Follow us:

Menag Ajak Perkuat Pendidikan Keagamaan Melalui Inovasi Ushul Fikih dan Ekoteologi

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menekankan penyegaran dan pembaruan dalam sistem pendidikan keagamaan di Indonesia. Secara khusus, Menag menggarisbawahi bahwa pembaruan hukum Islam (Fikih) tidak akan efektif tanpa menyentuh akar keilmuannya, yaitu ushul fikih.

Pesan ini disampaikan Menag saat memberikan sambutan dalam Pengukuhan Guru Besar Universitas Islam Negeri Alauddin. Menag menyoroti urgensi adaptasi kurikulum dan landasan filosofis pendidikan Islam terhadap tantangan zaman. Institusi pendidikan tinggi keagamaan didorong untuk berani meninjau ulang metodologi yang ada guna menghasilkan solusi hukum yang relevan.

“Saya berpendapat bahwa memang tidak mungkin kita bisa melakukan perubahan Fikih tanpa mengawali dengan peninjauan Usul Fikih. Usul Fikih ini jangan hanya dijadikan semacam referensi untuk membaca kitab, tetapi juga bisa analisis untuk menciptakan sesuatu yang lebih baru,” ujar Menag Nasaruddin Umar, di Kampus 2 UIN Alauddin, Gowa, Senin (9 Februari 2026).

Salah satu poin krusial dalam penguatan pendidikan keagamaan adalah integrasi isu lingkungan atau ekoteologi ke dalam studi Islam. Menag mengusulkan pengembangan konsep Maqashid Syariah untuk menjawab ancaman perubahan iklim yang dampaknya kini lebih fatal daripada konflik fisik.

“Mungkin kita perlu melakukan sesuatu perubahan secara mendasar. Bukan lagi Daruriyatul Khamsah tetapi tambahin Daruriyatus-Sittah, al-Muhafadhat lil-bi’ah, melestarikan lingkungan. Karena kematian disebabkan oleh perang insani, 65.000 orang sekitar tiga tahun di Palestine dan Ukraine, tapi setiap satu tahun 2.000.000 orang meninggal karena climate change akibat kerusakan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menag mengajak seluruh civitas academica untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual dan menjadikannya sebagai identitas utama kampus. Menag berharap institusi pendidikan keagamaan tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi produsen yang aktif melakukan riset.

“Saya mohon betul di lingkungan kampus ini, yang disponsori tentunya oleh para guru besar ini, hidup (tradisi intelektual). Maka itu wacana-wacana yang internasional, nasional, itu perlu dikaji di kampus,” sebutnya. 

“Kita jangan jadi konsumen ilmu pengetahuan tapi kita harus menjadi produsen. Bagaimana menjadi produsen, kita harus menjadikan kampus ini sebagai episentrum untuk mewujudkan keilmuan yang hidup,” tambahnya.

Di akhir sambutan, Menteri Agama secara khusus memberikan apresiasi dan ucapan selamat kepada para Guru Besar yang baru saja dikukuhkan. Menag berpesan agar pencapaian gelar tertinggi ini menjadi pemantik semangat untuk terus berkarya bagi bangsa dan agama.

“Yang terakhir, karena ini adalah waktu pengukuhan, saya ucapkan selamat kepada para Guru Besar yang baru saja dikukuhkan. Jangan berhenti belajar dan teruslah meneliti dan terus juga menulis,” pungkas Menag. (UYR/Kemenag)

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2023, All Rights Reserved