetapi sekaligus mengalami kelangkaan makna. Kita mudah terhubung secara teknologi, tetapi sulit merasa terikat secara batin. Kita punya banyak fasilitas, tetapi sering kehilangan arah.

Di tengah situasi seperti itu, masjid dapat menjadi ruang kontemplasi dan restorasi makna. Ia memberi kesempatan kepada manusia untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Menundukkan ego. Menyadari keterbatasan. Mengingat asal dan tujuan hidup.

Bagi anak-anak, kedekatan dengan masjid adalah investasi jangka panjang. Anak-anak yang terbiasa datang ke masjid sejak kecil sedang membangun memori spiritual. Mereka akan mengingat suara azan, dinginnya lantai selepas Subuh, aroma karpet, cahaya lampu masjid di malam hari, nuansa kolam air wudu, dan mungkin juga kenangan dimarahi ustadz karena kenakalan kecil.

Semua itu tampak sederhana, tetapi justru membangun keterikatan emosional yang kuat. Kelak, ketika dewasa dan hidup mulai terasa rumit, memori itu bisa menjadi jangkar. Mereka akan kembali ke masjid bukan semata karena kewajiban, tetapi karena kerinduan. Dan bukankah agama yang paling kokoh adalah agama yang dirindukan, bukan yang dipaksakan?

Karena itu, kita perlu mengubah cara pandang terhadap anak-anak di masjid. Mereka memang berisik. Mereka berlari. Mereka kadang mengganggu. Tetapi bukankah itu memang kodrat anak-anak? Masjid tidak boleh menjadi ruang yang steril dari kehidupan.

Jika masjid hanya nyaman bagi orang dewasa yang menginginkan keheningan total, tetapi menakutkan bagi anak-anak, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi. Anak-anak hari ini adalah jamaah masa depan. Jika sejak kecil mereka trauma datang ke masjid karena dibentak, diusir, atau dipermalukan, maka jangan heran bila kelak mereka tumbuh jauh dari rumah ibadah. Mereka akan lebih menyukai mall atau tempat hiburan dibanding mendatangi masjid.

Kita harus banyak belajar dari banyaknya gereja di Barat yang sepi pengunjung. Konon banyak gereja yang “dijual” karena tidak ada yang mendatangi. Bisa jadi para generasi muda ogah datang ke gereja karena menganggap gereja hanya untuk orang tua. Rumah ibadah hanya diperuntukkan single function, yaitu ibadah semata. Saat yang sama, tidak ada terobosan yang menjadikan anak-anak muda tertarik mendatangi gereja.

Sebaliknya, jika mereka diberi ruang untuk tumbuh, belajar, dan perlahan memahami adab, maka masjid akan hidup lintas generasi. Imam al-Ghazali menekankan pentingnya pendidikan melalui pembiasaan dan kelembutan. Jiwa anak, menurutnya, ibarat tanah subur yang menerima apa pun yang ditanamkan. Jika yang ditanamkan adalah pengalaman religius yang menyenangkan, maka tumbuhlah kecintaan.

Tetapi jika yang ditanamkan adalah rasa takut dan tekanan, maka yang tumbuh adalah resistensi. Pada akhirnya, saya percaya bahwa masjid adalah medium penting dalam pencarian makna hidup. Ia bukan hanya tempat sujud, tetapi ruang pembentukan karakter, ruang pembelajaran, ruang perjumpaan sosial, dan ruang pulang bagi jiwa yang lelah.

Bagi anak-anak, masjid bisa menjadi taman bermain spiritual. Bagi remaja, ia menjadi ruang pencarian identitas. Bagi orang dewasa, ia menjadi ruang jeda dari hiruk-pikuk kehidupan. Bagi orang tua, ia menjadi tempat pulang menuju ketenangan. Karena itu, jangan jadikan masjid tempat yang menakutkan.

Jangan biarkan generasi kecil pulang dari masjid dengan trauma. Biarkan mereka pulang membawa cerita. Siapa tahu, dari kenangan sederhana berenang di kolam wudu, tidur di serambi masjid, bermain dengan teman sebaya, atau dimarahi ustadz karena kenakalan kecil, tumbuh kecintaan mendalam kepada rumah Allah.

Dan dari sanalah, pencarian makna hidup bisa bermula. Sebab pada akhirnya, setiap manusia membutuhkan satu tempat untuk kembali, satu ruang untuk menenangkan diri, dan satu titik untuk mengingat hakikat hidup. Bagi saya, tempat itu bernama, masjid. Wallahu a’lam.

Penulis: Dr. H. Thobib Al Asyhar, M.Si. (Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Dosen Pascasarja SPPB Universitas Indonesia). (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved