Menag Nasaruddin: Agama Bisa Jadi Faktor Pemersatu yang Dahsyat
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa peran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam sangat penting dalam memastikan agama hadir sebagai kekuatan sentripetal yang memperkuat bangsa, bukan sumber perpecahan.
Hal itu disampaikannya pada acara Public Expose and Annual Report Bimas Islam 2025 di Jakarta.
“Agama itu seperti pisau bermata dua. Kalau kita mampu memanfaatkan dengan baik, maka agama itu insya Allah akan bisa menciptakan suatu bangsa yang besar, memberikan motivasi religi untuk merdeka seperti Indonesia.” ujar Menag Nasaruddin Umar Senin, (8 Desember 2025).
Menag memaparkan bahwa agama adalah sahabat vital yang menata totalitas kehidupan manusia. Namun, loyalitas tinggi terhadap agama juga dapat memunculkan tantangan jika tidak diarahkan dengan benar.
“Jadi agama itu bisa menjadi faktor pemersatu yang dahsyat. Komando Allahu Akbar-nya di Surabaya, mampu membuat ketar ketir penjajah,” imbuhnya.
Menag menggarisbawahi posisi Bimas Islam sebagai garda depan pembimbingan umat agar agama memberi stabilitas bagi individu, keluarga, dan negara. Dalam penjelasannya, ia menuturkan pentingnya menjadikan agama sebagai energi penguat kebangsaan.
“Semakin bersahabat manusia terhadap agamanya, maka kontribusinya bukan hanya perbaikan individu, stabilitas emosi, tapi juga keluarga masyarakat dan badannya juga adalah negara dan alam semesta. Tapi sebaliknya kalau agama itu gagal untuk kita manaje dengan baik, ya itu juga bisa menjadi pemerang yang sangat berbahaya. Agama itu seperti pisau bermata dua,” katanya.
Menag Nasaruddin menjelaskan bahwa manajemen keagamaan merupakan inti dari tugas Kementerian Agama, terutama ketika banyak urusan keagamaan telah mandiri dan tidak lagi berada langsung di bawah Kemenag. Ia menyebut perlunya memastikan pembimbingan keagamaan tetap menjadi roh utama kementerian.
“Makanya itu rohnya kementerian agama yang paling vital adalah pembimbingan masyarakat Islam ini. Tanpa menampilkan usaha pendidikan dan yang lain-lain. Karena itu, Bapak sekalian tantangan kita bagaimana menjadikan agama ini sebagai faktor sentripetal, bukan sebagai faktor sentrifugal,” tuturnya.
Menag meminta seluruh aparatur Bimas Islam untuk terus memperkuat pendekatan pembinaan yang mampu menjaga harmoni keberagamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Ia menyebut bahwa arah Kemenag saat ini berada pada jalur yang tepat, didukung lompatan ide dan kolaborasi yang semakin solid. (UYR/Kemenag)
Copyright 2023, All Rights Reserved
Leave Your Comments