Follow us:

Melacak Akar Kekerabatan Afrika-Arab Saudi

Darussalam.id – Diperkirakan, 10 persen populasi Saudi adalah keturunan Afrika yang tinggal. Terutama, mereka yang tinggal di Wilayah Barat, dan khususnya di Makkah. Akar hubungan mereka terletak pada ziarah tahunan haji dan kolonisasi Inggris di Afrika pada abad ke-19.

Dilansir dari Arab News pada Kamis (1/3), selama ratusan tahun, peziarah dan Muslim tertindas dari benua itu, pergi ke Makkah dan Madinah. Mereka memilih menjadikan kota-kota itu sebagai rumah mereka. Mereka, terutama berasal dari Chad, Burkina Faso, Gambia, Mali, Senegal, dan terutama Nigeria.

“Keluarga saya tiba di Hijaz pada 1903, dari Nigeria. Alasan utama emigrasi mereka adalah kolonisasi Inggris,” kata profesor pendidikan komparatif di Universitas Umm Al-Qura, Mohammed Faheem (70 tahun) di Makkah.

Inggris menjajah Afrika untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya, membawa serta pendidikan Barat, bahasa Inggris, dan agama Kristen. Ada perlawanan, terutama di kalangan umat Islam di utara. Namun, tanpa tentara terorganisir atau senjata modern, mereka bukan tandingan kekuatan Kerajaan Inggris.

“Banyak yang memilih melakukan perjalanan ke timur, sebab mereka merasa aman di tanah yang akan selamanya menjadi Muslim. Mereka melewati Chad dan Sudan, dan kemudian tujuan akhir adalah tanah Hijazi di semenanjung Arab,” ujar Faheem.

Dia menceritakan, beberapa imigran memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab dan studi Islam. Mereka bekerja sebagai hakim, ilmuwan, dan guru di Masjid Suci. Pun kakeknya adalah salah satu dari orang-orang itu, sementara imigran lainnya menjadi buruh.

“Pendidikan Barat, atau pendidikan modern, tiba di Nigeria dengan kolonisasi Inggris. Oleh karena itu, orang Nigeria percaya, pendidikan modern harus dilarang dari perspektif agama,” tutur Faheem.

Menurut dia, ide itu tetap ada di antara mereka, bahkan saat tiba di Hijaz. Sangat sedikit orang yang mau mengirim anaknya ke sekolah modern, bahkan di Arab Saudi. “Mereka hanya akan mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam tradisional,” ujar dia.

Ada warisan ketidakpercayaan di Nigeria hingga hari ini. Arti harfiah dari Boko Haram, milisi ekstremis Nigeria, adalah pendidikan Barat dilarang.

Keluarga Saudi keturunan Saudi yang paling dikenal adalah Fallatah, Hausawi, dan Barnawi. Mereka semua, dulu tinggal di satu daerah dekat satu sama lain di Makkah.

“Setiap suku memiliki bahasa sendiri yang dinamai sesuai namanya. Ada bahasa Hausa, Fallata, dan Borno, dan mereka diucapkan di daerah Makkah,” kata Faheem.

Ia berbicara bahasa Fallatah. Namun, saat Faheem pergi ke AS untuk belajar, ia memperbaiki bahasa Afrika dan memilihnya sebagai bahasa mandatori kedua untuk mempertahankan pendidikan tingginya.

Faheem mengisahkan, saat masih muda, dirinya berbicara dengan bahasanya sendiri saat berada di rumah. Namun, beralih ke bahasa Arab saat berada di luar rumah. Namun, generasi yang lebih muda, tidak lagi memiliki ikatan dengan asal-usulnya.

“Mereka tidak memiliki kehidupan yang kita miliki, kita tinggal dekat dengan akar kita karena kita tinggal di antara mereka yang pindah dari Afrika Barat untuk tinggal di sini,” katanya.

Bagaimanapun, tidak semua orang Saudi hitam melacak jejak mereka ke Afrika Barat. Meskipun belum ada survei resmi mengenai keragaman etnis di negara itu, banyak orang Saudi adalah orang Afro-Arab yang berasal dari tempat-tempat seperti Sudan dan Djibouti.

Kendati demikian, Faheem beranggapan, apa pun asal usulnya, penghormatan terhadap akar rumput tidak bertentangan dengan kesetiaan seseorang terhadap negara dan bangsa saat ini. (Republika)

Tags: ,

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved