Follow us:

Memanfaatkan Waktu Luang Untuk Hal-Hal Yang Bermanfaat

Oleh:Ustadz Prof, Dr. Habib Ahmad Al-Kaff, MA

Begitu besar perhatian Islam terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah. Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi. Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.

Waktu ini adalah modal utama yang diberikan oleh Allah Ta’ala khususnya waktu umur. Waktu umur adalah modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan meskipun dengan mengeluarkan biaya.

Kehidupan para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah contoh kehidupan terbaik yang pernah dipraktekkan manusia di muka bumi. Siang hari mereka ibarat seekor singa, malam hari ibarat seorang a`bid (ahli ibadah). Maksudnya apabila kita lihat mereka di siang hari, maka mereka adalah pekerja keras, baik sebagai pedagang, peternak, petani, dan sebagainya Namun di malam hari mereka adalah sebagai ahli ibadah. Mereka tidur hanya sedikit, sabagian besar malam mereka habiskan untuk bersimpuh di hadapan Allah Ta’ala.

Rasulullah sangat membenci orang-orang yang terlalu sibuk dengan urusan dunia di siang hari, dan tidur terlelap di malam hari. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengibaratkan mereka: Siang hari ibarat keledai, malam hari ibarat bangkai. Maksudnya orang-orang yang dibenci Rasulullah SAW adalah orang-orang yang di siang hari disibukkan dengan urusan dunia, sehingga mereka lupa dengan kewajiban utama sebagai hamba yaitu beribadah kepada Allah Swt. Mereka membiarkan siang berlalu tanpa shalat dhuhur dan ashar. Di malam hari mereka juga terlelap di tempat tidur tak ubahnya seperti bangkai hingga matahari terbit diufuk timur. Mereka kembali membiarkan malam berlalu tanpa ibadah apapun kepada Allah Ta’ala.

Kita kini telah berada di awal-awal bulan Ramadhan. Maka nanti jika telah berada di penghujung Ramadhan, banyak kita dapatkan masyarakat di sekeliling kita, mulai disibukkan dengan hiruk pikuk Idul Fitri. Luapan kegembiraan mulai terasa. Mall-mall menjadi padat. Lalu lintas lambat merayap. Banyak rumah berganti cat. Baju baru dan makanan enak juga telah siap.

Jika demikian maraknya masyarakat kita berbahagia di penghujung akhir Ramadhan, tidak demikian dengan para sahabat dan salafus shalih. Semakin dekat dengan akhir Ramadhan, kesedihan justru menggelayuti generasi terbaik itu. Tentu saja kalau tiba hari raya Idul Fitri mereka juga bergembira karena Id adalah hari kegembiraan. Namun di akhir Ramadhan seperti ini, ada nuansa kesedihan yang sepertinya tidak kita miliki di masa modern ini.

Mengapa para sahabat dan orang-orang shalih bersedih ketika Ramadhan hampir berakhir? Kita bisa menangkap alasan kesedihan itu dalam berbagai konteks sebab. Diantaranya adalah para sahabat menyadari bahwa jika Ramadhan pergi, maka pula berbagai keutamaannya.

Bukankah Ramadhan ini adalah bulan yang paling berkah, yang pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup? Bukankah hanya di bulan suci ini syetan dibelenggu? Maka kemudian ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan.

Jika kaum muslimin sudah menyadari begitu pentingnya mengatur waktu ini. Maka lakukanlah yang terbaik dan berguna untuk dunia seakan-akan kita tak akan pernah mati. Dan lakukan lah yang tebaik dan beguna bagi akhirat seakan-akan kita akan mati esok.

Sadar Kehidupan Setelah Kehidupan Dunia

Ketika seorang menyadari adanya kehidupan selain kehidupan dunia ini, ia tentu akan menyiapkan sebaik mungkin untuk bekal kehidupan kelak. Orang yang cerdas bukanlah orang yang memperoleh pangkat doktor atau profesor. Atau orang yang telah mampu menciptakan suatu teori supersulit atau insinyur yang mempu menciptakan mega proyek yang tak tertandingi. Tapi, orang sukses adalah mereka yang mampu menghitung-hitung amalnya untuk persiapan kehidupan setelah mati.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ عَاشِرَ عَشَرَةٍ ، فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ , فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ ، وَأَكْرَمُ النَّاسِ ؟ قَالَ : ” أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ ، وَأَشَدُّهُمُ اسْتِعْدَادًا لَهُ ، أُولَئِكَ هُمُ الأَكْيَاسُ ، ذَهَبُوا بِشَرَفِ الدُّنْيَا ، وَكَرَامَةِ الآخِرَةِ ” .

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: “Kami bersepuluh datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, ketika seorang Anshar berdiri dan bertanya: ‘Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdas dan paling mulia?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Mereka yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak mempersiapkan kematian. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka akan pergi dengan mendapatkan kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam pandangan Islam, waktu adalah kesempatan yang masih diberikan oleh Allah SWT yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengumpulkan bekal yang akan dibawa pulang ke kampung akhirat kelak. Karena sesungguhnya dunia ini adalah ladang untuk beramal.

Dalam ajaran Islam, waktu bukan hanya digunakan untuk mencari uang. Uang hanyalah sebagai bahagian dari keperluan hidup kita. Allah tidak melarang hamba Nya untuk mencari (memenuhi) keperluan hidup tersebut. Namun jangan sampai gara-gara disibukkan dengan urusan memenuhi keperluan hidup, lalu kita mengorbankan tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita yang sebenarnya adalah beribadah kepada Allah Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya: “Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembahku”.

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu bagaimana mempersiapkan mati. Mengingat mati atau mempersiapkan kematian yang dimaksud bukan hanya terkait dengan kain kafan, harta warisan, surat wasiat, atau lahan pekuburan. Manusia cerdas tentu lebih giat mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka tahu bagaimana merubah yang fana ini menjadi sesuatu yang kekal. Misalnya, bagaimana caranya harta yang fana ini bisa berubah menjadi kekal? Maka caranya adalah dengan mengeluarkan sebagian atau semuanya kalau memungkinkan dari harta itu untuk tabungan akhiratnya. Sebagai investasi di hari, di mana orang tidak lagi mampu mengiventasikan hartanya.

Orang cerdas selalu memikirkan tentang kematian. Karena kematian adalah sesuatu hal yang misterius yang hanya Allah saja yang tahu. Tinggal bagaimana diri kita dalam mempersiapkan diri ini untuk menghadapi kematian yang akan mendatangi kita.

”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102)

Setiap gerak-gerik kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta’ala. Seorang yang ingat mati, ia akan takut menzhalimi dirinya sendiri dengan meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya. Termasuk meninggalkan shalat.

Dari Abu Ayub Al Anshari Radhiallahu Anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Seorang laki-laki menemui Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang di tangan orang lain.” (HR. Ahmad)

Yakni seperti shalat orang yang mengira bahwa ia tak akan shalat lagi sesudahnya. Apabila orang yang shalat yakin dirinya akan mati dan di sana masih ada satu shalat sebagai shalat yang terakhir, hendaknya ia khusyu’ dalam shalat yang dikerjakannya itu karena ia tidak tahu bahwa bisa jadi shalat ini adalah shalat yang terakhir.” (Dinukil dari 33 Penyebab Khusyu’ Shalat, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid: 45-46)

Seorang muslim tentu saja paham jika sholat 5 waktu sehari-semalam merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar. Kewajiban yang tidak bisa di wakilkan, kewajiban yang seharusnya bisa kita kerjakan dengan penuh kebahagiaan. Kewajiban melaksanakan sholat 5 waktu bisa begitu berat apabila dalam fikiran kita masih beranggapan bahwa sholat hanya sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan.

Maknai Kesempatan Baru Sebagai Kesempatan Terakhir

Segala kesempatan baru harus kita maknai sebagai kesempatan terakhir, sebagaimana hadits di atas. Sebab, tidak ada yang tahu, apakah masih ada esok hari bagi kita atau tidak.

Setiap lambaian kehadiran, sesungguhnya, adalah lambaian perpisahan. Kita hadir untuk kembali. Kita datang untuk pulang, dan kita lahir untuk mati. Begitulah pada dasarnya. Tetapi garis lurus kehidupan yang singkat itu seringkali terasa indah dan lama, ketika didalamnya banyak gemerlap hiasan dunia. Ada begitu banyak bunga-bunga hidup yang bisa melenakan orang banyak.

Dahulu kita lahir sendiri. Tidak punya apa-apa. Sebagian kita mungkin kemudian punya begitu banyak karunia, rezeki dan kenikmatan lainnya. Tumbuh menjadi pintar, dewasa, dan mungkin kaya. Bagi sebagian kita, mungkin semua itu tinggal kisah masa lalu. Sebagian yang lain mungkin sedang mencoba mewariskan kebesaran itu pada anak cucunya. Sebagian lagi mungkin tanpa bisa mengelak, tengah bersiap-siap mengubur kebesaran itu menjadi masa lalu yang hanya akan menjadi prasasti kenangan.

Dahulu kita lahir sendiri, tidak punya apa-apa. Bila kemudian kita menjadi ramai bersama orang lain, atau menjadi punya begitu banyak apa-apa, sejujurnya, ada saat segalanya seperti jarum jam yang berputar kembali: kita kembali sendiri dan tidak punya apa-apa.

Maka di Ramadhan yang mulia ini, saat sumber kekayaan spiritual dilapangkan luas-luas, saat bermacam karunia tak diberikan pada bulan lainnya, harus ada kekhawatiran bagi kita, jangan-jangan ini Ramadhan terakhir kita.

Wallahu Ta’ala A’lam

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2021, All Rights Reserved